
"Permisi, assalamualaikum. Aku mau ketemu mommy," kata seorang suster yang mendorong box bayi sambil menirukan gaya bicara bayi.
Mata Agistha langsung berbinar-binar saat melihat suster membawa masuk anaknya.
"Apakah itu Adney sus?" tanya Agistha penasaran.
"Benar bu, alhamdulillah berat badannya sudah normal dengan kenaikan yang cukup signifikan setelah ia mendapat ASI dari ibu, dan sekarang baby Adney akan menyusu langsung dari ibu Agistha," jawab suster tersebut dan Agistha pun tersenyum.
"Agis, wajahnya mirip sekali dengan Reza waktu kecil," ucap Yusti saat ia membuka box bayi itu.
"Agis anakmu tampan sekali, semoga kalau anakku laki-laki bisa setampan baby Adney," ucap Kania sambil mengelus perutnya.
"Tapi mana mas Reza ya mih, tadi bukankah dia yang membawa ASI perahku ke baby Adney?" tanya Aghistha sambil menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Mungkin sedang ada urusan Gis," jawab Kania dan Agistha pun mengangguk.
Baby Adney pun dengan perlahan diangkat dari box bayi oleh suster dan dipindahkan ke tangan Agistha.
"Suster kenapa babynya tidak mau diam ya?" tanya Agistha saat baby Adney bergerak-gerak.
"Baby nya sudah sangat haus bu, jadi dia tidak mau diam," jawab suster itu sambil terkekeh.
Agistha dibantu oleh suster untuk belajar menyusui secara langsung. Agistha pun langsung merintih karena ia merasa jahitannya lebih terasa seperti ketarik dibanding saat pumping.
Namun berangsur-angsur, Agistha pun terbiasa. Ia mulai nyaman sambil melihat dengan lekat wajah baby Adney.
"Sayangnya mommy, kamu tampan sekali nak. Semoga kamu bisa menjadi anak sholeh, penurut dan juga penuh rasa tanggung jawab," ucap Agistha dalam hatinya sambil tersenyum melihat baby Adney.
"Sus memangnya sekarang berat badan baby Adney berapa?" tanya Agistha.
"Terakhir ditimbang sekitar 2,9kg bu," jawab suster.
Tiba-tiba ponsel Agistha pun berbunyi.
"Mih, minta tolong ambilkan ponsel Agistha di sofa sepertinya ada yang telepon," ucap Agistha dan Yusti pun langsung segera mengambilkannya.
"Oh iya, Reza yang telepon Gis," jawab Yusti sambil melihat layar ponsel lalu memberikannya pada Agistha.
Agistha langsung menjawab telepon dari Reza.
"Assalamualaikum mas," ucap Agistha.
"Waalaikumsalam, sayang maaf aku memberitahumu melalui telepon karena aku sedang terburu-buru, perusahaan papih di Singapura mengalami masalah dan aku harus mewakilkan papih ke sana. Karena papih belum sembuh asam uratnya. Maaf ya sayang," kata Reza membuat mata Agistha seketika berkaca-kaca.
"Berapa lama kamu disana mas?" tanya Agistha.
"Paling cepat sekitar 1 bulan sayang, karena masalahnya lumayan cukup besar jadi melibatkan banyak pemegang saham," jawab Reza.
"Ya sudah kamu tetap hati-hati ya, jaga kesehatan daddy salam dari baby Adney," ucap Agistha.
__ADS_1
"Iya sayang kamu juga, semoga lekas pulih ya sampai bertemu nanti, assalamualaikum," kata Reza.
"Iya aamiin , waalaikumsalam," ucap Agistha kemudian menutup telepon dari Reza.
"Ada apa Gis? kok wajahmu menjadi murung?" tanya Yusti sambil duduk di tepi tempat tidur Agistha.
"Mas Reza bilang katanya ia akan pergi ke Singapura selama 1 bulan paling cepat karena perusahaan disana sedang mengalami masalah besar mih, memangnya benar?" jawab Agistha kemudian bertanya pada Yusti.
"Oh ya? kok mamih tidak tahu, ya sudah mamih mau telepon papih dulu ya sayang kamu jangan sedih nanti berpengaruh dengan ASI mu," jawab Yusti dan Agistha pun mengangguk.
Yusti pun menelepon Vino yang sedang dirumah sementara Kania yang berusaha menenangkan hati Agistha yang masih menggendong baby Adney.
Beberapa saat kemudian, Yusti pun menghampiri Agistha.
"Agis ternyata benar kantor di Singapura sedang mengalami masalah karena ada banyak data yang tidak balance jadi pemilik saham meragukan kami. Reza berangkat sendiri ke sana karena Riko harus tetap stay di sini, paling nanti di bantu oleh papih selama Reza ke Singapura," jelas Yusti membuat Agistha mengangguk mengerti.
Pintu kamar pun terbuka kembali. Ternyata seorang perawat laki-laki dan juga dua orang suster.
