Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Ehem


__ADS_3

Malam itu adalah peringatan malam ke empat puluh hari papi Sofiyah sekaligus peringatan malam ke tujuh mami Soraya. Baik Sofiyah dan Basofi tak begitu mengerti bagaimana cara menghitungnya karena menurut mereka itu masih hari keenam setelah hari meninggalnya sang mami.


Pasangan suami istri yang belum sah menurut negara itu hanya mengikuti apa kata mamanya dan tidak protes apa-apa. Toh menurut abah Fani itu tidak masalah. Mau tahlilan berniat untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal itu baik dan kalaupun tidak mengadakan tahlilan juga tidak ada masalah karena para sahabat Nabi tidak ada yang melakukannya.


Sebagai seorang anak kewajiban kita mendoakan orang tua yang sudah meninggal setiap hari dan kalaupun mau mengikuti tradisi ya boleh-boleh saja. Apa salahnya berkumpul dengan para tetangga untuk berdoa bersama, membaca solawat dan tahlil bersama-sama.


Para tetangga yang tinggal di sekitar pondok pesantren juga para santri sudah selesai membersihkan tempat yang beberapa malam terakhir digunakan untuk tahlilan kemudian mereka berpamitan pada Basofi juga abah Fani dengan membawa berkatan yang sudah disiapkan oleh mama Rosi.


Sedangkan Sofiyah yang sedang berada di dalam kamar dan bergelung dengan selimutnya merasa resah. Pasalnya sekarang dia sudah suci dari menstruasinya. Dia sudah ada di atas kasur empuknya beberapa menit yang lalu. Sofiyah takut apa yang dikatakan Basofi akan terjadi malam ini.


Dalam pikirannya dia merasa kalau pria yang tidak perjaka saat menikah itu tidak ada masalah tapi kalau seorang wanita itu harus masih gadis saat menikah dengan suaminya.


Bunyi derit pintu membuat Sofiyah langsung memejamkan mata. Berpura-pura tidur untuk mengibuli sang suami agar tak meminta hak nya malam ini. Berusaha menunda apa yang memang sudah seharusnya di lakukan pasangan suami istri.


Dengan mata yang terpejam telinganya berusaha mendengarkan apa yang dilakukan suaminya di balik punggungnya.


Tak lama setelah itu Basofi tidur disampingnya dan memeluk tubuh kecil mungil itu seperti biasa dengan posisi Sofiyah yang memunggunginya.


Hati Sofiyah dag dig dug tak karuan, Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya tapi dia berusaha sebisa mungkin tak bergerak agar aktingnya meyakinkan dan Basofi mengira kalau dirinya sudah terlelap.


"Ay... " Basofi menyangga kepala dengan satu tangannya sedang tangan yang lainnya membelai rambut Sofiyah.


Cup


Basofi mengecup pipi Sofiyah dan melihat wajah istrinya. Tadi saat di kantor Sofiyah minta cepat pulang katanya mau keramas karena haidnya sudah berhenti dan ia harus sesuci. Sofiyah memang sudah bekerja pada hari kedua setelah meninggalnya sang mami. Ia beralasan pada Basofi kalau berdiam diri di rumah saja hanya akan mengingatkannya pada kedua orang tuanya. Sebagai suami yang baik ia pun mengizinkan karena takut istrinya akan bersedih dan kesepian.


Basofi sekarang tahu kalau orang yang sudah berhenti menstruasinya harus mandi besar. Dan dari yang dia pelajari ia juga baru tahu ternyata setelah berhubungan badan harus mandi besar juga. Basofi benar-benar shock saat mendengar penjelasan itu dari Abah Fani. Ternyata semua sudah di atur dalam agama bahkan hal paling pribadi antar suami istri juga ada pembahasannya.

__ADS_1


Ia jadi lebih bersemangat lagi untuk belajar tentang agama dan mengkajinya juga beristighfar memohon ampun untuk semua dosa-dosanya.


"Ay, kamu sudah suci kan?" Tanya Basofi sambil memegang buku hadiah dari abah Fani.


