
Navanka Corp.
Gigih sudah menyuruh OB untuk membersihkan dan membereskan ruang meeting yang akan ia pakai meeting dengan Andara Corp. sejak tadi pagi. Diruangannya, Gigih tampak sibuk karena selama seminggu kedepan ia yang harus memegang kendali perusahaan selama Rukman proses pemulihan.
Reza yang sejak tadi sibuk dengan berkas-berkas laporan yang harus ia tanda tangani pun akhirnya selesai tepat waktu 1 jam lalu. Dan kini ia bersama dengan Riko baru saja sampai di Navanka Corp. .
Para pegawai yang melihat Reza dan Riko memasuki kantor tempat mereka bekerja, sangat terpana melihat 2 orang laki-laki berwajah dingin dan jutek. Meski begitu, para pegawai terkagum-kagum memuji aura ketampanan dari keduanya.
Sangat jarang sekali Reza dan Riko meeting di kantor milik Rukman tersebut. Karena mereka lebih sering meeting di luar perusahaan.
"Waw tampannya, sepertinya itu pak Reza laki-laki mapan yang penuh kharismatik," ucap pegawai 1.
"Iya kamu benar, apa dia sudah menikah?" kata pegawai 2 bertanya kepada pegawai 1.
"Sepertinya belum, karena belum ada rumor yang menyebut dia sudah menikah," jawab pegawai 1.
"Aah kalau begitu aku mau jadi istrinya," ucap pegawai 2.
"Aku juga maulah, siapa sih yang gak mau sama anak konglomerat seperti dia," kata pegawai 3.
Begitulah percakapan beberapa pegawai pada saat melihat keberadaan Reza dan juga Riko. Lalu keduanya pun sampai di lantai khusus ruangan Gigih dan juga Rukman serta ruang meeting khusus para petinggi perusahaan.
"Selamat siang pak Reza dan Riko," ucap Gigih saat Reza dan Riko keluar dari dalam lift kemudian mereka pun saling berjabat tangan.
"Siang pak," jawab Reza dan Riko bersamaan.
"Silahkan masuk pak Reza, Riko," ajak Gigih masuk ke dalam ruang meeting. Reza dan Riko pun mengangguk dan mengikuti langkah Gigih.
Mereka pun kini telah duduk di kursinya masing-masing, Gigih menyalakan layar projector dan juga menyambungkannya ke laptop miliknya.
"Baik pak, langsung saja kita mulai meertingnya ya," ucap Gigih.
Kemudian Gigih pun menjelaskan sebuah produk terbaru yang akan launching dan kinerja kerja terbaru dari perusahaan Navanka Corp. mengenai pemasaran produk di ruang lingkup masyarakat. Meeting pun berlangsung lumayan lama, perdebatan pun tidak terhindarkan saat meeting tersebut.
Reza yang merupakan seorang CEO yang memiliki pikiran realistis dan juga kerja nyata sangat sensitif mengenai sebuah perencanaan yang menurutnya kurang matang. Beruntung Gigih mampu mengimbangi Reza untuk menjawab setiap pertanyaannya. Bahkan ditengah meeting ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Gigih, dan Gigih pun menelepon Rukma yang baru saja sampai dirumahnya untuk menjawab semua pertanyaan dari Reza.
Dan akhirnya meeting tersebut mencapai kesepakatan demi keuntungan bersama untuk kedua belah pihak. Meeting pun akhirnya selesai, Gigih bisa bernafas lega.
"Alhamdulillah, pantas saja pak Rukman memilih Reza sebagai menantunya. Kecerdasannya luar biasa terhadap dunia bisnis yang sangat kejam ini. Bahkan dibalik kejamnya sistem kerja Reza, ia masih memikirkan nasib rakyat kecil diluar sana, masyaAllah," ucap Gigih dalam hatinya sambil membereskan berkas-berkas.
"Sudah waktunya makan siang pak, lebih baik kita makan siang bersama di kantin kantor," usul Gigih lalu Reza dan Riko pun mengangguk.
