Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 89 : Sidak Dadakan


__ADS_3

Setelah berbincang-bincang, Yusti pun pamit untuk ke butik sementara Rachima masih menunggu Maresha sampai dirumah sakit. Tak lama kemudian Maresha pun datang dengan 2 orang laki-laki yang juga sebagai kuasa hukum keluarga Navanka.


"Pagi bu, kenalkan ini tim kuasa hukum kami yang baru Husein dan Hananto karena ada penambahan anggota untuk penanganan kasus yang berbeda bu, walau demikian semua tetap dalam pengawasan saya," ucap Maresha memperkenalkan Husein dan Hananto pada Rachima. Kemudian keduanya pun langsung membungkuk dan memberi tanda hormat pada Rachima begitupun dengan Rachima menundukkan kepalanya.


"Baik, tunggu disini sebentar ya," ucap Racima.


Rachima pun menemui Rukman di kamar rawatnya.


"Pah, Vin aku langsung berangkat sekarang ya ke sekolah Agistha. Titip mas Rukman dulu ya Vin," ucap Rachima pada Rukman dan Vino kemudian mencium punggung tangan Rukman dan Rukman mencium kening Rachima. Vino pun mengangguk.


"Hati-hati mah, Rachima," ucap Rukman dan Vino bersamaan.


"Iya, assalamualaikum," kata Rachima.


"Waalaikumsalam," kata Rukman dan Vino bersamaan.


Rachima pun keluar dari kamar rawat Rukman bersama Maresha dan juga 2 orang lainnya.


"Bu, nanti disana sebenarnya kita tidak hanya berempat namun ada beberapa orang yang mengawasi disekeliling sekolah. Untuk memperketat keamanan saja," ucap Maresha pada Rachima sambil berjalan disepanjang lorong rumah sakit yang mereka lewati. Rachima pun mengangguk mengerti.


~SMK Betari


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di sekolah Agistha. Keadaan sekolah sangat sepi karena proses ngajar mengajar sedang berlangsung. Rachima dan ketiga kuasa hukum Navanka berjalan menuju ruang kepala sekolah terlebih dahulu.


Tanpa mengetuk, Rachima langsung masuk ke dalam diikuti dengan Maresha sementara kedua orang lainnya menunggu di depan. Kepala sekolah yang sedang memeriksa laporan dari para guru pun langsung menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Awalnya ingin sekali ia memarahi karena tidak sopan, namun niatnya ia urungkan karena yang dia lihat adalah pemilik sekolah ini.


"Selamat pagi bu, ada perlu apa ibu pagi-pagi datang kemari?" ucap kepala sekolah kemudian bertanya dengan sopan.


"Kedatangan saya kesini ingin mengecek semua laporan dan data guru. Seperti yang sudah bapak tahu pastinya karena pak Johan telah masuk bui akibat kecurangan yang telah ia lakukan pada keluarga saya. Untuk itu berikan saya semua laporan mengenai sekolah ini apapun itu tanpa terkecuali terutama soal siswa siswi kita yang magang di perusahaan-perusahaan. Satu lagi, kumpulkan semua guru, staff dan semua pihak yang terlibat dalam berjalannya sekolah ini di aula sekarang juga," tegas Rachima panjang lebar.


Rachima adalah lulusan sarjana hukum S2 di salah satu universitas ternama di kota ini. Kecerdasannya membuat ia sekolah tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun dengan lewat beasiswa. Itulah kenapa dulu Rukman begitu sangat memilih Rachima yang sangat lembut hatinya dan tegas sikapnya. Tak heran anak-anak mereka pun memiliki kecerdasan sama seperti Rachima.

__ADS_1


Rachima mengecek semua laporan yang diberikan kepala sekolah dibantu dengan Maresha.


"Bu, saya melihat aneh dengan laporan yang diberikan bagian komite, data pemasukan disini lebih sedikit dibanding pengeluaran. Dan disini tidak dijelaskan keterangan mengenai pengeluaran tersebut," ucap Maresha saat ia menemukan sebuah kejanggalan.


Rachima pun melihat sambil mengecek ulang apa yang telah Maresha katakan barusan. Ternyata benar adanya, pak Johan bermain sangat cantik disini. Padahal dirinya sudah sangat dipercayai oleh Rachima.


"Simpan Sha, biar jadi bukti ke kantor polisi," kata Rachima kemudian mengecek laporan lainnya.


"Sha, saya menemukan biodata Vania. Ternyata Rivaldi sengaja memalsukan data Vania saat Vania masuk kesekolah ini. Disini tertulis bahwa orang tua Vania bukalah Rivaldi ataupun Devi melainkan Jaka dan Saodah, pisahkan Sha biar nanti kita tanyakan pada bagian tata usaha," ucap Rachima.


Setelah mereka berdua mengecek secara detail laporan sekolah. Ternyata banyak sekali kejanggalan yang mereka temukan. Padahal yang seharusnya mereka hanya tinggal menjalani sistem yang sudah tertata rapih kini diobrak-abrik tidak karuan membuat Rachima geram.


Mereka keluar dari ruangan kepala sekolah tersebut menuju ruang aula. Dengan langkah cepat mereka berjalan dengan hentakan kaki yang mantap.


