Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Terdesak


__ADS_3

Basofi masuk ke kamar Sofiyah yang berada di sebelah ruang tamu. Ia sudah pernah masuk ke dalam kamar Sofiyah sebelumnya tapi waktu itu ia hanya fokus pada Aya yang sedang pingsan dan tak memperhatikan isi kamar si gadis mungil itu dengan jelas.


Hanya ada dua kamar tidur berukuran kecil di rumah sempit itu. Bahkan ukuran kamar tidurnya tidak lebih besar dari kamar mandi milik Basofi.


Begitu membuka kamar milik Aya, yang pertama ia lihat adalah jendela yang terbuka membiaskan cahaya dan menjadi saluran pertukaran udara. Tidak ada yang istimewa di dalam kamar gadis yang sering dikerjainya itu. Hanya ada dipan dengan kasur kecil diatasnya kemudian kotak kabinet yang terdapat mushaf Al-Qur'an berukuran sedang dalam posisi bersandar di dinding. Ketika kepalanya mendongak ke atas nampak beberapa baju Aya di gantung dengan hanger di pojokan kamar.


Basofi dengan lancang membuka kotak kabinet tadi untuk melihat apa saja yang ada di sana. Di kotak pertama ada beberapa kotak kecil yang ditata rapi di dalamnya. Kemudian Basofi membuka kotak kedua dan ketiga yang ternyata berisi pakaian Sofiyah.


Basofi penasaran di mana Sofiyah menaruh barang-barang penutup asetnya. Ia pun kembali melihat ke kotak paling atas dan membuka kotak kecil di dalamnya yang ternyata berisi perintilan wanita. Bros, peniti dan pita-pita.


"Ko....!" Terdengar suara Sofiyah yang tengah mencari dirinya, memanggil dengan suara agak keras.


"Aku disini Ay....!" Teriak Basofi menjawabnya.


Basofi yang belum hilang penasarannya membuka kotak kecil yang lainnya dan mendapati gulungan-gulungan dari kain yang tertata rapi yang belum pernah dilihatnya. Pria yang hanya memakai handuk saja itu mengambil gulungan tadi dan di bentangkannya lebar-lebar dengan kedua tangannya.


Ia menelan salivanya ketika melihat kain segitiga berwarna biru muda yang berbeda dengan yang sering dia lihat. Biasanya milik para partner ranjangnya bermotif renda kadang hanya tali yang menutupi bagian depan yang berbentuk segitiga kecil. Kain segitiga milik Sofiyah ini polos tak ada sentuhan sensualnya sama sekali tapi Basofi bahkan tak berkedip saat melihatnya.


Tiba-tiba Sofiyah sudah berada di ambang pintu dan mata sipitnya terbelalak penuh melihat barang pribadinya di pajang tepat di depan mata pria yang setengah tela***** itu.


Sofiyah yang malu dan gugup menutup pintu agar maminya tak mendengar percakapan mereka dan tidak salah paham dengan apa yang kini sedang terjadi.


Basofi yang mendengar pintu di tutup oleh seseorang refleks membalikkan badan dan menyembunyikan barang yang tadi dia teliti dengan seksama ke belakang tubuhnya. Ia persis seperti maling yang ketahuan sedang mencuri dan harus siap diadili. Kedua tangan yang berada dibelakang tulang ekornya meremas erat kain tersebut karena gugup. Ia berharap semoga gadis di depannya tak melihat apa yang ada dalam genggamannya.


Plastik berisi pakaian milik Basofi dilemparkan Aya begitu saja.


"A-aya....?" Katanya gugup melihat raut muka Sofiyah yang memerah karena marah.


"Ko... Apa yang ada ditangan kamu?" Tanya Sofiyah yang sebenarnya sudah tahu benda apa yang disembunyikan pria tampan yang kini tampak menyebalkan.

__ADS_1


"B-bukan apa-apa..." Katanya sambil memperlihatkan tangan kanannya di depan Sofiyah dan membolak-balikan telapak tangannya yang kosong sedangkan si kain segitiga berada di genggaman tangan kirinya yang masih bersembunyi di belakang tubuhnya.


Bergantian kini tangan kirinya yang ditunjukkan di depan Sofiyah sedang si segitiga berwarna biru berada dalam genggaman tangan kanan di belakang tulang ekornya.


Muka Sofiyah merah merona, ia sangat malu karena pakaian **l*mnya malah dipegang erat oleh Basofi terlihat dari lengan pria itu yang menggelembung seperti sedang mencengkeram sesuatu.


