Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Dunia sudah gilaaa


__ADS_3

Apa kabar dunia??


SUDAH GILAAAAAA!!!!


Ada yang sefrekuensi denganku?


Tahu kan itu openingnya siapa?


Babang Hirodata yang glowing yang makin ke sini makin kinclong aja tuh bibirnya.


Apaan sih diriku ini ya?


Aaahhhh ya sudahlah kita lanjut ke cerita kang Babas dan neng Sofi ajahh!


*******


Basofi mengesampingkan pekerjaannya demi melihat rekaman Cctv yang diberikan oleh Mikail. Mereka berdua melihat layar laptop dengan seksama. Dari ruang rapat sampai Sofiyah naik ke lantai atas. Basofi mencernanya dan menyimpan dalam memori otaknya.


Basofi kemudian memberi instruksi pada Mikail apa yang harus dia lakukan. Memintanya untuk melakukan semuanya dengan bersih dan jangan sampai Sofiyah mengetahuinya.


" Pastikan semua berjalan dengan benar dan jangan membuat Sofiyah curiga!" Katanya tegas.


Sebelum jam kerja berakhir ada seorang gadis yang ingin bertemu dengan Basofi yang kini sedang berdiri di depan meja sekretaris. Gadis yang tadi ribut dengannya di pantry itu mengaku jika Basofi yang memanggilnya.


"Dengan siapa?" Tanya Sofiyah pada si gadis sambil memegang gagang telpon siap untuk melakukan panggilan pada bos besar.


" Rara Maudi dari departemen pemasaran" Ia memainkan ujung kukunya yang berkutek dengan taburan garnish di atasnya yang menurut Sofiyah malah kayak jamuran.


Sang sekretaris pun segera menelpon atasannya, " Sore pak, ini ada nona Rara Maudi dari departemen pemasaran ingin bertemu..."


"Suruh masuk...!" Kata Basofi kemudian dia langsung mematikan sambungan telponnya.


" Silahkan nona, sudah di tunggu pak direktur di ruangannya..!" Kata Sofiyah sopan.


Gadis seksi itu berjalan melenggang dengan lemah gemulai. Sofiyah menelan ludahnya sendiri, kenapa semua wanita di sekitar Basofi itu seksi-seksi dan bahenul-bahenul. Kecuali dirinya tentu saja. Ia membandingkan tubuhnya dengan gadis yang kini sedang mengetuk pintu sang atasan, sangat berbeda. Pantas saja Direktur gilanya itu tak tertarik padanya.


Basofi yang sudah mengamati gadis itu sejak dia sampai di lantai atas mencoba bersikap biasa. Tak ada rasa ingin menggoda gadis seksi di depannya seperti kebiasaannya dulu sebelum Sofiyah hadir dan menjadi sekretarisnya.


" Hari Minggu besok kau ada acara?" Tanya Basofi langsung ke intinya.

__ADS_1


"Tidak pak. Saya free" Wajah gadis itu tak bisa menyembunyikan kebahagiaan. Akhirnya kesempatan itu datang juga padanya. Ia selalu iri saat teman-temannya bercerita kalau direkturnya sudah pernah memakai mereka, di ajak jalan-jalan, makan-makan dan diajak berbelanja.


" Kau mau datang ke pesta bersamaku?" Tanya Babas sambil menatap wanita itu sambil menyunggingkan senyum yang menggoda siapa saja yang melihatnya.


Wajah Basofi itu wajah asli Indonesia meski punya keturunan Cina dari sang papa tapi wajahnya lebih mirip sang mama. Dia tidak terlalu putih, tidak sipit tapi ganteng sekali. Kalau di Indonesia ini macam Evan Marvino kali. Bayanganku sih kayak gini kadar ketampanannya.


ļæ¼


Ganteng-ganteng playboy gitu.


Gadis seksi itu terkejut senang sekali. "Iya pak dengan senang hati " Katanya sambil melebarkan senyuman.


"Baiklah kita berangkat jam lima sore. Pakai baju yang sopan dan jangan memakai make up berlebihan! Kita ketemu di depan hotel Berlian. Jangan sampai telat, aku paling tidak suka menunggu orang!" Katanya memberi perintah.


Gadis itu merasa sedikit janggal. Dia berharap akan di ajak pergi ke butik untuk membeli baju terlebih dahulu seperti yang pernah di ceritakan oleh teman-temannya. Tapi ia positif thinking saja, mungkin ini baru permulaan nanti ia akan berusaha membuat direkturnya ini agar bertekuk lutut padanya sehingga mau menuruti apa saja keinginannya.


"Iya pak baik, saya akan datang setengah jam sebelumnya sehingga bapak tidak perlu menunggu saya " Katanya dengan penuh percaya diri sambil memberikan senyum terindahnya.


"Keluarlah!" Kata sang atasan sambil menggerakkan kepalanya ke arah pintu.


"Terima kasih pak..!" Katanya sambil membungkukkan sedikit badannya kemudian permisi keluar tapi sebelum dia keluar dia yang baru pertama kali masuk ke ruangan direktur utama perusahaan ini tercengang saat melihat Mikail yang berada di luar ruangan bisa terlihat dengan jelas dari tempatnya berdiri.


