Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
wali songo


__ADS_3

"Jadi, walisongo itu beneran ada bah? Bukan cuma dongeng belaka?", Tanya Basofi penasaran karena ia pernah membaca cerita tentang Wali songo dan ia merasa ganjal dengan isinya yang terlihat mengada-ada. Buku itu tidak bercerita tentang sisi dakwah mereka tetapi lebih memunculkan sisi-sisi goibnya sehingga Basofi menyimpulkan bahwa Wali songo itu seperti cerita dongeng dan mitos. Sama seperti cerita Jaka Tarub, Lutung kasarung dan semisalnya.


"Lho ada itu.... Walisongo itu memang ada. Mereka adalah para ulama yang datang dari berbagai negara ke nusantara ini untuk berdakwah. Ada Maulana malik Ibrahim yang datang dari negeri Azerbaijan. Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan kalijaga, Sunan Muria, Sunan gunung jati, Sunan Kudus.


Para ulama' ini datang ke Nusantara tepat satu abad sebelum penjajah datang ke Indonesia. Karena itu selama tiga ratus lima puluh tahun bangsa Indonesia bisa terus bertahan dan berjuang melawan penjajah karena adanya spirit agama Islam untuk membela tanah air dan bangsa.


Lihatlah bangsa-bangsa lain yang dijajah seperti Amerika dan Australia yang suku aslinya hanya tersisa beberapa saja setelah mereka dijajah. Tapi tidak dengan Indonesia yang justru tetap eksis bahkan nenek moyang kita justru bersatu padu setelah para penjajah pergi dari Nusantara.


Ada tiga sumber primer tentang walisongo. Yang pertama yakni Kropak Jawa atau Kropak Ferrara yang ada di museum Ferrara di Italia. Lembaran-lembaran krontal atau siwalan ini berisi tentang notulensi dari pengajaran-pengajaran Maulana Malik Ibrahim yang berdakwah di Gresik.


Sumber kedua yakni Head book Fan Bonang yang ada di Leiden Belanda.


Sumber ketiga yakni Serat Wali stana yang ada di Keraton Yogyakarta.


Yang pertama kali datang ke Nusantara adalah Maulana Malik Ibrahim. Beliau datang dan mendarat di Jawa , tepatnya di Gresik dan menemukan kerajaan Majapahit yang porak-poranda karena terjadi perang Paregreg.


Perang paregreg adalah perang saudara yang terjadi antara Majapahit istana barat yang di pimpin Wikramawardhana yang berkedudukan di Trowulan Mojokerto melawan istana timur yang dipimpin Bhre Wirabhumi yang berkedudukan di Kediri atau ada yang mengatakan di Lumajang.


Perang saudara ini berlangsung sangat lama dan habis-habisan membuat rakyat ketakutan dan berlari ke pegunungan. Sawah-sawah terbengkalai sehingga Majapahit dilanda krisis pangan yang hebat. Pangan langka dan harganya sangat mahal.


Yang pertama kali dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim adalah membuat bendungan dan mencetak sawah kemudian mengajak masyarakat sekitar untuk ikut membantunya.


Pada zaman Majapahit dulu padi yang ditanam adalah padi Gogo atau padi kering dan dalam setahun cuma bisa panen sekali.


Di sawah pertaniannya Maulana Malik Ibrahim itu padi dalam setahun bisa panen dua kali sehingga masyarakat banyak yang tertarik. Masyarakat pun semakin banyak yang bergabung dan mulai akrab dengan Maulana Malik Ibrahim.


Lama kelamaan mereka kagum dengan kepribadian Maulana Malik Ibrahim yang selalu rapi dan wangi. Mereka juga melihat lima kali dalam sehari beliau menghadap ke arah barat dan jungkar jungkir melakukan beberapa gerakan.


Mereka pun mulai penasaran dan bertanya," Kanjeng wong agung, panjenengan itu setiap waktu menghadap ke barat bersedekap kemudian menungging... itu sedang apa?"

__ADS_1


"Oh... saya itu sedang menyembah sedang beribadah".


"Menyembah kepada siapa?", tanya masyarakat yang bekerja kepada beliau.


"Kepada Pencipta alam semesta namanya Allah".


"Lho itu agama apa?"


"Agama islam", jawab Maulana Malik Ibrahim.


Maka orang-orang yang bekerja kepada beliau menerima dan masuk Islam dengan sukarela.


Pada saat itu Majapahit dibawah kepemimpinan Maharani Suhita ada muhibbah yang bernama Laksamana Ceng Ho dan sekretarisnya bernama Ma huan yang juga seorang muslim yang soleh dan hebat.


