
Riko langsung menelepon orang suruhannya untuk segera membawa Johan ke hadapan Reza.
~SMK Betari
Semua siswi sedang menikmati jam istirahat pertama. Banyak yang berada di kantin, di teras depan kelas dan juga tak sedikit juga yang memilih untuk berdiam diri di kelas dengan laptop mereka.
Orang suruhan dari Andara yang baru saja tiba di sekolah Agistha langsung menuju ke ruang komite untuk mencari keberadaan Johan. 4 orang laki-laki bertubuh kekar serta memiliki wajah yang menyeramkan berjalan dengan mantap membuat semua perhatian para murid tertuju pada mereka.
Kelas Agistha
"Woy, masa tadi gue abis dari kantin ngeliat ada 4 orang cowok badan gede muka serem jalan ke arah ruang komite. Ada apa ya? rasa-rasanya ada yang bermasalah disekolah ini," ucap Suri heboh berbicara dengan suara lantang sampai semua siswi di kelasnya mendengar.
"Kania, ada apa ya? kita lihat yuk feeling ku gak enak sih ya," bisik Agistha pada Kania dan Kania pun mengangguk.
Keduanya langsung keluar kelas dan menuju ke ruang komite dengan langkah yang tergesa-gesa. Sesampainya didekat ruang komite, mata Agistha membulat dengan sempurna begitupun dengan Kania setelah melihat keempat laku-laki itu.
"Kania, seperti aku tahu siapa mereka," ucap Agistha sambil berbisik pada Kania.
"Iya Gis, mereka orang suruhannya suamimu," jawab Kania berbisik pada Agistha.
"Ada apa ya Kan?" tanya Agistha yang berhenti tidak jauh dari ruang komite sambil memperhatikan apa yang akan terjadi dan Kania pun hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.
Keempat laki-laki itu pun menyadari keberadaan Agistha dan Kania, merekapun saling memberi kode untuk memberi pengamanan juga pada istri dan sepupu tuannya itu. Dua orang laki-laki sudah masuk ke dalam ruang komite dan dua orang lainnya berjaga di depannya.
Ruang Komite
Ruangan itu hanya ada satu orang saha yaitu Johan, sepertinya ia baru saja selesai berbincang-bincang dengan seseorang di poselnya, sangat kelagapan saat melihat dua orang laki-laki bertubuh besar dan kekak serta tatapan tajam pun langsung menghujam mata Johan.
Johan menjadi ketakutan dan salah tingkah. Ia pun mencari cara untuk kabur dari ruangannya namun tidak ada jalan lain selain pintu masuk yang berada di belakang kedua orang tersebut.
"Johan ikut saya sekarang! dan pertanggung jawabkan semua perbuatanmu," tegas salah satu laki-laki tersebut.
"Ja-jangan bawa sa-saya pak, sa-saya mohon," kata Johan memohon, namun permohonannya sama sekali tidak dihiraukan dengan kedua laki-laki itu.
"Ayok bawa dia sekarang!" ucap salah satu laki-laki itu dan yang satunya mengangguk.
Mereka pun menyeret paksa Johan yang memberontak. Setelah pintu terbuka, ternyata sudah banyak siswa siswi dan juga beberapa guru yang berkumpul.
"Pak, tidak bisakah dibicarakan baik-baik?" tanya salah satu guru tersebut.
"Maaf, kalau bapak dan ibu atau semua yang disini ingin tahu kebenarannya. Saksikan saja nanti dipengadilan, permisi," jawab salah satu laki-laki itu kemudian mereka pun membawa pergi Johan dari ruangannya.
__ADS_1
Semuanya pun tampak bertanya-tanya. Sementara Agistha dan Kania yang masih memperhatikan dari jauh, karena semakin penasaran dengan apa yang telah terjadi. Agistha mencoba menghubungi Reza namun tidak diangkat sama sekali, begitupun dengan Riko.
