
Pov Sofiyah
Di dalam mobil aku dan dia hanya diam saja sejak kami berdua masuk. Mungkin sudah 10 menit di dalam mobil ini hening, sunyi senyap. Tak ada lagu yang didengar hanya suara deru mesin mobil yang mampir di telinga.
Aku menarik nafasku dengan kasar karena merasa bosan.
" Kau suka brondong ya?" Suaranya terdengar berat tapi kata-katanya lah yang membuatku langsung mengerutkan bibir. Rasanya ingin langsung ku caci maki saja dia, tapi aku tahu dia lebih tua dariku dan sudah seharusnya aku lebih menghormati yang lebih tua. Hanya bibirku yang bergerak komat-kamit tanpa mengeluarkan sepatah kata.
"Memang benar kan? kau sangat nyaman dengan Daniel...." Ia berkata sambil menoleh ke arahku.
"Memangnya kenapa? Tidak ada larangan untuk itu kan?" Jawabku sambil menatapnya tajam.
'Ha....ah..h geram sekali aku sama orang ini..'
"Ternyata kau tak sebaik yang terlihat. Apa kata orang kalau tahu kau dijodohkan denganku tapi malah menyukai adikku....?"
"Kenapa lebih perduli pada omongan orang toh I sendiri yang akan menjalani hidup ini. Lagipula kita belum menikah, tidak ada yang salah kan karena hati itu tidak bisa dipaksakan..?" Jawabku pedas.
"Siapa yang ingin menikah denganmu?" Katanya sinis.
"Oh maaf tuan... itu juga bukan keinginan saya..." kataku tak mau kalah.
"Aku tidak mau tahu, yang penting kita harus bersandiwara di depan orang tua kita kalau kita seakan-akan menerima perjodohan ini dan kita akan mengulur waktu sampai mereka lupa dengan perjodohan gila ini".
__ADS_1
"Terserah dan lagi... masih ingat kan dengan apa yang anda katakan waktu itu. Kita punya kehidupan sendiri-sendiri. I bebas menjalin hubungan dengan siapapun dan kita tidak akan saling mencampuri kehidupan masing-masing...."Aku membalikkan kata-katanya.
"Tidak dengan Daniel...!!"
"Why not? I tidak bisa memaksakan hati I untuk berlabuh pada siapa. I hanya mempercayainya saja..."
"Kau....." Kata-katanya tertahan karena hapenya berbunyi dan dia segera mengangkatnya kemudian menaruhnya di holder mobil yang ada di dashboard.
Aku tak ingin ketahuan sedang melihat orang yang menelponnya tapi aku sangat penasaran. Kuambil hapeku dan ku pasang earphone di telingaku lalu kutajamkan pendengaran agar bisa mendengar percakapan mereka di tengah deru suara mobil dan kendaraan yang masih lalu lalang. Mataku melihat jalanan sehingga tak terlihat jika aku sedang berusaha menguping.
"Hemm.."
"Hello baby.... kamu lagi di jalan ya?"
"Aku kangeee...n. Kamu nggak kangen akuu? Aku punya sesuatu loh buat kamu?"
"Apa?" Katanya.
"Nanti kamu nggak bisa fokus nyetirnya gimana?"
Dia tak menjawabnya.
"Beb...bb! lihat.... ! Kamu suka nggak?" Aku bisa mendengar dengan jelas suaranya cukup genit dan menggoda.
__ADS_1
"Eghh ehm...." Dia nampak salah tingkah dan mengusap kepalanya ke atas lalu ke bawah.
Aku benar-benar penasaran apa yang sudah ditunjukkan wanita yang ada di hape itu kepadanya sampai dia salah tingkah seperti itu tapi tentu saja aku tetap menjaga gengsiku dengan pura-pura sedang mendengarkan musik dari hape sambil menatap jalanan di jendela.
Dari sudut mataku aku melihat dia menyentuh hapenya, aku melihatnya sekilas ternyata dia mengakhiri panggilan itu. Aku langsung melihat ke jendela lagi sebelum dia menyadari kalau aku sedang meliriknya.
Dia mencabut kabel earphone yang menancap di hapeku dan mengeraskan suaranya.
"Pakai map kamu!!" Katanya "Aku kurang faham daerah situ...!"
'Huu dassarrr...! tadi waktu papa mama ngasih tahu alamat rumahku saja dia sok tahu, nyatanya zonk. Pingin tak getok aja kepalanya..' Rutukku hanya dalam hati.
"Kenapa? buruan!! Abis lampu merah ini belok ke mana?" Suaranya penuh penekanan.
Aku melihat ke depan,"Lurus saja!" kataku.
"Apa susahnya sih naruh hape di depan sini buat petunjuk biar lebih mudah dan aku nggak perlu tanya-tanya terus. Atau... jangan-jangan kamu takut ketahuan menyembunyikan sesuatu yang tidak-tidak di hapemu?"
'Hiii orang ini bikin aku darah tinggi aja....'
"Cerewet...." kataku pelan.
"Apa kamu bilang?"
__ADS_1
"Apa?" kataku merasa tak bersalah sambil menaruh hape yang sudah terpampang map nya.