
Hari sudah beranjak malam, walau kondisinya sudah dikatakan stabil namun ia belum juga membuka matanya. Rachima dengan setia menemani Rukman di dalam ruang ICU. Sedangkan Yusti, Vino dan Kania sudah pamit pulang sebelum Rachima masuk kedalam ruangan tersebut. Dan Reza, Agistha serta Riko pun memilih langsung pulang ke rumah setelah dari kantor polisi tadi.
"Papah, apa papah gak kangen sama mamah? mamah kangen loh denger suara papah, lihat senyum papah, dijahilin papah, papah buka dong matanya, aku mencintaimu pah," ucap Rachima berbicara pada Rukman yang masih betah dialam mimpinya.
Tiba-tiba air mata Rukman mengalir dari sudut matanya. Rachima dengan lembut menghapus air mata Rukman sambil tersenyum. Dan tangan Rukman yang sedang dipegang Rachima bergerak lalu Rukman perlahan membuka matanya.
"Mah.." ucap Rukman lirih. Rasa bahagia pun terpancar dari raut wajah Rachima.
Rachima pun langsung menekan tombol yang berada didekat tempat tidur Rukman untuk memanggil dokter. Tak lama dokter pun masuk ke ruang ICU, kemudian dokter meminta Rachima untuk menunggu diluar terlebih dahulu.
15 menit kemudian dokter pun keluar dari dalam ruangan lalu menghampiri Rachima.
"Bu Rachima, pak Rukman sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat inap dan sekarang pak Rukman sudah sadar dari komanya," ucap dokter tersebut dan mata Rachima langsung berbinar merasa bahagia.
"Baik dok saya akan mengurus kamarnya sekarang," kata Rachima.
"Kalau begitu saya permisi bu," ucap dokter membungkukkan badannya lalu pergi meninggalkan Rachima.
~Kediaman Andara
Yusti dan Vino baru saja sampai dikediaman mereka setelah mengantar Kania terlebih dahulu ke kediaman Navanka.
"Mih, papih mau langsung ke kamar ya, mau mandi gerah banget ini," ucap Vino saat masuk ke dalam rumahnya sambil mengibaskan bajunya.
"Iya pih," kata Yusti berjalan santai.
Vino yang tergesa-gesa pergi ke kamarnya tidak menyadari ada Reza dan Agistha di ruang keluarga sedang menikmati pautan panas mereka. Yusti yang sedang berjalan santai melewati ruang keluarga mendengar suara aneh langsung mengintip.
"Astaghfirullah Reza, Agis," teriak Yusti yang spontan karena terkejut.
__ADS_1
Reza dan Agistha langsung melepaskan pautan panas itu dan menjadi salah tingkah akibat ulah Yusti.
"Haduh bener-bener anak muda, bukannya di kamar malah di ruang keluarga nanti kalau ada yang melihatnya bagaimana?" gerutu Yusti dan keduanya sama-sama menggaruk leher mereka yang tak gatal.
"Main dikamar saja jangan disini, Reza kamu ini memang benar-benar anak papih banget. Gak bisa lihat tempat kalau sudah bernafsu," sambung Yusti sambil meninggalkan mereka yang masih saling bertukar pandang di ruang keluarga.
Reza pun menarik Agistha ke kamarnya . Baru kali ini Agistha masuk ke dalam kamar Reza. Nuansa abu-abu begitu dominan dengan furniture serba hitam menambah kesan menly.
"Agis, apa kamu bersedia jika aku meminta hak ku sekarang?" tanya Reza lembut sebelum melanjutkan permainan mereka.
Agistha masih tampak berpikir keras ia takut dirinya hamil sebelum masa sekolahnya berakhir. Reza yang menyadari kemana arah pemikiran Agistha berusaha menenangkannya karena kali ini diirnya benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Sayang, kamu tenang saja aku gak akan membuatmu hamil saat ini," ucap Reza lembut. Seketika Agistha langsung menatap mata Reza. Tersirat ada sebuah keyakinan didalam sana. Agistha mengangguk lemah sambil tersenyum.
"Kamu mau?" tanya Reza memastikan.
