
~RS Kartika Betari
Sesampai di rumah sakit, mereka pun turun dari mobil kemudian melihat Reza sudah menunggu di lobby.
“Mas,” sapa Agistha saat sudah dihadapan Reza lalu ia pun mencium punggung tangan Reza dan Reza pun tersenyum sambil mencium kening Agistha.
“Duh pengantin baru, gak kuat dah liatnya,” celetuk Riko sambil terkekeh.
“Iri bilang Ko! Makanya cepat halalin Kania biar gak usilin kebucinan gue sama Agis yang hakiki ini,” ucap Reza ketus sementara Riko hanya menghela nafasnya.
“Za, kamar papah ada di nomor berapa?” tanya Rachima mengalihkan pembicaraan karena jika Reza dan Riko sudah beradu argumen bisa panjang urusannya.
“Oh iya mah, ayok ikut Reza mah,” kata Reza mengajak Rachima dan juga Riko, Kania serta Agistha.
Reza pun langsung menarik tangan Agistha dan menggenggamnya seolah tak ingin Agistha berjauhan
dengannya. Rachima melihat perlakuan Reza terhadap Agistha tersenyum bahagia. Tak lama sampailah di depan kamar rawat Rukman, mereka pun masuk kedalam. Rukman yang sedang bersantai sambil menonton televisi langsung menoleh ke pintu kamarnya yang terbuka, senyumnya langsung mengembang saat ia melihat Rachima yang muncul dari balik pintu tesebut.
“Assalamualaikum, pah,” ucap Rachima yang berjalan menghampiri Rukman diikuti yang lainnya.
Rachima mencium punggung tangan Rukman, “bagaimana keadaan papah sekarang? apa masih ada yang terasa sakit?” tanya Rachima dengan raut wajah yang dipenuhi kekhawatiran.
Rukman menggelengkan kepalanya, “papah sudah lebih baik kok mah sekarang,” jawab Rukman tersenyum.
Beberapa saat kemudian dokter pun masuk ke dalam kamar rawat inap Rukman untuk memeriksakan kembali kondisi Rukman.
“Permisi bapak dan ibu, saya mau periksa kondisi pasien terlebih dahulu ya, mohon menunggu di balik tirai,” ucap dokter tersebut dengan raut wajah yang ramah.
“Baik dokter,” kata Rachima dan mereka pun menunggu di balik tirai sesuai permintaan dokter tersebut.
“Oh iya mas ini pakaian gantimu, lebih baik mas membersihkan diri dulu setelah itu ganti pakaian mas dengan yang aku bawa,” ucap Agistha pada Reza sambil memberikan paper bag yang telah ia siapkan sejak dirumah.
“Oke sayang tapi temenin ya,”bisik Reza namun tersengar oleh Riko yang berada dibelakangnya.
“Ehem, rumah sakit Za,” ucap Riko berdehem dan Reza hanya memutar malas bola matanya setengah.
Namun Reza tidak menghiraukan perkataan Riko, ia malah menarik tangan Agistha dan menuntunnya hingga di depan kamar mandi.
“Sayang kamu tunggu disini ya, aku ganti baju dulu,” ucap Reza setelah sampai di depan kamar mandi dan Agistha pun mengangguk.
Tak lama Agistha menunggu, akhirnya Reza keluar dari kamar mandi yang sudah berganti pakaiannya dan memerikan pakaian kotor kepada Agistha.
“Sayang tolong aku lipatkan pakaian kotor ini dan masukkan ke dalam paper bag ya,” ucap Reza dengan nada merengek. Agistha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Iya mas,” jawab Agistha dengan senyumannya.
__ADS_1
“Kenapa mas Reza semenjak menikah jadi seperti bayi besar seperti ini?” tanya Agistha dalam hatinya.
Agistha pun dengan telaten melipatkan pakaian Reza dan memasukkannya ke dalam paper bag tersebut. Sementara Reza yang sedari tadi memperhatikan Agistha dengan lekat sambil bersandar di dinding dan melipat kedua tangannya di dada.
