
Suasana pagi disekitar vila sangat cocok untuk menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Melepaskan semua penat dan lelah.
Agistha mengejapkan matanya ternyata matahari sudah memasuki sela-sela gorden kamarnya.
"Astgahfirullah bukankah hari ini ada acara tasyakuran?" gumam Agistha.
Agistha langsung membalikkan badannya membangunkan Reza yang tertidur masih menggunakan baju koko dan sarungnya.
"Sayang bangun, bukankah kita hari ini ada acara?" ucap Agistha lembut saat membangunka Reza.
Reza pun membuka matanya perlahan.
"Selamat pagi sayang, euuugghh," ucap Reza sambil meluruskan otot-ototnya.
"Pagi sayang, mandi yuk terus kita turun ke bawah," ajak Agistha.
"Kamu sedang menggodaku sayang untuk mengajak mandi bersama?" tanya Reza dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sayang ih ngeliatinnya biasa aja," jawab Agistha yang tertunduk malu.
"Ayok kita mandi sayang," ajak Reza yang sudah bangun dari tempat tidurnya dan mengulurkan tangannya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Agistha tidak bisa berkata-kata dan mereka pun mandi bersama.
1 jam kemudian
Reza dan Agistha telah selesai bersiap, lalu mereka pun keluar kamar. Saat mereka sedang menuruni anak tangga, ternyata Yusti dan Rachima tengah mengecek kudapan camilan untuk acara.
"Pagi mah, mih," ucap Reza dan Agistha menghampiri Yusti dan Rachima.
"Eh, pagi sayang," ucap Rachima.
"Pagi nak," ucap Yusti.
"Mah, mih ustadz Fahri dan kelurganya belum datang?" tanya Reza sambil menoleh kearah pintu masuk.
"Belum, sepertinya masih dijalan Za," jawab Rachima.
"Papah sama papih dimana?" tanya Reza sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Ada di halaman depan sedang bersantai," jawab Yusti.
"Oh yasudah Reza ke depa dulu ya," ucap Reza kepada Rachima dan Yusti lalu mengelus singkat pinggang Agistha dan Agistha pun mengangguk.
"Apa snack nya sudah semua mah, mih?" tanya Agistha.
"Sudah, sudah.. makanannya pun sudah beres semua kok," ucap Rachima dan Yusti mengangguk cepat.
"Mah, mih Agis kepingin bolu susu lagi tapi Agis mau buat sendiri. Kemarin Agis buat tapi dihabisi sama mas Reza," ucap Agistha dengan raut wajah murung.
Rachima dan Yusti pun saling bertukar pandang.
"Yasudah yuk mamah temani buat bolu susu, kami tinggal ya jeng," ajak Rachima pada Agistha dan pamit pada Yusti lalu Yusti pun mengangguk.
__ADS_1
"Apa Agis hamil ya?" tanya Yusti dalam hatinya kemudian ia pun menyusul Reza ke depan.
Halaman Depan Vila
"Za, kamu ngerasa aneh gak sama Agis?" tanya Yusti penasaran.
"Aneh gimana mih?" tanya Reza kembali.
"Tadi tiba-tiba dia mau buat bolu susu karena kemarin dia buat kamu habisi bolunya, apa Agis sedang hamil Za?" jawab Yusti kemudian bertanya pada Reza.
Reza begitu tercengang dengan pertanyaan Yusti membuatnya bertanya-tanya dalam hatinya.
Apa benar Agis hamil? Bukankah kata dokter Dina seseorang yang menderita PCOS harus program dulu baru bisa hamil?
"Reza belum tau mih, besok sepulang sekolah Agis, kami ke dokter kandungan deh untuk cek lebih lanjut," jawab Reza.
"Terus mamih lihat sejak kemarin kamu makanin buah strawberry terus Za, kan itu asam," ucap Yusti membuat Reza berpikir sejenak.
"Iya mih gak tau Reza juga, lagi pingin makan buat strawberry aja," jawab Reza santai.
"Za kamu tuh dari kecil paling anti sama yang namanya makanan asam, mamih sih menduga Agis hamil," ucap Yusti dengan percaya diri.
"Ya semoga yang terbaik aja ya mih," jawab Reza karena ia masih belum bisa menceritakan tentang kondisi Agistha kepada kedua orangtuanya.
Rukman yang mendengarnya pun sedikit lega, karena Reza tidak memberitahukan dulu tentang Agistha kepada Yusti maupun Vino.
Beberapa jam kemudian, ustadz Fahri dan keluarganya baru sampai di vila tersebut.
"Assalamualaikum," ucap ustadz Fahri sekeluarga.
"Ustadz, ustadzah," ucap Rukman sambil bersalaman pada ustadz Fahri sekeluarga diikuti dengan Reza, Vino dan juga Yusti.
Didalam rumah, Agistha dan Rachima baru aja selesai membuat bolu susu.
"Harum sekali Gis, mamah jadi ikut kepingin," ucap Rachima tersenyum.
