
Di dalam mobil dua orang yang duduk di jok belakang saling diam tanpa mengucap kata. Mereka sedang berselancar ke dunianya masing-masing.
Sofiyah melihat jalanan di kaca jendela tanpa mau membuka percakapan meskipun dia ingin sekali meminta ponselnya yang kini berada di pangkuan Basofi.
Sedangkan Basofi sendiri juga melakukan hal yang sama. Matanya seolah-olah sedang melihat jalanan lewat kaca jendela tapi pikirannya sedang berada di masa beberapa bulan yang lalu.
Ia ingat malam itu saat mengantar Sofiyah pulang kerja, pria yang sudah di panggilnya papi itu mengantarkannya sampai di depan mobilnya.
" Titip Sofiyah ya ko", kata pria yang bermata sipit itu padanya sambil menepuk pundaknya. Ia menjawab basa basi dan tak pernah punya prasangka apa-apa.
Setelah itu setiap Basofi kesana dengan berbagai alasan yang dia buat dia tak pernah bertemu lagi dengan calon mertua laki-lakinya. Entah beliau sedang ke kebun atau sedang berada di masjid tapi ia tak pernah melihatnya lagi setelah itu.
Ia menghela nafasnya kemudian melihat gadis yang duduk di dekatnya. Tangannya meraba-raba sesuatu yang ada di atas pangkuannya dan dia baru sadar jika sejak tadi tas milik Sofiyah masih ada padanya.
"Ay....!!". Sofiyah kini tertidur karena rasa lelah yang menderanya. Semalaman ia tak bisa tidur dengan nyenyak karena air matanya terus berjatuhan ketika mengingat ulah Basofi yang menciumnya dengan paksa.
"Aya....!". Basofi mencondongkan badannya karena tak mendapatkan respon dari gadis yang dipanggilnya.
Ia pun menaruh tas milik Sofiyah dipangkuan gadis itu pelan-pelan karena melihatnya memejamkan mata.
Tapi Sofiyah terjengat kaget dan langsung terbangun karena merasakan ada sesuatu yang menyentuh tangannya.
Ia melihat tas nya kini sudah berada di pangkuannya.
"Kau tidak apa-apa?". Tanya Babas dengan suara lembut yang tidak seperti biasanya. Bahkan Mikail yang sedang duduk di belakang kemudi juga menyadari jika bos nya yang aneh itu bicara dengan nada yang lembut tapi juga serius.
Sofiyah hanya menggelengkan kepala sambil membuka tas dan mengambil hapenya. Ia terlihat kecewa mendapati ponselnya mati karena kehabisan baterai.
Ia menghela nafasnya. Dan lelaki yang sejak tadi memperhatikannya berinisiatif meminjamkan hape untuk calon menantu kesayangan mamanya.
"Pakai ini..!", ujar Basofi dan lagi-lagi Sofiyah hanya menggelengkan kepalanya.
"Ambilkan power bank Mek!" Kata Basofi penuh perhatian.
Mikail yang sedang menyetir mengikuti petunjuk google maps dari ponselnya mencoba mengambil power bank dengan sebelah tangannya.
Basofi mengambilnya dari tangan Mikail dan memberikannya pada Sofiyah.
__ADS_1
Gadis yang matanya masih sembab itu menerimanya sambil mengucapkan terima kasih dengan hanya menggerakkan bibirnya saja tanpa mengeluarkan suara. Ia segera menghubungkan kabel power bank dengan ponselnya.
Beberapa saat dia menunggu agar ponselnya terisi sedikit dan segera menyalakannya.
Sofiyah mengerutkan keningnya karena melihat panggilan dari papinya hingga 10 kali. Belum pernah sang papi melakukan hal seperti itu sebelumnya. Ia pun mencoba menghubungi nomer papinya dengan rasa penasaran dan mencoba menerka-nerka.
Bunyi tut tut itu sudah lama tapi tak diangkat juga. Kemudian ia mencoba lagi dan kali ketiga barulah ia bisa mendengar suara maminya yang terdengar serak seperti habis menangis.
"Mi... mami... kenapa?", tanyanya sudah mulai panik dan hatinya mulai resah takut jika sesuatu terjadi pada maminya.
"Cepat pulang nik... ditunggu sama papi!"
"Mi.... mami kenapa? Bilang dulu mi....!". Ia semakin berharap tidak ada sesuatu yang menimpa keluarganya.
Basofi mengambil hape Sofiyah yang masih berada di telinganya.
"Kami sudah di jalan mi...", kata Basofi kemudian.
"Titip Fia ya ko.....!"
Deg, entah kenapa hati Basofi merasa cemas mendengar kata yang sama dari dua orang yang sangat menyayangi Sofiyah.
Mami yang sabar ya mi!" Kata Basofi mencoba menenangkan calon mertuanya yang terdengar seperti menahan tangis. Ia juga mencoba meyakinkan dirinya agar bisa menepati kata-katanya sendiri.
