
Pagi itu Sofiyah dan Daniel sudah berada di dalam mobil yang mulai melaju perlahan meninggalkan kawasan pesantren tempat tinggal Sofiyah dan keluarganya beberapa bulan terakhir ini.
Tadi Sofiyah menunggu Daniel di depan gerbang setelah Daniel mengiriminya pesan. Sehingga begitu dia sampai mereka langsung berangkat tanpa berpamitan pada orang tua Sofiyah terlebih dahulu.
"Mau sarapan dulu?" Tanya Daniel mengawali percakapan.
"I sudah sarapan tadi...." jawab Sofiyah.
"Padahal I berharap bisa sarapan bareng you.." Kata Daniel lagi dan sayangnya Sofiyah tak menanggapinya bahkan berpura-pura tersenyum pun tidak. Wajahnya dalam mode datar sekarang.
" Sorry. I minta your number dari mama tadi karena kemarin I lupa memintanya,"
"Its ok..." Jawab Sofiyah pendek karena merasa belum terlalu kenal juga dengan lelaki yang umurnya tak jauh darinya itu. Pun juga karena mereka hanya berdua saja di dalam mobil. Sedikit canggung padahal kemarin malam mereka bertengkar seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal. Mungkin karena ada sang mama yang menjadi perantara keduanya sehingga mereka nampak seperti sahabat akrab yang sedang berselisih paham.
Mobil yang mereka kendarai kini sudah mulai memasuki wilayah kota dan keramaian yang khas terjadi di kota begitu menghidupkan hari yang beranjak siang dengan segala hiruk pikuknya.
Setelah hening beberapa saat Daniel membuka percakapannya kembali," Sudah lama kenal dengan koko?" Tanyanya.
Sofiyah mencoba mengingat pertemuan pertama mereka,"Kira-kira satu bulanan".
Sekilas mengingatkannya kembali bagaimana bloonnya dia saat itu. Dia tersenyum kecut dan hal itu tak luput dari perhatian Daniel.
"Kenapa?"
"Oh....tidak..." Sofiyah tersadar dari lamunannya mendengar pertanyaan dari cowok remaja di sebelahnya.
__ADS_1
"Apa you kenal baik dengan koko?"
"Kami sedang berusaha untuk saling mengenal satu sama lain" Jawab Sofiyah diplomatis dan mencibir dirinya sendiri yang sok cool.
"Do you love him?"
Sofiyah tidak langsung menjawab pertanyaan itu tapi menganalisa perasaannya terlebih dahulu.
"Berarti you sedikit tertarik dengan koko?" Daniel menyimpulkan sendiri melihat Sofiyah yang sepertinya bingung untuk menjawab pertanyaan darinya.
"Aku pernah mendengar dalam Islam jika seorang gadis diam artinya dia setuju karena malu untuk berkata iya tapi jika dia tidak setuju maka dia akan menolaknya dengan tegas"
"Dalam islam?" Sofiyah heran mendengar kata-kata Daniel.
"Mama yang pernah bercerita pada I "
"Hah?" Sofiyah sangat terkejut mendapati pengakuan Daniel.
"Tenang saja.... hanya I dan My Mom yang non muslim..." Katanya masih fokus dengan map dan jalan di depannya.
"Benarkan?" tanyanya lagi.
"Apanya yang benar?" Sofiyah bertanya balik karena tidak tahu maksud dari pertanyaan Daniel dan ia tidak mendengar pernyataan Daniel tentang Momy nya.
"You tertarik sama koko..." kata Daniel menjelaskan.
__ADS_1
" Seperti yang I katakan tadi kami baru proses saling mengenal satu sama lain. So I don't know bagaimana kami kedepannya nanti..."
Daniel manggut-manggut seolah mengerti jalan pemikiran Sofiyah tapi rasa penasaran nya belum hilang dan Sofiyah pun tak ingin menceritakan kesepakatan antara dirinya dengan Basofi calon suaminya.
"Apa ..... you tahu.... koko itu....?"
"Playboy...?" Tegas Sofiyah. "Yes I know tapi setiap orang bisa berubah jika sudah bertemu dengan orang yang tepat..." Sofiyah berkata dengan percaya diri padahal dirinya merutuki perkataannya barusan.
"So... you orang yang tepat untuk koko begitu?" Daniel seolah mengejek kalimat Sofiyah barusan. Terlalu percaya diri menurut nya.
"Entahlah.... Kami akan menjalaninya dulu. kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti. Btw.... Apa mama mengenal gadis-gadis itu ?" Kini Sofiyah yang penasaran.
" I think no. Sepertinya koko belum pernah membawa seorang gadis pun ke rumah. Koko hanya bermain-main saja sepertinya"
"Dasar playboy..!! Wait.... wait.....wait... Apa you suka join with him?" Sofiyah menyipitkan matanya menelisik Daniel.
" I tidak dekat dengan koko. Di rumah itu hanya mama yang paling care sama I. Papa sama koko lebih banyak diam. Jadi I merasa senang ada you di sana jadi rumah terasa hidup dan ada teman mengobrol"
"Kan biasa kalau cowok itu lebih pendiam daripada cewek... " Sofiyah mencoba membela calon suaminya.
" Tidak ada yang menyukai kehadiran ku bahkan mami ku saja menelantarkan ku...." Daniel tak memakai kata I (ai) seperti biasanya dan wajahnya langsung murung menunjukkan jika kesedihannya sangat mendalam.
" Mami you? maksudnya?"
" I bukan anak kandung mama" jelas Daniel yang kini sudah menghentikan mobilnya tepat di depan tempat kursus Sofiyah.
__ADS_1
Sofiyah tak langsung turun karena merasa kasihan pada Daniel. Ia masih belum paham duduk perkaranya tapi tentu saja dia tak ingin mencecar Daniel dengan banyak pertanyaan karena hal itu hanya akan membuatnya makin sedih.