Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Jum'atan


__ADS_3

Sofiyah menatap punggung Basofi sambil bergumam, "orang ini sebenarnya kayak gimana sih.... kadang kayak setan kadang kayak malaikat ?"


Ia lebih suka jika Basofi marah-marah kepadanya daripada saat Basofi berbuat baik seperti saat ini. Ia takut hatinya akan terpaut pada pria yang sering terlihat lapar seperti serigala saat melihat wanita.


Sofiyah juga mencoba mencerna bagaimana bisa bantal leher tadi ada padanya padahal saat di dalam mobil tadi dia terlelap dalam tidurnya tak ingat apa-apa. Sekarang ia yakin itu pasti perbuatan Basofi.


Ia mendengus sebal juga khawatir. Ia bingung dengan sikap pria itu.


Sofiyah melihat ponsel Basofi yang ada di tangan nya. Ia merasa penasaran dengan isi yang ada di dalamnya. Gadis mungil itu kemudian menggulir layar ponsel Basofi yang belum terkunci. Yang ia tuju pertama kali adalah galeri foto. Ia ingin tahu wajah gadis-gadis yang sering melanglang buana bersamanya mencari kenikmatan sesaat di alam nirwana.


Ia menelan ludahnya sendiri saat melihat foto-foto cewek yang memenuhi galeri ponsel milik bos nya. Beraneka ragam cewek ada di sana. Ada yang cantik berkulit putih, ada juga yang kulitnya eksotis dengan wajah manis dan ayu. Dari yang rambutnya cepak sampai yang rambutnya panjang. Yang berwarna hitam, coklat, pirang sampai merah juga ada. Dari yang langsing sampai seksi.


Mereka tampil dengan pakaian yang seksi dan menggoda. Hanya beberapa tempat saja yang tertutup kain sedangkan bagian lainnya memang sengaja di perlihatkan di tambah lagi dengan pose-pose merangsang yang menantang minta di jam*h.


Ia menutup mulutnya karena kaget dengan pose salah satu dari mereka dengan Basofi yang sedang ******* bibirnya.


"BRAKKKK!!!!"


Ia menggebrak mejanya dengan ponselnya Basofi yang di telungkupkan ke bawah agar tak terlihat lagi foto mesum yang tak pantas di lihat.


"Astaghfirullahaladzim... Dasar bajingan!! Maniak s*k* gila!!" Fiah geram sekali. Bagaimana bisa dia di jodohkan dengan orang seperti itu. Bahkan bermimpi punya suami seperti Basofi saja tidak pernah ada dalam bayangannya. Amarahnya memuncak, rasanya ingin marah dan menghantam apa saja tapi lagi-lagi yang bisa dia lakukan hanya meredam emosinya sendiri. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Tiba-tiba ponsel itu berkedip-kedip dan Sofiyah pun segera membaliknya kemudian melihat nama pemanggilnya.


Mami is calling


"Mi...?" Sofiyah langsung memanggil maminya.


" Assalamualaikum....?" Kata sang mami.


"Waalaikumsalam... Mami tadi kemana di telpon kok diangkat-angkat?" Kata Sofiyah panik.

__ADS_1


"Lagi nyuci piring tadi. Tas kamu ketinggalan ya?"


"Hehe .... Iya mi... lupa tadi, jadi nggak bisa telpon mami deh."


"Iya nggak papa. Ya sudah kerja yang benar, jangan bikin koko mu marah!. Baik-baik.,.. ya!?"


" Iya mi. Mami sehat kan?"


"Sehat wal afiyat, kenapa?"


"Abis ini mami mau ngapain?"


"Nyapu abis itu bersih-bersih yang lain..."


"Mami jangan capek-capek mi...!"


"Iya. Sudah dulu ya ada bu Aji bertamu...."


"Alhamdulilah...." katanya setelah menutup telpon.


Ia pun segera membuka ipad nya, mulai bekerja seperti biasa. Ia melihat jadwal bos nya hari ini dan tak lama kemudian dia berjalan ke ruangan presiden direktur tempatnya bekerja sambil membawa ipad dan ponselnya si bos.


Siang itu Basofi sedang memimpin rapat membahas tentang proyek perumahan barunya yang harus berhenti di tengah jalan karena ada beberapa warga yang tak terima dengan konsep dan tata letak bangunan di area perumahan.


Pembahasan itu berjalan alot dan setelah melihat jam tangannya sang direktur tiba-tiba menghentikan rapat.