Setelah saling mengucap salam, telpon pun ditutup dari seberang dan Basofi mengembalikan ponsel Sofiyah kembali.
"A-ada ada apa ko?", tanyanya terbata-bata. Matanya yang resah melihat Basofi dengan penuh tanda tanya.
"Kamu lapar? Kita makan siang dulu!". Basofi berniat baik pada calon istrinya agar ketika tahu kenyataan nanti setidaknya perutnya sudah terisi sehingga ia punya sisa tenaga meski harus bersedih lagi.
Sofiyah yang mendengarnya tentu saja menjadi kesal. Ia merasa sesuatu yang besar sedang terjadi dan pria itu menanggapinya dengan begitu santai.
Matanya melotot tajam pada Basofi dan pria yang ditatapnya menjadi salah tingkah. Ia menelan salivanya kemudian mencoba mencari kata agar bisa menyampaikan berita duka pada gadis di dekatnya.
"Aya.....".
"Ada apa ko?! Jangan bikin Fia bertanya-tanya?". Sofiyah menekan kata-katanya agar Basofi segera mengungkapkan rahasia yang diketahuinya.
__ADS_1
"Papi....".
"Papi kenapa ko? Jangan berbelit-belit seperti itu!!!" Sofiyah nampak emosi dengan sikap Basofi yang terkesan mengulur waktu.
Basofi tidak melanjutkan kata-katanya karena mereka sudah sampai di depan gerbang pesantren. Ada bendera putih dengan tanda hijau yang menandakan bahwa disitu ada orang yang meninggal dan orang-orang yang lewat diharapkan berbela sungkawa.
Orang-orang banyak sudah berkumpul disekitar pesantren dan kediaman Sofiyah sekeluarga. Keranda dan payung untuk orang yang meninggal pun sudah berada di depan rumah kecil yang terletak di pojok area pesantren.
Sofiyah menoleh kearah jendela mobil dan melihat semuanya. Seakan tak percaya, ia kemudian menoleh ke arah Basofi untuk memastikan semuanya. Ia tak mau sesuatu yang terlintas dalam pikirannya itu nyata adanya.
"Papi kenapa ko ? Papi kenapa?!!". Ia berteriak sambil menangis berharap tak terjadi apa-apa pada papinya.
Basofi yang diam saja justru menegaskan jika itu itu memang benar-benar terjadi.
"Ko...papi baik-baik saja kan?". Ia mulai menggoyang-nggoyangkan lengan Basofi untuk meminta jawaban.
"Sabar Ay........ Papi sudah dipanggil Tuhan...". Basofi menatap wajah Sofiyah dengan cemas.
"Kau bohong kau bohong!!!!!! Itu tidak benar itu tidak benar...!!!! Katakan kalau itu tidak benar!!!!" Sofiyah berteriak sambil memukul lengan dan pundak Basofi.
"Kau jahat kau jahat!!!! Kau orang yang paling jahat yang pernah aku kenal!!!" Teriakan Sofiyah membuat orang-orang yang berada di sekitar situ menoleh ke arah mobil nya Basofi.
Basofi hanya diam saja menerima pukulan bertubi-tubi dari sang gadis berharap semoga ia segera bisa tenang dan mengikuti prosesi acara pemakaman sampai selesai.
Pukulan Sofiyah semakin pelan dan beberapa detik kemudian badannya luruh jatuh ke bawah. Basofi langsung sigap memeluk gadis kecilnya.
"Buka pintunya Mek!", teriaknya.
Mikail buru-buru membuka pintu mobil di sebelah Sofiyah dan pandangan para pelayatpun segera mengarah pada mereka.
Digendongnya Sofiyah yang pingsan dalam pelukannya. Menerobos para pelayat yang pandangannya mengikuti gerak langkah nya. Merekapun saling berbisik mencoba menerka itu siapa dan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Meski begitu mereka memberikan jalan dengan minggir teratur sehingga Basofi bisa dengan leluasa masuk ke dalam rumah duka.
Ibu-ibu yang sedang merangkai bunga di teras rumah panik melihat seorang lelaki berpakaian rapi yang belum mereka kenal menggendong Sofiyah putri pak Basuki dan sepertinya sudah mengenal tempat itu dengan baik. Kasak-kusuk pun makin ramai terdengar membuat suasana sedikit tidak kondusif.
"Kenapa Fiah ko?", Sang mami yang melihat putrinya di gendong calon menantunya ikut cemas. Rasa sedihnya kini bercampur dengan rasa panik karena putri kesayangannya kini sedang pingsan.
__ADS_1
"Bawa ke kamarnya Fiah saja ko!". Wanita yang melahirkan Sofiyah itu berdiri dari duduknya dengan tertatih-tatih dan mamanya Basofi yang sudah hadir di situ ikut membantunya berdiri .