Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 112 : Bebas


__ADS_3

Setelah acara khitbah, pagi ini Vania dan Andi izin kepada ustadz Fahri untuk ke kantor polisi karena hari ini persidangan penentuan kebebasan Rivaldi dan Devi.


Setelah mendapat izin keduanya pun pergi ke kantor polisi. Sesampainya disana, keduanya menemui Rivaldi dan Devi lebih dahulu.


"Ayah, bunda," ucap Vania sambil memeluk Rivaldi dan Devi bersamaan.


Andi yang melihatnya ikut terharu. Pasalnya sampai saat ini Andi belum bisa menjenguk kedua orangtuanya di Kalimantan. Bahkan Andi tidak pernah bertukar kabar lagi.


"Sayang dengan siapa kamu kesini?" tanya Devi.


"Ayah, bunda kenalin ini Andi calon suami Vania," jawab Vania sambil memperkenalkan Andi. Andi pun mencium punggung tangan Rivaldi dan Devi secara bergantian.


"Vania, apa kamu sudah berpindah keyakinan? bagaimana dengan sekolahmu nak?" tanya Rivaldi.


"Iya ayah, bunda sejak beberapa pulan yang lalu Vania sudah menjadi mualaf, dan semalam Vania baru saja melakukan khitbah dengan Andi. Sekolah Vania lebih baik sekarang ayah, bunda berkat keluarga Navanka yang telah membantu Vania," jelas Vania panjang lebar.


"Keluarga Navanka? lalu khitbah itu apa nak?" tanya Rivaldi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Iya ayah, keluarga Navanka tidak memasukkanku ke penjara, tapi memindahkan aku ke salah satu pondok pesantren terbesar di kota ini. Sebelumnya mereka bertanya padaku untuk pindah keyakinan. Setelah aku pikir-pikir akhirnya aku dengan ikhlas menyetujuinya. Mereka semua baik ayah. Bahkan mereka tidak pernah berkata kasar sekalipun padaku."


"Khitbah itu prosesi lamaran dalam islam. Aku berdoa semoga ayah dan bunda segera bebas dan bisa menyaksikan pernikahanku dengan Andi," jelas Vania panjang lebar.

__ADS_1


"Maafkan kami nak, selama ini kami tidak pernah mengajarkanmu tentang agama yang kami anut. Kami terlalu sibuk mengejar uang. Vania, menurutmu kalau ayah dan bunda rujuk lagi bagaimana ?" tanya Rivaldi sambil menoleh kearah Devi dan Devi pun mengangguk pelan.


"Benarkah ayah dan bunda akan rujuk?" tanya Vania dengan mata yang berbinar-binar.


"Iya sayang, kami masih saling mencintai. Bahkan sebenarnya kami juga ingin berpindah keyakinan sama sepertimu," jawab Devi.


Vania langsung memeluk kedua orangtuanya. Andi merasa terharu dan menitikkan air matanya.


"Ya Allah bukakanlah jalan kedua orangtua Vania untuk berubah menjadi lebih baik. Ridhoilah mereka ya Allah," doa Andi dalam hatinya.


"Permisi, pak, bu persidangan akan segera dimulai," ucap ibu polwan memberitahukan kepada mereka.


Vania melepaskan pelukannya dan mereka berjalan menuju ruang persidangan. Sesampai disana ternyata sudah ada Rachima dan Yusti. Rivaldi dan Devi pun duduk di kursi terdakwa. Sementara Vania duduk di samping Rachima.


Rivaldi dan Devi pun langsung berpelukan.


"Maafin aku ya mas pernah meninggalkanmu," ucap Devi sambil menangis.


"Maafkan aku juga ya, bisakah kita rujuk kembali?" kata Rivaldi lalu bertanya pada Devi.


"Iya mas, aku mau," jawab Devi.

__ADS_1


Keduanya pun melepaskan pelukannya.


Vania menghampiri Rivaldi dan Devi lalu memeluk sangat erat.


"Ya Allah terima kasih atas jalan yang telah Kau beri pada hidupku. Warna yang dulu sempat pudar kini telah nyata kembali," ucap Vania dalam hatinya.


Cukup lama mereka berpelukan, akhirnya mereka pun melepaskan pelukan itu. Rachima dan Yusti menghampiri Rivaldi dan juga Devi.


"Selamat ya akhirnya kalian bebas juga, semoga setelah ini kalian bisa menjadi orang yang lebih baik lagi," ucap Rachima sambil tersenyum.


"Terima kasih ya Rachima dan juga kalian semua yang sudah baik dengan anakku Vania. Maafkan kesalahan kami yang telah kami perbuat. Kami tidak tahu nasib Vania jika bukan karena kebaikan kalian," kata Devi sambil menangis.


Rachima langsung memeluk Devi dan mengelus lembut punggungnya.


"Iya sama-sama, bukankah setiap manusia itu harus saling memaafkan. Dan saling memperbaiki diri, maafin aku juga yang pernah punya salah kepada kalian. Aku tau kalian melakukan hal itu karena sebenarnya kalian punya alasan tersendiri," ucap Rachima dan keduanya pun melepaskan pelukannya.


"Rachima bisakah kamu membantu kami untuk pindah keyakinan seperti keyakinanmu?" tanya Rivaldi.


Rachima langsung tersenyum sambil menatap Rivaldi dan Devi bergantian lalu mengangguk.


"InsyaAllah bisa, yuk ikut dengan kami," jawab Rachima dan mereka pun pergi menuju Ponpes Al-Kahfi.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2