
Sofiyah dan Rayhan yang lelah setelah berlarian dan berkejaran mulai duduk-duduk di pantai yang sudah mulai gelap. Para wisatawan domestik maupun para bule menunggu saat-saat kembalinya sang surya kembali ke ufuk barat, sama seperti yang ditunggu kedua sejoli yang sedang kasmaran itu.
Keduanya duduk berdekatan dengan Sofiyah yang bersandar di pundak kekasihnya Rayhan. Layaknya orang yang sedang berada di pantai Sofiyah hanya mengenakan bikini dan bagian bawahnya ia tutupi dengan kain yang diikat dengan simpul di bagian pinggangnya dan ketika ia bergerak kakinya yang kecil akan terlihat dengan jelas.
Rayhan sendiri menggunakan singlet dan kemeja pantai dengan bawahan celana pendek seperti pria-pria lain yang berada di situ.
Perlahan semburat warna jingga mulai memenuhi langit dengan indahnya. Matahari pun perlahan-lahan kembali ke peraduan . Semilir angin dari pohon-pohon kelapa juga suara deburan ombak di laut yang kemudian merayap dan menepi membuat suasana semakin syahdu dan berlipat-lipat indahnya.
Jepretan kamera dari berbagai penjuru tak henti-hentinya menyorot ke arah barat seolah sedang membidik seorang artis yang sangat terkenal.
Goresan pena Tuhan memang selalu membuat setiap makhluk berdecak kagum pada Dia yang menciptakan sesuatunya tanpa cela. Tapi ada yang hanya berhenti dengan mengaguminya saja dan hanya sedikit saja yang bertafakur kemudian mensyukuri hidupnya dengan beribadah pada Dia Yang Maha Kuasa.
Sofiyah dan Rayhan yang saat itu masih sangat remaja termasuk dalam golongan orang-orang yang terlena. Mereka hidup di keluarga kaya yang tidak memperdulikan agama kecuali hanya sebagai formalitas saja. Di tambah lagi dengan pergaulan yang tak mengenal tata krama dan norma-norma membuat keduanya merasa, mereka hanya akan hidup di dunia ini saja.
Apalagi saat itu keduanya sedang dilanda kabut asmara sehingga lupa jika mereka masih ada di daratan bumi belum terbang ke langit angkasa.
Semakin malam angin laut pun semakin kencang sehingga para pengunjung yang tadinya memenuhi bibir pantai kini satu persatu mulai meninggalkan tempat yang indah itu.
Tak begitu dengan dua remaja yang kini malah terlihat semakin mesra. Si lelaki duduk mengungkung gadisnya yang kini duduk dengan manja di depannya. menyandarkan tubuh dan kepalanya di dada pria jangkung dan kurus yang bernama Rayhan.
"Sof..... Do you know what I call you like that?" Tanya Rayhan lemah lembut.
"Because my name is Sofiyah." Tebaknya asal saja.
"You ini..." Rayhan menjepit hidung mungil Sofiyah sambil terkekeh.
"Because you are soft, lembut...." Kata Rayhan jujur.
"Your flirting is not good...." Jawab Sofiyah tersipu malu.
"To be honest..."
__ADS_1
"Dingiin..." Kata Sofiyah sambil memeluk tubuhnya sendiri. Rayhan yang mendengarnya kemudian mendekap tubuh sang kekasih untuk memberi kehangatan pada pujaan hatinya.
Beberapa saat kemudian Rayhan berdiri dan menarik tubuh kecil Sofiyah dengan kedua tangannya. Lelaki jangkung itu melepas kemejanya dan memakaikannya pada tubuh gadis mungilnya yang terasa dingin.
Mereka berjalan menuju tempat penginapan dengan bergandengan tangan seolah tak ingin berpisah walau hanya sedetik saja.
Di depan pintu penginapan Sofiyah, Rayhan tidak langsung pergi ia menyandarkan tubuh Sofiyah di tembok dekat pintu kemudian berbisik, "I love you" Dan sesaat kemudian bibir mereka sudah saling terpaut dan saling merasakan nikmat yang belum seharusnya mereka dapatkan.
Keduanya terbuai oleh hasutan syetan untuk melakukan lebih jauh lagi.
