
Basofi segera mengejar kedua wanita yang disayanginya setelah sadar dari rasa bersalahnya. Akhirnya dia ikut serta dalam mobil sang mama dengan Pak Ali yang sudah siap dibalik kemudi. Karena keduanya sudah duduk di bangku penumpang mau tak mau Babas duduk di depan di samping pak Ali.
Suasana di dalam mobil cukup mencekam karena satu sama lain memikirkan kemungkinan-kemungkinan dan rencananya kedepan. Mama Rosi memalingkan wajahnya ke jendela. Pikirannya kalut karena takut jika putranya akan mewarisi sifat suaminya yang tega menduakan dirinya.
Meski begitu tangannya tetap menggenggam tangan menantunya dengan erat. Seolah-olah dia adalah putrinya yang harus ia jaga agar tak ditindas suaminya.
Basofi pun merasa bersalah pada sang mama karena telah membuatnya bersedih. Wanita yang paling disayanginya di seluruh dunia ini. Apapun akan ia lakukan asal mamanya senang. Karena mamanya jugalah dia mau menerima perjodohan yang diatur orang tuanya meski saat itu tak terbersit niat untuk berkomitmen dan mempunyai pasangan.
Babas berlaku playboy juga karena tak ingin punya istri yang nantinya hanya akan ia sia-siakan begitu saja seperti yang dilakukan papanya pada mamanya. Dia berulah dengan berganti-ganti partner ranjang sebagai bentuk pemberontakan dan menunjukkan pada papanya jika apa yang dia lakukan itu tak lebih baik dari apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Sebagai sopir keluarga yang sudah lama ikut pada keluarga mama Rosi, pak Ali pun seperti tahu dengan situasi yang sedang terjadi dan memilih diam setelah mencuri pandang ke samping dan belakang ternyata majikannya saling mengunci mulut dan memalingkan muka. Sehingga keadaan di dalam mobil itu cukup sunyi dan sedikit mencekam.
Sesampainya di rumah tempat Basofi tumbuh besar suasana di rumah itu nampak tenang. Hanya terlihat aktifitas para pekerja yang nampak beberes dan sebagiannya bersiap-siap hendak pulang.
Mama Rosi menarik tangan menantunya agar Basofi tidak menjangkaunya. Dia ingin menaruh Sofiyah di kamar tamu agar bisa tahu bagaimana perasaan Basofi pada istrinya dan sebaliknya. Tapi sebelum keinginannya itu terlaksana mama Rosi melihat sang suami ternyata sudah berada di rumah.
"Kenapa kaget begitu?" Pria paruh baya itu sensitif sekali. Maunya cuma dipuja-puja dan dimanja-manja.
"Enggak!! Mama seneng lah papa pulang! Kamu juga seneng kan ketemu sama papa sayang?" Wajahnya yang semula berkerut-kerut karena kesal pada putranya kini langsung berganti menjadi berseri-seri begitu melihat sang suami.
__ADS_1
Sofiyah mengulas senyum kemudian mencium tangan papa mertuanya.
Sang mertua hanya melihat putra dan menantunya yang tumben berada di rumah istrinya tapi dia hanya diam saja.
Basofi langsung naik ke lantai atas ke kamarnya sendiri saat melihat papanya ada di rumah. Meskipun memang dia lebih sering berada di rumah mamanya tapi saat ini Basofi benar-benar tidak ingin melihat wajah sang papa. Ia benci pria itu dan sering memilih bungkam dan membuang muka saat berpapasan dengannya apalagi saat satu ruangan dengannya. Kalau bukan karena mamanya mungkin dia tidak akan mau bertatap muka dengan pria yang menjadi ayah kandungnya itu.
Ia heran pada mamanya yang memilih bertahan disamping papanya setelah disakiti sedemikian rupa oleh keluarga besar papa Adi. Kalau dia yang di posisi itu mungkin dia akan memilih pergi. Lebih baik hidup sendiri daripada di madu seperti mamanya.
"Papa mau makan apa? Biar mama sama Fiah yang menyiapkan" Kata mama Rosi bersemangat sekali.
__ADS_1