
Basofi berjalan dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana tanpa menghiraukan Sofiyah.
Gadis berperawakan mungil itu mendengus sebal melihat gaya sang atasan yang terlihat sangat arogan. Tanpa perduli pandangan orang terhadap dirinya. Kasak kusuk itu nyata berdengung di telinga. Bagaimana mereka mencelanya. Menyangkut pautkannya dengan kerudung yang ia kenakan.
Predikat mata keranjang dan suka bergonta-ganti wanita yang melekat pada presiden direktur mereka berimbas padanya. Para karyawan bahkan menyamakan dia dengan gadis-gadis murahan yang berada di sekeliling sang direktur.
Sofiyah berjalan sambil menundukkan kepala berharap bisa melipat tempat sehingga ia bisa sampai di lantai atas tanpa tatapan tajam penuh cela dari karyawan lainnya.
"Aya.., aku harus menunggumu berapa lama?" Basofi yang sudah berada di dalam lift berteriak memanggilnya.
Mulutnya itu seperti mengandung cabe level 10, saat terbuka rasanya pedas dan bikin pening kepala.
Mikail menyambut mereka saat tiba di lantai paling atas perusahaan. Menebarkan senyum terbaiknya terutama untuk gadis berkulit putih yang kali ini memakai jilbab warna maroon. Tampak cantik berseri-seri.
"Pagi Sofi.... cantik sekali hari ini..." Sapa Mikail tak lupa sambil memamerkan senyum ala Pepsodent miliknya.
Basofi memutar bola matanya, jengah dengan gombalan yang dilontarkan asistennya.
"Makasih.... pak Mike juga tampan sekali hari ini...." Sofiyah berbasa-basi membalasnya.
"Ah... benarkah? Aku ingin mengaca sekarang..." suaranya riang dan renyah. Mendapat pujian dari gadis yang diincar membuat hatinya berbunga-bunga. Tak masalah kalau harus berseteru dengan atasan juga sahabatnya. Selama janur kuning belum melengkung ia akan berusaha semaksimal yang ia bisa kecuali kalau Sofiyah sendiri yang menolaknya.
"Kalian mau bekerja atau berpacaran?" Kata sang atasan sesaat sebelum membuka pintu ruangannya.
" Selamat bekerja Sofi....!" Pungkas Mikail sambil berjalan menyusul si atasan.
Gendang telinga Basofi terasa panas mendengar bualan Mikail pada gadis yang tadi berangkat bersamanya.
Tak terima, kulitnya seperti tersayat benda tak kasat mata.
Seharusnya dia yang mengatakan rayuan indah bak pulau kelapa pada gadis kecilnya. Tapi ia tak akan sanggup mengatakan kata-kata indah seperti yang Mikail ucapkan barusan karena saat bersama gadis itu lidah nya kelu. Justru yang keluar dari bibir tebalnya itu hanya kata-kata kasar dan makian.
Berbeda saat dia bersama para gadis yang selalu menawarkan keindahan raga berselubung pakaian ketat yang menampakkan lekukan indah juga puncak kenikmatan dunia tiada tara.
__ADS_1
Ia bisa merayu dan memuja mereka dengan sejuta kata-kata indah.
Meskipun beberapa bulan terakhir ini dia tak bisa merasakan nikmatnya bercinta karena bayangan Sofiyah tiba-tiba hadir dan menari-nari di wajahnya setiap kali ia dan gadis yang sedang bersamanya sudah dalam keadaan siap dan basah. Hasratnya hancur berkeping-keping tak bersisa membuat gadis yang bersamanya menahan gejolak karena gairahnya harus dihentikan secara paksa.
Apalagi sekarang akses gadis-gadis kesayangannya diblokir oleh wanita yang dipanggilnya nyonya. Tak satupun dari mereka dibiarkan masuk jika tanpa alasan pekerjaan.
Hari ini Basofi ditemani Mikail pergi meninjau pembangunan perumahan yang ada di pinggiran kota. Perumahan yang dibangun di daerah itu di targetkan untuk masyarakat dan orang-orang dari kalangan menengah ke atas. Orang-orang yang mempunyai penghasilan UMR dan biasanya mereka baru menikah yang tidak membutuhkan ruangan terlalu banyak.
Mereka yang mempunyai penghasilan diatas rata-rata biasanya membeli dua unit sekaligus untuk digabung menjadi satu rumah. Beberapa bidang tanah juga dijual tanpa bangunan untuk mengantisipasi keluarga yang ingin membangun rumah impian sesuai dengan rancangan pribadi masing-masing.
