
Setelah berputar-putar kesana kemari nyatanya Sang mama belum juga puas belanjanya. Bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi mamanya Basofi juga membelikan calon menantu tersayangnya sama seperti yang ia beli. Beliau bahkan tidak menawari anaknya sendiri untuk ikutan memilih justru Basofi ditugaskan sebagai pengawal yang wajib mengikuti mereka kemana saja dan membawakan barang-barang belanjaan mereka juga.
Hancur lebur pesona playboy Basofi.
"Mah.... ini aku capek banget mah... Sudah dua jam lebih kita muter-muter.... Mau beli apa lagi? " Tanya Babas yang memang terlihat sangat letih. Dia yang terbiasa main suruh- suruh saja sekarang seperti seorang budak yang wajib mengikuti kemana pun majikan melangkah sambil membawakan barang belanjaan mereka.
"Biar aku yang bawa ko..." Kata Sofiyah.
"Nggak usah sayang.... biar Babas saja yang bawa. Kita harus ke tempat itu dulu" Katanya sambil menunjuk satu toko. "Kamu tungguin saja di sana Bass jangan kemana-mana!" Sang mama berkata dengan kesal sambil menunjuk salah satu tempat makan yang tidak jauh dari tempat mereka.
Basofi tak membantah daripada kakinya ngilu karena mengikuti mamanya lebih baik dia duduk sambil memesan makanan.
Sementara itu Sofiyah dan calon mertuanya sudah berada di dalam toko pakaian dalam wanita. Sofiyah hanya lihat kanan kiri. Merasa aneh saja berada di dalam situ ketika dia sudah berhijab seperti sekarang.
Calon mama mertuanya itu dengan semangat memilih beberapa lingerie yang super seksi. Juga memilih beraneka warna dan beberapa model kacamata dan CD untuk asetnya.
"Sayang.... yang ini bagus nggak?" Wanita paruh baya yang memang cantik itu menempelkan lingerie warna abu-abu yang terawang pada tubuhnya.
Tentu saja Sofiyah yang masih belum menikah jadi salah tingkah mendapat pertanyaan seperti itu. " Bagus ma" jawabnya dengan cepat agar calon mertuanya segera pergi dari tempat itu.
" Biar papa makin greget sama mama" Wanita paruh baya itu mengatakannya dengan mata berbinar-binar kemudian tertawa sambil memeluk lingerie yang ada di tangannya.
"Kamu mau yang mana sayang?" Tanyanya lagi.
"Nggak usah ma" Jawab Sofiyah kelabakan.
"Untuk persiapan aja...! Nggak papa. Jadi nanti kalau kamu sudah menikah sama koko kamu bisa langsung pakai untuk menyenangkan suamimu" Saran yang menurut gadis kecil mungil itu tak masuk di akal.
" Nanti aja itu mah... biar dia yang pilihin!" Jawaban Sofiyah yang asal ceplos itu di sesalinya. Seharusnya dia harus mulai merajuk kepada kedua orang tua mereka kalau sebenarnya mereka itu tidak bisa bersama. Malah jawabannya absurd seperti itu. Ia merutuki mulutnya sendiri kenapa tidak pandai mengucapkan kata-kata yang terbersit dalam hatinya.
"Pokoknya kamu pilih-pilih aja dulu. Mama nggak mau belanja buat diri sendiri. Pilih minimal satu lusin dalem*n yang lucu-lucu dan unik-unik. Mama mau ke toilet dulu ya. Pokoknya nggak boleh keluar kalau belum ambil apa-apa" Kata-katanya sudah mirip dengan Basofi yang kerap memaksa dengan mengancam dirinya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Sofiyah langsung mengambil beberapa kacamata untuk dadanya dan kain segitiga untuk melindungi aset utamanya karena tak ingin berlama-lama berada di dalam situ.
Beberapa orang pria yang sepertinya sedang mengantar istrinya memilih pakaian dal*m untuk istrinya masing-masing memandang Sofiyah dengan heran dan itu benar-benar membuat gadis itu tidak nyaman.
Dalem*n yang dia pilih sudah di masukkannya ke dalam keranjang dan sekarang dia sedang menunggu calon mertuanya yang sedang berada di toilet.
Sepuluh menit dia menunggu dengan gusar tapi mamanya Babas tak kunjung kelihatan. Ia makin bingung karena tatapan para pengunjung padanya terasa seperti menghakimi.
