Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
See you again


__ADS_3

Sofiyah menatap foto besar yang menggantung di dinding. Hatinya bahagia setiap kali menatapnya. Keluarga yang sesungguhnya. Tak ada lagi yang ditutupi. Foto pernikahannya dengan Basofi yang berada di tengah menggunakan busana pengantin warna putih dan sang suami memakai setelan jas warna hitam. Di samping Basofi ada papa dan mama dan disampingnya ada Daniel dan mami. Keluarga seutuhnya.


Ia memilih memanggil mama Daniel dengan sebutan mami agar tidak canggung saat ia memanggil mama dan yang menoleh adalah kedua ibu mertuanya. Awalnya mama jutek saat ia memanggil mami pada madunya. Mama mengira kalau Sofiyah lebih menyayangi madunya daripada dirinya karena mami adalah panggilannya pada ibu kandungnya. Tapi Sofiyah menjelaskan kalau semua itu hanya agar tidak salah panggil saja. Dia manggil siapa yang menoleh siapa.


Dan terlebih lagi sayangnya pada mama mertuanya tentu saja tak sama seperti pada mamanya Daniel. Bagaimana mama mertua memperlakukannya dengan sangat baik sejak awal mereka bertemu sampai sekarang. Best ever. Mama mertua terbaik yang pernah ada.


Kalau pada mamanya Daniel tentu itu sebagai penghormatan pada papa mertua dan berharap bisa menjalin hubungan baik karena bagaimanapun mereka adalah keluarga.


"Kenapa?" Sapuan nafas segar di pipinya membuatnya memejamkan mata. Lengan kekar yang sudah dipastikan milik sang suami kini sudah melingkar berada di perutnya yang sudah membuncit. Kandungannya sudah memasuki usia sembilan bulan lebih tepatnya sudah memasuki 42 minggu. Tapi karena belum ada tanda-tanda melahirkan maka dokter menjadwalkan operasi Caesar dua minggu lagi.


"Malah keenakan!" Kata Babas yang sukses mendapat cubitan di lengannya yang dibalas dengan kekehan bahagia.


"Mau apalagi sekarang?" Tanya Basofi yang hari ini tidak diperbolehkan pergi bekerja oleh istrinya. Ada beberapa pertemuan penting hari ini dan dia menyuruh Mikail menghandle semuanya.


"Aku nggak ke kantor hari ini. Batalkan semua meeting dengan para klien karena istriku tidak mau ditinggal. Aku tidak mau dia merajuk" Katanya pada Mikail tadi.


"Hari ini ada pertemuan dengan pak Yoshida. Beliau disini hanya tiga hari"


"Jadwalkan ulang untuk besok pagi"


"Aku harus kasih alasan apa kali ini?"


"Itu urusanmu. Untuk apa aku menggajimu mahal-mahal kalau untuk sekedar mencari alasan saja tidak mampu!" Pongahnya


"Memangnya Sofiyah minta apa?"


"Dia mau memacu adrenalin pagi-pagi sebelum dia melahirkan. Aku sebagai suami yang baik harus menuruti nya kan?" Kata Basofi yang terdengar menjijikkan di telinga Mikail.


"Dasar bos sinting!!" Ia mengumpat bos nya setelah telpon dimatikan sepihak oleh si bos arogan.


Begitulah nasib jadi bawahan, harus sabar dan lebih sering mengelus dada. Ingat saja tanggal gajian biar stres tidak melanda.


.


.


"Mau nambah lagi nggak? Aku masih strong ini. Apalagi barusan isi bensin".


"Enggak makasih" Jawab Aya sambil mengusap punggung tangan Basofi yang melingkar di perutnya. " Itu bukan mauku ya ko. Itu permintaan dedek bayinya untuk mempermudah jalan lahir saja" Katanya berbohong karena tadi meminta jatah pagi-pagi setelah solat subuh dan sekarang ia malu mengakuinya dan mengatakan alasan aneh agar bisa


diterima.


