
Kami masuk lebih ke dalam lagi dan tiap pintu menuju ke ruangan lainnya selalu ada penjaga yang menundukkan kepala ketika kami lewat. Berbeda dengan penjaga di pintu gerbang utama yang memakai pakaian layaknya penjaga kerajaan, para penjaga yang ada di dalam istana ini justru memakai pakaian jas formal lengkap. Mungkin di balik baju mereka ada pistol dan senjata lainnya seperti para mafia.
Kini di depan kami sudah ada beberapa orang yang sudah berumur duduk membentuk setengah lingkaran. Kontan saja aku menelan salivaku sendiri. Meski tadi aku sudah menyiapkan diri nyatanya grogi itu datang lagi. Pandangan tak bersahabat terutama dari wanita tua yang duduk di kursi kebesarannya yang menyerupai singgasana menjadikan nyaliku ciut kembali.
"Sudah datang?" Suara pria tua yang berat memecah kesunyian di ruangan ini.
"Kami datang " Kata koko sambil menundukkan sedikit badannya memberi hormat seperti tradisi di cina kuno untuk mengormati orang yang lebih tua atau orang yang baru dikenalnya. Dan di jaman sekarang ini tidak terlalu diperdulikan oleh para pemudanya. Aku pun refleks mengikuti gerakan koko.
"Kemarilah!" Kata pria tua tadi.
Koko menggandeng tanganku untuk saling menguatkan karena terasa sekali kalau dia juga tidak suka berlama-lama disini. Kalau bukan mama yang menyuruhnya dia tidak akan sudi datang kemari, kata itu yang terlontar semalam sambil mencoba meredam amarahnya setelah mama membujuknya untuk datang ke rumah utama
Koko berdiri tepat di samping singgasananya dan aku seperti kebiasaan yang diajarkan oleh mami meraih tangan pria yang sudah beruban itu dan mencium tangannya. Samar-samar aku melihat senyum tipis dan raut bahagia terpancar dari wajahnya.
"Siapa namamu?"
"Sofiyah po..." Jawabku meski aku yakin mereka sudah tahu namaku juga latar belakang keluargaku.
"Panggil Tata saja!" Katanya.
"Baik Tata!" Kataku sambil mengulas senyum. Tiba-tiba saja hatiku terasa sesak. Apa seperti ini rasanya punya keluarga besar. Punya kakek dan nenek. Meskipun mereka menyebalkan tapi ini terasa menyenangkan
"Sudah berapa lama kalian menikah?"
Tanya nenek yang duduk disebelah Tata. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa karena perbedaan ras dan suku dalam Tionghoa mempengaruhi panggilan kami. Ada yang yeye dan nainai untuk kakek nenek dari pihak ibu. Ada juga akong atau apoh, waipoh. Ada juga kungkung dan pohpoh dari pihak ayah saja atau dari pihak ibu dan ayah memanggilnya dengan panggilan yang sama. Terjadi perubahan panggilan yang mengikuti gerusan zaman.
"Hampir satu bulan" Jawab koko datar.
"Mana sopan santunmu pada keluarga besar dan leluhurmu? Menikah tanpa memberitahu kami!" Kata wanita yang lainnya.
"Kami menikah secara mendadak karena saya yang memaksa koko untuk memenuhi janji pada mami saya" Jawabku jujur sebelum koko menjawabnya dengan kata-kata ambigu.
"Kau memaksanya karena tahu dia keturunan keluarga Han?" Sahut wanita yang aku yakini sebagai ibu kandung Daniel, ibu tiri nya koko.
"Saya pernah mendengar nama itu dulu tapi baru hari ini saya mengetahui kalau koko bermarga Han. Sebelumnya koko tidak pernah bercerita apa-apa" Aku sendiri tak menyangka akan punya keberanian seperti ini.
"Sekarang kamu tahu dia berasal dari mana, itu artinya kamu juga harus menerima konsekuensinya. Kami tidak akan menerima kalangan rakyat jelata untuk menjadi anggota keluarga besar kami. Kau boleh menjadi istrinya tapi tidak perlu diumumkan pada dunia. Simpan saja sendiri. Kau juga harus merelakan Basofi untuk menikah lagi dengan wanita yang sederajat dan dari kalangan kami. Atau lebih baik lagi kalau kalian berpisah. Mumpung kamu belum hamil " Kata wanita tua yang aku yakini sebagai neneknya koko.
"Aku tak berniat menikah lagi" Jawab koko.
__ADS_1
" Saat ini saya sedang hamil tapi jika koko ingin menikah lagi tidak masalah tapi status saya adalah istri pertama yang sah" Kataku lagi menyuarakan suara hati.
"Ay....." Koko menoleh padaku sambil mengernyitkan keningnya.
"Kami akan mengadakan pesta untuk mengumumkan pernikahan kami" Kataku lagi. Entah dapat kekuatan darimana diriku ini. Sampai bisa bicara dengan lancar seperti itu melawan para tetua di keluarga yang menyeramkan ini.
" bù yào liǎn!!" (Tidak Tahu Malu!) umpat para tetua lelaki hampir bersamaan kepadaku kecuali Tata tentunya.
"Ahahaha..... hahahha....." Tata malah tertawa terbahak-bahak memenuhi seluruh ruangan yang membuat para tetua satu sama lain kebingungan.
"Sepertinya..... aku menyukaimu anak muda!" Kata Tata padaku. "Antarkan aku ke taman!" Katanya lagi tapi tanpa menoleh dan segera berjalan menggunakan tongkatnya.
"Kenapa masih diam disitu? Ikut aku!" Katanya sambil melihat ke arahku. "Dan kalian jangan coba-coba untuk berbuat sesuatu tanpa persetujuanku. Aku yang akan memutuskan!" Katanya pada orang-orang yang berada di sana sambil berjalan perlahan.