Mereka pun menuju kantin untuk makan siang bersama. Di kantin tersebut terdapat ruangan khusus yang biasa digunakan Rukman saat kedatangan tamu penting atau saat maka siang bersama tamu penting seperti sekarang ini.
__ADS_1
Di meja prasmanan sudah terdapat bermacam makanan dan minuman dimulai dari appetizer, main course dan juga dessert. Semuanya lengkap, mata Riko pun langsung berbinar mengingat sarapan pagi ini hanya sedikit karena Reza mengajaknya ke kantor lebih cepat.
Setelah makan siang Reza dan Riko pun pamit untuk kembali ke kantornya. Riko yang saat ini merangkap jabatan menjadi supir Reza juga begitu sangat bahagia, karena itu artinya dia akan sering bertemu dengan Kania pujaan hatinya.
"Baik kalau begitu kami mau kembali ke kantor ya pak Gigih," ucap Reza saat mereka sudah berada di lobby perusahaan.
"Iya pak, terima kasih sudah berkenan untuk datang ke sini. Dan mengenai proposalnya akan segera saya revisi ulang. Setelah itu akan saya kirim langsung ke email pak Reza maupun Riko ya," kata Gigih.
"Baik pak, kami permisi," kata Reza tersenyum sambil membungkukkan sedikit tubuhnya memberi tanda hormat begitupun dengan Riko dan juga Gigih.
~Kediaman Navanka
Rukman sudah tiba di rumah sejak 1 jam yang lalu kini sedang beristirahat di kamarnya. Sementara Rachima juga ikut tertidur disamping Rukman karena semalaman ia terjaga. Kedua pasangan yang usianya sebentar lagi menginjak kepala 5 pun masih sangat romantis dan juga harmonis.
Agistha dan kedua saudaranya yang telah tiada pun sangat menyayangi kedua orang tuanya. Meski mereka sama-sama bekerja sama mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh ayah nya Rukman namun waktu untuk anak-anak Rukman maupun Rachima tidak pernah berkurang.
Hari semakin sore, Agistha dan Kania baru saja sampai dirumah namun dijemput oleh mang Ujang karena Reza masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini juga dengan Riko.
"Assalamualaikum," ucap Agistha dan Kania bersamaan saat memasuki rumah mereka.
"Waalaikumsalam," jawab bi Niah.
"Sepi banget bi? papah sudah pulang bi?" tanya Agistha sambil mencari-cari keberadaan kedua orang tuanya karena melihat ada plastik obat-obatan diatas meja makan.
"Iya bi, nanti kami bantu ya," ucap Agistha antusias.
"Nggak usah non, lebih baik non Agis sama non Kania istirahat saja di kamar lagian pelayan dirumah ini kan banyak bukan hanya bibi saja," kata bi Niah melarang lembut Agistha dan juga Kania karena tidak ingin keduanya ikut kelelahan seperti Rachima.
"Baik bi kalau begitu, kalau butuh apa-apa jangan sungkan panggil kami ya bi," ucap Kania tersenyum.
"Baik non, bibi permisi," pamit bi Niah kemudian pergi ke dapur kembali.
Agistha dan Kania pun langsung menuju ke kamarnya masing-masing. 1 jam setelah kepulangan mereka, kini Reza pun baru sampai di kediaman istrinya sedangkan Riko langsung pulang ke apartemen miliknya yang tak jauh dari kediaman Navanka.
Reza langsung menuju kamar Agistha karena para pelayan tengah sibuk di dapur jadi ia berniat untuk bertanya saja pada Agistha di kamar. Saat memasuki kamar ternyata pintunya terkunci. Reza pun mengetuk pintu. Beruntungnya Agistha baru saja selesai mandi, sholat ashar dan juga berganti baju.
Mendengar ada suara ketukan pintu, ia langsung meraih jilbabnya dan memakainya kemudian membukakan pintu kamarnya.
"Mas Reza baru pulang?" tanya Agistha lembut dan mencium punggung tangan Reza dan Reza pun mencium kening istrinya tersebut.
Keduanya saling melempar senyum, Reza pun masuk ke dalam kamar Agistha.
