Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 36 : Sabar, hanya itu!


__ADS_3

~Rumah Sakit


Agistha lebih dulu masuk kedalam, karena Rukman dan Rachima ke kantin rumah sakit untuk membeli cemilan. Agistha berjalan melewati lorong-lorong, tiba-tiba matanya terfokus pada anak kecil yang sedang duduk sendiri di kursi.


Ada rasa ragu untuk menghampiri anak kecil tersebut, karena ia tau kalau anak kecil itu tak nyata. Entah perasaannya merasa tak begitu enak, seolah menyerap energi yang berasal dari anak tersebut. Membuatnya ingin menangis, Agistha memberanikan diri terus berjalan dengan hati yang dipenuhi dengan bacaan doa-doa. Dan tiba-tiba Alfian lah yang menemani anak tersebut sehingga Agistha sudah merasa lebih aman.


"Terima kasih dek, alhamdulillah," ucap Agistha dalam hatinya.


Sedikit lagi Agistha sampai di ruang ICU namun tiba-tiba langkahnya terhenti melihat ada sosok yang sedang berusaha masuk ke dalam ruangan.


"Bukankah itu om Andre!" gumam Agistha.


"Ya Allah tolong kami ya Allah, astaghfirullahal adzim" ucap Agistha dalam hatinya. Beruntung dari kejauhan Agistha melihat Riko yang tengah berjalan ke ruang ICU temoat Reza dirawat.


"Pak Riko!" teriak Agistha namun matanya tak lepas dari sosok Andre yang kalau dilihat dari raut wajahnya seperti masih menyimpan dendam.


Andre yang mendengar Agistha berteriak memanggil Riko langsung menghilang begitu saja. Sedangkan Agistha langsung melangkah cepat mendekati Riko.


"Bapak bagaimana keadaan Kania?" tanya Agistha pada Riko.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah membaik, kata dokter mungkin kalau keadaanya semakin membaik besok sudah bisa pulang," jawab Riko dan Agistha pun mengangguk.


"Kamu mau menemui Reza?" tanya Riko.


"Iya pak, setelah itu baru menemui Kania," jawab Agistha dengan senyum tipisnya.


"Baiklah, kalau sekarang Kania baru saja tidur abis makan, kalau begitu saya permisi ya," pamit Riko memudian pergi meninggalkan Agistha sendiri.


Agistha masuk ke dalam ruang ICU, ruangan yang sangat dingin. Tiba-tiba diluar jendela sosok Andre pun muncul kembali. Agistha langsung menggenggam erat tangan Reza yang masih terbaring lemah.


"Mas aku takut, mas bangun mas! tolong aku hiks hiks hiks," Agistha menangis bersimpuh lutut disamping Reza namun tangannya pun tak lepas menggenggam tangan Reza.


"Mas, tolong bertahan mas aku selalu menunggumu," ucap Agistha membisikkan di telinga Reza.


Tak lama dokter dengan dua orang perawat pun datang, Agistha diminta untuk keluar ruangan terlebih dahulu. Beruntungnya saat Agistha keluar ternyata sudah ada Rukman, Rachima, dan juga Yusti. Agistha langsung memeluk Rachima.


"Mah, hiks hiks hiks mas Reza," kata Agistha dengan tangisannya yang pecah kembali.


"Sayang, kamu harus kuat, harus lebih sabar berdoa sama Allah yah supaya Reza tidak apa-apa. Dia baik-baik saja," ucap Rachima mencoba menenangkan Agitsha.

__ADS_1


Agistha duduk bersama Rukman dan Yusti dibantu oleh Rachima karena tubuh Agistha terasa lemas. Ia menceritakan apa yang telah terjadi padanya dan juga Reza.


Yusti yang mendengar itu percaya tidak percaya. Pada kenyataannya calon menantunya memang wanita yang sangat unik, walau terkadang keunikannya membuatnya merinding.


Beberapa saat kemudian, dokter pun keluar ruangan.


"Bisa bicara dengan keluarga pasien?" tanya dokter dengan wajah serius. Melihat raut wajah dokter tersebut, hati Agistha mulai merasa tidak enak.


"Saya mamihnya dok," jawab Yusti.


"Mamih bolehkah aku ikut?" tanya Agistha pada Yusti.


"Baiklah ayok Agis," jawab Yusti kemudian mengajak Agistha ke ruang dokter.


Sesampai diruang dokter Agistha dan Yusti mulai penasaran dan tak ingin menunggu lama.


"Begini, Reza baru saja mengalami kejang namun dalam tanda positif. Aliran darah yang sempat melambat kini bisa mengalir deras dan mulai berangsur normal. Saran saya lebih baik sering-sering diajak ngobrol ya, supaya saraf Reza bisa melemas lagi. Saya akan periksa 1 jam sekali dalam 24 jam ini, kalau Reza sudah sadar dengan catatan sudah bisa berbicara, maka ia sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Sabar , hanya itu!" ucap dokter itu panjang lebar.


"Baik dok, terima kasih," ucap Yusti dan Agistha bersamaan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2