Gadis itu mendekati Basofi untuk mengambil barang miliknya tak perduli meski Basofi sedang bertelan**ng dada. Yang ada dalam benaknya hanya kain segitiganya.


"A-Aya...!" Bulu kuduk Basofi meremang saat Sofiyah mendekatinya dan berusaha menggapai tangannya yang disembunyikan di balik punggungnya. Hawa panas merayapi kulitnya.


"Kembalikan punyaku...."Ujar Sofiyah dengan suara serak.


"I-ini milikku..."Basofi tidak sadar apa yang diucapkan mulutnya. Tangannya yang sedang menggenggam kain segitiga tadi diangkatnya tinggi-tinggi agar Sofiyah tak bisa menggapainya.


Gadis kecil itu melompat-lompat mencoba menggapai tangan Basofi yang malah di gerakkannya ke kanan dan ke kiri agar tak bisa di gapai tangan kecil Sofiyah.


Basofi yang terdesak terus mundur ke belakang sampai punggungnya menempel pada tembok. Dengan gerakan cepat tangannya yang masih menggenggam kain misteri itu diarahkannya ke belakang punggung yang menempel di dinding agar Sofiyah tidak lagi berniat mengambilnya.


Kini posisi Sofiyah seperti memeluk Basofi dan terlihat seperti gadis yang bernafsu karena pipinya yang halus sudah menempel pada dada si pria yang terlihat enggan membalas pelukan si gadis karena kedua tangannya berada di belakang punggungnya.


Basofi memejamkan mata karena darahnya berdesir merasakan gejolak dari dalam dirinya.


"Kalian sedang apa?" Kata sang mami ketika membuka kamar putrinya dan mendapati putri dan calon menantunya sedang dalam posisi intim seperti itu.


Sofiyah langsung melepaskan tangannya dari tubuh si pria sambil mengusap matanya yang sudah berair.


Wanita paruh baya yang baru bangun karena suara berisik keduanya mencoba mengembalikan pikirannya yang belum sadar sepenuhnya.


"Assalamualaikum...."

__ADS_1


"Permisi.,..!"


Suara berisik dari ruang tamu membuat penghuni rumah yang sedang tegang saling mengalihkan pandangan . Mami Sofiyah terpaksa melangkahkan kakinya yang masih lemah, berjalan ke arah depan sambil berpikir apa yang sebenarnya terjadi pada putri dan calon menantunya.


Sementara itu Basofi yang melihat Aya menangis merasa bersalah dan segera mengangsurkan benda yang dari tadi di genggamnya dengan erat ke tangan Sofiyah.


Sofiyah yang sedang marah tanpa sadar malah melemparkan barang krusial miliknya ke muka Basofi dan segera keluar dari kamarnya sambil menghentakkan kakinya. Ia kesal juga marah dan beberapa detik kemudian barulah Aya ingat apa yang baru dia lemparkan ke muka orang yang dijodohkan dengannya. Mukanya kembali memerah, dia menutup mukanya sambil bergumam, bodohnya...


.


.


"Nak Daniel......" Sapa sang mami pada lelaki remaja yang kini berdiri di luar rumah sambil menaruh barang di teras.


"Sore mi...." Kata Daniel sambil mencium punggung tangan mami Sofiyah. " Mama minta maaf karena tidak bisa kesini sekarang. Mungkin nanti malam bareng sama papa" Jelasnya.


"Tidak apa-apa nak. Sampaikan sama mama terima kasih banyak!"


"Sama-sama mi... jangan sungkan kita ini keluarga mi..." Jawab Daniel ramah.


Remaja itu kemudian mengarahkan para pekerja untuk memindahkan barang-barang yang dikirim oleh sang mama.


Di luar gerbang terlihat ada tiga mobil box berhenti di depan area masjid . Orang-orang yang berlalu-lalang melihat dengan keheranan dan membuat jalan yang tidak seberapa lebar itu makin sempit.


Para pekerja kemudian segera mengangkut aneka makanan juga bungkusan sembako ke tempat tinggal Sofiyah dan maminya. Rumah yang sempit itu pun tak muat dengan aneka makanan, berkatan juga sembako yang dikirim oleh mamanya Basofi.


Sofiyah keluar dengan mata yang sembab dan Daniel yang melihatnya langsung cemas.


"Are you ok?" tanya Daniel sambil mengamati Sofiyah dengan seksama.

__ADS_1


"Yes I am fine. What do you mean?"


__ADS_2