Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
bingung


__ADS_3

Dia keluar dari ruangannya sebelum security itu sampai di depan pintunya. Menerima bingkisannya tanpa mengucapkan terimakasih. Terdengar hanya bilang " hm " saja dan security itu segera permisi.


Kini ia hanya memakai kemeja dengan lengan yang digulung hampir mencapai sikunya. Tampak keren dan gagah tapi begitu mengingat dia berhubungan dengan banyak wanita aku jadi merasa ketampanannya turun drastis.


"Kemarilah...!" Katanya sambil duduk di sofa yang biasanya digunakan para tamu dan mulai membuka bungkusan yang berisi makanan tanpa melihat ke arahku sama sekali. Dan tentu saja panggilan itu adalah untukku karena tidak ada orang lain di sini selain kami berdua.


Aku berjalan menuju sofa kemudian duduk tak jauh darinya. Membuka kotak yang ternyata berisi nasi dan lauk lengkap. Sebuah besek besar diantara kami dibukanya dan isinya adalah ayam panggang utuh yang kelihatan lezat sekali dengan sambal super banyak.


"Pekerjaanmu sudah selesai?" Dia bertanya sambil mengambil sedikit daging ayam lalu dicocolkannya pada sambal dan ditaruhnya diatas nasiku.


"Belum. Mungkin tidak akan selesai meski lembur semalaman", meski malas berbicara kujawab juga pertanyaannya.


Aku makan menggunakan sendok yang tersedia di dalam kotak. Ku makan saja apa yang dia berikan padaku tanpa bertanya apalagi protes meski sebenarnya perutku kurang nyaman karena tadi siang sudah makan sambal dalam jumlah banyak. Aku memang suka pedas tapi perutku yang terkadang tidak bisa menerima.


"Setelah ini kita pulang! Lanjutkan besok pagi saja!" Dia terus saja mengambil daging ayam dan disuwiri kecil-kecil lalu dicocolkannya pada sambal kemudian ditaruhnya diatas nasiku.


"Jangan ge-er! Aku melakukan ini agar aku tidak disalahkan karena membiarkan pegawainya kelaparan".


"Iya". Jawabku singkat kemudian melanjutkan makanku. Sepertinya aku sudah bosan berharap dia akan berubah menjadi pria baik-baik sehingga aku tak ingin menebak-nebak apa yang dipikirkannya. Terasa hampa meski sedang bersamanya.


Dia menghentikan kegiatannya dan menatapku seolah-olah ada yang salah di wajahku. Ia menghela nafasnya kemudian beranjak ke wastafel dan mencuci tangannya dengan sabun cair yang tersedia.


Ku lanjutkan makanku sampai habis sedangkan makanannya kulihat masih utuh. Dia belum menyentuhnya sama sekali. Sekarang dia hanya duduk sambil menatap hapenya mungkin sibuk chattingan dengan para kekasihnya.


"Bagaimana sisanya ini ko?", tanyaku sambil membereskan semuanya.


"Buang saja! " Jawabnya tanpa melihatku kemudian meminum es tehnya.


" Boleh kubawa pulang?",tanyaku karena merasa sayang. Masih banyak kenapa harus dibuang? mubadzir kan?.


"Sudah kubilang buang saja! Akan kubelikan yang baru untuk keluargamu! Kau kira aku tidak punya uang untuk membeli yang baru?!"

__ADS_1


Mulai kambuh lagi gilanya. Aku hanya tanya seperti itu saja dia sudah menggila. Untung saja aku sedang tidak mood untuk meladeni omongannya.


Besek dan kotak makanannya kumasukkan lagi pada tempatnya semula sedang kotak makananku yang sudah habis kujadikan satu dengan cup bekas es tehku. Yang satu kubuang ke dalam tong sampah yang lainnya akan ku bawa pulang atau kuberikan pak satpam.


"Ayo pulang!" Katanya sambil berjalan dan memasukkan hapenya ke dalam saku celana.


Dasar bos gila!! Dia benar-benar ya melakukan semuanya seenaknya saja. Buru-buru kubereskan meja kerjaku karena aku tidak mau sendirian di ruangan sebesar ini.


"Tunggu sebentar pak!" Kataku sambil menata barang-barang diatas meja tapi malah berjatuhan semuanya.


