
Karena tak kelihatan mereka pun berbondong-bondong keluar untuk melihat pangeran yang sudah menaklukan hati teman mereka, Sofiyah.
Bersamaan dengan itu Mikail datang membawa kantong-kantong belanjaan yang berisi buah-buahan sebagai oleh-oleh dan buah tangan.
"Yang ini Nik?" Bisik salah seorang dari mereka yang melihat Mikail masuk.
Fiah menggerakkan tangannya sebagai jawaban bukan.
"Ini namanya pak Mikail. Pak Mike kenalkan ini teman-teman Fiah."
Merekapun saling berjabat tangan menyebutkan nama masing-masing.
"Ko, sini!" Sofiyah memanggil suaminya dari kejauhan.
Basofi yang sedang menikmati sponge cake di atas piring menggunakan sendok kecil segera menyambar tisu dan mengusapkannya pada sekitar mulutnya. Ia kemudian segera berlari menghampiri Sofiyah yang menyambutnya dengan tangan yang diarahkan padanya. Membuat Babas tersenyum karena merasa gemas sekali. Kalau boleh ingin rasanya menggigitnya sekarang juga.
Babas menyambut uluran tangan Sofiyah dan menggenggamnya dengan erat. Ia mendekatkan bibirnya untuk mencium pipi putih sang istri tapi Sofiyah malah menolaknya dengan menyentuh pipi Basofi sampai wajahnya berpaling melihat ke arah teman-temannya Aya.
"Ehm...."
"Duileh nik...."
"Ya salam.....!!"
"Ngenes banget nih jomblo"
Para gadis dan beberapa ibu-ibu itu saling berkomentar membuat suasana gaduh sehingga para pengunjung ikut memperhatikan kehebohan yang tercipta tiba-tiba.
Cici Siska yang sedang asyik duduk di kasir pun ikut-ikutan memandang mereka saking berisiknya anak buahnya.
"Ko.... ini teman-teman Aya..."
"Basofi..." Koko Babas mengangsurkan tangannya menjabat tangan teman-teman Aya satu persatu.
Kemudian Sofiyah menggeret lengan Basofi mendekati tempat mantan atasannya, Cici Fransiska.
"Ci, kenalin ini Koko Babas, suami Fiah"
Ci Siska turun dari tempat kebesarannya dan menyalami Basofi.
"Ini putranya pak Adi? Bagaimana kabar mama papa?"
Babas menoleh ke arah Sofiyah yang mengangguk padanya.
"Baik...." Babas menjawabnya dengan ragu.
"I hope everything go well"
"I hope soo"
"Ditunggu undangannya..." Kata Ci Siska.
"Siip...!" Sofiyah mengacungkan ibu jarinya.
"Ci.... ini!" Salah satu anak buahnya menyorongkan uang dari pembeli untuk minta kembalian.
"Kalian masuk aja dulu! Makan-makan sana apa yang ada!"
"Iya Ci, makasih." Kata Sofiyah
"Koko tunggu di depan dulu ya, aku mau ngobrol sama teman-teman aku. Nggak lama kok" Katanya meminta sang suami menunggunya di tempat duduknya yang semula.
Dan sebentar versi Aya tentu saja tidak sesuai kenyataan. Basofi dan Mikail bahkan sudah menghabiskan kue yang disuguhkan dan sudah menghabiskan tiga batang rokok tapi Sofiyah belum muncul juga.
Setelah hampir berjamur dan lumutan barulah Sofiyah keluar sambil menenteng bingkisan dari Ci Siska.
"Lama ya?" Tanya Sofiyah tanpa rasa bersalah.
"Enggak.... tapi kulitku sudah gosong kayak gini" Kata Basofi sambil menunjukkan punggung tangannya yang berwarna coklat matang.
__ADS_1
"Ini memang aslinya begini ko..." Kata Sofiyah sambil menggandeng lengan Babas.
"Dasar bos tak tahu diri!!" Gerutu Mikail yang ditinggal begitu saja dan harus membawa kardus yang berisi kue-kue untuk Abah Fani. Bukan cuma satu tapi sepuluh kardus.
"Loh itu apa ko?" Tanya Aya yang sudah duduk di samping Basofi ketika melihat Mikail bolak balik membawa kardus dibantu dengan para pegawai di sana.
"Buat Abah Fani" Katanya sambil memperhatikan Mikail yang langsung bisa akrab dengan gadis-gadis yang sedang membantunya.
"Makasih..... suamiku baik banget ternyata"
"Baru tahu ya?" Babas mengerlingkan matanya.
