
"Saya pulang dulu ya jeng. Cepat sembuh !! Jangan mikir yang berat-berat! Biar anak-anak yang jaga di sini. Kalau pingin apa-apa bilang saja sama Basofi!" Kata mama nya Basofi pada sahabatnya yang masih terbaring lemah.
" Kalau ada apa-apa telpon mama ya ko!" Katanya sambil berpamitan pada putranya yang sedang duduk sambil melihat hapenya.
"Iya. Mama hati-hati" Jawabnya.
Ketika di luar wanita paruh baya yang masih cantik di usianya itu bertemu dengan gadis kesayangannya yang baru kembali dari ruang dokter untuk bertanya apa penyakit maminya dan bertanya-tanya tentang hala lain yang berhubungan dengan kesembuhan maminya.
"Mama mau pulang dulu ya sayang...!" Katanya pada Sofiyah.
"Mama pulang sendirian?" Tanyanya heran.
"Pak Ali sudah ada di depan... Sudah kamu masuk saja! Tungguin mami kamu!"
"Biar Fiah antar mama sampai ke depan..." Tulus Fiah berbuat seperti itu karena dia memang menyayangi mamanya Basofi seperti ibu sendiri.
Kedua wanita berbeda usia itu berjalan beriringan dengan Sofiyah yang bergelayut manja seperti seorang anak dengan ibunya.
"Sayang.... kamu ada masalah koko?"
__ADS_1
"Nggak ada ma. Memangnya koko cerita apa?" Sofiyah malah balik bertanya.
"Nggak cerita apa-apa tapi dia jadi....lebih pendiam kalau di rumah"
"Nggak ada apa-apa kok ma..... Kami baik-baik saja..."
"Syukurlah kalau begitu...." Kata wanita dewasa itu sesuai dengan umurnya.
Mereka pun kemudian berbincang santai sampai mereka tiba di lobi rumah sakit dan ada mobil pak Ali yang sudah siap di sana.
Mamanya Babas kemudian masuk di kursi penumpang dan mengeluarkan sebagian kepalanya. Wanita itu meminta Sofiyah mendekat ke arahnya.
Setelah tersenyum kemudian dia meminta pada sang sopir untuk menjalankan kendaraannya. Meninggalkan Sofiyah yang mematung di tempatnya. Dia memang berniat membatalkan perjodohan ini tapi saat calon mamanya mengatakan hal itu dia justru merasa dilema sendiri.
Sofiyah masuk ke dalam setelah mobil hitam itu tak terlihat. Ia kemudian mengambil ponsel dari sakunya yang sedang berdering pelan. Dan ada nama Rayhan di sana.
Ia tersenyum mendapati nama pria yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman.
"Iya kak Rey..."
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah mendingan mungkin besok sudah boleh pulang..."
"Itu tekanan darahnya tiba-tiba naik drastis sampai mami pingsan tadi..."
Sofiyah duduk di depan ruangan sang mami karena masih asyik bertutur kata dengan Rayhan di telpon. Cukup lama mereka berbincang-bincang dan Basofi sempat mencuri dengar sebentar.
Basofi menyelimuti mama Sora pelan-pelan agar tak mengganggu tidurnya kemudian kembali ke tempat duduknya.
Sofiyah membuka pintu pelan-pelan setelah mengakhiri panggilan Rayhan. Dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah pria tampan yang sedang duduk di sofa dan sedang asyik menatap layar laptop yang tadi di bawakan oleh sopirnya.
Sofiyah menatap segan pada Basofi yang tidak meliriknya sama sekali. Ia berjalan menuju maminya dan membereskan barang-barang yang agak berantakan di sekitarnya.
Setelah selesai dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk berisitirahat meski malam belum terlalu larut tapi suasan rumah sakit sudah sangat sepi.
Saat keluar dari kamar mandi ternyata Basofi sudah tertidur di sofa. Ia pun mendekatinya kemudian membersihkan meja yang agak kotor karena ada beberapa botol minuman dan kotak-kotak kue di situ.
Sofiyah masih memakai kerudungnya karena dia akan sekamar Basofi . Ia pun segera naik ke atas ranjang yang memang disediakan untuk keluarga yang menjaga pasien.
Sebelum memejamkam matanya Sofiyah masih sempat melihat Basofi dan mengamatinya sejenak.
__ADS_1
'Wajahnya teduh sekali kalau tidur.... seandainya saja sepanjang hari dia begitu pasti akan menyenagkan berada di dekatnya' Batinnya sebelum dia tidur dengan posisi memunggungi Basofi.