"Astaghfirullahaladzim....." Yang penting laptop sudah mati dan data sudah kusimpan yang lainnya bisa dibereskan besok, batinku.


Aku berlarian mengejarnya yang sudah berada di dalam lift. Untung saja dia mau menungguku jadi aku akan mengikutinya saja tanpa banyak bertanya.


Saat di pintu keluar kuberikan nasi miliknya tadi pada security yang mengantarkannya pada kami. Dia diam saja melihatnya, tidak marah.


"Ambil motormu!" Katanya sambil memberikan kontak kunci motor padaku.


Aku langsung menuju ke parkiran motor meski sedikit takut karena hanya beberapa orang saja yang sedari tadi ku lihat, bisa dihitung jari. Beda sekali dengan waktu siang tadi, tempat ini sangat riuh karena semua orang punya kepentingan sendiri-sendiri. Padahal ini belum isyak tapi tempat ini jadi tampak sepi dan sedikit membuat bulu kudukku berdiri.


"Kau yang bonceng aku! Aku ingin tahu apa kau bisa menguasai jalan yang berbelok-belok seperti ini atau tidak!" Perintahnya setelah dia memasang helm ku. Entah apa maunya? Kadang dia terlihat perhatian sekali padaku tapi lain waktu dia menjadi sangat pemarah dan menginjak-injak harga diriku.


Kukendarai motor matic ku pelan-pelan keluar dari area parkir dengan dia yang duduk di belakangku. Mungkin karena sekarang sudah sepi jadi dia tidak malu bersamaku.


Security di depan gerbang menatap kami dengan memicingkan matanya. Entah dia tahu yang berada di belakangku ini pak direktur atau tidak tapi tatapannya sedikit menyelidik.


Pak security memintaku untuk berhenti dengan menaik-turunkan lampu snter nya yang berwarna orange tepat di depan motorku yang berjalan sangat pelan.


Aku pun berhenti dengan hati-hati karena masih sedikit grogi tiba-tiba di stop begini.


"Iya pak?" Aku bertanya sambil mematikan mesin motornya.

__ADS_1


"Maaf saya periksa dulu mbak!" Kata security itu.


Babas turun dari motor kemudian membuka helm teropongnya dan berjalan lebih mendekat ke security yang langsung menelan ludahnya sendiri.


"Kau tidak mengenalku? Apa kau minta ku pecat Hha!!!??"


"Mmmmaa- ma -maaf pak maaf!!. Saya baru lihat mbaknya ini. Lagi pula bapak tidak pernah naik motor dan biasanya sama cewek-cewek sek....si...!" Dia menutup mulutnya sendiri yang malah tidak mau berhenti bicara lebih parahnya mulutnya bicara apa adanya.


"Ingat wajahnya baik-baik kalau kau tidak mau kupecat!" Katanya sambil menunjukku dengan dagunya kemudian menuding muka security itu dan membentaknya.


Ia segera duduk di jok belakangku lagi dan security itu menunduk sambil meminta maaf berkali-kali.


Sepanjang jalan kami hanya diam dan cuma berhenti satu kali di restoran ayam geprek. Dia membelinya untuk dibawa pulang dan ternyata sampai rumahku dia memberikannya padaku.


Saat kami tiba di rumah mami dan papi sedang tidak ada di rumah. Pasti mereka sedang berada di masjid karena ada pengajian ba'da isyak di sana.


"Mami dan papi pasti masih di masjid ko...!"


"Hm.... salam saja sama mereka!"


"Iya...."


"Aya.....", panggilnya saat dia sudah di luar pintu.


Aku menunggu kata-kata selanjutnya tapi dia diam saja sambil menatapku penuh tanda tanya.


"Hati-hati dirumah!" Katanya sambil mengusap puncak kerudungku.


"Makasih ko..." Ucapku karena sudah mengantarku malam ini.


Dia mengangguk dan hanya melihatku sekilas.

__ADS_1


Aku bingung pada diriku sendiri. Tadi aku marah dan menangis meraung-raung karenanya dan sekarang kami malah seperti pasangan yang tak rela berpisah.


Entah hubungan apa yang kami jalani saat ini. Ambigu sekali.


__ADS_2