
Sofiyah segera keluar dari mobil dengan rasa kantuk yang masih menggelayuti kedua matanya. Bagaimana tidak sang mami mengajaknya mengobrol hingga lewat tengah malam. Sebagai anak, yang bisa dia lakukan hanya menemaninya meskipun matanya sesekali tertutup karena tidak bisa menahan kantuk. Mungkin mami sedang rindu berat pada papi, hanya begitu saja yang ada di benaknya. Ia tak berfirasat apa-apa.
Matanya belum bisa membuka sempurna begitu juga dengan akalnya sehingga dia tidak tahu kalau saat ini dia sedang menjadi pusat perhatian. Para karyawan lain sedang tertawa terkikik-kikik karena melihat sekretaris bos mereka yang berjalan sambil menguap beberapa kali dengan mata pandanya.
Basofi yang sudah berjalan jauh merasakan keanehan itu. Ia kemudian menoleh dan melihat Sofiyah berjalan masih dengan bantal yang masih melekat di lehernya. Gadis itu bahkan berjalan sambil sesekali menguap dan pikirannya seperti belum kembali ke kepalanya.
Sofiyah memang sedang memikirkan namanya dan nama papinya yang malah tergabung pada nama si ganjen Basofi, itu sebutan terbaru darinya.
Menurut sang mami dulu papi memanggil nama maminya Aya. Dari Soraya menjadi Aya. Dan kenapa itu bisa sama persis seperti panggilan Basofi kepadanya, Aya. Padahal keluarga dan orang-orang di sekitarnya memanggilnya Sofi atau Fiah dia malah mempunyai panggilan yang berbeda.
Mata sipit Sofi menangkap siluet manusia yang perawakannya mirip dengan Basofi sedang berjalan dan mendekat ke arahnya. Gadis itu berhenti dan mengucek matanya. Mencoba menyadarkan dirinya di mana kini dia berada.
Basofi yang badannya tinggi dan tegap itu kini sudah berada di depan Sofiyah yang sedang menatap dirinya sambil mengedip-ngedipkan mata membuat bulu matanya yang tak lentik itu berkeriap-keriap.
"Aaahhh..." Sofiyah berteriak karena kaget tiba-tiba wajah Basofi sudah ada di depan mukanya. Ia refleks berusaha untuk mundur tapi kakinya oleng dan hampir membuatnya terjatuh. Untung si Babas tanggap dengan menarik pinggang si gadis kecil hingga ia aman dan terjatuh dalam pelukan Babas yang membuatnya nyaman.
"Huft... selamat..." Sofiyah merasa lega karena ia tak jadi terjatuh tadi dan ia belum sadar jika kini tubuhnya menempel dengan tubuh atasannya dan kepalanya kini berada di dada Basofi yang hangat.
"Kau suka memelukku?" Tanya Basofi masih dengan tangan melingkar di pinggang kecil sekretarisnya itu. Mungkin pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya sendiri yang merasa bahagia bisa mencuri kesempatan untuk memeluk gadis kecil yang galak ini.
Sofiyah baru sadar jika kini dia sedang memeluk bosnya yang arogan. Ia pun berusaha mengurai pelukan mereka tapi Basofi malah mengeratkan kedua tangannya di tubuh Sofiyah meski itu hanya beberapa detik saja. Akhirnya ia pun melepaskan tubuh gadis mungilnya.
"Mesum sekali pikiranmu hari ini Ay... Tadi kau bermimpi menciumku dan sekarang dengan sengaja memelukku di depan semua orang. Emh.... emh....emh... Aku tak menyangka ternyata gadis kecil ini berani juga ya..." Lelaki play boy ini pintar sekali memutar balikkan fakta. Lemes sekali mulutnya.
Mata Sofiyah terbelalak mendengarnya tapi ia tak ingin berdebat di depan karyawan lainnya maka dengan hati yang dongkol dia hanya bisa berkata, "Maaf...!"
__ADS_1
"Kau ini ceroboh atau apa? Kenapa kau memakai bantal leher untuk pergi bekerja?" Kata Basofi sambil melepaskan bantal leher dari tubuh Sofiyah.
"Eh...." Sofiyah baru menyadari jika di lehernya ada bantal leher sedari tadi. Kenapa ia sama sekali tak sadar akan hal itu.
Basofi segera meninggalkan Sofiyah dan berjalan menuju lift dengan menyembunyikan bantal leher tadi di belakang tubuhnya.
