
~RS Kartika Betari
Rachima dan Maresha baru saja sampai di kamar rawat Rukman.
"Assalamualaikum," ucap Rachima dan Maresha bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Rukman dan Vino bersamaan.
"Wah kebetulan sekali Rachima sudah pulang, kalau begitu aku pamit ke butik istriku dulu ya," ucap Vino.
"Kok buru-buru Vin?" tanya Rachima.
"Iya tadi Yusti meminta bantuan ku karena di butik sedang ramai pengunjung," jawab Vino dan Rachima pun mengangguk.
"Yasudah hati-hati ya Vin, makasih udah membantuku untuk menjaga mas Rukman," ucap Rachima tersenyum.
"Sama-sama kan kita keluarga jadi jangan sungkan ya, baiklah kalau begitu assalamualaikum," kata Vino tersenyum kemudian pergi meninggalkan kamar rawat Rukman.
"Bu, pak maaf sepertinya saya juga harus pergi karena saya harus mengurus perkara pak Johan, Devi dan juga Rivaldi supaya cepat naik ke pengadilan dan menjatuhkan hukuman kepada mereka," pamit Maresha.
"Baiklah, terima kasih ya Maresha. Saya harap kasus ini akan segera diusut tuntas sampai ke akar-akarnya," ucap Rukman.
"Aamiin pak. Semoga bapak juga lekas pulih dan bisa beraktifitas kembali," kata Maresha tersenyum.
"Makasih ya Sha sudah membantu saya hari ini, kamu hati-hati dijalan," ucap Rachima dan Maresha pun mengangguk sambik tersenyum.
"Sudah menjadi kewajiban kami untuk membantu keluarga Navanka, saya permisi pak, bu assalamualaikum," ucap Maresha.
"Waalaikumsalam," jawab Rukman dan Rachima bersamaan kemudian Maresha pun pergi keluar kamar rawat Rukman.
Sepeninggal Maresha, Rachima pun menghampiri Rukman dan duduk di pinggir tempat tidur Rukman.
"Pah, apa masih ada yang terasa sakit?" tanya Rachima lembut sambil mengelus tangan Rukman yang terpasang selang infus.
"Tidak mah, alhamdulillah sudah membaik. Tadi dokter pun bilang kalau hari ini sudah stabil besok bisa pulang ke rumah," jawab Rukman tersenyum.
"Syukur alhamdulillah kalau begitu pah," ucap Rachima sambil mengelus lembut kepala Rukman.
"Apa papah sudah makan?" tanya Rachima.
"Sudah mah, kalau papah sih yakin mamah yang belum makan siang ya kan?" jawab Rukman kemudian bertanya pada Rachima.
"Papah tau aja," jawab Rachima terkekeh.
__ADS_1
"Yasudah mamah pesan makanan lewat ojek online aja deh, sebentar ya pah," sambung Rachima kemudian meraih ponselnya di atas nakas kemudian memesan makanan.
"Mah tadi bagaimana Vania? apa dia mau berpindah keyakinan?" tanya Rukman sambil merubah posisi duduknya dari terbaring menjadi duduk dibantu Rachima.
"Alhamdulillah mau pah, dan mamah salut sih sama Vania. Dibalik sifat kerasnya ternyata kalau dilembutin bisa jadi anak yang penurut. Mungkin karena dulunya Rivaldi dan Devi tidak pernah memperhatikannya dan bersikap keras padanya jadi Vania menjadi anak yang membangkang," jawab Rachima membut Rukman bernafas lega.
"Berarti anak kita tambah 2 ya pah," sambung Rachima terkekeh.
"Jadi mamah mau nambah adik buat Agis? papah kan belum sembuh mah," tanya Rukman tidak percaya.
"Ih apaan sih pah, maksud mamah anak kita tambah 2 itu Vania dan Andi," jawab Rachima terkekeh kembali.
"Oh, papah kira Agis mau punya adik lagi," kata Rukman sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Papah ih genit," timpal Rachima.
"Sama istri kesayanganku ini gak apa-apa dong kalau papah genit," ucap Rukman membuat Rachima tersipu malu.
Walau umur mereka sudah hampir memasuki kepala 5 namun keromantisan mereka tidak pernah pudar. Candaan kecil itulah yang selalu mereka rindukan kala suatu saat nanti salah satu dari mereka telah tiada.