"Sof... Do you love me?" Tanya Rayhan yang sudah mulai menegang.
"Yes I do..." Jawab gadis itu dengan mantap.
"Prove it to me...!" Katanya dengan mata yang mulai merah karena menahan hasrat darah mudanya.
"What do you mean?" Sofiyah mulai takut dengan pikirannya sendiri.
Sofiyah semakin dag dig dug hatinya ketika mereka sudah berada di dalam kamar berdua saja. Takut jika apa yang ada dalam pikirannya akan menjadi nyata.
"Kak Rey...?" Sofiyah memanggil Rayhan yang kini duduk di atas kasurnya.
Rayhan menepuk sprei agar Sofiyah duduk di dekatnya.
"Kita akan berpisah dalam waktu lama. You mau menungguku?" Tanya Rayhan mesra sambil menyelipkan anak rambut yang menutupi mata sipit Sofiyah.
Sofiyah menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa ia mau menunggunya.
"If you love me, Prove it please!" Suara Rayhan sudah serak karena berkabut gairah.
"Tapi kak Rey....!"
__ADS_1
"I promise. I will looking for you in the future... !" Rayhan merebahkan tubuh Sofiyah dan menanti respon Sofiyah yang kini pasrah dengan dalih ingin membuktikan cinta dan berjanji untuk saling menunggu dan saling mencari di masa depan nanti.
"Please believe me honey...." Rayhan membelai pipi Sofiyah yang halus kemudian mencium kening gadis itu cukup lama. Mencoba meyakinkan jika semua akan baik-baik saja dan gadis yang kini sudah terbuai dengan rayuan lelaki berkulit putih dan jangkung ini hanya diam dan pasrah saja.
"I love you...." Katanya berbisik mesra.
"I love you too" Jawab Sofiyah yang juga di selimuti kabut gairah meski ada sedikit rasa bersalah karena melakukan dosa tapi nafsunya menuntut dirinya bahwa ia melakukan hal itu hanya untuk membuktikan cintanya.
Dialah lelaki yang menyebabkan Sofiyah menyerahkan kehormatan dirinya karena janji cinta dan keyakinan jika suatu saat mereka akhirnya akan bersama.
.
.
.
Sofiyah menyandarkan kepalanya di tempat duduknya di samping Basofi sambil mencoba mengingat kesalahan besar yang dulu pernah ia lakukan. Ia menyesalinya sekarang kenapa dia bisa sampai melakukan zina padahal saat itu umurnya masih sangat muda. Gadis itu mengusap air mata yang mulai membasahi pipinya sambil bibirnya mengucap istighfar.
Basofi yang melihat hal itu justru menjadi salah paham dan mengira jika Sofiyah sedang menangisi pemuda tadi sampai tak menyadari saat tadi ia turun di apotek untuk membeli salep. Babas melihat pergelangan tangan Aya yang kemerahan akibat cengkeramannya yang kasar tadi.
Saat sudah tiba di depan gerbang tempat tinggal Sofiyah gadis itu bahkan tidak menyadari dan masih bergelung dengan angannya di masa lalu.
Basofi menarik tangan Sofiyah yang membuat gadis itu tersentak dan sadar.
Gadis bermata sipit itu mencoba menarik tangannya yang di pegang oleh Basofi tapi kekuatannya tentu saja tidak sebanding dengan lelaki kekar yang duduk di balik kemudi.
Basofi mengoleskan salep dengan pelan dengan hati yang berkecamuk antara marah tapi juga ingin minta maaf dan Sofiyah akhirnya hanya pasrah saja.
"Ko..... masih ingat kan kalau dulu koko pernah bilang kita hanya mengecoh dan bersandiwara di depan orang tua kita kalau kita menerima perjodohan ini dan setelah itu kita akan bicara pada mereka kalau kita sebenarnya tidak saling cinta dan memilih berpisah" Suara Sofiyah sangat pelan tapi itu mampu mengaduk-aduk perasaan orang yang sedang diajaknya berbicara.
Muka Basofi merah padam karena ingat jika ia memang mengatakan hal itu di awal pertemuannya dengan gadis kecil ini. Ia merutuki diri karena kini dia terjebak dengan kebodohannya sendiri.
__ADS_1
"KELUAR!!!" kata Basofi membentak Sofiyah.