Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 24 : Menjadi Detektif


__ADS_3

Agistha baru sampai di kelasnya, ia tidak melihat keberadaan Kania di kursinya. Padahal di dalam kelas hampir semua murid sudah datang. Agistha tetap memasang wajah tenang.


"Laras, Kania ngabarin kamu gak?" tanya Agistha pada KM kelasnya.


"Oh iya, Kania tadi pagi sudah pindah sekolah katanya kedua orang tuanya sudah rujuk, terus dia pindah ke luar kota," kata Laras membuat Agistha tercengang.


"Pi-pindah sekolah? bukankah terlalu mendadak Laras?" tanya Agistha yang mulai gusar, itu tandanya Kania sudah lebih dulu mengambil langkah untuk meninggalkan jejak.


"Emangnya dia gak ngasih tau kamu Agis? Oh iya tadi dia juga malah titip salam sama kamu dan ini ada surat dari dia untukmu," kata Laras sambil memberikan sebuah amplop pada Agistha.


Agistha pun kembali duduk di kursinya dan membuka isi surat dari Kania.


To : Agistha


Maaf kalau kepindahanku terlalu mendadak, ini bukan kemauanku tapi ayahku. Maaf kalau selama ini aku bukan sahabat kamu yang baik. Tetap jaga dirimu, semoga pernikahanmu dan Reza berjalan lancar.


Aku ingin jujur, aku akan pindah ke Palembang, ayahku yang menempatkan aku ke sama karena sebenarnya ayah ku takut kalau aku akan membocorkan rahasia dan keberadaannya.


Sebenarnya ibuku sudah meninggal 2 hari yang lalu karena obat yang diberikan ayahku, aku diancam untuk tidak melaporkannya pada polisi karena nyawaku taruhannya. Aku hanya sendiri di Samarinda sedangkan ayahku masih di kota ini. Aku harap kamu dan Reza tetap hati-hati. Sekali lagi maafkan aku.


Kania


Agistha mulai bertanya-tanya tentang isi surat dari Kania. Ia pun berinisiatif memotret isi surat tersebut dan dikirimkan pada Reza, papahnya dan calon papih mertuanya.


"Berarti Kania benar-benar anak om Andre dan tega-teganya om Andre membunuh istrinya sendiri, psikopat! hayo Agis tetap tenang jangan gegabah," kata Agistha didalam hatinya.


~Andara Corp.


Reza yang baru saja mendapat pesan dari Agistha langsung dibukanya. Matanya langsung bulat sempurna saat membaca isi pesan Agistha yang tak lain adalah isi surat dari Kania.


Reza pun langsung memanggil sambungan telekonfrens kepada Rukman dan Vino.

__ADS_1


"Asaalamualaikum Za," ucap Rukman dan Vino bersamaan mengangkat telepon dari Reza.


"Pah, pih, apa kalian sudah mendapat pesan dari Agistha?" tanya Reza dengan wajah yang serius.


"Sudah, sudah baru saja papih selesai membacanya," jawab Vino.


"Iya sama papah juga," jawab Rukman.


"Menurut kalian bagaimana langkah kita selanjutnya?" tanya Reza kembali membuat Rukman dan Vino terdiam.


"Kalau menurut papih si Andre udah keterlaluan, Andre harus masuk penjara dengan tuduhan pembunuhan pada istrinya dan Maura serta percobaan pembunuhan pada Agistha walaupun tak kasat mata. Sebaiknya nanti sore kita ke kediamannya, memastikan apakah dia benar masih di kota ini atau tidak," usul Vino membuat Reza berpikir sejenak.


"Rencana aku sih awalnya sepulang sekolah ingin mengikuti Kania sampai ke rumahnya, eh ternyata dia sudah dipindahkan duluan ke luar pulau, bagaimana kalau aku saja dengan Agis yang kesana, papah sama papih tetap stand by ya jangan lapor polisi dulu soalnya si Andre ini main secara hal halus gak bisa hanya dengan orang awam kayak kita," jelas Reza sedangkan Rukman masih menyimak dan akhirnya angkat suara.


"Aku sih setuju saran Reza, bagaimanapun ini menyangkut kejiwaan Agis, disini sebenarnya Kania juga korban Andre kalau yang saya baca dari isi suratnya. Tapi Andre sudah bergerak lebih cepat sampai memindahkan Kania ke luar pulau," kata Rukman dan akhirnya Vino pun sependapat dengan Rukman.