'Kaca dua arah?'


Mikail menyerahkan kartu namanya pada gadis yang bernama Rara tadi. "Besok saya akan menghubungi anda nona!"


Gadis itu ogah-ogahan karena merasa tidak selevel dengan si asisten yang menurutnya posisi rendahan.


"Baiklah anda yang tidak mau menerimanya..." Kata Mikail sambil mengembalikan kartu namanya di dompetnya kembali.


"Sini!!" Sentak Rara menyahut kartu nama itu dan segera membawanya pergi meninggalkan Mikail tanpa mengucap terima kasih.


Gadis yang bernama Rara tadi melirik Sofiyah dengan tatapan merendahkan saat dia melewati kursi sekretaris. Gadis bermata sipit tapi cantik itu tak menghiraukannya.


Bodoh amat dengan dengan gadis-gadis nya si bos Playboy cak kapak itu, tidak ada urusan dengannya. Kalau bisa ia ingin berusaha membujuk maminya agar membatalkan perjodohan mereka. Tak ingin dirinya hidup dengan si penikmat lubang surga. Ia hanya harus mencari cara bagaimana agar kedua orang tua dari kedua belah pihak saling rela jika anak-anaknya tak ingin bersama.


"Ayo!" Kata Basofi yang kini sudah berada di depan kerja Sofiyah. Ia berjalan dengan membawa jas yang disampirkan di pundaknya seperti para foto model yang sedang berpose nyentrik.


Sofiyah menoleh ke arah Mikail yang sedang memandang kesal pada sang atasan karena meninggalkannya sendirian lagi.

__ADS_1


" Pak Mike saya duluan...!" Kata Sofiyah sambil mengulas senyumnya.


Mikail langsung membalas si gadis dengan senyum tertampannya.


"Hati-hati Sofi....!" Katanya menatap Sofiyah penuh damba.


"Da....!" Sofiyah melambaikan tangannya saat berada di dalam lift. Basofi hanya mendengus kesal tanpa bisa mengutarakan kecemburuan.


"Pakai ini!" Katanya sambil memberikan jasnya agar dipakai Sofiyah saat pintu lift sudah tertutup rapat. Gadis itu tanpa membantah langsung memakainya. Tak ingin berdebat dengan si mulut pedas.


Seperti biasa Basofi berjalan dengan langkah cepat dan Sofiyah akan berjalan di belakangnya berusaha mengimbangi langkah si bos besar agar tak ketinggalan terlalu jauh.


Di dalam mobil mereka pun saling diam membisu. Jika biasanya Basofi mencoba mencuri pandang pada si gadis kecil tapi kali ini ia menutup mulutnya rapat-rapat. Enggan mengeluarkan suara.


Kira-kira sepuluh menit setelah mereka berjalan Sofiyah melihat ternyata mereka berhenti di area rumah sakit. Tapi ia masih enggan untuk bicara dan bertanya. Ia ikut saja ke mana atasannya itu melangkah.


Basofi menyuruh Sofiyah duduk tenang sementara dirinya yang mendaftar dan mengurus administrasi yang di perlukan. Biasanya ia lebih suka memerintah Mikail yang mengerjakan semuanya tapi saat hal itu berhubungan dengan Sofiyah ia ingin mengerjakan semuanya sendiri dan ingin berduaan saja tak suka jika ada yang mengganggunya.


"Ayo ....!" Basofi menarik pergelangan tangan Sofiyah.


Gadis mungil itu melepas tangannya dengan raut muka heran.


'Tidak mungkin dia mau memeriksakan luka bakar ku yang remeh ini kan? bikin malu saja. Itu hanya luka kecil yang akan segera menghilang' batinnya.


"Ayo!!" Kata Basofi dengan keras membuat semua orang melihat ke arah mereka.


"Aku tidak sakit apa-apa ko..." Katanya berusaha menolak.


" Luka bakarmu itu harus di periksa!" Katanya dengan kasar tak perduli mereka menjadi pusat perhatian.


" Tadi juga sudah ku olesi salep..." Kata Sofiyah sambil melihat mata-mata yang menatap ke arah mereka.


"Maaf semuanya.... ini istri saya habis terkena tumpahan kopi panas tapi ia keras kepala tak mau diperiksa" Kata Basofi tak merasa sungkan sama sekali.


Sofiyah memelototkan mata sipitnya. Bisa-bisanya bilang istri di depan semua orang tanpa rasa sungkan.


"Suaminya sayang banget lho mbak, aku juga pingin digituin..." Kata salah satu pasien wanita.


"Jadi istri itu manut aja, wong suaminya berniat baik lho!" kata yang lainnya lagi.

__ADS_1


Glek


Sofiyah menelan ludahnya karena kini posisinya sangat terpojok. Ia pun segera mencengkeram lengan Basofi sambil mengulas senyum terpaksa pada orang-orang yang sedang menatapnya. Dengan terpaksa ia pun mengikuti keinginan si bos diktator untuk memeriksakan luka kecilnya.


__ADS_2