
Langit yang mendung menyelimuti matahari yang ingin berbagi cahayanya. Suara bising kendaraan sudah terdengar melalui angin yang berhembus.
Sejuk, mungkin bisa dibilang seperti itu. Nyaman dan enggan, mungkin hampir tidak bisa dibedakan. Embun terlihat begitu menyegarkan membasahi rumput dan dedaunan. Gemercik air yang bergemuruh menambah suasana pagi menjadi lebih damai.
Terlalu puitis rasanya jika digambarkan pagi ini. Agistha dan Kania telah bersiap berangkat ke sekolahnya.
"Pagi mah, pah," ucap Agistha dan Kania bersamaan.
"Pagi," jawab Rukman dan Rachima bersamaan.
"Para anak gadis sudah siap nih, ayok sarapan dulu ya sayang," ajak Rachima pada Agistha dan Kania.
Mereka pun sarapan bersama, setelah selesai Agistha dan Kania berangkat diantar dengan mang Ujang, sedangkan Rukman berangkat 1 jam lagi.
"Mah, pah kami berangkat dulu ya," pamit Agistha kemudian mencium punggung tangan Rachima diikuti oleh Kania.
"Hati-hati dijalan, semangat belajarnya ya," ucap Rukman.
"Siap pak bos," sahut Agistha dan Kania bersamaan sambil memberi hormat bendera pada Rukman kemudian mereka pun tertawa.
__ADS_1
Agistha dan Kania pun pergi ke sekolah.
"Berasa punya anak kembar ya pah," kata Rachima terkekeh.
"Iya mah jadi ramai rumah, apalagi kalau nanti kita punya cucu, apa Agis mau punya adik lagi mah?" goda Rukman membuat Rachima tersipu malu.
Walaupun diusia yang tidak muda lagi, namun Rachima dan Rukman pun masih tetap cantik dan tampan seperti umur 25 tahun, tak heran Agistha memiliki wajah cantik warisan dari sang mamah.
"Apaan sih pah, masih pagi mau menggodaku saja!" elak Rachima langsung pergi ke dapur untuk membantu asisten rumah tangga membereskan meja makan.
Rukman melihat Rachima tersipu malu hanya bisa tertawa.
Mobil yang ditumpangi Agistha dan Kania telah sampai didepan lobby sekolah.
"Makasih mang Ujang," ucap Agistha dan Kania bersamaan lalu mang Ujang pun tersenyum sambil mengangguk. Kemudian mereka pun turun dari mobil.
"Kania ke koperasi dulu yuk, kayaknya aku mau beli sesuatu disana," ajak Agistha dan Kania pun mengangguk setuju. Keduanya pun pergi menuju ke koperasi.
Koperasi Sekolah
__ADS_1
"Permisi ibu saya mau beli kertas origami yang isi 50 lembar ya 1 pack aja," ucap Agistha pada ibu koperasi.
"Bu saya juga kertas origami isi 50 lembar 1 pack ya," ucap seorang laki-laki yang berdiri tepat disamping Agistha.
"Maaf dek, kertas origaminya hanya sisa 1 pack," kata ibu koperasi pada laki-laki tersebut.
Agistha pun langsung menoleh ke arah laki-laki tersebut sedangkan Kania menunggu Agistha di kursi.
DEG, "Andi," ucap Agistha dalam hatinya. Sebisa mungkin Agistha bersikap biasa saja di depan Andi, yaitu laki-laki yang pernah membuat Agistha jatuh cinta.
"Ambil aja kalau kamu butuh," kata Agistha pada Andi lalu kemudian mengajak Kania untuk langsung pergi ke kelas mereka.
"Agis, tadi bukannya si Andi ya?" tanya Kania saat tangannya di tarik oleh Agistha untuk keluar dari koperasi
"Iya, aku baru melihatnya lagi. Padahal sudah lama sekali aku menghindarinya. Saat melihat dia rasanya sakit sekali Kania hati aku," ucap Agistha lirih saat sudah jauh dari koperasi.
"Sudahlah Gis, kan sekarang udah ada mas Reza. Jangan sedih lagi ya," kata Kania mencoba menenangkan hati Agistha.
"Iya Kania, makasih ya ," ucap Agistha tersenyum tulus.
__ADS_1
Bersambung..