Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 111 : Ada Haru dan Bahagia


__ADS_3

Malam pun tiba, Andi tengah bersiap dikamarnya begitupun dengan Vania. Keduanya pun keluar dari kamar mereka masing-masing dan berjalan menuju kediaman ustadz Fahri.


Beberapa saat kemudian dikediaman ustadz Fahri akan diadakan tahap awal khitbah. Vania dan Andi pun sudah berada disana. Begitupun dengan Kalila dan Emil suaminya. Semuanya pun duduk di ruang tamu.


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh," ucap ustadz Fahri membuka acara.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh," jawab semuanya bersamaan


"Malam ini seperti yang sudah kalian ketahui bahwa Andi memiliki niat baik untuk mengkhitbah Vania. Secara logika, ketika kita sudah mempersiapkan diri, maka panggung tempat kita berkarya pun akan terbuka. Karena itulah persiapan persiapan itu lebih penting dari pertunjukkannya."


"Sama seperti pernikahan, karena menikah itu hanya ujung dari pernikahan. Bila menikah tanpa persiapan, yang ada penyesalan dan kegetiran dalam rumah tangga. Apa persiapan itu sudah dilakukan oleh nak Andi ataupun Vania?" ucap ustadz Fahrk panjang lebar kemudian bertanya pada Vania dan Andi yang duduk berjauhan.


"InsyaAllah ustadz persiapan saya sudah matang, maka dari itu lewat ustadz saya ingin diarahkan supaya hati saya tidak terjatuh ke jurang nafsu duniawi saja," jawab Andi mantap.


"Saya juga insyaAllah sudah siap ustadz. Allah telah memberikan jawaban melalui mimpi saya setelah saya melakukan sholat istikharah beberapa hari terakhir ini," jawab Vania.


"Baiklah, kalau begitu Andi adakah yang ingin kamu tanyakan pada Vania?" tanya ustadz Fahri pada Andi.


"Ada ustadz," jawab Andi.


"Silahkan tanyakan langsung pada Vania," ucap ustadz Fahri dan Andi pun mengangguk.


"Vania bolehkah saya melihat wajahmu tanpa memakai kerudung?" tanya Andi hati-hati.


"Maaf sebelumnya, saya mau tanya ustadz. Apakah boleh saya memperlihatkannyapada laki-laki yang belum mukhrim?" tanya Vania pada ustadz Fahri.


"Tidak apa-apa, tapi dengan syarat kamu harus ditemani oleh Kalila ataupun ustadzah," jawab ustadz Fahri.


"Vania biar aku temani saja ya," ucap Kalila dengan antusias dan Vania pun mengangguk.


Vania, Kalila dan Andi masuk ke dalam ruangan ustadz Fahri. Perlahan dengan hati-hati Vania melepaskan jilbab yang ia pakai.


"MasyaAllah cantikny," ucap Andi dalam hatinya sambil bersusah payah menelan salivanya. Dan tak lama Vania pun menutup kembali kepalanya dengan jilbab.


"Sudah Andi?" tanya Kalila dan Andi pun mengangguk.


"Yuk kita ke depan kembali," ajak Kalila dan mereka pun ke ruang tamu.


"Untuk malam ini cukup sampai disini, dan untuk Vania maupun Andi malam ini kalian sholat istikharah lagi ya. Besok malam kita lanjutkan tahap selanjutnya menuju khitbah," ucap ustadz Fahri.


🌾🌾


Beberapa malam kemudian, kini tiba acara resmi khitbah Andi dan Vania. Keluarga Navanka dan Andara pun turut hadir datang ke Ponpes.


Reza yang masih sama tak ingin berjauhan dengan Agistha, sedangkan Kania dan Riko tidak ikut karena mereka masih menikmati honeymoon. Acara khitbah Vania dan Andi cukup sederhana di kediaman ustadz Fahri.


Sebelum malam semakin larut, ustadz Fahri pun membimbing acara khitbah tersebut.


