Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 90 : Mengucap Syahadat


__ADS_3

~Kantor Polisi


Setelah membasuh wajah, amarah Rachima pun sudah mereda. Ia pun memutuskan untuk kembali ke depan karena setelah ini ia harus membawa Vania ke ponpes Al-Kahfi.


Namun saat ia hendak membuka pintu toilet tersebut, Rachima bertemu tanpa sengaja dengan Eleandra.


"Eleandra?" sapa Rachima.


"Rachima?" sapa Eleandra.


"Apa kabar kamu? sudah lama sekali tidak bertemu denganmu Ele," ucap Rachima berjalan keluar toilet dan berbincang-bincang dengan Eleandra. didekat pintu toilet.


Dari kejauhan Maresha memantau Rachima dengan beberapa orang disekelilingnya. Maresha melihat ada keakraban dari keduanya membuat Maresha sedikit lebih lega.


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri apa kabar Ele? apakah kamu sudah menikah?" jawab Rachima kemudian bertanya pada Eleandra.


"Puji Tuhan aku baik Rachima, aku sudah menikah namun beberapa minggu yang lalu suamiku meninggal karena ulahnya sendiri," jawab Eleandra langsung memasang wajah murung.


"Sabar ya Ele aku yakin kamu wanita yang kuat," ucap Rachima sambil mengelus pelan lengan Eleandra.


"Terima kasih ya, ngomong-ngomong kamu lagi ngapain ke sini Rachima?" ucap Eleandra kemudian bertanya pada Rachima.


"Aku sedang bertemu dengan istri simpanan alm. suamiku, karena urusanku dengannya belum selesai karena dia telah memalsukan data harta kekayaan suamiku lewat pengacaranya. Kamu sendiri ngapain ke sini Rachima?" jawab Eleandra dan bertanya kembali pada Rachima.


"Ada satuhal yang harus aku urus soal bisnis suamiku El, karena suamiku lagi sakit jadi aku turun tangan langsung," jawab Rachima.


"Oh iya aku udah kebelet nih Ma, aku buang air dulu ya. Next time semoga kita bertemu kembali," ucap Eleandra.


"Iya El, semoga sehat selalu dan dimudahkan segala urusanmu ya, daah," kata Rachima sambil melambaikan tangan pada Eleandra lalu Eleandra masuk ke dalam toilet sedangkan Rachima menghampiri Maresha.


"Maaf ya Sha lama, tadi ketemu teman lama," ucap Rachima.


"Tidak apa-apa bu, oh iya untuk Vania mau diantarka sekarang ke ponpes?" tanya Maresha.


"Iya tentu, ayok," jawab Rachima.


Mereka pun mengeluarkan Vania dari balik jeruji besi yang telah ia tempati hampir 2 hari ini.


"Vania, setelah ini kamu akan dipindahkan sekolah ke pondok pesantren ya," ucap Rachima lembut pada Vania.


"Pondok pesantren? tapi tante saya non muslim," tanya Vania.


"Tante tau, maukah kamu berpindah keyakinan dan menjadi lebih baik lagi selama disana?" jawab Rachima kemudian bertanya kembali pada Vania. Vania pun berpikir keras, sejak kecil bahkan ia pun tidak tahu agamanya apa karena bain kedua orang tuanya maupun pengasuhnya tidak memberikan Vania pelajaran tentang agama. Yang ia tahu kalau kedua orang tuanya menganut agama Hindu, namun mereka tidak pernah pergi ataupun mengajaknya ke Pura.

__ADS_1


"Baik tante, Vania mau berpindah keyakinan," jawab Vania mantap.


Dan akhirnya Vania pun naik kedalam mobil polisi. Kemudian mereka pun melaju mengikuti mobil Rachima yang dikendarai oleh mang Ujang.


Flashback on


Setelah Rachima menceritakan niatnya untuk memindahkan sekolah Vania ke ponpes milik ustadz Fahri, saat itu juga Rukman langsung memberitahukan kepada ustadz Fahri melalui sambungan teleponnya.


"Assalamualaikum ustadz," ucap Rukman saat ustadz Fahri menjawab teleponnya.


"Waalaikumsalam pak Rukman, ada apa pagi-pagi telepon pak?" tanya ustadz Fahri.


"Saya mohon maaf sebelumnya kalau yang saya sampaikan agak kurang sopan tidak berbicara secara langsung kepada ustadz karena saya sendiri baru sadar dari koma semalam dan alhamdulillah saat ini sudah membaik," jawab Rukman sopan.


"Innalillahi, apa yang telah terjadi dengan pak Rukman?" tanya ustadz Fahri khawatir.


Kemudian Rukman pun menceritakan semuanya kepada ustadz Fahri tidak ada yang terlewat satu pun.


