
Hari itu Basofi benar-benar bekerja dari rumah kecil tempat tinggal Sofiyah dan tentu saja ada salah seorang yang menjadi kena getahnya.
Iya, Mikail. Ia yang harus pontang-panting kesana kemari mengurusi ini dan itu untuk menangani semua urusan bos nya yang bersifat pribadi maupun urusan bisnisnya. Tak ayal membuat pria itu menjadi sebal dam uring-uringan. Ditambah lagi suguhan drama yang disajikan oleh Basofi yang menunjukkan bagaimana romansa keindahan pengantin baru.
Pagi itu masih ada beberapa orang yang datang untuk bertakziah karena baru mendengar kabar duka itu atau memang kemarin mereka berhalangan datang karena masih ada urusan.
Bu haji istri abah Fani juga datang membawa bubur dan susu untuk mereka berdua dan menanyakan kabar Sofiyah sambil menepuk-nepuk pundaknya.
Mama mertuanya juga datang kesitu untuk mengunjugi putra dan menantunya juga untuk mengurusi keperluan tahlilan yang diadakan setiap malam sampai tujuh harinya sebagai bentuk penghormatan, do'a dan kasih sayang dari mereka untuk mami Soraya.
"Ehem...." Mamanya Basofi datang-datang langsung ingin menggoda pasangan pengantin baru itu.
"Ma...." Sofiyah yang melihat mertuanya datang langsung memeluk wanita yang disayanginya.
"Hiks.....hiks..." Ia malah menangis di pundak mama mertuanya.
"Kenapa sayang?" Tanya mama Rosi bingung sendiri. Niat hati ingin menggoda dan mengerjai dua orang kesayangannya malah dapat surprise tangisan dari menantu barunya.
"Ko.... kamu apain istri kamu ini?" Tanya sang mama mengintimidasi putranya.
Basofi yang tak tahu apa-apa juga jadi bingung jadinya karena dari tadi Sofiyah baik-baik saja. Bahkan sejak semalam Sofiyah sudah bisa tidur tenang dan tak menangis lagi.
Basofi segera berdiri dan ikut berpelukan dengan istri dan mamanya sehingga membuat Sofiyah yang berada di tengah-tengah mereka merasa jengah dan mengibaskan tangan suaminya Kemudian mengusap air matanya sendiri.
"Kenapa sayang?" Tanya mama Rosi saat pelukan mereka sudah lepas.
Sofiyah malah memeluk mertuanya lagi dan menangis lagi," kangen mami.... ma!"
"Ssshhhtt..... kita berdoa saja ya sayang" Kata sang mertua dengan penuh kasih sayang.
Setelah Sofiyah agak tenang mama Rosi memeriksa rumah itu barangkali ada yang harus dibeli. Wanita paruh baya itu melihat spring bed di kamar Sofiyah yang kecil membuat kamar itu terlihat rungsep.
Mama Rosi mengamati dan tahu kenapa Basofi melakukan itu.
"Ko...!" Panggilnya pada sang putra.
"Iya.." Jawab Basofi tanpa beranjak dari tempat duduknya.
"Sini Bass! Dipanggil emaknya jawab iya tapi nggak mendekat kamu itu?" Si mama marah sama anak semata wayangnya.
" Ini kalau ditaruh disini terus kalau mau ambil baju lewat mana?" Tanya sang mama saat anaknya sudah berada di belakangnya.
"Ranjangnya itu dikeluarkan taruh di kamar mami sama papi biar ada tempat buat jalan, nggak kayak begini ko!" Mama Rosi melihat celingak-celinguk kemudian menarik tangan putranya ke arah dapur dan berbisik pelan di telinga Basofi. "Kamu apakan Fiah semalam?"
"Orang kita belum ngapa-ngapain."
"Kami yang pinter ngambil hatinya. Papa aja bisa menggaet dua wanita sekaligus masa kamu satu aja nggak bisa. Heh... cemen!" Mamanya yang cerewet malah memprovokasinya.
__ADS_1
"Kalau sudah tujuh harinya mami kamu, nanti kalian pulang ke rumah mama kan?" Tanyanya kemudian.
"Mungkin kita pulang ke apartemen dulu ma, mau bulan madu biar nggak terganggu"
"Bulan madu itu yang ke mana gitu, ke luar negri kek!"
"Intinya cuman begitu ngapain mesti jauh-jauh. Sampai di sana nanti toh cuman berdiam di kamar"
"Kamu itu ya Bas..." Mamanya mau meluapkan emosi tapi keburu menantunya datang.
"Ma...." Tiba-tiba saja Sofiyah sudah berada di dapur.
"Eh iya sayang ada apa?"
"Ada orang kirim barang katanya pesanan mama"
"Oh iya itu buat nanti malam" Kata Mama Rosi sambil berjalan meninggalkan anak dan menantunya.
Sofiyah kemudian menuju ke kamar mandi untuk menjemur baju-baju yang tadi sudah dicucinya dan Basofi mengikutinya kayak anak yang nggak mau lepas sama ibunya.
"Apaan sih ko?"
