Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 92 : Pesona Vania


__ADS_3

~ Ponpes Al-Kahfi


Setelah pembacaan dua kalimat syahadat yang Vania ucapkan. Rachima pun tidak lupa untuk menyiapkan segala keperluan Vania selama di pesantren. Rachima menganggap Andi maupun Vania adalah anaknya juga walaupun mereka hampir saja membuat kesalahan fatal untuk keluarganya. Namun hatinya yang lembut dan tutur katanya yang baik membuat Rachima tak pernah membenci keduanya.


Andi dan Vania masih sangat butuh dukungan serta motivasi dari kedua orang tua yang tak pernah mereka dapatkan seutuhnya. Itulah mengapa Rukman begitu sangat mencintai Rachima. Walaupun dulu sebelum Rachima menikah dengan Rukman, ia bukanlah sepenuhnya dari kalangan konglomerat seperti Rukman. Namun jiwa besarnya yang selalu menolong sesama membuat Rukman menikahi Rachima.


Rumah tangga mereka pun penuh di berkahi oleh Allah swt.. Meski seberat apapun ujian itu, hanya ikhlas yang membuat keduanya saling menguatkan.


Beberapa menit kemudian, Maresha membawa 2 buah koper yang berisi perlengkapan serta pakaian Vania yang baru saja ia dapatkan dari orang suruhan Navanka.


"Bu, kok ini ada 2 koper?" tanya Maresha sambil mendorong koper tersebut dibantu dengan salah satu asistennya.


"Iya Sha, satu lagi untuk Andi, kemarin saat Andi masuk ke sini saya belum sempat menyiapkannya," jawab Rachima.


"Vania, mulai sekarang kamu belajar disini dengan teman-teman baru kamu. Belajar dengan tekun ya, insyaAllah saya akan menemuimu lagi esok hari," ucap Rachima lembut pada Vania.


Vania yang hatinya keras dan sulit diatur, mendengar suara lembut Rachima hatinya pun bergetar, matanya juga berkaca-kaca.


"Terima kasih, terima kasih nyonya," ucap Vania dengan nada bergetar, ingin rasanya Vania memeluk Rachima namun rasanya segan karena rasa bersalah yang menyelimutinya.


"Panggil saya ibu atau mamah, jangan panggil nyonya bagaimanapun mulai sekarang kamu juga anak saya," kata Rachima tersenyum sambil mengelus lembut pipi Vania.


"Bolehkah aku memelukmu ibu?" tanya Vania ragu-ragu dan Rachima pun tersenyum sambil mengagguk pelan.


Setelag mendapat izin dari Rachima, tanpa ragu Vania pun langsung memeluk Rachima dan menumpahkan tangisannya dipelukan Rachima.


Rachima begitu tercengang saat Vania menangis dengan sendunya. Ia pun berusaha menenangkan Vania sambil mengelus lembut punggung Vania.


Beberapa saat kemudian tangisan Vania pun reda. Vania melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Sekarang ibu mau kembali ke rumah sakit, kamu belajar yang baik ya disini. Ibu yakin kamu sebenarnya anak yang pandai dan manis," ucap Rachima tersenyum dan Vania pun tersenyum pada Rachima.


"Bu, ucapkan permintaan maafku pada ayah dan juga pak Reza atas kesalahanku ya bu," ucap Vania lirih.


"Iya, mereka juga pasti akan memaafkanmu. Mulai sekarang berubahlah menjadi lebih baik lagi kedepannya ya," kata Rachima.


Kemudia Rachima menghampiri Andi yang sedang berdiri tak jauh dari tempat mereka.


"Andi, ini koper untukmu, didalamnya ada perlengkapanmu dan juga pakaianmu. Belajar yang rajin ya nak, kelak kamu akan menjadi orang sukses di dunia maupun di akhirat," ucap Rachima pada Andi.


"Terima kasih nyonya atas kebaikan anda, semoga Allah membalas semua kebaikan anda kepada saya. Terima kasih telah menaruh saya di sini bukan di penjara. Karena sekarang saya benar-benar sudah mendapat ketenangan selama disini," kata Andi panjang lebar membuat Rachima tersenyum bahagia.