Sering kali Basofi berkunjung ke lapangan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu untuk melihat cara kerja tim mitra bisnisnya. Melihat dengan seksama apakah semua sudah sesuai dengan yang dia inginkan seperti yang tertulis dalam perjanjian.
Mungkin Basofi terlihat seperti tak serius menangani bisnis milik keluarganya tapi sejauh ini ia melakukan yang terbaik dan nyatanya selalu bisa diandalkan.
Bila ia mendapati kecurangan dari bahan-bahan bangunan misalnya mengurangi takaran atau menggantinya dengan barang yang serupa tapi kualitasnya berbeda maka Basofi akan menegur mitra bisnisnya. Setelah kontraknya berakhir ia tidak akan mau lagi bekerja sama dengan pihak yang pernah mencuranginya.
Bagi Basofi, orang yang pernah berkhianat dalam bisnis pantang untuk diampuni dan diajak bekerja sama lagi.
Kali ini Basofi merasa puas karena tidak ada masalah yang berarti. Semua sesuai dengan yang sudah disepakati.
Ukiran BALI REGENCY di ujung jalan menjadi ikon nama yang dipilihnya untuk menegaskan keberadaan komplek perumahan yang ia bangun.
Basofi meninggalkan kawasan perumahan yang baru berjalan lima puluh persen dari seluruh rancangan dengan rasa puas. Ia pun segera meminta Mikail untuk membawanya kembali ke kantor karena ingin mengajak Sofiyah pulang lebih awal.
.
.
.
Di depan supermarket langganannya Basofi berhenti dan menyuruh Sofiyah masuk ke dalam untuk membelikan dia aneka macam camilan.
"Belikan aku camilan yang enak !!" Ia mengeluarkan kartu debitnya dan memberikannya pada Sofiyah tapi gadis berhidung mungil itu tak segera menerimanya.
__ADS_1
"Bayar pakai ini! Kenapa, kau mau menolak? Ingin ku hukum rupanya..." Pria berdarah jawa Tionghoa itu menampakkan wajah psikopatnya. Sabuk pengaman ia lepaskan agar bisa leluasa mendekati si gadis.
Bola mata si gadis yang sipit itu membola melihat gelagat si pria yang tak biasa.
"Iya aku belikan!!" Katanya buru-buru sambil membuka pintu dan segera berlari begitu kakinya menjejak di bumi.
"Belikan minuman juga!" Teriak
Basofi sambil tertawa. Ternyata sungguh menyenangkan menggoda gadis yang dulu di remehkannya. Ia tidak bisa memperlakukan gadis itu seperti gadis-gadis lainnya karena ia berbeda. Ia istimewa karena itu ia ingin menjaganya tak ingin menikmatinya sebelum waktunya.
Berbeda dengan perasaan gadis berkulit putih bermata sipit yang sedang mengambil aneka camilan dengan serampangan dan memasukkannya dalam keranjang. Ia begitu kesal dengan atasan playboynya. Jika ia punya kekuatan ingin sekali rasanya menggebuki tubuh jangkungnya sampai puas.
Yang bisa dilakukannya sekarang hanya menggerutu dan menyumpahinya saja. Berbagai kata hewan dia sebutkan untuk menumpahkan kekesalannya.
"Ini!" Kata Sofiyah memberikan aneka camilan satu kresek besar di pangkuan Basofi dan kartu di taruhnya di dashboard
"Aki minta minuman rasa kopi" Basofi tak menyentuh kresek itu sama sekali.
Sofiyah mengambil kresek itu kembali dengan bibir mengerucut sebal. Seenaknya saja, pikirnya. Dengan terpaksa ia pun mengambilkan minuman rasa kopi dan memberikannya pada Basofi.
"Bukakan..!"
Mata Sofiyah membesar sempurna. Kekesalannya sudah di ujung lidah tapi dia masih bisa menahannya.
Botol berisi kopi diangsurkannya pada Basofi tanpa menatap wajah tampan itu sama sekali. Bagi orang lain wajah pria di sampingnya itu sangat tampan tapi baginya wajah Basofi itu sangat menyebalkan.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf baru bisa up pagi karena tadi malam hapenya dipakai anakku mengerjakan PR nya. Terima kasih banyak buat support nya guys. Like dan komen kalian itu membuatku sangat bersemangat. Love you allπππ