Tak lama tiba-tiba Rachima menghubungi Agistha.
"Assalamualaikum mah, ada apa?" ucap Agistha bertanya pada Rachima.
"Waalaikumsalam Agis, Agis tolong papah Gis, tadi papah sesak nafas dan tubuhnya demam sekarang mamah lagi di rumah sakit Kartika Betari, kamu setelah jam istirahat ini masih ada jam pelajaran gak? kalau gak ada cepat ke rumah sakit ya. Mamah didepan ruangan ICU," ucap Rachima panik dan gelisah. Perasaannya tak menentu.
"Iya mah, mamah tenang ya. Agis sama Kania akan segera ke sana sekarang," ucap Agistha kemudian menutup sambungan teleponnya.
"Kania kita harus ke rumah sakit sekarang, papah kritis," ucap Agistha dan langsung menarik lengan Kania pergi ke kelas mereka.
"Ada apa Agis?" tanya Kania bingung.
"Nanti aku ceritain," jawab Agistha singkat.
Dan mereka pun mengambil tas mereka dikelas lalu izin pada KM untuk pulang lebih awal karena papah mereka masuk rumah sakit. Lalu mereka pergi menggunakan taxi online.
Flashback on
~Andara Corp.
Setelah Vania menceritakan semua yang dia tau tentang perbuatan ayahnya dan alasan dia bisa melakukan kesalahan fatal itu, Riko pun berniat untuk memberitahukan kepada Rachima dan menyuruh Rachima untuk datang ke kantor Reza setelah ia menelepon orang suruhannya. Namun yang mengangkat telepon adalah Rukman.
Riko pun gelagapan dan berbisik pada Reza sambil menutup speaker ponselnya.
"Za, yang jawab pak Rukman, bagaimana ini?" tanya Riko bingung dan Reza pun tampak berpikir keras.
"Yasudah Ko ceritakan saja yang sebenarnya," jawab Reza karena tidak ada pilihan lagin. Karena Reza menganggap kalau kondisi Rukman juga sudah membaik.
Kediaman Navanka
Awalnya Riko tidak mau menceritakan pada Rukman takut Rukman menjadi kepikiran dan lebih lama pulih dari sakitnya. Namun karena Rukman memaksa dan dapat persetujuan dari Reza, akhirnya Riko menceritakan kepada Rukman apa yang telah terjadi di perusahaan Reza dan itu berkaitan dengan Rivaldi yang menjadi sahabat dan juga musuhnya saat ini.
Rukman pun terkejut dan langsung sesak nafas serta tubuhnya menggigil. Saat itu juga Rachima baru saja keluar dari kamar mandi, ia begitu terkejut melihat Rukman yang sedang menggigil hebat dan ponsel miliknya terjatuh ke lantai. Dilihatnya panggilan dari Riko yang masih tersambung. Rachima langsung memanggil semua pelayan untuk mengangkat Rukman ke mobil.
Riko yang mendengar Rachima teriak meminta tolong langsung merasa bersalah. Ia pun memutuskan sambungan teleponnya. Dan dengan cepat Riko langsung melapor ke kantor polisi dan meminta beberapa anggota polisi untuk datang ke kantor Reza.
Mang Ujang pun telah siap didepan rumah, mereka menuju rumah sakit. Setelah mengurus administrasi, Rachima langsung menyuruh dokter untuk mengambil tindakan. Dan sekarang Rukman berada di ruang ICU untuk perawatan intensif. Dirinya tak sadarkan diri.
Flashback off
__ADS_1
Andara Corp.
"Za, mertua lu lagi dibawa ke rumah sakit," bisik Riko karena diruangan Reza masih ada Vania.
Reza tersentak kaget, ia pun memijat keningnya dan menghempaskan nafas kasar. Kemudian Reza menghubungi Vino untuk ke rumah sakit dan memberitahukan kondisi Rukman saat ini . Vino pun langsung menuju ke rumah sakit sendirian karena Yusti sudah pergi ke butiknya.
