Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 117 : ASI untuk Adney


__ADS_3

"Namanya Adney Elmar Tharez," jawab Reza lalu ia pun saling bertukar pandang dengan Agistha sambik tersenyum.


"Nama yang bagus nak," ucap Rachima.


"Mah, ini ASInya sudah penuh," kata Agistha sambil melepaskan pompa ASI nya.


"Sudah cukup nanti dipompa lagi ya, Za minta tolong antarkan ke ruang bayi ya," ucap Rachima.


"Iya mah," jawab Reza kemudian mengambil botol yang berisi ASI dan membawanya ke ruang bayi.


Setelah selesai, Reza kembali ke ruang rawat inap Agistha.


🌾


Malam pun semakin larut, Rukman dan Rachima pamit untuk pulang. Yusti dan Vino pun mengabari Reza bahwa mereka akan ke rumah sakit esok hari karena asa urat yang diderita Vino sedang kambuh.


"Sayang apakah kamu butuh sesuatu?" tanya Reza pada Agistha.


"Iya sayang, kenapa kamu tidak mandi sejak tadi sore?" jawab Agistha kemudian bertanya pada Reza.


"Oh iya aku sampai lupa tidak mandi, tapi aku tidak bawa pakaian ganti," jawab Reza sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Sayang, tadi mamah bawain pakaian ganti kamu dan aku kok, tuh ada disamping sofa," ucap Agistha membuat Reza langsung menoleh ke arah samping sofa.


"Oh iya sayang, ya sudah aku mandi dulu ya," kata Reza lalu mengambil pakaian dari dalam tas dan bergegas ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Reza pun telah selesai mandi dan berganti pakaian.


"Nah kalau begitu kan enak dilihatnya," ucap Agistha sambil terkekeh pelan kemudian merintih.


"Sudah tak usah meledekku nanti kalau kamu tak kuat untuk tertawa bisa-bisa jahitannya ketarik loh," kata Reza membuat Agistha seketika langsung terdiam.


"Sayang apakah kamu sudah melihat baby Adney?" tanya Agistha pada Reza.


"Sudah sayang, dibilang sangat tampan sepertiku," jawab Reza santai sambil mendaratkan tubuhnya di sofa.


"Sayaang iiih jangan membuatku tertawa, sakit tahuu," rengek Agistha yang hampir menangis karena menahan rasa sakit kontraksi dari perutnya.


"Iya iya maaf, matanya sangat mirip denganmu dan sisanya mirip aku semua," kata Reza lagi-lagi Agistha merengek dan menangis.


"Loh sayang jangan nangis kan aku hanya bercanda," ucap Reza langsung menghampiri Agistha lalu memeluknya.


"Habisnya kamu jahat, aku kan sedang sulit tertawa kenapa kamu selalu ingin membuatku tertawa," kata Agistha yang masih menangis.


"Iya deh iya maaf ya sayangku, istriku," ucap Reza lalu mengecup kening istrinya cukup lama.


"Sayang tidur sama aku ya aku gak mau tidur sendiri," kata Agistha dengan nada manja.


"Iya sayang, apakah kamu bisa bergeser sedikit ? supaya aku ada ruang untuk tidur," tanya Reza dan Agistha pun mengangguk.


Reza membantu Agistha menggeser tubuhnya yang masih terasa nyeri dibagian luka bekas operasi. Lalu mereka pun tidur bersama dalam satu tempat tidur.

__ADS_1


🌾


Keesokan harinya, Reza bangun lebih dulu dan turun perlahan dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Reza pun keluar dan sudah berganti pakaian. Ia menelepon Riko untuk memberitahukan bahwa dirinya tidak masuk hari ini dan esok hari.


"Assalamaualaikum Za," ucap Riko dari seberang telepon.


"Waalaikumsalam Ko, hari ini dan besok gue gak bisa masuk kantor. Lu bisa kan mengandle semuanya sendiri?" kata Reza lalu bertanya pada Riko.


"Oke Za, siap siap," jawab Riko.


"Agis gimana Za udah sehat? anak lu gimana?" tanya Riko.


"Alhamdulillah udah sehat dan anak gue masih di ruang khusus bayi," jawab Reza sambil melirik ke arah Agistha yang masih tertidur.


"Belum normal memang Za berat badannya?" tanya Riko kembali.


"Belum Ko, minta doanya semoga segera cepat bisa keluar dari incubator," jawab Reza.


"Aamiin aamiin, ya sudah gue berangkat dulu ya ke kantor," ucap Riko.


"Iya Ko hati-hati dijalan lu," kata Reza.


"Berasa teleponan sama pacar gue," ucap Riko terkekeh.


"Inget bini Ko bini," kata Reza dan Riko malah tertawa dengan cukup keras.


"Ya Za iya ampun deh," ucap Riko sambil mengecurutkan bibirnya dan Reza ikut tertawa.