Sambungan telekonfrens pun terputus.


#Sekolah


Hari mulai beranjak sore, para murid pun meninggalkan kelasnya menuju rumah mereka masing-masing.


Reza yang sudah menunggu didepan lobby dengan setelah jas dan kacamata hitam membuat para siswi menatap kagum. Sebelum Agistha pulang sekolah, Reza sebenarnya sudah lebih dulu sampai untuk menanyakan alamat rumah Kania pada komite sekolah.


"Mas, udah lama nunggu?" tanya Agistha membuat Reza tersentak kaget saat sedang memainkan ponselnya dengan menyalakan GPS pada maps.


"Ah ya lumayan tadi aku minta alamat Kania dulu ke ruang komite, hayo berangkat gak enak diliatin mulu tuh," kata Reza sambil menunjuk sekeliling yang kebanyakan siswi berlomba-lomba untuk menarik perhatiannya.


"Kamu seperti artis saja mas, oh iya kamu tau? bukan hanya yang nyata loh tapi yang tak kasat mata juga banyak yang memperhatikanmu," bisik Agis sambil terkekeh membuat Reza merinding, bukan karena merinding takut hantu melainkan merinding takut jiwa laki-lakinya terbangun.


Reza pun langsung masuk kedalam mobil disusul dengan Agistha. Sepanjang perjalanan tak ada percakapan diantara mereka.

__ADS_1


Namun saat sudah mulai dekat dengan rumah Kania, Agistha merasakan keanehan pada dirinya sendiri, ia langsung memejamkan kedua matanya mencoba menguatkan sisi lain dari dirinya dengan selalu beristighfar dan menyebut asma Allah.


"Mas, pelan-pelan nyetir mobilnya didepan kita banyak yang sedang berlalu lalang, nyalakan klakson dan bilang permisi mas sekarang," kata Agistha memberi arahan pada Reza dengan matanya yang masih terpejam. Reza mengikuti kata-kata Agistha, karena hanya saling yakin mereka akan baik-baik saja.


"Mas sepertinya kita sudah sampai," kata Agistha yang membuka matanya dan tepat didepan rumah sederhana klasik dengan banyak pohon disekitarnya namun tampak tak berpenghuni.


Sedangkan Reza yang sedari tadi terlalu fokus dengan arahan Agistha sampai tak sadar dengan maps nya.


"Mundurkan mobilnya mas, yang ku lihat ini bukan sebuah rumah biasa tapi seperti istana mas," kata Agistha membuat sorot mata Reza bertanya-tanya.


"Apa Agis sudah tidak guncang lagi dan sudah terbiasa bahkan dia terlihat biasa saja melihat dunia lain yang tak aku lihat, syukurlah aku harus tetap menguatkannya," batin Reza bermonolog melihat Agistha tampak biasa saja saat ini bahkan tak ada raut ketakutan diwajahnya.


Reza pun memundurkan mobilnya, perlahan. Suasana sekitar rumah seperti pemukiman tua dengan bangunan asli sejak dahulu dan tak ada perubahan.


"Mas, kita pulang sekarang, ada yang ingin menyerang kita didepan sangat banyak, dan kita hanya berdua putar balik mas mobilnya cepat," kata Agistha membuat Reza menjadi panas dingin.


Setelah jauh dari rumah Kania, Reza pun memberanikan diri untuk bertanya pada Agistha.


"Sebenarnya siapa yang tadi akan menyerang kita sayang?" tanya Reza membuat Agistha tersipu malu karena baru kali ini Reza memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Banyak bahkan bentuk wajah mereka saja sangat aneh, dan aku melihat satu titik yang pasti bukan dari dunia mereka, tapi aku belum yakin itu Kania ataupun om Andre. Dia sepertinya sedang berlindung diantara orang-orang yang berwajah aneh itu, yang jelas aku tau sekarang," kata Agistha.


"Tau apanya?" tanya Reza.


"Aku benar-benar yakin kalau om Andre memang sengaja membuka mata batinku lagi untuk mencari kelemahanku, tapi ternyata dia salah, aku sudah tidak seperti dulu lagi," ucap Agistha mantap membuat Reza tersenyum manis.


"Syukurlah, oh iya kamu lapar gak? aku lapar banget nih," kata Reza.


"Iya sama, ayok kita makan," ajak Agistha.


Dan mereka pun makan di salah satu restoran terenak dikota ini dengan memesan makanan kesukaan mereka.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2