Sofiyah yang sekarang sudah sadar sepenuhnya segera berlari mengejar Basofi yang kini berdiri menunggunya di dalam lift.
Di dalam lift itu mereka hanya berdua saja. Sofiyah berdiri di pojok seperti biasanya mengambil jarak agak jauh dari si hidung belang. Dan Basuki entah kesambet atau apa dia ingin sekali mengerjai Sofiyah hari ini. Ia pun berjalan ke samping dua langkah lalu melirik gadis yang bersamanya sambil memonyongkan bibir tebalnya.
"Jangan aneh-aneh ya Ko atau aku akan berteriak ....!" Kata Sofiyah memberi aba-aba.
"Teriak saja memangnya aku kenapa?" Tanya Basofi sambil berjalan lebih mendekat lagi ke arah Sofiyah.
"Awas kalau kau sampai mengantuk nanti. Aku akan memecat mu seketika itu juga! Bawa ini!" Ia menekan bantal leher itu tepat di muka Sofiyah kemudian keluar begitu saja ketika lift sudah terbuka.
Gadis itu hanya bisa menarik nafasnya dalam dalam. Begitulah nasib bawahan.
Sampai di lantai atas ia mendapat sambutan selamat datang yang hangat dari Mikail. Pria berambut ikal dengan mata yang hitam legam itu tersenyum saat melihat Sofiyah. Beberapa detik kemudian alisnya saling bertaut.
"Kau tidak tidur semalaman Sofi?" Tanyanya ketika melihat mata panda Sofiyah.
"Kerja!! Kerja!! Di sini bukan tempat berpacaran!!" Bos gila mereka berteriak kencang. Untung hanya ada mereka bertiga di ruangan yang super luas itu.
"Loh.... tas ku mana?" Sofiyah melihat pundaknya bergantian. Ia panik karena hapenya ada di dalamnya dan itu adalah harta karunnya. Kenapa dia baru sadar kalau tas nya tidak ada padanya?
__ADS_1
Basofi yang sudah hampir masuk ke dalam ruangannya berbalik arah dan kembali mendekat ke arah Sofiyah.
"Kau iniii....!" Lelaki itu menoyor kepala gadis kecil itu dengan telunjuknya membuat kerudung Aya lebih tak beraturan lagi jadinya.
Mikail sebenarnya tak terima gadis kecil itu di bully apalagi ini di depan matanya tapi bagaimanapun ia tak punya hak apa-apa jadi dia hanya bisa melihatnya saja dengan hati yang terbakar cemburu juga amarah.
"Kau memang tidak membawa tas saat berangkat tadi....!!!" Kata Basofi.
"Kenapa tidak mengingatkanku?" Sofiyah balik bertanya dengan meninggikan suara.
"Mana aku tahu. Ku kira memang kau sengaja tidak membawa tas karena isi kepalamu saja sudah berat..." Pria tengil itu berkacak pinggang seolah menantang. Mulutnya seakan tak punya saringan sehingga ketika ia membukanya keluar lah kata-kata yang menusuk dada orang yang mendengarnya.
Mata mereka saling menatap dan menghunuskan percikan api peperangan. Dua-duanya tak mau mengalah tapi mata sipit Sofiyah tak bisa diajak kompromi. Ia berkedip terlebih dulu dan otomatis dia kalah dalam pertandingan kuat-kuatan menatap mata lawan.
Gadis berwajah oriental itu menghentakkan kakinya kemudian berjalan menuju tempat duduknya.
Basofi segera mendatanginya kemudian mengambil ponsel dari sakunya dan mencari kontak dengan nama mami kemudian menaruh ponsel itu di telinga Sofiyah.
Ia tahu kalau gadis berkulit putih yang hari ini memakai jilbab warna hijau tosca itu selalu memberi kabar pada orang tua nya saat sudah tiba di kantor.
Sofiyah dengan malu-malu memegang ponsel si calon suami dan menunggu jawaban dari seberang. Tapi di tunggu-tunggu tak di angkat juga. Hatinya mulai sedikit tak tenang.
"Tidak di angkat...?" Kata Sofiyah memelas.
"Jangan panik. Mungkin mami sedang istirahat. Coba telpon lagi lima menit kemudian,..!" Kata Basofi membiarkan ponselnya pada Sofiyah dan ia pun segera berjalan menuju ke ruangannya.
__ADS_1