Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Mandi kembang


__ADS_3

Sepulang kerja Basofi dan Sofiyah pulang bersama. Babas masih mencoba untuk merayu sebagai bentuk permintaan maaf nya selama beberapa hari telah mendiamkan sang istri dan Sofiyah masih bete dan mempertahankan aksi diamnya.


Sofiyah menggosok-gosok hidungnya yang tiba-tiba mencium bau-bauan yang nyegrak di rongga hidungnya saat masuk ke dalam mobil milik Basofi. Bau harum menyengat seperti bau minyak nyong-nyong. Sedang pria yang duduk di balik kemudi santai saja seperti tak merasakan apa-apa.


"Bau apa sih ini ko?" Hidungnya kembang kempis memajukan tubuhnya untuk membau badan suaminya yang tak seperti biasanya.


Mendapatkan reaksi tak terduga dari sang istri ia malah ingin mengerjai. Ia angkat tangannya sampai ketiaknya terbuka lapar.


"Harum nggak?" Candanya sambil melempar senyum.


"Enggak!" Jawab Sofiyah ketus. Ia segera duduk di tempatnya dengan sempurna kemudian menarik ujung kerudungnya dan memakaikannya untuk menutup hidung dan mulutnya.


"Mau beli sesuatu?" Tanya Basofi sambil melirik sang istri.


"Enggak" Jawab Sofi.


Akhirnya Babas melajukan mobilnya ke rumah sang mama karena perintah ibu yang sudah melahirkannya itu tidak akan bisa ditolaknya.

__ADS_1


Begitu mereka sampai di rumah mama Rosi sudah menunggu di depan rumah. Ia cemas karena tadi pagi belum sempat mengobrol dengan menantunya dikarenakan ada suaminya.


"Sayang kenapa kamu tadi pergi kerja?" Wanita itu menyambut Sofiyah dengan suka cita dan melupakan putranya sendiri. Jangankan menyapa melirik saja tidak.


"Iya ma. Lagian di rumah nggak ngapa-ngapain kan?" Tanya Aya sumringah karena mertuanya sangat menyayanginya.


"Sini sini mau mau ngomong dulu!" Sang mama mertua menarik tangan menantunya ke taman di depan rumah miliknya.


Setelah keduanya duduk di gazebo di sekitar taman dan kolam ikan mama Rosi berkata," Kalau kamu mau ngasih pelajaran sama koko biar mama yang bantu. Mama nggak rela kamu digituin. Cukup mama saja yang merasakan hal seperti ini. Sakit rasanya tapi mama nggak bisa mengungkapkan nya pada siapa-siapa"


"Mama hebat banget. Kalau Fiah mungkin akan lari tak bisa menerima kenyataan!"


"Emm..... apa papa pulang kesini setiap hari ma?" Sofiyah kepo juga ternyata.


"Hampir tiap hari. Mama tak menyuruhnya pulang kesana atau bertanya kapan papa pulang kesini. Mama cuma menyambutnya dengan baik saat papa ada di rumah ini. Kalau di luar itu urusan papa. Mau sama siapa saja mama nggak akan bertanya. Itu hanya akan menyakitkan perasaan mama saja"


"Mam....!" Terdengar suara Daniel memanggil mama Rosi.

__ADS_1


"Apa nyo?" Mama berdiri menghampiri putra tirinya.


"Lapar mam!" Katanya manja sambil memegang perutnya.


"Ayo mama siapkan! Ayo ce kita makan bareng!" Kata mama meski belum waktunya makan malam.


"Sebentar ma, Fiah ke atas dulu ya!" Kata Sofiyah bergegas ke atas.


Sesampainya di kamar Sofiyah mencari keberadaan sang suami yang tidak ada di tempat tidur maupun di balkon. Kakinya melangkah menuju kamar mandi dan tak mendengar suara apapun dari dalam sana.


"Ko...."


Tok tok tok


"Ko.... koko!!! Lagi apa di dalam kok nggak ada suaranya "


"Ko...!!!" Suara Sofiyah lebih keras lagi tapi masih tak ada jawaban dari kamar mandi.

__ADS_1


akhirnya Sofiyah memberanikan diri masuk ke dalamnya dan mendapati sang suami tertidur di dalam bathtub yang penuh dengan bunga beraneka warna. Sofiyah menutup mulutnya karena tak percaya suaminya mau melakukan apa yang ia ucapkan semalam.


Bunga tujuh rupa?


__ADS_2