"Ya Allah, semoga pak Rukman dan keluarga akan selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala ya. Saya begitu terkejut setelah mendengar cerita pak Rukman barusan," ucap ustadz Fahri.


"Iya ustadz saya juga tidak menyangka Allah sedang menguji saya seperti ini. Oh iya ustadz, saya berniat untuk memindahkan sekolah Vania ke pondok pesantren ustadz namun Vania ingin masuk islam terlebih dahulu karena sebelumnya dia non muslim," ucap Rukman.


"Apakah dari nak Vania sendiri mau berpindah keyakinan pak Rukman?" tanya ustadz Fahri membuat Rukman terdiam sejenak, kemudian angkat bicara.


"Baiklah pak Rukman, sebisa mungkin saya bantu. Saya juga merasa kasihan dengan nasib Vania, kalau begitu sudah dulu ya pak, soalnya saya harus mengajar anak-anak tadarus," ucap ustadz Fahri.


"Iya iya pak silahkan, maaf telah mengganggu waktunya," kata Rukman merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa pak jangan sungkan, pintu rumah saya selalu terbuka untuk pak Rukman sekeluarga, semoga pak Rukman segera diangkat penyakitnya dan dapat beraktifitas seperti semula," ucap ustadz Fahri.


"Assalamualaikum pak," sambung ustadz Fahri.


"Aamiin, waalaikumsalam ustadz," jawab Rukman kemudian sambungan telepon pun terputus.


Flashback off


Mobil polisi dan mobil Rachima pun telah sampai di ponpes Al-Kahfi. Keadaan ponpes pun sepi karena proses belajar mengajar masih berlangsung.


Para polisi pun menunggu di parkiran untuk berjaga, sementara Rachima, Maresha dan juga Vania masuk ke dalam. Merekapun menyambangi rumah ustadz Fahri terlebih dahulu.


TOKTOKTOK (suara ketukan pintu)


"Assalamualaikum," ucap Rachima dan Maresha bersamaan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab ustadzah yang tak lain istri ustadz Fahri saat ia membukakan pintunya.


"Bu Rachima, mari masuk silahkan," sapa ustadzah sambil mempersilahkan Rachima, Maresha dan Vania masuk ke dalam.


"Silahkan duduk, biar saya panggilkan ustadz Fahri ya," ucap ustadzah sopan kemudian pergi dari hadapan mereka.


Tak lama ustadz Fahri pun datang, disusul dengan ustadzah sambil membawa nampan yang berisi minuman serta cemilan.


"Assalamualaikum ustadz," ucap Rachima dan Maresha berdiri sambil bersalaman dengan ustadz Fahri namun tidak bersentuhan.


"Walaikumsalam bu, silahkan duduk," jawab ustadz Fahri dan Rachima, Maresha dan Vania pun duduk kembali.


"Silahkan diminum dan dimakan ya hidangannya," ucap ustadzah sambil menaruh minuman dan makanan tersebut.


"Terima kasih ustadzah, tak usah repot-repot," kata Rachima tersenyum.


"Tidak repot sama sekali kok bu," kata ustadzah.


Kemudia ustadzah pun duduk di samping ustadz Fahri.


"Jadi kamu yang namanya Vania, betul?" tanya ustadz Fahri pada Vania.


"Be-betul ustadz," jawab Vania gugup.


"Tak perlu gugup, biasa saja. Oh iya kamu sudah tahu tujuan ibu Rachima ini membawamu kesini Vania?" tanya ustadz Fahri pada Vania.


"Sudah ustadz," jawab Vania .


"Kamu sudah yakin utuk pindah keyakinan? apa kamu tidak akan menyesalinya?" tanya ustadz Fahri pada Vania.


"Saya yakin ustadz dan tidak akan menyesalinya," jawab Vania mantap.


"Alhamdulillah, karena dalam islam pun tidak ada pemaksaan untuk siapapun yang akan masuk kedalam agamanya, semuanya harus dari hati dan yakin pada diri sendiri," ucap ustadz Fahri membuat Vania mengangguk paham.


"Baik kalau begitu, mari ikut saya ke masjid untuk mengucapkan dia kalimat syahadat," sambung ustadz Fahri mengajak Vania dan yang lainnya menuju ke masjid.


Masjid pun sepi hanya ada beberapa santri yang sedang membersihkan masjid termasuk Andi disana. Andi terpesona dengan kecantikan Vania.


Vania diberikan jilbab dan jaket oleh Rachima. Lalu semua yang di masjid berkumpul untuk menjadi saksi bahwa Vania masuk ke dalam agama islam.


Proses pembacaan dua kalimat syahadat pun telah selesai, kini Vania resmi masuk agama islam dengan keinginannya sendiri tanpa ada paksaan.


"Kita doakan semoga di istiqomahkan dalam iman Islam dan belajar Islam nya," ucap ustadz Fahri di akhir prosesi tersebut.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2