Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Titip Aya


__ADS_3

pov Babas


Setelah masuk ke dalam mobil Aya hanya duduk dengan tenang dan tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Justru aku yang sedang menyetir berkali-kali melirik padanya.


Terdengar suara handphonenya berdering dan ia segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum ma...."


"Kok mama nggak bilang kalau tadi ada di parkiran. Kan kita bisa pulang bareng mah...."


"Ooh.... Enakan kalau pulang bareng sama mama."


"Koko orang nya nggak seasyik mama" Aya menutupi mulut nya dengan telapak tangannya dan berkata pelan sekali tapi aku bisa mendengar nya. Ia seperti sedang bicara sendiri karena aku tak mendengar suara lawan bicaranya yang bisa kupastikan itu adalah mamaku.


"Mah.... nggak tanya anaknya nih? Gimana kabarnya? sudah makan atau belum?" Ucapku dengan suara keras dan sedikit mencondongkan tubuhku mendekat ke Aya.


Aya melirik ke arahku sebentar kemudian segera mengeraskan suara hapenya dan menaruhnya di holder yang ada di dashbord.


"Ko... hati-hati nganter mantunya mama." Kata mama.


"Mah.... anak mama itu siapa sih? Kok Aya terus yang dikhawatirin" Kata ku agak senewen.


"He... ....h anak ini.... capek kalau mama khawatirin kamu terus Bas... Bas!! Pusing mama kalau ngurusin kamu..."


"Ya sudah kalau begitu nanti aku nggak pulang saja sekalian. Aku langsung ke apartemen saja" Kata ku sedikit merajuk.


" Ter-se-rah ! " Kata mama tak kalah sewotnya.


Dasar mama aneh. Anak sendiri nggak diperdulikan malah anak orang lain diperhatikan sedemikian rupa.


"Ajak Fia ke restoran dulu, makan dulu sebelum pulang !. Pasti kalian belum makan" Kata mama lagi.


"Nggak usah ma. Langsung pulang saja. Fia belum lapar kok... Males kalau berhenti-berhenti dulu. Mami pasti juga sudah masak. Kasihan kalau nanti Fia pulang tapi Fia nya sudah makan.."Katanya menjelaskan.


Aku hanya mendengarkan dan tak ada keinginan untuk mengajak nya berhenti walau sekedar cari makan seperti yang barusan mama bilang.


"Ooh gitu.. Ya sudah nggak papa. Oh ya sayang, sepeda motornya sudah dikirim ke rumah kamu tadi. Hati-hati ya kalau berkendara! Kalau lagi capek atau males ke kantor kamu minta di jemput sama koko saja sayang..."


"Iyya.... gampang mah..."


"Motor apaan mah?" Tanyaku karena sedikit tak mengerti perbincangan mereka.


"Tanya saja sendiri sama gadis cantik di sebelah kamu! Udah ya.... assalamualaikum..."

__ADS_1


dan tut tut tuuut sambungan langsung terputus.


"Motor apaan?" Tanyaku penasaran.


" Mama ngasih saya motor pak, buat pulang pergi ke kantor..."


"Nepotisme! Baru hari ini kerja sudah dapat motor gimana kalau setahun. Mungkin kamu bakal dapat perusahaan..." Aku sewot terus kalau berhadapan sama gadis kecil ini.


"Maybe. Sebenarnya kemarin mama maksa beliin saya mobil pak.. Seharusnya saya terima aja kali ya... lumayan lho.." Katanya sambil ibu jari dan telunjuk nya ditaruh di bawah dagunya.


"Dasar matre.." Kata ku lagi.


"Ya begitulah saya..." Katanya tanpa menoleh ke arahku. Ia masih menatap jalanan di depan.


"Aku nggak mau tahu tentang kamu, yang penting kamu harus bisa bekerja secara profesional".


"Iya. Baik pak!" Katanya yang membuatku makin ingin marah.


Sebenarnya aku berharap dia menanyakan tentang Celine. Apa dia tak cemburu sama sekali atau paling tidak penasaran siapa dia, ada hubungan apa diantara kami. Dia malah tampak cuek dan seperti tak terjadi apa-apa.


Yah memang tadi aku tak jadi enyak-enyak dengan Celine karena lihat Aya pergi gairahku tiba-tiba langsung hilang lenyap seketika.


Aku bahkan meninggalkan Celine begitu saja yang bajunya sudah sedikit awut-awutan. Aku pura-pura ke bawah padahal sebenarnya aku mengikutinya.


Aku adalah pria pemuja kecantikan, kemolekan dan keindahan. Mataku suka melihat yang seksi-seksi. Tangan ku suka meraba yang emp*k dingin yang bisa membuatku bersemangat dan berkeringat.


Ya itulah aku... pria pendosa yang sering melakukan dosa besar tapi masih melakukannya lagi dan lagi. Bukannya tak tahu kalau itu adalah dosa besar tapi aku tak bisa menolak mereka. Bukan aku yang mendatangi mereka tapi merekalah yang datang sendiri kepadaku. Lalu bagaimana aku bisa menolak kenikmatan yang sesaat itu.