Sesampainya di ruang aula, semua sudah berkumpul dan kondisi murid semua kelas sedang jam kosong, namun mendapat peringatan keras untuk tidak membuat onar.


Sidak pun dimulai, Rachima sudah memancarkan aura dengan penuh kemarahan. Yang biasa orang lain lihat keramahan dan kesantunan Rachima kini yang ada aura ketegangan yang terpancar dari semua yang hadir.


Pihak sekolah juga tidak tahu ternyata data Vania berbeda dengan actualnya kalau orang tua Vania yang asli adalah Rivaldi dan Devi. Kemudian Rachima menelaah kembali mencoba mencerna dengan baik.


"Antara Vania anak kandung Rivaldi atau Rivaldi yang memperalat Vania sebagai pionnya untuk balas dendam," kata Rachima dalam hatinya.


"Sha kamu coba selidiki lagi siapa orang tua Vania yang sebenarnya, setelah ini kita ke kantor polisi untuk bertanya langsung pada pak Johan," bisik Rachima pada Maresha dan Maresha pun mengangguk.


Sidak pun diakhiri, semua guru dan para staff diminta untuk kembali ke kelas dan ruangan masing-masing. Sementara Rachima dan Maresha masih berada di ruang aula.


"Sha, sekarang kan Vania masih di kantor polisi sedangkan usianya masih sangat muda. Dan saya ingin memindahkan Vania ke ponpes milik ustadz Fahri sama seperti Andi waktu itu. Saya minta kamu segera urus pemecatan pak Johan dari sekolah ini dan pemindahan Vania ya," ucap Rachima.


Kemudian mereka pun menuju kantor polisi untuk menanyakan langsung pada Johan. Sesampainya didepan kantor polisi, Rachima melihat seseorang yang tak asing baginya.


"Itu bukankah Eleandra? ada keperluan apa dia ke kantor polisi?" tanya Rachima dalam hatinya saat melihat Eleandra yang baru saja tiba di kantor polisi dan langsung masuk ke dalam.

__ADS_1


"Bu, ada apa?" tanya Maresha membuat Rachima tersentak kaget.


"Tidak Sha, hanya saya melihat seperti teman saya sewaktu SMA dulu," jawab Rachima.


Rachima tidak tau kalau Eleandra adalah istri dari alm. Mr. Snov. Karena setelah lulus SMA keduanya tinggal di negara yang berbeda.


Rachima dan Maresha pun masuk kedalam, saat berada di ruang kunjungan. Eleandra tampak berbicara sinis pada wanita yang berada dihadapannya. Rachima terus memperhatikan Eleandra dengan seksama.


"Dari raut wajah Eleandra seperti sedang marah sekali, ada hubungan apa dia dengan wanita itu? dan wajah wanita itu seperti tidak asing," tanya Rachima dalam hatinya saat melihat penampilan Diani yang kusut dan tidak terawat seperti dulu.


Rachima pun langsung kembali ke tujuannya datang ke kantor polisi ini. Tak lama Johan pun datang diapit dengan 2 orang polisis bertubuh kekar. Johan duduk tepat dihadapan Rachima.


Rachima langsung menatap tajam Johan.


"Jelaskan kepada saya soal laporan keuangan komite, dan mengenai data diri Vania yang sebenarnya!" tegas Rachima langsung to the point.


Johan yang sudah memakai baju tahanan pun menunduk malu pada Rachima. Johan masih terdiam dan terus menunduk.


"Kalau kamu tidak bisa menjelaskan, keluargamu akan menderita karena sudah mempermainkan keluarga saya!" kata Rachima dengan amarah yang masih ia tahan.


Johan pun langsung mengangkat kepalanya dan menatap nanar ke arah Rachima.


"Soal laporan keuangan komite, saya terpaksa memalsukan karena butuh uang untuk membayar orang supaya rencana Rivaldi berjalan lancar dan soal data diri Vania sebenarnya Vania adalah memang anak kandung Rivaldi dan Devi namun mereka tidak pernah mau mengurusnya dan membiarkan kedua asisten rumah tangga mereka Jaka dan Saodah untum mengurus Vania. Tolong bu jangan buat keluarga saya menderita. Saya sudah katakan jujur pada ibu yang sebenarnya, maafkan saya bu," jelas Joha panjang lebar.


"Bodoh! kamu ini sangat bodoh! mau-maunya diperalat dengan penjahat yang gak modal seperti Rivaldi ! dia itu hanya penipu! sekarang kamu pertanggung jawabkan sendiri ulahmu yang telah merugikan banyak pihak! selamat menikmati hukumanmu, permisi," kata Rachima yang sudah muak dengan kelakuan Johan. Orang yang ia percaya di sekolah untuk mengorek semua informasi kemudian diberikan pada Rachima sekarang berkhianat dengannya.


Walau Rachima sangat marah pada Johan namun ia masih memberikan bantuan kepada kelurga Johan supaya anak-anaknya masih bisa sekolah dan melanjutkan hidup dengan selayaknya.


Johan pun dibawa masuk kedalam sel tahanan kembali. Rachima terus beristighfar dalam hatinya, ia pun milih untuk pergi ke toilet terlebih dahulu untuk membasuh wajahnya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2