"Iya..."
Basofi mencubit hidung mungil istrinya dan mencium pipinya sampai berbunyi mmmmmmuuuuuaccccchhhh..
"Yakin nih nggak mau dianter?" Mikail yang sudah duduk di balik kemudi masih sempat menggoda teman-teman Sofiyah.
"Jangan lupa telpon abang ya neng!" Mikail yang kepalanya berada di luar jendela membuat kode telpon dengan ibu jari dan kelingking tepat di sebelah telinganya.
Teman-teman Sofiyah yang kebetulan waktunya pulang hanya tertawa cekikikan melihat ulah Mikail.
"Jangan tebar pesona cepet jalan! Kita belum solat Ashar!" Perintah Basofi.
"Ish.... namanya juga masih bujang. Biarin lah ko!" Kata Sofiyah.
"Bu bos emang ter de best dah!" Kata Mikail.
"Dada...... duluan yah!" Seru Sofiyah setelah membuka jendela sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati! Jangan lupa undangannya ya Nik!" Kata mereka serentak.
"Nik... nonik?" Tanya Basofi.
"Hehem". Sofiyah menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan suaminya.
.
.
.
Setelah saling bertanya kabar dan basa basi akhirnya Basofi menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Bah, sekarang Aya sedang mengandung empat minggu..." Katanya.
"Alhamdulillah.... tok cer ya mas Basofi ini. Sekali langsung jadi. Baru satu bulan toh nikahnya?
Minggu depan ini baru empat puluh harinya bu Sora. Alhamdulillah...mau punya cucu lagi mi." Katanya sambil menoleh pada bu Haji.
Sofiyah menundukkan kepalanya mendengar guyonan Abah Fani. Malu sekali. Bu Hajah yang duduk disampingnya mengulum senyum sambil mengusap punggungnya.
"Iya Alhamdulillah. Em..... itu bah, mau tanya tentang acara empat bulanan. Itu apa memang diharuskan atau bagaimana bah?" Tanya Basofi antusias sekali.
"Sebenarnya dalam islam tidak ada tuntunan seperti itu. Hanya saja tradisi kita itu sering mengadakan kenduri dan bagi-bagi dengan tetangga sejak zaman nenek moyang kita. Mau nikahan, ngundang tetangga, hamil ngundang tetangga, ngasih nama anak ngundang tetangga, mau khitan ngundang tetangga bahkan untuk mengenang keluarga yang meninggal kita juga mengundang tetangga untuk berdo'a bersama-sama.
Nggak ada masalah selama niatnya bukan untuk beribadah. Hanya niat bersyukur pada Yang Maha Kuasa dan meminta doa dari para tetangga dan saudara agar anak yang ada dalam kandungan menjadi anak yang Soleh, taat pada agama, orang tua, bangsa dan negara. Juga menjadi anak yang membawa berkah dimana pun dia berada.
Sedangkan tradisi empat bulanan ini dilakukan karena pada usia kehamilan ke 20 minggu adalah waktu ditiupkannya ruh ke dalam janin,
Maka itu, tak sedikit keluarga di Indonesia yang melakukan tradisi 4 bulanan dengan berbagai kegiatan seperti tasyakuran dan doa untuk ibudan calon bayi agar selamat dan lancar hingga hari persalinan.
Hal itu merujuk pada Al-Qur’an Surat Al-Mu’minun (23) ayat 12-14, "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati berasal dari (tanah). Kemudian Kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik."
Ayat ini juga diperkuat dengan keterangan hadits
“Sesungguhnya setiap orang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari (berupa ******), kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari pula. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari juga. Kemudian diutuslah seorang malaikat meniupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menuliskan empat hal; rejekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia menjadi orang yang celaka atau bahagia.” (Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi, Shahîh Muslim, Kairo: Darul Ghad Al-Jadid, 2008, jil. VIII, juz 16, hal. 165)
Berdasar hadits di atas, para ulama menerjemahkan masa empat bulan kehamilan merupakan akumulasi dari empat puluh hari setiap tahapan proses perkembangan janin dalam rahim ibu.
__ADS_1
Dengan kata lain, empat puluh hari pertama adalah ****** membentuk embrio, empat puluh hari kedua menjadi darah, empat puluh hari ketiga menjadi segumpal daging lalu ditiupkan ruh atas Janin tersebut. Tiga kali empat puluh hari menjadi 120 hari atau empat bulan.
Pada masa inilah dianjurkan memperbanyak doa untuk Si Kecil agar ia lahir dengan selamat dan tumbuh menjadi anak yang salih dan salihah.