"Ini kan mau lewat jalan tol sayang. Nggak lewat jalan biasanya. Kan kita udah pesen mau operasi Caesar dua minggu lagi"


Basofi menatap foto keluarga yang kini terpajang di ruang tamu dan di beberapa sudut rumah. Hal baru yang ada di rumah sejak kehadiran istrinya. Kini semua orang di kota itu tahu ternyata papanya mempunyai dua istri. Yang pertama adalah ibunya dan yang kedua adalah ibu Daniel. Tanggapan masyarakat, kolega sampai anak buah di berbagai sektor milik keluarga tentu juga beragam komentarnya.


Dua istri dengan dua agama yang berbeda dan berbagai pertanyaan yang secara tak sengaja mampir di telinga tapi kini keluarga Han lebih memilih untuk diam. Tak menanggapi juga tak ikut campur lagi karena Tata pastinya. Pada saat acara pernikahan mereka digelar dengan mewah di istana mereka, semua berkumpul termasuk juga mama Rosi. Memakai baju seragam yang sama dan kini foto keluarga yang terpajang disana sudah ada mama Rosi di dalamnya.


Jika ada acara juga kedua-duanya dibawa serta. Entah ini model keluarga macam apa tapi inilah realitasnya.


"Ko, aku pingin ke abah Fanani terus istirahat di tempat mami papi sebentar habis itu mau ke makam" Sofiyah menyandarkan tubuhnya ke dada bidang sang suami yang masih membelai perut buncit sang istri.


"Sayang.... salah satu aja ya. Nanti kamu capek!"


"Koko nggak mau nih ngantar aku?" Wanita hamil itu langsung membalik badannya dan menatap mata Basofi yang kini sangat jinak pada sang istri.


"Bukan nggak mau tapi aku takut kamu nanti capek sayang"


"Bilang aja nggak mau..." Katanya sambil memberontak dari cekalan tangan pria yang sangat dicintainya tapi Basofi tak mau melepaskannya. Sofiyah memalingkan muka untuk menyembunyikan air yang sudah menggenang di pelupuk mata. Sensitif sekali dia.


"Mau sayang.... aku mau. Jangan nangis !!" Basofi harus menyiapkan kesabaran ekstra menghadapi emosi Sofiyah yang naik turun karena hormon kehamilan.


"Koko jahat!!" Katanya sambil memukul lengan Babas.


"Iya aku minta maaf " katanya sambil memeluk tubuh mungil sang istri yang tingginya hanya selengannya. Mereka Tidak dapat berpelukan erat karena terhalang perut buncit Sofiyah.


"Eh dia nendang!" Basofi yang merasakan gerakan di area perutnya kemudian membelai lembut perut sang istri.


"Seneng ya mau diajak jalan-jalan?" Tanya Basofi sambil berbisik di perut sang istri. Kemudian menciumi bagian yang sedikit menonjol seperti kaki yang sedang menendang. Sofiyah menyusut ujung matanya yang tadi berair. Ia tersenyum disela isak tangisnya.


Setelah berdrama ria akhirnya Basofi mengantarkan istrinya menemui Abah Fani kemudian lanjut beristirahat sebentar di tempat mami papi yang sudah di selesai dibangun menjadi dua lantai dengan gaya sederhana karena luas tanahnya hanya sepetak. Meski demikian rumah itu nampak asri dengan tambahan tanaman di berbagai sudut.


Setelah itu lanjut ke makam mami papi yang letaknya berdampingan. Menaburkan bunga disana sambil menceritakan banyak hal. Sofiyah seperti berbincang-bincang dengan mereka seolah-olah keduanya masih hidup.


Basofi membawakan kursi kecil agar istrinya yang membawa perut besar tidak kesulitan saat duduk di depan makam.


"Mi, pi, Fiah mau lahiran.... Doain ya mi, pi! Doain biar semuanya berjalan lancar!" Sofiyah menaburkan bunga diatas makam kedua orang tuanya.


Basofi hanya bisa mengusap punggung istrinya yang sedang meluapkan kerinduan.