Perlahan Reza memulai pautan itu lagi keduanya saling menikmati sambil memejamkan matanya kecuali Reza. Ia tetap membuka matanya ingin melihat wajah Agistha yang selama ini membuatnya menggila. Dan kali ini Reza mendapat lampu hijau dari Agistha.
Entah dari kapan Reza membawa Agistha ke atas tempat tidurnya dan kini Agistha sudah berada dibawah kukungan Reza. Agistha mulai bisa mengimbangi permainan Reza dan Reza pun lebih leluasa masuk lebih dalam lagi.
Setelah itu pautan mereka berpindah ke leher mulus Agistha dan membuat tanda kemerahan disana. Agistha menggeliat hebat merasakan sensasi yang berbeda yang selama ini tak pernah ia rasakan. Agistha merasa ada sesuatu yang basah di area sensitifnya.
Reza semakin liar dengan permainannya yang sangat lembut dan memabukkan itu. Tanpa sadar keduanya telah polos tanpa sehelai benang pun. Tangan Reza menyentuh bagian sensitif Agistha, dan Agistha pun semakin merasa melayang.
"Mas aku mau pipis," ucap Agistha ditengah leguhannya.
"Keluarkan saja sayang," kata Reza dengan suara baritonnya sambil terus memainkan area sensitif Agistha.
Setelah cairan itu keluar, Reza pun mulai untuk memasukkan senjatanya untuk menyatu dengan Agistha.
__ADS_1
"Sudah siap sayang?" tanya Reza dengan senyum smirk nya.
Kemudian Agistha mengangguk lemah, perlahan tapi pasti senjata Reza sudah masuk semua menyatu dengan Agistha. Teriakan serta leguhan menyatu dikamar Reza yang kedap suara itu.
Keduanya pun saling menikmati satu sama lain hingga akhirnya Reza merasakan sesuatu yang akan meledak dengan cepat ia mengeluarkannya diatas perut mulus Agistha. Reza pun langsung membaringkan dirinya di samping tubuh polos Agistha.
"Terima kasih sayang," ucap Reza sambil mengecup kening Agistha..
"Sama-sama mas," kata Agistha tersenyum seraya memeluk tubuh kekar Reza.
~RS Kartika Betari
Kini Rukman sudah dipindahkan ke kamar VVIP, Rachima masih bercerita tentang yang telah ia lewati seharian ini. Dan kini pikiran Rukman pun sudah lebih tenang.
"Mah, apa mamah sudah mengantuk?" tanya Rukman pada Rachima.
"Belum pah, apa papah yang sudah mengantuk?" jawab Rachima kemudian bertanya pada Rukman.
"Papah bahkan tidak merasakan kantuk mah, oh iya mah tadi saat papah kritis papah bertemu dengan Alika dan juga Alfian. Mereka sekarang sudah besar mah cantik dan tampan. Mereka menitip salam untuk mamah. Mereka juga bilang ingin berterima kasih sama mamah karena selalu mendoakan mereka dan mengunjungi mereka. Bukan hanya kepada mamah tapi juga pada papah dan juga Agistha. Mereka juga berdoa semoga pernikahan Agistha selalu bahagia. Tadinya papah sangat nyaman sekali bersama mereka, tapi mendengar suara mamah, papah jadi rindu sama mamah," ucap Rukman panjang lebar menceritakan apa yang telah ia alami beberapa jam lalu.
Rachima merasa terharu dan meneteskan air matanya. Seorang ibu yang sangat merindukan anaknya yang tidak pernah ia peluk kembali dan tidak pernah ia dengar suaranya kembali. Rachima langsung memeluk Rukman dengan sangat erat.
~Kediaman Navaka
Kania baru saja selesai mengerjakan tugas sekolahnya. Sejak ia pulang dari rumah sakit, ia tidak bertemu dengan Agistha dirumahnya. Kania pun bertanya pada bi Niah tapi jawaban bi Niah juga tidak tahu.
Mungkin Agistha pergi kerumah Reza, pikir Kania. Dan akhirnya Kania pun pergi ke alam mimpinya.
Bersambung..
__ADS_1