Meski saat aku melakukannya aku merasa berdosa tapi aku tak bisa berhenti. Juga setelah kenikmatan itu datang biasanya hatiku langsung merasa bersalah, aku selalu berharap agar Tuhan mengampuni dosaku dan suatu saat aku bisa berubah dan melakukannya hanya dengan pasangan halalku saja.


Tak terasa setelah perdebatan kami tadi kini mobilku telah sampai di depan gerbang pondok. Aku berhenti di situ tapi tak memasukkan mobil di depan rumah Aya agar tak menjadi sorotan anak-anak santri.


"Terimakasih pak..." Katanya dan itu membuatku jengkel sekali. Aku lebih suka kalau dia memanggilku koko daripada bapak. Tapi rasa gengsiku membuatku diam saja berusaha menampilkan sikap kalau aku tak masalah dengan panggilannya karena aku sama sekali tak bersimpati kepadanya apalagi sampai tertarik dan jatuh cinta padanya.


Aku tak menghiraukan ucapannya dan langsung turun dari mobil kemudian berjalan menuju rumahnya yang bukan hanya sempit tapi sangat sempit sekali. Ia yang masih berdiri di depan pintu mobil melihatku dan mungkin hatinya sedang bertanya-tanya apa yang akan ku lakukan.


Ada sepeda motor matic terbaru yang ada di depan rumah tapi aku menuju pintu rumahnya terlebih dahulu ingin mengucapkan salam pada sang penghuninya. Aku melepas sepatuku sambil duduk di teras rumahnya sedang Aya melepas sepatunya hanya dengan kakinya saja. Ia kemudian mengucap salam dan langsung masuk rumah yang memang sudah terbuka sejak tadi


" Lho.... koko yang nganterin Fia?" Tanya maminya ketika melihatku berdiri di ambang pintu.


"Iya mi...."


"Maaf ya jadi ngerepotin..."

__ADS_1


"Nggak mi, kan sekalian mampir ke sini. Mama tadi nitip salam buat mami sama papi." Kataku berbohong.


"Waalaikumsalam.. oh iya, sama tolong disampaikan sama mama ya, makasih banyak itu motornya. Kenapa jadi repot-repot?. Sebenarnya Fia bisa kok naik gojek setiap hari"


"Nggak papa mi, cuma motor aja kok. Harusnya Aya diantar jemput sama supir tiap hari atau kalau Aya mau saya akan belikan mobil saja biar lebih aman nggak kepanasan nggak kehujanan...." Kataku entah itu pura-pura atau betulan, aku hanya ingin mengatakan demikian.


"Waduh .... jangan! jangan ko! Fia sekarang sudah biasa kok naik ojol...."


"Ya masak calon istrinya direktur naik ojol mi...." Kata ku lagi.


"Uhuk uhuk...." Terdengar suara batuk Aya dari dalam, mungkin dia kaget dan merasa heran dengan kata-kata ku. Terserah dia.


"Pi..." Aku menyapa dan mencium tangan calon mertuaku yang baru saja datang entah darimana.


"Dari tadi ko?"


"Barusan kok pi...." Jawabku.


"Nonik..... mana minumnya koko mu ini?" Tanya papi dengan suara agak keras karena daritadi Aya belum keluar.


" Iya sebentar pi...." Jawabnya dari dalam.


Akupun makan dan minum bersama dengan keluarga Aya, lesehan di ruang tamunya. Dan ternyata Aya tak melepaskan jilbabnya meskipun sudah berada rumah.


Aku pun ikut solat berjamaah di masjid yang ada di depan pesantren dan dikenalkan pada Abah Fanani selaku penanggung jawab pesantren. Abah Fani pun langsung bertanya apakah aku anak papa yang dijodohkan dengan Sofiyah atau bukan?


Saat solat jamaah bagaimana rasanya? Bahagia itu yang kurasakan. Tenang dan damai seperti kembali ke asal mula manusia yang diciptakan dalam keadaan fitrah. Mungkin seperti itulah rasanya seperti pulang, kembali ke asal.


Setelah itu kami mengutak atik motor Aya dan mencoba menghidupkannya sebentar.


"Besok saya akan kesini ngajarin Aya naik motor..." Kata ku berjanji.


"Fia sudah bisa naik sepeda motor pak... eh ko...." Sangkalnya.


"eshsh..." Papi berdesis dengan sedikit menarik bibirnya hingga menimbulkan desisan. "Iya... tolong ya ko...!"


"Kalau begitu saya permisi dulu..." Kata ku berpamitan dan beranjak meninggalkan rumah Aya.


"Hati-hati..! Makasih banyak ya ko!" Kata mami masih di depan pintu teras. Sedangkan calon mertua laki-laki ku mengantarku sampai ke mobil yang berada di depan gerbang.


Tiba-tiba papi berkata," Titip Sofiyah ya ko...."


"Iya pi..." Jawabku singkat kemudian segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2