"Doain Fiah sama Koko semoga bisa jadi orang tua yang baik, yang hebat yang bisa membimbing anak-anak menjadi anak-anak soleh! Nanti Fiah akan cerita sama mereka kalau mereka juga punya kakek nenek yang hebat. Yang bisa melewati ujian hidup dengan sangat baik. Mami..... hiks..... Fiah takut...."


"Shutt..., Koko janji sama papi mami, koko akan menjaga Aya dengan baik juga cucu-cucu kalian nanti. Doain kami dari sana ya pi mi!"


Saat sudah berada di mobil, Sofiyah berkali-kali mendesis karena merasa perutnya semakin sering sakit.


"Ssshhh......"


"Kenapa sayang?"


"Sakit..." Kata Sofiyah meringis sambil memegangi perutnya. Ia sudah bertanya pada dokter lewat chat bagaimana proses melahirkan secara normal kepada dokter yang menangani kandungannya. Ia yakin saat ini ia sedang mengalami kontraksi tapi tak mau memberitahu Basofi. Setelah bergumul tadi pagi ia merasa perutnya sakit sekali tapi hanya sekejap saja dan kemudian menghilang. Sekitar satu jam kemudian di merasakan sakit yang sama. Kemudian rasa sakit itu lebih sering datangnya tapi ia tak mengatakannya pada sang suami.


Basofi langsung membelokkan mobil mereka ke arah rumah sakit, "Kita ke rumah sakit ya!"


"Sshh...." Sofiyah mendesis tapi tangannya masih sanggup menelpon mami Daniel.


"Apa?" Terdengar suara ketus dari seberang sana


"Apa kabar mi?" Tanya Aya tak terpengaruh kegalakannya.


"Baik"


"Sehat-sehat ya mi! Sshhh....!"

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Tanya Mami.


"Nggak papa. Aya tutup dulu ya mi!"


"Kamu mau kemana?"


"Ke rumah sakit mi. Mau periksa."


"Bukan waktunya periksa kan? Kamu kenapa? mau ke Rumah sakit mana?"


"Rumah sakit Seger Waras mi. Ssshhh. Aya tutup dulu ya mi. Bye mami" Aya tak sanggup lagi bicara karena rasa sakitnya lebih intens datangnya.


Ketika sampai di rumah sakit Basofi langsung menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit. Aya hanya pasrah saja karena rasa sakitnya tak terkira.


Saat pemeriksaan juga terjadi sedikit drama karena Aya tak mau melepas celananya.


"Kalau mbak nya nggak mau buka celana kita tidak tahu ini sudah bukaan berapa?"


"Malu dok"


"Tolong di lepas pak!"


"Apanya?" Basofi yang belum paham situasi jadi bingung campur malu. Masa iya harus melepaskan ce lana istrinya di depan dokter dan asistennya?


"Sshhh!" Aya terus saja mendesis tapi masih keras kepala tak mau buka cela na dalamnya.


"Dale mannya pak! Gimana saya periksa kalau nggak dibuka?" Kata sang dokter sambil mengulum senyum.


Basofi menelan ludah karena merasa menelanja*** istrinya di depan mata para dokter dan para asistennya. Seperti sedang live rasanya. Aya menurut saja saat Basofi menekuk kakinya atas arahan dari bu dokter. Dia memejamkan mata merasa risih juga malu. Sedangkan tangannya menggenggam lengan Basofi dengan erat.


"Bagus ini sudah bukaan delapan. Pinter dedeknya" Ujar bu dokter.


Sofiyah hanya mendengarkan saja karena merasa kesakitan saat bu dokter memasukkan tangannya ke dalam jalan lahirnya. Rasanya jauh berbeda kalau suaminya yang melakukannya, enak malah bikin ia menggigit bibirnya sambil merem melek merasakan desiran dalam darahnya.


Aya aya wae Sofiyah ni....


"Aku mau telpon mama dulu ya?" Kata Basofi karena ia panik tidak tahu harus berbuat apa.