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, alhamdulillah kita masih diberikan nikmat iman dan islam untuk berkumpul di acara malam ini. Salawat serta salam tak henti-hentinya kita curahkan kepada nabi kita yaitu Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam. Sebelumnya Andi dan Vania sudah meminta izin kepada kedua orangtua mereka masing-masing melalui sambungan telepon karena sebagaimana yang kita ketahui kedua orangtua mereka tengah menjalani hukum yang berlaku. Untuk itu, walaupun demikian tetap kduanya tidak boleh melupakan kedua orangtua mereka masing-masing. Dan alhamdulillah, saya mendapat kabar dari kedua orangtua Andi maupun Vania merestui keputusan yang anaknya ambil."

__ADS_1


"Semoga dengan adanya ridho Allah dari masing-masing kedua orangtua mereka, Allah lancarkan segalanya. Selanjutnya saya akan bertanya pada Andi. Nak apakah kamu sudah benar-benar yakin dan secara sadar untuk menjadikan Vania calon istrimu?" ucap ustadz Fahri panjang lebar kemudian bertanya pada Andi.


"InsyaAllah ustadz saya yakin dan saya sadar akan keputusan yang telah saya ambil," jawab Andi mantap.


"Alhamdulillah, bagaimana dengan Vania? apakah Vania bersedia menerima khitbah dari Andi untuk lebih serius menjalin sebuah hubungan dalam ikatan rumah tangga kelak?" tanya ustadz Fahri pada Vania.


"InsyaAllah ustadz, saya yakin dan saya menerima khitbah dari Andi," jawab Vania.


"Alhamdulillah, keduanya sudah memutuskan dan saat ini Vania sudah dikhitbah oleh Andi. Dan itu artinya tidak boleh ada laki-laki lain yang mengkhitbah Vania. Dan untuk Andi semoga keputusanmu bisa menjadikan dirimu lebih baik lagi kedepannya."


"Baiklah acara khitbah pun telah selesai, mari kita ucapkan alhamdulillahirrobbil 'alamin, wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh," ucap ustadz Fahri.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh," ucap semuanya bersamaan.


"Pah sebentar lagi anak kita ada yang mau menikah juga, nanti kita punya cucu banyak dong ya pah," ucap Rachima pada Rukman membuat Rukman terkekeh.


"Iya kamu benar mah, dan kita semakin tambah tua apalagi beberapa bulan lagi Agis akan melahirkan," kata Rukman terkekeh kembali.


Semuanya yang hadir pun menikmati hidangan yang telah dipersiapkan oleh ustadzah dibantu dengan beberapa santriwati lainnya. Agistha mengambil makanannya diikuti dengan Kalila dibelakangnya. Namun saat Kalila menghampiri meja prasmanan, indra penciumannya menjadi aneh.


"Agis, apa kamu merasa mual mencium aroma makanan ini?" tanya Kalila sambil menutup hidung dengan tangannya.


"Tidak kok kak, apa kakak merasa mual?" jawab Agistha kemudian bertanya kembali pada Kalila.


Namun belum sempat Kalila menjawab, Kalila malah langsung berjalan cepat ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Agistha menatap Kalila sambil mengerutkan kedua alisnya.


"Ummi, apakah kak Kalila sedang hamil?" tanya Agistha pada ustadzah yang berdiri tak jauh darinya.


"Apa sebaiknya diperiksakan saja ummi? Agis merasa kalau kak Kalila itu hamil," tanya Agistha membuat ummi berjalan menghampiri Kalila yang di kamar mandi.


"Iya ya kamu benar, ummi coba tanyakan pada Kalila dulu ya kalau begitu, kamu makan yang banyak supaya anakmu ini cepat tumbuh besar," jawab ustadzah sambil mengelus perut Agistha lalu pergi ke kamar mandi.


Sesampai di kamar mandi, ustadzah melihat Kalila sedang bersandar di dinding sambil berpegangan dengan wastafel dan raut wajahnya terlihat pucat.


"Astaghfirullah, nak kamu kenapa?" tanya ustadzah merasa sangat khawatir.


"Kalila lemas ummi, makanan yang tadi sore Kalila makan keluar semua," jawab Kalila.


"Nak kapan terakhir kamu datang bulan?" tanya ustadzah pada Kalila, membuat Kalila berpikir sejenak.


"Astaghfirullah ummi, Kalila hampir lupa. Terakhir datang bulan sekitar 2 bulan yang lalu," pekik Kalila dan ummi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Nak lebih baik sekarang kamu sama Emil ke bidan dekat sini untuk memastikan dan besok barulah ke rumah sakit untuk USG," usul ustadzah pada Kalila.