Aku segera menyusulnya dan memegang lengan Tata. Entah apa yang dipikrkan oleh anggota keluarga yang lain tapi aku hanya ingin merasakan punya seorang kakek. Tak berapa lama koko juga berhasil mensejajari langkah kaki Tata yang lambat seperti siput yang sedang kehabisan bahan bakar.
Di taman yang luas dan terawat itu kami duduk bertiga dengan Tata yang berada di tengah.
Karena Tata tak lekas bicara aku meraih tangannya yang keriput itu lalu menggosoknya dan memberi pijatan lembut karena konon katanya kulit orang tua itu akan kembali seperti kulit bayi lagi.
"Yang ini juga pegal sekali" Katanya sambil menepuk pundaknya.
"Kau menyukai cucuku?" Tanyanya padaku?
Aku mengangguk mantap sambil tersenyum.
"Bagaimana kalau aku tak setuju?" Tanyanya dengan muka datar.
"Tergantung koko. Jika koko memang ingin berpisah Fiah bisa apa? Tapi kalau koko ingin mempertahankan pernikahan kami, Fiah tidak ingin sembunyi-sembunyi. Fungsi pernikahan adalah meneruskan keturunan. Fiah tidak mau hal seperti yang terjadi pada mama terjadi pada Fiah lagi. Lagi pula Tata tidak setuju dengan Fiah karena alasan apa? Karena Fiah miskin? Manusia lahir ke dunia juga tidak membawa apa-apa. Saat meninggal pun kekayaan tidak akan berguna" Jawabku diplomatis seperti sedang berdiskusi dengan teman sebaya.
"Ahahaha.... Kau pintar sekali mengelabui orang tua ini...." Tata terlihat memancarkan wajah bahagia dan aku suka melihatnya.
"Kau tahu, akong mu dulu juga pandai melucu "
"Tata kenal Akong?" Tanyaku dengan mata berbinar.
"Hem, kami bertemu beberapa kali"
"Akong itu orangnya bagaimana Ta?" Aku ingin mendengar cerita tentang sosok akong karena beliau meninggal sewaktu aku masih kecil. Jadi aku tak punya ingatan yang banyak tentangnya.
__ADS_1
"Sama sepertiku. Ambisius dan keras kepala. Dan dia sangat pandai memasak. Itu yang aku tahu"
Aku memandang tak suka pada Tata karena mengatakan kata-kata buruk tentang kakekku. Meskipun aku lupa Bagaimana akong ku itu tapi aku tak terima kalau ada orang yang mengatakan tentang keburukannya.
"Itu memang kenyataan. Kenapa kau justru marah padaku?"
Aku memalingkan wajahku dengan mendengus kesal.
"Punya kakek itu ternyata menyebalkan" Kataku bergumam pada diriku sendiri tapi ternyata Tata mendengarnya.
"Kau ini!"
"Aduh" Tata menyentil keningku membuatku mengaduh.
"Jangan coba-coba menyakiti istriku" Koko melepaskan tangannya dari pundak Tata. Ia kemudian mengusap keningku dan menciumnya selama beberapa detik. Aku seakan terbuai dan lupa kalau masih ada Tata bersama kami.
"Ehem!! Itu tergantung keputusanku" Suara Tata membuyarkan keromantisan kami.
"Itu bukan urusanku. Aku tidak bisa mengakui siapa ibuku tapi kali ini aku tidak akan membuat kebodohan yang sama dengan putramu. Aku akan mengumumkan kepada dunia hanya Aya istri ku satu-satunya" Koko menatap tajam pada Tata seakan menabuh genderang perang dan mengobarkan perlawanan.
"Kau jangan lupa anak muda. Kekayaan yang kau miliki itu berasal dari siapa"
"Ambil saja kalau kau mau. Aku tak butuh itu. Aku bisa hidup seperti orang biasa. Ayo Ay kita pulang!" Kata koko sambil beranjak pergi.
"Kau jangan lupa ada darahku yang mengalir dalam dirimu. Sampai kapanpun kau tak akan bisa menghapusnya!" Kata Tata tak mau kalah.
"Ay....!" Koko tak menjawab Tata lagi tapi melihatku dan menarikku dengan tatapannya.
"I-iya ko....! Tata, Fiah pulang dulu. Semoga Tata panjang umur, dilimpahi keberkahan dan kesehatan bisa melihat putra Fiah. Cicitnya Tata". Aku mencium punggung tangan Tata kemudian mencium pipi kira dan kanannya. Entah bagaimana aku bisa seakrab itu pada Tata yang baru aku kenal. Yang pasti aku suka padanya. Dia tidak semenakutkan yang aku bayangkan.
"Ayy.....!" Koko memanggilku lagi karena aku tak segera menyusulnya.
Aku menundukkan kepala sebagai salam penghormatan pada Tata kemudian tersenyum dan bergegas mengejar suamiku yang sedang merajuk.
"Mei mei...!" Teriak Tata membuatku menoleh padanya. Aku suka panggilan itu. Samar-samar aku mengingat sepertinya ada yang pernah memanggilku demikian.
"Iya Ta?"
"Datanglah lagi dan buatkan aku masakan seperti masakan akong mu!"
__ADS_1
Otakku langsung berputar dan menjawab," Kalau Tata mau datang ke rumah mama, Fiah akan memasak semua resep masakan rahasia dari Akong". Itu bohong karena aku tidak tahu resep masakan dari kelurga papi. Aku bahkan tidak pernah melihat papi memasak sesuatu yang rumit. Justru resep masakan yang aku bisa berasal dari keluarga mama.