Maulana Malik Ibrahim kemudian menemui Ma Huan dan meminta bantuan agar mengerahkan prajurit-prajuritnya yang mayoritas berasal dari daerah Yun nan untuk membuat persawahan dan membantu masyarakat dari daerah Gresik, Lamongan sampai Tuban karena beliau tahu mereka ahli dalam tanaman padi dan memiliki sawah-sawah yang luas di negara asal mereka, Cina.


Kemudian datang lagi seorang yang bertubuh besar, kekar, kulitnya kehitaman yang dikenal sebagai Maulana Maghribi (karena berasal dari daerah Maghrib atau Maroko) yang datang ke Jawa untuk menemui Maulana Malik Ibrahim.


Oleh Maulana Malik Ibrahim kemudian Maulana Maghribi ini diarahkan untuk berdakwah di bidang rukyah karena di pulau Jawa saat itu banyak dukun, tukang santet dan tempat-tempat angker.


Maulana Maghribi yang terbiasa makan roti saat tinggal di Jawa kemudian mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan dan ikut makan nasi seperti masyarakat kebanyakan. Akan tetapi perut beliau terasa perih setiap makan nasi.


Maka oleh masyarakat kemudian dibuatkan roti yang berasal dari tepung beras karena di Jawa tidak ada gandum. Maka jadilah kue apem yang besar. Dan itulah yang dibawa Maulana Maghribi untuk berkeliling melakukan rukyah.


Mengalahkan para dukun, para tukang santet, dan menyembuhkan orang-orang yang sakit karena terkena sihir kemudian mereka satu persatu mengucapkan syahadat dengan ikhlas.


Kemudian datang lagi Maulana Ahmad Rahmatulloh yang berasal dari Cempa. Beliau adalah saudara ipar dari raja Brawijaya Kertawijaya dan mendapatkan hadiah tanah perdikan di daerah Ampel Denta Surabaya.


Maulana Ahmad Rahmatulloh yang ahli dan pakar dalam bidang tata negara kemudian mendirikan sekolah tata negara dan yang bersekolah di sana adalah para pangeran dan putra-putra bangsawan Majapahit.

__ADS_1


Sama, para murid lama kelamaan kagum dengan sosok yang lebih dikenal sebagai Sunan Ampel ini kemudian bertanya tentang kebiasaan sang Guru yang beberapa kali dalam sehari jungkar jungkir menghadap ke barat.


"Oh itu namanya Solat...", jawab Sunan Ampel.


"Solat itu apa kanjeng sunan?"


"Solat itu koneksi, menyambungkan diri dengan Ilahi. Pencipta bumi dan apa-apa yang ada di dalamnya".


Kemudian para pangeran dan para putra bangsawan satu persatu tertarik dan masuk islam.


Yang datang berikutnya adalah Maulana Ustman Haji dan putranya Sayyid Ja'far Sodiq dari Palestina.


Datang dan mendarat di Ampel Denta kemudian berkonsultasi dengan Sunan Ampel.


Sunan Ampel kemudian menulis surat kepada Raja Brawijaya yang menyatakan bahwa ada seorang dari Palestina yang bernama Maulana Ustman Haji yang ahli perang, ahli militer dan ahli keprajuritan. Sunan Ampel merekomendasikannya untuk menjadi pelatih prajurit Majapahit.


Kemudian datanglah Maulana Ustman Haji ke Majapahit dan beliau diangkat menjadi pelatih tentara Majapahit.


Putranya yakni Sayyid Ja'far Shodiq diperintahkan untuk berdakwah di daerah pantai utara. Karena beliau rindu dengan tanah kelahirannya maka ketika membuat mesjid ia memberinya nama seperti nama mesjid suci seperti di tanah kelahirannya yakni masjid Al Aqsha.


Kota yang dia bangun kemudian diberinya nama seperti kota sucinya umat Islam yakni Al Quds atau Baitul maqdis.


Orang Jawa menyebutnya Ku-dus.


Yang datang berikutnya adalah Aliyudin dan Taqiyuddin yang berdakwah di pesisir-pesisir dan pelabuhan-pelabuhan. Zaman dahulu orang berlayar itu melihat arah angin. Sambil menunggu waktunya berlayar para pedagang mendengarkan ceramah-ceramah kedua ulama kakak beradik itu.


Yang datang berikutnya adalah Maulana Ishak putra Maulana Ibrahim Assamarkandi dari Samarakand. Beliau berdakwah di daerah ujung timur pulau Jawa yakni Blambangan dan menikah dengan Dewi Sekadadu kemudian memiliki seorang putra bernama Raden paku yang kemudian hari dikenal dengan sebutan suna Giri dan beliau berdakwah di daerah Gresik.


Sunan Giri seorang alim, Fakih dan seorang yang sakti . Beliau menjadi Sultonul ulama pada zaman itu.

__ADS_1


__ADS_2