"Maaf nona, tadi Nyonya Rosi menitipkan ini untuk anda. Beliau berpesan kalau anda tidak mengambil apa-apa maka anda tidak boleh meninggalkan tempat ini..." Kata salah satu pegawai dengan sopan. Ia mengangsurkan sebuah amplop pada Sofiyah yang langsung di bukanya. Ternyata sebuah kredit card.
Ia mengambil ponsel di dalam tasnya hendak menelpon mama Rosi tapi ia melihat ada notifikasi di aplikasi wa dari orang yang hendak di telponnya.
'Sayang...
Mama pulang dulu ya...
Kayaknya papa pulang...
Kamu pulangnya sama kokoh aja ya
Buru-buru Sofiyah menelpon calon mertua yang sudah tega meninggalkannya.
Tak ada jawaban sama sekali kecuali suara merdu petugas operator jaringan seluler yang menjawabnya. Sepertinya memang ponsel itu sengaja dimatikan.
Sofiyah menarik nafas dan membuangnya dengan keras.
"'Akal-akalan macam apa ini ma? untuk apa juga? Seharusnya tadi aku berterus terang tidak mau dijodohkan dengan playboy itu dan kalau perlu harusnya aku berbohong dengan mengatakan kalau aku sudah punya kekasih" Sofiyah menggerutu di depan kasir.
"Jadi bagaimana nona? Apa ini diambil semuanya?" Tanya mbak kasir dengan ramah.
Sofiyah sebenarnya ingin memilah lebih dahulu tapi setelah menoleh ke belakang ternyata sudah ada dua orang dengan pasangannya masing-masing yang ikut mengantri di belakangnya.
__ADS_1
"Ya, hitung semuanya..." Katanya dengan terpaksa.
Selesai membayar dengan menggunakan kartu kredit mamanya Basofi dia keluar menenteng barang belanjaannya dengan melihat ponselnya.
Ia mencoba menelpon Basofi tapi tak diangkat. Dari jaraknya berdiri ia melihat pria yang baru saja di telponnya sedang duduk berdekatan dengan seorang gadis. Gadis itu memalingkan wajah Basofi padanya lalu mencium bibirnya si Babas.
Basofi yang sudah lama puasa tak pernah memasukkan pusakanya di tempat semestinya langsung menegang mendapat rangsangan dari gadis di sampingnya. Di tambah lagi tangan gadis itu sudah bermain di pusat didihnya Basofi. Meski terhalang kain tapi dia masih bisa merasakan lembutnya tangan seorang wanita dan kabut gairah terlihat di wajahnya.
'Betapa tak tahu malunya mereka di depan umum bermesraan seperti itu padahal tidak terikat secara sah' Batin Sofiyah.
Gadis mungil itu kemudian berbalik arah dan berniat meninggalkan Basofi untuk pulang sendiri. Gerakannya yang tergesa-gesa membuat fokusnya hilang sehingga ia menabrak bahu seseorang yang mengakibatkan barang belanjaannya banyak yang tercecer meski dalam bungkusan rapi tapi setiap orang yang melihatnya pasti tahu jika itu dala*** wanita.
Buru-buru gadis itu memasukkan semuanya ke dalam bag nya dan ada satu orang yang ikut berjongkok dan mencoba membantunya.
"Tidak usah biar saya saja.... " Katanya karena sangat malu. Dari tangannya yang kekar Sofiyah tahu jika dia adalah seorang pria.
Sofiyah segera berdiri setelah memastikan semua barangnya sudah masuk ke dalam tas.
"Terima kasih" Kata Sofiyah sambil membungkukkan badannya tanpa melihat orang yang telah ditabraknya.
"Sofiyah....?" Suara berat lelaki itu menghentikan langkah kaki Sofiyah.
Antara percaya dan tidak pada pendengarannya sendiri ia membalikkan badannya dengan sangat pelan seperti gerakan slow motion di film-film.
Keduanya saling terpaku dan saling menatap seolah menghentikan jalannya waktu.
"Sofiyah..." Panggilnya lagi.
"Kak Rey...?" Sofiyah menelan ludahnya karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Lelaki yang dipanggil Rey itu berjalan mendekat ke arah Sofiyah.
__ADS_1
"How are you?" Tanyanya dengan sangat lembut.
"I am good. You?" Sofiyah mengeluarkan semua kemampuannya untuk mengeluarkan suaranya karena tenggorokannya seakan tercekat. Tapi dalam hati kecilnya ia sangat bahagia.