Tak lama Johan pun datang dengan keadaan masih baik-baik saja hanya pakaiannya yang berantakan karena ia sempat memberontak saat di ruangannya. Reza melihat Johan langsung memberikan tatapan yang sangat tajam.
"Pak Johan, siapa yang sebenarnya akan magang di perusahaan saya? saya yakin bukan dia orangnya!" tanya Reza dengan nada penuh penekanan dan tegas.
Johan masih terdiam dan tampak berpikir.
"Jawab!" bentak Reza dan Johan hanya menundukkan kepalanya tidak berani menatap Reza.
Nyali Vania langsung menciut mendengar bentakan dari Reza karena sedari tadi Reza masih menahan amarahnya pada Vania karena dia masih menghormati perasaan seorang wanita.
"Riko, kamu sudah melaporkan pada polisi?" tanya Reza dengan menurunkan nada bicaranya.
"Sudah pak," jawab Riko.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu, lalu salah satu orang suruhan Andara membukakan pintunya. Ternyata 6 orang anggota polisi sudah termasuk komandannya baru saja tiba di ruangan Reza. Merekapun masuk ke dalam.
Johan semakin tidak bisa berkata apa-apa. Bibirnya terasa kelu. Dia menyesal mengikuti kerjasamanya dengan Rivaldi. Sekarang nasib anak istrinya di tangan Johan sendiri.
"Komandan, dan pak polisi yang lainnya silahkan masuk, mari kita lanjutkan persidangan kita," ucap Reza dan mereka pun duduk di sofa.
"Jawab Johan! jelaskan semuanya yang kamu ketahui dari orang yang telah menyuruhmu! atau kamu langsung masuk ke dalam penjara detik ini juga dan ditahan seumur hidup serta di keluarkan dari pihak sekolah secara tidak terhormat," ucap Reza menekankan kata-katanya.
Sebenarnya itu hanya gertakan Reza saja, mau dia berkata jujur atau tidak tetap saja Johan telah salah dan Reza sudah naik pitam. Maka setelah ini Johan akan tetap dikeluarkan dari sekolah dan masuk ke dalam bui.
"Sa-saya hanya disuruh oleh ayahnya Vania, pak Rivaldi. Saya di bayar dengan bayaran yang fantastik kalau rencananya berhasil. Dan sa-saya tidak ingin dikeluarkan dari sekolah pak Reza saya mohon, se-sebenarnya yang akan magang disini yang masih kerabat dekat dengan keluarga pak Rukman," jawab Johan terbata-bata.
Reza pun mendesis dan berdecak.
"Masih untung kamu tidak saya perlakukan kasar, karena saya masih menghormati hukum di negara ini jadi saya tidak akan main hakim sendiri. Setelah ini, silahkan bapak polisi yang terhormat untuk membawa saudara Johan dan juga saudari Vania untuk ke kantor polisi. Hukum mereka sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku dan buat mereka jera," ucap Reza panjang lebar.
Dua anggota polisi langsung berdiri dan memborgol tangan Vania dan juga Johan.
"Pak tolong jangan tangkap saya, saya janji gak akan ngelakuin kejahatan lagi," ucap Vania memohon sambil mengeluarkan air matanya.
"Kejahatan kalian harus diproses secara hukum, kalau kalian masih sayang sama nyawa kalian ikuti saja aturan hukum yang berlaku, silahkan pak bawa pergi mereka dari disini," kata Reza santai kemudian menyuruh para anggota polisi tersebut melakukan tugasnya.
__ADS_1
"Terima kasih atas laporan pak Reza, kami akan segera memproses perkara ini di jalur hukum, kalau begitu kami permisi dan akan merencanakan penangkapan target selanjutnya," ucap komandan polisi tersebut dan Reza pun mengangguk kemudian para anggota polisi itupun pamit untuk membawa Vania dan Johan kekantor polisi.
Bersambung..