"Nggak ada apa-apa. Kalau mau jemur ya jemur aja!" Jawab Basofi sekenanya yang membuat gadis itu merengut dan mengerucutkan bibirnya.
Basofi asyik melihat istrinya menjemur baju dan itu kelihatan lucu. Ia melihat ke dalam tong kecil yang di letakkan ditempat yang agak tinggi di atas batu besar yang berada di pojokan. Ada bajunya juga rupanya. Pria itu menyilangkan kedua tangannya seperti seorang manajer yang sedang memantau perkejaan anak buahnya.
"Apaan sih ko?" Aya jadi nervous juga dilihatin seperti itu.
Sofiyah yang sadar apa yang ada di tangan Basofi buru-buru merebut kain itu dan membenamkannya di dalam tong tadi.
"Kenapa sih Ay?" Tanya Basofi sambil melihat ke dalam tong dan dia baru tahu hanya tersisa pakaian dalam saja di dalamnya.
"Kalau di jemur disini kelihatan anak pondok ko..." Kata Sofiyah sambil bersungut-sungut dan masuk lagi ke dalam rumah lewat pintu belakang dengan menenteng tong tempat cucian yang tadi.
Sofiyah kemudian menjemur pakaian-pakaian yang krusial tadi di dalam kamar mandi dengan diawasi Basofi.
"Apa sih ko?"
"Apa sih Ay? Jemur aja ! Aku cuma lihat doang kok! Nggak usah malu, tadi pagi aku sudah lihat ukuranmu!" Kata Basofi sambil membentangkan tangannya di pintu kamar mandi, mau melihat reaksinya Sofiyah.
Sofiyah memejamkan mata, ingin rasanya melempar ****** ***** miliknya pada muka omesnya sang suami.
.
.
.
__ADS_1
Malam harinya setelah acara tahlil dan doa bersama selesai dan rumah sudah sepi lagi Basofi jadi parno lagi. Nggak bisa jauh-jauh dari Sofiyah, jadi kemanapun sang istri pergi ia akan mengikutinya dan itu sukses membuat Aya jadi jengah.
Mulanya dia seperti mau memberi pelajaran pada suaminya dengan berjalan hilir mudik nggak ada alasan dan tujuan tapi kemudian dia sendiri yang merasa lelah. Kakinya terasa pegal semua dan ia pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk bebersih. Eh tiba-tiba saja si Babas menyerobot masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku dulu Ay, kamu tungguin di sini jangan ke mana-mana!"
Mulai deh tuh parnonya.
Aya cuma diam saja tak menjawab kata-kata Basofi tapi dia juga tak pergi. Dia menunggu Basofi sampai selesai kemudian gantian dengan dirinya yang masuk ke kamar mandi.
Saat sudah di kamar yang sudah berubah penataannya kini Sofiyah mau tak mau harus tidur diatas spring bed yang di taruh di atas lantai. Ia memunggungi suaminya lagi dan Basofi tak mempermasalahkan hal itu. Posisinya sama seperti kemarin tapi kini kaki Basofi lebih nyaman karena bednya lebih panjang dan lebih lebar.
"Ko, mami ngomong apa saja kemarin ?" Tanya Sofiyah yang kini ada dalam pelukan Basofi.
"Nitip kamu"
"Terus...?"
"Suruh jagain kamu..."
"Terus...?"
"Ya udah cuma itu..."
"Nggak ngomong apa gitu? Kenapa koko sama mama waktu kesini kayaknya sudah tahu kalau bakal ada sesuatu yang terjadi"
" Mami minta dibawain makanan yang banyak karena papi mau datang buat jemput mami"
"Hah?" Sofiyah yang kaget refleks langsung membalikkan badannya. "Serius mami ngomong kayak gitu? kapan?"
"Pagi atau malam ya?. Aku lupa. Pakai ponsel kamu kok itu. Mami malah bilang itu permintaan terakhirnya" Kata Basofi.
"Kok mami nggak ngomong begitu sama aku?"
" Kalau mami bilang begitu pasti kamu sedih..!." Basofi menyelipkan rambut Sofiyah ke belakang telinganya dan gadis itu tidak merasa karena dia sedang mengingat masa-masa terakhirnya dengan sang mami.
Sofiyah ingat maminya bilang kalau papinya akan datang tapi dia menganggap kalau itu cuma karena maminya sedang kangen sama papinya saja.
"Ay, kamu kalau haid biasanya berapa hari?" Tanya Basofi.
"Tujuh harian. Eh koko nanya apa tadi?" Sahut Sofiyah sambil mendongakkan kepala melihat wajah suaminya.
"Iya kalau kamu haid biasanya berapa hari?"
"Kenapa memangnya?"
"Apalagi memangnya?" Basofi malah balik tanya.
__ADS_1
"Apaan Sih ko?" Sofiyah sewot lagi mendengar kata-kata nya dan berbalik membelakangi Basofi.
Jantungnya dag dig dug tapi juga takut. Bagaimana kalau Basofi nanti tahu dia sudah tak perawan lagi. Meskipun dia tahu kalau Basofi sudah jelas tak perjaka tapi dia takut kalau Basofi mengetahui ternyata dirinya sudah tak gadis lagi.