"Iya waalaikumsalam," kata Reza lalu memutuskan sambungan telponnya.


Karena Reza tertawa cukup keras membuat Agistha terbangun dari tidurnya. Ia pun telah menyandarkan punggung ya di tempat tidur lalu tersenyum pada Reza.


"Sayang, sejak kapan kamu bangun?" tanya Reza sambil berjalan menghampiri Agistha.


"Sejak kamu tertawa keras sekali," jawab Agistha santai.


"Maaf ya aku jadi membagunkanmu," ucap Reza sambil menunjukkan wajah murungnya lalu Agistha tersenyum pada Reza.


Namun tiba-tiba pintu ruangan terbuka, ternyata petugas makanan yang mengantarkan sarapan untuk Agistha.


"Permisi, selamat pagi. Ini bu sarapannya, dihabiskan ya," ucap petugas tersebut sambil menaruh nampan yang berisi sarapan diatas nakas samping tempat tidur Agistha.


"Terima kasih bu," ucap Agistha.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi, mari pak, bu," kata petugas itu lalu pergi keluar dari ruang rawat inap Agistha.


"Ayo sayang sarapan, nanti keburu baby Adney lapar meminta susu mommy nya. Aku suapin ya," ucap Reza dan Agistha pun mengangguk.


Reza menyuapi Agistha hingga sarapan Agistha habis tak tersisa. Benar saja, seorang suster pun masuk ke dalam ruangan.


"Permisi, apakah ibu sudah selesai sarapan?" tanya suster tersebut.

__ADS_1


"Sudah sus," jawab Agistha.


"Bagus sekali, sekarang waktunya minum obat lalu setelah itu pumping ya bu. Kalau sudah penuh, bapaknya bisa langsung menyerahkan ke ruang khusus bayi," ucap suster tersebut sambil menaruh obat dan botol kosong yang tertulis nama Agistha karena Reza belum mendaftarkan nama anaknya di rumah sakit tersebut.


"Baik sus terima kasih," ucap Agistha.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi, mari," kata suster tersebut lalu pergi keluar ruang rawat inap Agistha.


"Sayang nih diminum obatnya setelah itu aku bantu kamu pumping," ucap Reza sambil memberikan obat dan segelas air putih.


"Terima kasih sayang," ucap Agistha tersenyum sambil mengambil obat dan segelas air dari tangan Reza.


"Sama-sama," kata Reza tersenyum.


Setelah meminum obat, kini Agistha berjuang mengeluarkan ASI nya supaya Adney bisa segera keluar dari tabung incubator. Hampir 20 menit pumping, dibantu Reza dengan memijit punggung Agistha seperti yang di contohkan Rachima kemarin, akhirnya botol pun terisi penuh.


"Alhamdulillah, sudah mulai banyak sayang," ucap Agistha setelah melepas alat pumpingnya.


"Iya sayang alhamdulillah, aku ke ruang khusus bayi yah untuk mengantarkan ini," kata Reza dan Agistha pun mengangguk.


Reza pun keluar dari ruangan dan pergi menuju ruang khusu bayi. Sementara Reza pergi, Agistha memilih untuk menonton televisi yang ada di dalam kamar tersebut.


Tak lama Reza pergi, pintu pun terbuka kembali. Agistha menoleh kearah pintu.


"Assalamualaikum," ucap Yusti dan Kania.


"Waalaikumsalam, mamih, Kania," kata Agistha.


"Selamat ya sayang kamu sudah menjadi seorang ibu, tadi mamih ketemu Reza di depan katanya dia mau mengantarkan ASI untuk anak kalian," ucap Yusti sambil memeluk Agistha.


"Terima kasih mih, Kania udah mau datang ke sini," kata Agistha.


"Iya sayang, oh iya nama anak kalian siapa? semalam aku tanya jeng Rachima malah suruh bertanya ke kalian langsung gemes deh mamih jadinya," ucap Yusti.


Agistha pun terkekeh lalu meringis karena merasa jahitannya seperti ketarik.


"Namanya Adney Elmar Tharez mih," jawab Agistha sambil tersenyum.


"Kalau jahitan bekas operasimu bagaimana Gis?" tanya Kania.


"Masih terasa linu sekali apalagi kalau tertawa dan masih sering kontraksi Kania," jawab Agistha.


"Kok bisa kontraksi Gis?" tanya Kania sementara Agistha hanya mengangkat kedua bahunya.


"Gini loh Kania, kalau lahiran sesar kan. berbeda dengan lahiran normal pada umumnya. Kalau normal kontraksinya sebelum bayi itu lahir tapi kalau sesar itu setelah bayinya lahir, seperti itu," jelas Yusti membuat Kania mengangguk paham sambil ber oh ria.


Disaat mereka sedang asik berbicara, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


"Permisi,.."


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2