"Makan sama Agis yuk mah," ajak Agistha dan ia pun menyantap dengan lahap bolu tersebut sambil sesekali menyuapi Rachima.
Tiba-tiba salah satu pelayan menghampiri Agistha dan Rachima saat keduanya tengah asik menikmati bolu buatan Agistha.
"Permisi nyonya dan nona, didepan sudah ada ustadz Fahri dan keluarganya," ucap pelayan itu.
"Oh iya, makasih ya," ucap Rachima lalu pelayan itu meninggalkan Rachima dan Agistha.
"Sayang ayuk kita ke depan, bolunya simpan dulu saja di kulkas ya," ajak Rachima dan Agistha pun mengangguk.
Rachima dan Agistha menyambut kedatangan ustadz Fahri dan keluarganya, ternyata Andi dan juga Vania juga ikut bersama mereka.
"Assalamualaikum ibu," ucap Vania dan Andi sambil mencium punggung tangan Rachima secara bergantian.
"Waalaikumsalam, barakallah," jawab Rachima sambil tersenyum dan mengelus lembut kepala Andi dan Vania secara bergantian.
"Mari semuanya masuk kedalam," ajak Rachima dan mereka semua pun masuk kedalam.
__ADS_1
Para tamu pun sudah berdatangan dan pengajian pun dimulai. Reza dan Agistha yang duduk tak jauh dari pintu masuk melihat mobil Riko memasuki gerbang.
"Sayang itu ada Riko, kapan dia pulang dari Yogya ya?" bisik Reza pada Agistha sambil menunjuk ke arah gerbang kemudian Agistha mengikuti arah yang Reza maksud sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Sebentar ya aku ke sana dulu," ucap Reza dan Agistha pun tersenyum lalu mengangguk.
"Assalamualaikum Za," ucap Riko saat keluar dari mobilnya lalu Kania.
"Assalamualaikum mas Reza," ucap Kania.
"Waalaikumsalam, ayok masuk, masuk," ajak Reza dan mereka pun masuk ke dalam.
Beberapa jam kemudian acara pun selesai. Para tamu yang hadir menikmati hidangan yang sudah di siapkan oleh keluarga Navanka dan Andara.
Ustadz Fahri berbincang-bincang dengan Rukman dan Vino, istrinya dengan Yusti dan Rachima, Kalila dengan Agistha, Vania dan Kania, serta Emil dengan Reza, Riko dan juga Andi.
"Ko kamu kapan pulang ke Yogya? bukankah nanti sore?" tanya Reza pada Riko.
"Tadinya gitu, hanya semalam Kania merengek ingin ke sini dan kami memilih penerbangan yang sangat pagi," jawab Riko dan Reza hanya ber oh ria.
"Andi dan mas Emil sendiri apa kabar ? bagaimana ponpes apakah berjalan dengan lancar?" tanya Reza pada Andi dan juga Emil.
"Alhamdulillah mas Reza saya baik, ponpes juga lancar seperti biasanya," jawab Emil.
"Kalau kamu Andi?" tanya Reza.
"Alhamdulillah saya juga baik mas Reza," jawab Andi tersenyum.
Sementara di kumpulan para wanita.
"Agis, kamu baru beberapa hari aku tinggal terlihat lebih berisi, iya gak sih ?" ucap Kania.
"Masa sih? enggak tau ih aku segini-segini aja, malah sekarang kalau pagi sering pusing kayanya kecapekkan," jawab Agistha tidak percaya.
"Oh iya Kania, Agis ini Vania ," ucap Kalila memperkenalkan Vania.
"Assalamualaikum kak, aku Vania," ucap Vania dan Kania langsung menatap kepada Agistha.
"Waalaikumsalam, aku Agis dan ini Kania sekarang bukankah kita saudara?" ucap Agistha dan Vania pun mengangguk cepat.
Mereka pun bercengkrama dengan raut wajah yang penuh dengan kebahagiaan. Hari pun beranjak siang. Ustadz Fahri dan keluarganya serta Vania dan Andi pamit untuk kembali ke pesantren.
Para pelayan tengah sibuk membereskan ruangan selesai acara. Dan Agistha memilih ke dapur untuk melanjutkan memakan bolu susunya kembali.
Tanpa sepengetahuan Agistha, Reza diam-dia mengikuti Agistha.
"Sayang kamu buat bolu susu lagi? aku mau," tanya Reza kemudian merengek pada Agistha.
Agistha langsung mengerucutkan bibirnya.
"Bareng-bareng ya jangan dihabisi sendiri," jawab Agistha yang tak terasa menitikkan air matanya.
"Loh sayang kok nangis? iya maaf maaf kamu habiskan sendiri saja ya, aku gak jadi minta deh," ucap Reza merasa khawatir dan saat Reza berkata demikian, raut wajah Agistha langsung berubah bahagia. Reza pun hanya menghela nafasnya.
__ADS_1
Bersambung..