Sedangkan asal usul dari tingkeban atau yang sering disebut mitoni diambil dari kata pitu atau tujuh dimana upacara adat ini dilaksanakan ketika usia kandungan memasuki tujuh bulan.
Atau ada juga yang mengartikan tingkeban dengan ati-ati oleh nungkepi (Hati-hati saat menye****hi)
Sedangkan di beberapa daerah ada kisah yang menceritakan tentang tingkeban ini terjadi
... sejak masa Prabu Jayabaya dari kejayaan Kerajaan Kediri....
...Ketika itu ada seorang wanita bernama Niken Satingkeb yang menikah dengan seorang punggawa kerajaan Kediri bernama Sadiyo....
...Dari pernikahan tersebut, Niken Sutingkeb sudah melahirkan sebanyak sembilan kali tetapi tidak ada yang selamat yang membuat pasangan tersebut bersedih sampai akhirnya mereka mendatangi Prabu Jayabaya dan meminta saran....
...“Sang Prabu memberikan 3 anjuran yang harus dilakukan untuk Niken Sutingkeb dan Sadiyo...
...Pertama mereka diminta mandi setiap hari Rabu (tumbah), kedua dilanjutkan mandi hari Sabtu (budha), dan ketiga mandi suci dengan menggunakan air suci dan gayung dari batok kelapa....
...Pada saat mandi suci, Niken Satingkeb diminta untuk memanjatkan doa harapan agar jika hamil lagi diberi kelancaran dan bayinya sehat....
...“Sejak saat itu, apa yang dilakukan Niken Satingkeb menjadi tradisi yang dilakukan wanita disaat mengandung....
Adapun rangkaian tingkeban seperti siraman atau mandi, memasukkan telur ke dalam kain sarung ibu yang dilakukan oleh suami, kemudian brojolan, yaitu memasukkan sepasang kelapa gading muda yang telah digambari Arjuna dan Sumbadra. Kemudian, calon ibu mengganti busana dengan kain sebanyak tujuh motif yang berbeda-beda. Itu semua cuma adat semata. Kalau dilakukan itu hanya untuk melestarikan budaya tanpa keyakinan jika tidak melaksanakannya akan mendapat bencana atau marabahaya. Hanya sebagai budaya ya Mas Bas, bukan tuntunan ajaran agama kita. Sebagai bentuk rasa syukur dan minta doa. Itu yang harus kita garis bawahi"
Penjelasan panjang lebar dari Abah Fani membuka cakrawala baru di ruang kepalanya dan membuatnya mantap untuk melaksanakannya.
.
.
.
"Ay.... !!!" Basofi yang ada di kamaranfi berteriak cukup keras memanggil Sofiyah.
"Astaghfirullahaladzim.... Apa sih ko? Pake teriak-teriak segala. Kedengaran dari luar lho!" Sofiyah yang kaget mendengar suara suaminya tergopoh-gopoh mendatangi sang suami yang ada didalam kamar mandi.
"Tungguin! Jangan ditinggal!" Basofi merasa jengkel sekali.
"Astaghfirullah... nggak usah marah-marah deh" Sofiyah ikut terpancing juga.
"Makanya disini saja! Sudah tahu suaminya penakut malah di tinggal" Kata Basofi sambil menutup pintu kamar mandi.
Sofiyah mencibir melihat kelakuan aneh suaminya dan setelah Basofi keluar dari kamar mandi Sofiyah mengejeknya.
"Kalau koko penakut begitu gimana anak kita nanti?"
"Gampang itu. Nanti dipikir nanti. Gitu aja kok repot" Ujarnya tanpa beban.
"Masa udah mau jadi bapak masih penakut gitu. Apaan coba?" Sofiyah sedang membuka-buka buku milik maminya. Ada lima buku milik mami dan dua buku milik Papi.
"Cmon girl! Kita selesaikan apa yang ada sekarang. Urusan besok kita pikirkan nanti!" Katanya sambil merangsek ke arah Sofiyah sebelum sang istri menyadarinya.
"Koko ihh.... geli...."
"Jangan teriak-teriak nanti kedengaran dari luar lho" Katanya membalik kata-kata Sofiyah.
"Ehm..... paling bisa!"
"Bisa dong! Buruan bismillah dulu!"
.
.
.
.
__ADS_1
part terpanjang yang pernah ada. Iya nggak sih?
Btw, Kamu Bukan Yang Pertama akan segera tamat ya teman-teman ku sayang alaika.