"Siang semuanya," ucap perawat laki-laki itu.
"Siang," ucap Agistha, Yusti dan juga Kania bersamaan.
"Bu Agistha, ini saya bawakan obat tapi diminumnya setelah makan siang ya. Keterangan minumnya ada di masing-masing bungkusnya," kata perawat laki-laki itu.
"Iya terima kasih," ucap Agistha.
"Sama-sama, ada yang ingin ditanyakan?" tanya perawat itu.
"Baik kalau begitu saya permisi bu," ucap perawat laki-laki lalu pergi dari ruang rawat inap Agistha.
"Bu apakah baby nya sudah tertidur?" tanya salah satu suster.
"Sudah sus, sudah di lepas juga menyusunya," jawab Agistha.
"Sini saya bantu bu menaruh baby ke box," ucap salah satu suster.
"Terima kasih," kata Agistha dan suster itu mengangguk sambil tersenyum.
Setelah baby Adney diletakkan di box bayi. Kini giliran Agistha belajar duduk dan berjalan.
"Mari bu kita belajar duduk dan berjalan ya," kata salah satu suster dan Agistha pun mengangguk.
Kedua suster berada di kanan dan kiri Agistha. Agistha perlahan duduk ditepi tempat tidur.
"Apakah terasa nyeri bu?" tanya suster 1.
"Sedikit sus," jawab Agistha sambil merintih.
"Perlahan ya bu, ibu tetap relax atur nafas ibu ya," ucap suster 2.
__ADS_1
Agistha menuruti araha kedua suster tersebut. Awalnya terasa sangat sakit, dan Agistha seperti ingin menyerah. Namun saat ia melihat wajah Adney. Ia pun kembali bersemangat.
Beberapa menit kemudian, atas bantuan kedua suster yang sabar dalam membantu Agistha. Akhirnya, Agistha pun bisa duduk sendiri dan juga berjalan walaupun masih perlahan karena luka jahitan sesar belum sepenuhnya pulih.
Setelah dilihat cukup lancar, kedua suster itu pun pamit keluar ruang rawat inap Agistha.
"Terima kasih ya sus," ucap Agistha.
"Sama-sama," jawab kedua suster bersamaan.
Tak lama kedua suster itu pergi, Rachima dan Rukman pun baru saja tiba dengan membawa paper bag yang cukup besar.
"Assalamualaikum," ucap Rukman dan Rachima bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Yusti, Agistha dan juga Kania.
"Sayang bagaimana sudah lebih baik sekarang luka jahitannya?" tanya Rachima dengan nada lembut.
" Alhamdulillah sudah mah tadi juga baru saja belajar berjalan dan juga duduk," jawab Agistha dan Rachima sambil mengucap syukur dalam hatinya.
"Reza mana Gis?" tanya Rukman pada Agitsha.
"Mas Reza sedang perjalanan menuju Singapura pah sekarang karena katanya sedang ada masalah disana sedangkan papih Vino belum sembuh dari asam uratnya," jawab Agistha.
"Oh ya? masalah apa memangnya ?" tanya Rukman penasaran.
"Masalah data perusahaan yang tidak balace pah terus para pemegang saham meminta kepada pemilik perusahaan untuk segera membereskannya," jawab Agistha.
"Bahaya jika terlalu lama didiamkan, apa karena sudah lama Vino tidak ke perusahaan ya Yusti?" ucap Rukman lalu bertanya pada Yusti.
"Bisa jadi Rukman," jawab Yusti.
"Semoga masalahnya cepat selesai ya, berapa lama Reza bilang akan pulang Gis?" ucap Rukman lalu bertanya pada Agistha.
"Mas Reza bilang paling cepat 1 bulan pah. Kenapa rasanya lama sekali ya?" jawab Agistha lalu bertanya pada semuanya.
"Sabar sayang, punya suami seorang CEO memang seperti itu. Tugasmu sebagai istri teruslah mendoakannya saat kalian sedang berjauhan," jawab Rachima sambil memeluk Agistha dan juga mengelus lembut kepalanya.
"Kamu harus tetap happy, supaya ASI kamu cukup untuk memenuhi kebutuhan baby Adney. Apalagi ia lahir prematur, jadi kebutuhan ASI nya lebih banyak daripada bayi yang lahir di usia matang," sambung Rachima membuat Agistha mengangguk paham.
Tiba-tiba baby Adney pun menangis kembali.
"Oeeek.. Oeeek..Oeek."
Yusti dengan cepat menghampiri box bayi dan mengangkat baby Adney secara perlahan
"Uuuh sayang pasti haus ya, sabar ya sayang nih mimi cucu sama mommy ya," ucap Yusti sambil menimang baby Adney. Agistha yang melihat tingkah Yusti hanya terkekeh.
Lalu mengambil baby Adney dari tangan Yusti dan mulai menyusui baby Adney kembali.
__ADS_1
Bersambung..