" Kita lanjutkan nanti setelah istirahat..!" Katanya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


Ia berjalan keluar di ikuti oleh Mikail yang juga merasa heran. Seperti yang dituturkan oleh Sofiyah tadi pagi bahwa hari ini tidak ada pertemuan di luar tapi kenapa bos nya ini terlihat tergesa-gesa, seperti ada sesuatu yang penting yang harus segera dilaksanakan.


Sofiyah pun merasa heran tapi ia segera berkemas saja. Ia hanya mengira atasan sablengnya itu mau menemui salah satu gadisnya.

__ADS_1


"Nona sekretaris, tumben kau tidak di ajak pergi sama pak direktur?" Salah satu staf wanita yang ia lupa namanya bertanya padanya dengan berkacak pinggang di sampingnya.


'Cantik bener dia. Sudah tinggi langsing kakinya kecil...' Sofiyah malah fokus menatap wanita itu dari atas sampai bawah.


"Mungkin dia sudah bosan padamu nona Fiah. Jangan berlagak karena bos juga pernah menyukaiku dan sekarang dia meninggalkanku begitu saja" Kata si cantik dengan kaki seperti lidi, kecil, lurus, mulus tadi.


"Heh kau jangan lupa ya bos memakaiku lebih lama. Dia bahkan pernah datang ke apartemen dan mau menungguku" Kata yang lainnya tanpa rasa malu padahal masih ada beberapa staf pria yang masih berada di situ. Para pria itu sepertinya juga suka bergosip buktinya mereka tidak segera beranjak dari duduknya dan malah tampak menunggu sesuatu yang lebih wah. Mereka seperti sedang melihat pertunjukan gratis yang sayang jika harus dilewatkan begitu saja.


"Itu karena kau memberinya minuman. Kau bermain kotor. Aku tidak seperti itu. Aku tidak seperti dirimu... Kita ini beda level ya...!" Mereka kini bahkan sudah berdiri saling berhadapan dengan berkacak pinggang dan tatap-tatapan.


"Kalau kalian ingin bertengkar silahkan di luar saja! Kita di sini untuk bekerja. Kalau urusan cinta silahkan langsung berhubungan dengan pak Basofi. Saya tidak tahu menahu soal itu. Mari kita bekerja secara profesional saja.!.." Kata Sofiyah sambil menahan nafasnya. Sebenarnya dia takut hanya saja mulut dan wajahnya di buat seakan-akan dia adalah gadis yang pemberani.


Mereka adalah para senior di perusahaan ini sedangkan Sofiyah hanyalah anak kemarin sore yang baru bekerja disitu dan kini ia berlagak sok keren di depan mereka. Padahal sebenarnya hatinya ketakutan sekali.


"Jangan berlagak kau. Kau kira kami tidak tahu. Kamu itu cuma lulusan SMA dan bisa bekerja di sini pasti kau memberinya imbalan yang sama seperti kami kan?"


"Setiap hari berangkat dan pulang bersama karena kalian sudah hidup bersama kan meski belum menikah, istilahnya yaaa kumpul ke-bo begicu.... Mengaku saja lah. Jangan sok suci kau!"


Keduanya kini malah berbalik menyerang Sofiyah. Seakan-akan mereka berdua istri sah dan Sofiyah pelakornya.


"Pakai kerudung segala! Copot saja! Bikin malu orang Islam saja. Lebih baik seperti kami tapi kami jujur tidak munafik seperti dirimu!" Gadis yang dandanannya full itu mengangkat dagunya mengejek si gadis kecil yang sudah pasti kalah dari segi fisiknya.


" Silahkan berspekulasi sendirii..... saya permisi..." Kata Sofiyah sambil membawa barang-barang nya keluar.


"Hei aku belum selesai bicara. Dasar anak tidak tahu sopan santun..."


"Sudah sudah bubar....!" Salah satu staf pria akhirnya menghentikan kedua wanita tadi yang hendak mengejar Sofiyah.


"Kalian berdua itu sudah benar-benar dilupakan sama pak Bos. Sadar dirilah! Lebih baik sama kami yang masih mau menerima kalian apa adanya..." Katanya dan Sofiyah masih bisa mendengarnya dari luar ruangan karena pintunya terbuka.


"Naudzu billahi min dzalik... Kenapa dia dan karyawannya sama saja?. Kenapa aku bisa berada di antara mereka? Kalau ada cara khusus, ingin rasanya keluar dari lingkungan kerja yang aneh seperti ini" Gumamnya sambil berjalan menuju ke lift untuk menuju lantai atas.

__ADS_1


__ADS_2