Tiba-tiba pintu kamar pun ada yang mengetuk. Rachima turun dari tempat tidur dan membukakan pintu.
"Permisi bu, ini pesanannya," ucap ojol tersebut sambil menyerahkan pesanan Rachima.
"Iya bu terima kasih kalau begitu saya permisi," ucap ojol tersebut kemudian pergi dari hadapan Rachima.
Baru saja Rachima akan menutup pintu tiba-tiba ditahan oleh Reza.
"Mah jangan ditutup dulu," pekik Reza sambil menahan pintu. Rachima pun tersentak kaget.
"Astaghfirullah Za, bikin mamah kaget aja. Loh Agis sama Kania mana kok hanya kalian berdua?" ucap Rachima kemudian bertanya pada Reza dan juga Riko.
"Agis sama Kania lagi jajan mah di kantin rumah sakit," jawab Reza santai.
Mereka pun masuk ke dalam.
"Assalamualaikum pah, mah," ucap Reza sambil mencium tangan Rukman dan juga Rachima diikuti oleh Riko.
"Waalaikumsalam, apa kalian sudah makan siang?" tanya Rukman pada Reza dan Riko.
"Sudah tuan," jawab Riko.
"Sudah pah tadi di cafe," jawab Reza sambil mendaratkan tubuhnya di sofa.
__ADS_1
"Papah gimana keadaannya sudah membaikkah?" tanya Reza pada Rukman.
"Alhamdulillah sudah Za, kamu sendiri bagaimana apa sakit kepalanya masih suka kambuh?" jawab Rukman kemudian bertanya pada Reza.
Reza sempat berpikir cukup lama. Pasalnya ia merasa sakit kepalanya sudah tidak kambuh lagi semenjak setelah berhubungan dengan Agistha beberapa waktu lalu.
"Alhamdulillah sudah tidak pernah lagi pah, nanti aku dan Agis sekalian kontrol di rumah sakit ini," jawab Reza.
Tak lama Agistha dan Kania pun masuk dengan membawa banyak sekali paper bag yang berisi makanan.
"Assalamualaikum," ucap Agistha dan Kania bersamaan seperti telah mendapat hadiah istimewa.
"Waalaikumsalam," jawab semua yang ada di kamar tersebut.
"Ada apa sih? kayaknya pada seneng banget ," tanya Rukman pada kedua putrinya.
"Tidak pah, tadi selama berjalan Agis menceritakanku banyak hal yang ada dirumah sakit ini yang tak terlihat," jawab Kania membuat semuanya kecuali Agistha , mengerutkan kedua alis mereka.
"Apa kamu tidak merasa takut Kan?" tanya Reza penasaran.
"Tidak, karena kata Agis kita dan mereka itu ada dinding tebal yang memisahkan jadi walaupun berdampingan kita tidak bisa menyatu dengan mereka," jawab Kanua mantap.
"Agis, apa kamu masih melihatnya lagi?" tanya Reza yang masih penasaran.
Agsitha pun mengangguk cepat, "iya bahkan entah kenapa sekarang menjadi lebih tajam yang hilang hanya ketakutanku saja kepada mereka," jawab Agistha.
"Pah apa bisa seperti itu?" tanya Reza yang lagi-lagi masih penasaran.
"Bisa, selama mereka tidak mengganggu Agis dan Agis tidak merasa dirinya terancam semua akan baik-baik saja, teruslah bimbing Agis supahya hati Agis kuat ya Za," jawab Rukman dan Reza pun mengangguk.
"Iya pah, insyaAllah ," ucap Reza dan ia pun langsung memeluk Agistha yang duduk disebelahnya.
"Mah, katanya mau makan nanti makanannya keburu dingin loh," ucap Rukman pada Rachima.
"Oh iya pah sampai lupa, ayok kita makan bersama-sama," ajak Rachima dan mereka pun menikmati makanan yang dibeli Rachima dan Agistha bersama-sama.
"Mas mau cake ini gak? enak loh," tanya Agistha pada Reza.
"Mau tapi suapin ya," rengek Reza dan dengan senang hati Agistha lun menyuali Reza.
"Ehem, iri kita bos," ucap Riko sambil berdehem.
Seisi kamar itu pun tertawa bersama mendengar ucapan Riko.
__ADS_1
Bersambung..