"Baiklah ummi, Kalila berangkat ke bidan sekarang ya," ucap Kalila sambil mencium punggung tangan ustadzah.


Setelah menikmati hidangan dan bercengkrama, keluarga Navanka dan Andara pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara Kalila dan Emil tengah diperjalanan menuju bidan terdekat dari Ponpes.


🌾🌾

__ADS_1


Beberapa menit kemudian tibalah keduanya di klinik tempat bidan praktek. Kalila dan juga Emil masuk kedalam.


"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu pak, bu?" ucap resepsionis klinik.


"Malam, kami mau memeriksakan kehamilan kak, apa ibu bidannya ada ?" jawab Kalila kemudian bertanya pada resepsionis itu.


"Tentu ada kok, mohon ditunggu sebentar ya pak, bu," ucap resepsionis itu kemudian memberitahukan bidan tersebut melalui sambungan telepon.


"Pak, bu bisa langsung masuk saja ke ruang bidan yang ada di sebelah kanan sana," ucap resepsionis sambil menunjuk ke arah ruang bidan.


"Terima kasih kak," ucap Kalila dan Emil bersamaan.


Keduanya berjalan ke ruang bidan lalu masuk kedalam sambil mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Selamat malam pak, bu. Ada yang bisa saya bantu?" ucap bu bidan.


"Malam bu, saya mau memeriksakan kehamilan," jawab Kalila.


"Baik, kapan hari pertama ibu di menstruasi terakhir ?" tanya bu bidan.


"Seingat saya sekitar 2 bulan yang lalu bu," jawab Kalila.


Baik, sekarang ibu testpack dulu ya disana kamar mandinya dan ini gelas untuk menampung air seni ibu," ucap bu bidan sambil memberikan testpack dan gelas kecil, Kalila pun mengangguk sambil berdiri lalu berjalan ke kamar mandi.


Cukup lama Kalila di kamar mandi. Dan saat ia keluar, raut wajah Kalila terlihat bahagia sekali.


"Bagaimana bu hasilnya?" tanya bu bidan.


"Alhamduliah garis dua bu, mas," jawab Kalila yang tak bisa membendung rasa bahagianya.


Setelah hampir 1 tahun lebih mereka menikah, akhirnya mereka dipercaya untuk menjaga amanah dariNya.


"Mari bu diperiksa tensi dan berat badannya dulu ya," ucap bu bidan dan Kalila pun menurut.


Setelah dites tensi dan berat badan, kini Kalila merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Bu bidan memeriksa posisi rahim Kalila.


"Alhamdulillah, bu baby nya cukup besar ya perkiraan kalau dirasakan dari yang saya periksa langsung usianya sekitar 12 minggu, tapi kalau dari haid pertama di mentruasi akhir sudah 15 minggu. Dan untuk lebih jelasnya ibu bisa melakukan pemeriksaan melalui USG. Nanti saya berikan vitamin untuk ibu dan bayi nya ya," ucap bu bidan panjang lebar.


"Bu untuk hamil muda seperti ini ada pantangannya tidak?" tanya Emil penasaran.


"Yang mesti dihindari yaitu makanan yang terlalu pedas, asam, dan juga mentah. Karena makanan yang terlalu pedas dan asam akan membuat si ibunya memperparah mual muntahnya dan kalau yang mentah itu sangat dilarang selama hamil, diusahakan makan makanan yang benar-benar matang," jelas bu bidan membuat Emil dan Kalila mengangguk paham.


"Oh iya apa ibu mengalami mual dan muntah?" tanya bu bidan kembali.


"Iya bu sudah beberapa hari ini dan kepala saya terasa pusing sekali," jawab Kalila.


"Mual muntah diawal kehamilan itu wajar, namun bila sampai lemas dan pingsan lebih baik langsung dibawa ke bidan atau ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Nanti ibu saya berikan juga obat mualnya ya," ucap bu bidan dan Kalila pun mengangguk paham.


Cukup lama berkonsultasi, Kalila dan Emil pun keluar dari ruangan bidan untuk menebus resep obat. Setelah selesai, keduanya pun kembali ke Ponpes.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2