“Ya Allah kuatkan aku dari segala ujian ini saat aku dekat dengannya. Sabar Za beberapa bulan lagi, dia jadi istri lu seutuhnya,” ucap Reza dalam hatinya.
Setelah selesai keduanya pun ke tempat tidur Rukman, dokter pun baru saja selesai memeriksakan kondisi Rukman.
“Bagaimana dok keadaan suami saya? apa sudah membaik?” tanya Rachima.
“Alhamdulillah, kakinya yang terkilir sudah lebih baik dan juga luka di keningnya sudah mulai mengering dibanding saat tadi pertama dibawa ke sini. Dan kalau nanti malam tidak mengalami demam, besok pak Rukman sudah bisa diperbolehkan untuk pulang ke rumah,” jawab dokter tersebut.
“Baik dok, terima kasih,” ucap Rachima.
“Sama-sama bu, oh iya ini ada cream untuk kaki pak Rukman yang terkilir, minta tolong ibu atau siapapun yang menemani pak Rukman untuk mengoleskannya setiap 1 jam sekali karena tidak saya perban supaya aliran darahnya tetap berjalan dengan baik,” kata dokter dan Rachima pun mengangguk.
“Baik pak, bu saya permisi kalau begitu . Semoga lekas sembuh ya pak,” kata dokter kemudian pergi dari kamar rawat inap Rukman diikuti oleh perawat dibelakangnya.
“Oh iya pah, tadi Reza bilang papah tertabrak mobil karena ingin manisan keliling, emangnya untuk siapa pah? Kan bisa beli ditoko cendra mata,” tanya Rachima penasaran sementara yang lainnya memerhatikan mereka.
“Untuk papah atuh mah, tadi papah lihat manisannya seger aja gitu kelihatannya dan juga bisa membantu pedagang kecil siapa tau dia sudah lelah berkeliling belum ada yang membelinya,” jawab Rukman jujur membuat
semuanya mengangguk paham.
“Lain kali hati-hati ya pah, mamah sampai pingsan loh tadi dirumah,” ucap Agistha sambil terkekeh.
Agistha dan Reza pun saling bertukar pandang sementara Kania hanya tersenyum bahagia dan Riko merasa iri melihat kemesraan kedua orang tua Agistha.
“Agis, Kania malam ini mamah mau temani papah disini ya, kalian pulang saja sekarang mumpung belum terlalu larut juga. Dan besok kan kalian harus sekolah,” ucap Rachima pada Agistha dan juga Kania.
“Oh iya Reza, kapan kamu membawa Agistha ke rumahmu? Bukan papah mengusir tapi bukankah sebaiknya seorang istri mengikuti kemanapun suami pergi?” tanya Rukman pada Reza.
“Kalau Reza menunggu Agis siap pah, Reza gak mau maksain biar Agis yang meminta sendiri dimana dia harus tinggal,” jawab Reza santai membuat Rukman terseyum bahagia karena merasa ia tidak salah pilih seorang suami untuk Agistha.
Walaupun Reza dan Agistha sejak awal dijodohkan secara sengaja, namu tidak ada pemaksaan dari kedua orang tua Reza maupun Agisha, hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta dengan sendirinya. Mungkin ini bagian dari garis takdir Allah untuk Reza dan Agistha kalau jodoh takkan kemana.
Reza, Agistha, Kania dan juga Riko pun pamit pulang ke rumah. Sedangkan Rachima memilih menemani Rukman di rumah sakit.
~Kediaman Navanka
Riko baru saja memarkirkan mobilnya didepan kediaman Navanka. Kania, Agistha dan juga Reza pun turun dari mobil.
“Mas hati-hati dijalan ya pulangnya gak usah ngebut-ngebut,” ucap Kania dengan penuh perhatian.
“Iya, siap bos!” jawab Riko sambil mengangkat tangannya memberi tanda hormat pada Kania dan Kania pun terkekeh.