"Mas mau langsung mandi? sudah aku siapkan air hangatnya baru saja ," ucap Agistha sambil menaruh tas laptop Reza diatas meja dan juga jas kantornya di keranjang pakaian kotor.
__ADS_1
"Iya sayang, lengket semua tubuhku rasanya," kata Reza sambil mendaratkan tubuhnya di sofa dengan nada manja dan Agistha hanya tersenyum mesem melihat Reza seperti bayi besar baginya.
"Oh iya mas tadi bi Niah bilang kata mamah ba'da maghrib ada pengajian dirumah," ucap Agistha sambil duduk di sebelah Reza.
"Oke deh sayang, apa ustadz Fahri juga ada?" tanya Reza sambil melepaskan sepatu kerjanya.
"Biasanya ada mas, setelah pengajian aku ingin kuliner malam ya mas," jawab Agistha kemudian merengek manja pada Reza.
"Kuliner malam? mau kemana sih emangnya sayang?" tanya Reza lembut sambil mencubit pelan hidung Agistha.
"Tadi aku lihat pas pulang sekolah ada bazar makanan gitu mas di supermall dekat sini," jawab Agistha dengan puppy eyes yang membuat Reza seperti tidak taha ingin selali menerkamnya saat ini juga. Namun ia pun cepat tersadar.
"Iya sayang tapi sama Riko dan Kania ya soalnya aku kan masih belum bisa menyetir mobil sendiri, oh iya kamu sudah sholat ashar belum?" jawab Reza kemudian bertanya pada Agistha.
"Iya sayang gak apa-apa lebih rame akan lebih seru, aku sudah sholat sayang, yasudah mas mandi dulu ya bau tau," jawab Agistha antusias dan meledek Reza.
Reza pun langsung menggelitik pinggang Agistha karena sudah meledeknya.
"Ahahahaha... ampun mas ampun hahaha," kata Agistha karena Reza terus menggelitik pinggangnya.
Reza pun melepaskan gelitikannya setelah Agistha meminta ampun.
1 jam kemudian keduanya baru saja selesai sholat maghrib berjamaah kemudian keluar kamar menuju ruang tamu. Ternyata ada Vino dan Yusti baru saja datang.
"Mih, pih baru datang?" tanya Reza kemudian mencium punggung tangan kedua orang tuanya begitupun dengan Agistha.
"Papah sama mamah belum pada keluar kamar nak?" tanya Yusti pada Reza dan juga Agistha.
"Mungkin masih sholat mih," jawab Agistha.
Tak lama dari belakang Agistha dan Reza, Yusti dan Vino melihat Rukman menggunakan tongkatnya dan Rachima baru saja keluar kamar. Rukman dan Rachima pun turun menggunakan lift karena tidak memungkinkan untuk turun melalui tangga.
"Bagaimana keadaanmu Rukman?" tanya Vino menghampiri Rukman dan berjabat tangan.
"Alhamdulillah sudah membaik dan sudah tidak bengkak lagi kakinya," jawab Rukman tersenyum.
Entah kenapa Vino merasa raut wajah Rukman terlihat berbeda namun ia menepis semua pikiran buruk tersebut. Selang beberapa menit, ustadz Fahri baru saja datang bersama istri dan juga anaknya Kalila beserta menantunya. Dan juga bersama satu orang yang tak asing. Ya, dia adalah Andi.
Dilihat penampilan Andi sudah sangat berbeda, dan Andi terlihat lebih memiliki sopan santun sekarang. Meski begitu aura kecemburuan di wajah Reza mulai nampak. Ia pun tak mau jauh-jauh dari Agistha.
Pengajian pun dimulai dengan begitu hikmat. Lagi-lagi saat Vino melihat Rukman begitu sangat khusu' mengikuti pengajian kali ini bahkan ia sampai menitikkan air matanya seolah kali ini adalah pengajian terakhirnya. Vino pun langsung beristighfar dalam hatinya.
Pengajian pun selesai saat adzan isya' berkumandang. Saat semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga termasuk ustadz Fahri dan keluarganya. Reza, Agistha, Kania dan Riko pamit untuk keluar rumah karena mereka akan kuliner malam.
__ADS_1
Bersambung..