"Mulai sekarang, panggil saya ibu sama seperti Vania, karena bagaimana pun kamu juga anak saya sama seperti Vania," ucap Rachima kemudian Andi pun langsung mencium punggung tangan Rachima sambil menitikkan air matanya.


"MasyaAllah sungguh mulia hati istrinya pak Rukman ini, semoga kelurganya selalu dipenuhi dengan keberkahan dan juga kebahagiaan. Aamiin aamiin ya Robbal'alamiin," ucap ustadzah dalam hatinya sambil tersenyum melihat Rachima.


"Assalamualaikum Vania, aku Kalila, aku akan membantumu belajar mengenal islam dan memperdalam ilmu agama islam itu sendiri," ucap Kalila ramah sambil tersenyum riang.


"Wa-waalaikumsalam, kak Kalila," kata Vania terbata-bata menjawab ucapan salam.


"Tidak apa, kamu belum terbiasa. Perlahan, kamu akan terbiasa kok," ucap Kalila dan Vania pun tersenyum.


Kalila pun mengajak Vania ke kamar santri perempuan. Sesampai di kamar, Vania satu kamar dengan seorang santri perempuan lainnya. Karena di ponpes ini satu kamar diperuntukkan untuk 2 orang saja.


"Assalamualaikum ustadzah," sapa Hana yang akan mejadi teman satu kamar dengan Vania.


"Waalaikumsalam Hana, kenalkan ini Vania dan Vania ini Hana teman satu kamar denganmu selama disini," ucap Kalila saling memperkenalkan Hana dan Vania.


"Assalamualaikum Vania, aku Hana," sapa Hana pada Vania sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Wa-walaikumsalam aku Vania, senang bertemu denganmu," ucap Vania sambil menyambut uluran tangan Hana.


"Sekarang, kamu Vania rapihkan terlebih dahulu barang-baranngmu di lemari yang berada di samping tempat tidurmu ya," usul Kalila kemudian Vania pun mengangguk.


"Biar aku bantu yah," sahut Hana antusias. Dan mereka berdua pun membereskan barang-barang Vania lalu menatanya ke lemari.


Setelah selesai, Vania pun menganti pakaiannya kemudian pergi bersama Kalila sementara Hana kembali ke kelasnya. Kalila dan Vania pun memilih tempat belajar di masjid.


Dari kejauhan Andi melihat Vania tak berkedip dalam hatinya ia terus memuji pesona Vania dengan pakaian syar'i menutup sempurna auratnya.


"MasyaAllah, cantik sekali dia. Semoga hatinya juga secantik wajahnya," ucap Andi dalam hatinya.


Bukan hanya Andi namun santri laki-laki yang lain juga mengagumi kecantikan dan kemolekan Vania.


Di dalam masjid, Kalila mengajarkan Vania dimulai mengenal tentang keimanan, cara berucap dan berinteraksi dengan lawan jenis, tata cara solat baik gerakan maupun bacaannya, dan juga belajar membaca Al-Qur'an mulai dari iqro'.


Walaupun Vania belajar benar-benar dari yang sangat dasar sekali, namun tak membuat Vania menyerah. Cara Kalila mengajarinya dan menegurnya ketika ia salah juga yang membuat semangat Vania tumbuh semakin besar.


Adzan Ashar pun berkumandang, Kalila mengajak Vania untuk sholat berjamaah di masjid ini.


"Kak aku belum lancar bacaannya dan juga gerakannya," ucap Vania ragu-ragu.


"Tak apa, namanya masih belajar. Salah itu wajar yang penting kamu akan selalu berusaha memperbaikinya. Jangan dengarkan perkataan orang yang membuat semangatmu kendur. Tapi tutup telinga kamu saat mereka berusaha menjatuhkanmu. Percaya sama Allah akan memudahkanmu selama niat dalam hatimu, karena Allah, lillahita'ala," jelas Kalila membuat matanya berkaca-kaca.


"Terima kasih kak, telah mengajarkanku banyak hal. Beruntung sekali kedua orang tua kakak dan juga suami kakak," ucap Vania yang tak terasa air matanya lolos begitu saja membasahi pipinya.


"Sama-sama, ayok sekarang kita sholat," ajak Kalila tersenyum tulus dan Vania pun mengangguk.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2