"Doanya kayak gini Ay, Allohumma jan-nibnas-syaithonnn wa-jan-nibis- syai-thoo-na maaa ro zak ta naa" Basofi membaca do'a itu dalam versi Indonesianya dengan terbata-bata karena dia belum bisa membaca versi tulisan arabnya. Ia membacanya di telinga Sofiyah yang ia yakini kalau istrinya itu sebenarnya belum tidur dan masih terjaga.


Benar saja Sofiyah mengusap telinganya yang geli karena nafasnya Basofi yang terasa hangat dan menggelitik syaraf-syaraf di telinga dan kulitnya.


Basofi langsung membalikkan tubuh sang istri dan mengungkungnya membuat Sofiyah langsung terbuka mata sipitnya.


"Ko....!" Ia berusaha mendorong dada Basofi agar turun dari tubuhnya.


"Ayolah Ay! Kita ini sudah sah jadi suami istri. Jadi sudah bolehkan bersenang-senang? " Tanya Basofi dengan suara serak karena menahan permintaan senjata tempur nya untuk menembus lubang surga yang sudah halal untuknya.


"Ko... tunggu dulu kita harus bicara..." Kata Sofiyah mencoba menunda dan membicarakannya terlebih dahulu tentang kegadisannya yang sudah hilang sejak lama.


Sofiyah sampai tak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya kali ini. Bagaimana mungkin dia tidak menyadari saat Basofi melepasakan pakaiannya satu persatu sampai habis tak bersisa.


"Ko tunggu ko! Kita bicara dulu!"


"Nanti Ay! Kamu tahu? Aku sudah lama tak melakukannya. Aku menahannya karenamu Ay...!" Suara Babas jadi serak dan berat karena menahan hasrat di pusat tubuhnya.


Sofiyah ternganga mendengar perkataan suaminya. Rasanya tak percaya mendengar kata-kata itu terucap dari Basofi.


"Ka-karena aku? Maksudnya?" Tanya Sofiyah sambil menahan suaranya agar tak mendesah karena Basofi sudah mulai melakukan foreplay dan ia pun terbawa suasana dengan permainan Basofi yang memang tak diragukan lagi.


"I love you" Kata Basofi sambil mencium kening istrinya menyalurkan hasratnya agar bisa bisa sama-sama meraih puncak nirwana.

__ADS_1


Basofi memulai pemanasan dengan memberikan sentuhan-sentuhan di tempat yang disukai para wanita. Ia mulai menciumi wajah Aya dengan semangat empat lima karena setelah lama menahannya kini ia sudah siap untuk membebaskan burungnya dari dalam sangkar dan memberikannya kesenangan.


Kemudian *******-******* itu keluar dari mulut Sofiyah meskipun dia berusaha menahannya namun tetap saja tak bisa.


"Kooo! Mmmphhh...."


"Shhuuut cepat berdo'a a-aku sudah tak tahan lagi...!" Basofi sudah tak sanggup menahan desakan dari dalam tubuh nya dan ingin segera menyelesaikan urusannya. Berbuka dengan yang halal setelah lama berpuasa dengan penuh perjuangan.


Sofiyah pun dengan sukarela menyerahkan dirinya sepenuhnya pada sang suami untuk dibawa terbang di atas awan menyelami keindahan, menyesap setitik nikmat dari surga.


Mereka saling mengayuh dengan deru nafas yang saling memburu. Peluh bercucuran membasahi tubuh keduanya. Saling memberi dan menerima bahkan tak cukup hanya sekali. Basofi mengulanginya lagi dan lagi.


Kamar kecil itu akhirnya menjadi saksi perbuatan mereka yang kini berpahala bahkan setara dengan jihad akbar. Dengan sensasi yang berbeda dari yang pernah mereka lakukan karena kini siapapun bisa memaklumi bahkan akan memberi waktu dan ruang agar mereka bisa menyelesaikannya.


Berbeda saat mereka melakukannya dulu, takut jika ada orang yang tahu dan hanya cemoohan yang didapat saat melakukannya di luar akad.


.


.


.


.


Kurang panas ya? Bikin wedang jahe aja biar hangat tubuhnya.


Wkwkwk. Sorry guys belum bisa bebas. Besok-besok ayo bikin grup tertutup biar aku bisa mencurahkan tulisanku sebebas-bebasnya. Menorehkan segala yang berkelebat dalam bayangan. Ehem!

__ADS_1


__ADS_2