__ADS_1
Riko pun melajukan mobilnya keluar dari kediaman Navanka menuju apartemen miliknya.
“Agis,mas, aku langsung ke kamar ya ngantuk banget nih,” ucap Kania sambil menguap dan mengeluarkan air matanya karena sudah mengantuk berat.
“Iya,” jawab Agistha dan Reza bersamaan.
Kemudian Agistha dan Reza pun juga masuk ke dalam kamar.
“Mas, mau ke kamar mandi gak? Soalnya aku sudah kebelet buang air kecil,” ucap Agistha saat memasuki kamarnya.
“Yasudah kamu saja duluan ya sekalian ambil wudhu nanti kita sholat isya berjamaah,” jawab Reza dan Agistha pun langsung pergi ke kamar mandi.
Saat Agistha tengah berada di kamar mandi, Reza menelusuri setiap sudut kamar Agistha yang begitu rapih. Tanpa ia sadar ternyata Agistha sudah berada dibelakangnya.
“Astaghfirullah,” ucap Reza terkejut melihat Agistha yang sudah dibelakngnya saat ia membalikkan tubuhnya.
“Kamu kok gak bilang sih sayang kalau sudah selesai, untungnya aku gak sampai jantungan,” sambung Reza sedangkan Agistha malah terkekeh melihat raut wajah Reza.
“Maaf, kan mau mengagetkan mas Reza,” ucap Agistha tersenyum sambil memperlihatkan barisan giginya yang rapih dan bersih.
“Ayok sekarang gantian mas bersih-bersih, biar nanti aku siapkan baju koko dan juga sarungnya,” sambung Agistha sambil membalikkan tubuh Reza dan mendorongnya pelan hingga ke depan pintu kamar mandi.
“Iya sayang, yaampun istriku gak sabaran banget,” goda Reza dengan mengedipkan sebelah matanya membuat Agistha salah tingkah. Ia langsung pergi ke ruang ganti untuk mengambil baju koko dan juga sarung untuk Reza. Sementara Reza hanya tersenyum smirk.
Lumayan lama Agistha menunggu Reza keluar dari kamar mandi, tiba-tiba rasa ngantuk menyerangnya begitu hebat hingga akhirnya Agistha tertidur dengan keadaan duduk sambil menyandar ke tempat tidur dan masih memakai mukenanya.
“Astaghfirullah, Agis ngantuk banget kayaknya sampai ketiduran seperti ini,” kata Reza bermonolog saat keluar dari kamar mandi. Ia pun langsung memakai pakaian yang telah disiapkan oleh Agistha sebelumnya.
“Sayang bangun, kita sholat isya dulu yuk,” ucap Reza lembut membangunkan Agistha.
Agistha pun mengejap-ngejapkan matanya tersentak, “Ah iya mas, astaghfirullah aku ketiduran maaf ya mas, mas udah dari tadi?” tanya Agistha.
“Tidak, baru saja selesai, ayok kita sholat,” ajak Reza dan Agistha pun mengangguk.
Mereka pun sholat berjamaah, setelah selesai rasa kantuk Agistha hilang seketika. Keduanya pun naik ke tempat tidur.
“Mas, sudah ngantuk belum?” tanya Agistha.
“Belum sayang, kamu masih terasa ngantuk?” jawab Reza kemudian bertanya kembali pada Agistha dan Agistha pun menggeleng.
“Aku pengen ngobrol banyak hal sama mas karena sejak pertama kita saling mengenal kita belum saling terbuka luar dalam,” ucap Agistha tersenyum.
“Jadi kamu mau mas terbuka sama dalamnya juga sayang?” goda Reza membuat Agistha pun langsung tersipu malu.
“Bu-bukan soal itu mas, aku belum siap tapi mak-maksud aku dari hati ke hati,” jawab Agistha terbata-bata karena sangat gugup sekali pasalnya Reza menggodanya sambil memberi tatapan seperti ingin memangsanya saat ini juga.
__ADS_1
Bersambung..