Sofiyah yang kini berjalan-jalan sesuai anjuran dokter tak mau melepaskan genggaman tangan suaminya.


"Nggak usah, nanti aja kalau dedeknya sudah keluar" Kata Sofiyah sambil sesekali mendesis. Dokter tadi bilang sekitar satu jam lagi atau malah bisa lebih cepat lagi.


"Aku nggak ngerti harus apa..." Basofi benar-benar bingung karena rencana semula mau cesar dua minggu lagi tapi sekarang katanya sudah bukaan delapan dan siap lahiran.


"Aku cuma butuh koko di sampingku, aku cuma mau koko saja. Aya nggak mau yang lain. Mama dan papa nanti saja kalau dedeknya sudah lahir. Aku nggak mau dilihatin banyak orang. Aku malu ko... Ssshhh. Ya Alloh sakit..." Sofiyah meneteskan air mata begitu permintaannya tak dituruti.


"Iya iya iya... Aku disini sayang, cuma aku yang disini "


"Aku cuma mau koko aja... ssshhh"


"Iya iya iya maaf. Jangan nangis lagi ya. Nanti dedeknya ikut nangis" Bisik Basofi di telinga sang istri yang kini terisak dalam tangisannya. Malu juga sebenarnya dilihat banyak orang tapi ya mau bagaimana lagi. Istrinya memang masih kecil tapi dia sudah mau punya baby. Mungkin nanti kalau anaknya sudah lahiran dia akan seperti menangani dua bayi. Bayi besar yang manja dan keras kepala yang selalu menangis kalau permintaannya tak dituruti dan satu bayi yang asli. Hahay.


Diatas bed rumah sakit Aya yang sedang kesakitan memintanya mengambil pakaian yang sudah disiapkannya di dalam mobil. Ternyata dia sudah prepare semuanya tanpa sepengetahuan Basofi.


Basofi menguatkan kakinya tetap melangkah masuk. Ia ingin menemani sang istri melewati semuanya tapi begitu membuka pintu suara tangisan bayi yang kepalanya digantung ke bawah menjadi pemandangan pertama yang dilihatnya. Tas yang ada ditangan kanan kirinya jatuh seketika. Ada rasa haru, bahagia campur aduk dalam dadanya.


Tatapan Sofiyah yang berlumuran air mata membuatnya dengan cepat melangkah mendekati sang istri. Ia menciumi pipi dan kening Aya. ikut menangis bersama.


"Kamu hebat!" Puji Basofi setulus hati


"IMD dulu ya pak! Bisa dibantu istrinya untuk membuka kancing bajunya" Pinta bu dokter yang membuat Basofi menelan ludah. Untung semua asistennya wanita semua.


Bayi kecil mungil yang masih telanjang dan sudah selesai dibersihkan itu kemudian di taruh di atas dada Aya. Tujuannya agar dia mencari sumber makanan nya sendiri.


"Ko sambil di adzani bisa kan?" Tanya Aya sambil tersenyum memandangi bayi merah yang matanya masih terpejam.


Babas yang takjub dengan apa yang dia lihat sampai tak sadar kalau diajak istrinya bicara.


"Ko, adzani dulu!" Kata Aya lagi sambil menyelimuti badan si baby.


"Oh iya iya!" Jawab Babas sambil membenarkan posisi bayi mungil itu agar telinga kanannya berada di sisi luar.


Basofi pun melantunkan adzan dengan berderai air mata. pun ketika melafalkan iqomat di telinga kiri.


Mulut bayi kecil itu akhirnya bisa menemukan mainan kesukaan Basofi yang kini mutlak menjadi milik si baby.


"Eh laki-laki atau perempuan?" Babas berusaha melihat jenis kelamin bayi yang masih menyusu dengan posisi telungkup itu.


"Laki-laki papa" Kata Aya dengan mencadelkan suaranya seperti anak kecil.


Basofi menciuminya berkali-kali sambil berkata," Kamu hebat sayang. Terima kasih sudah mau jadi istriku. I love you!" Katanya sambil menatap wajah Aya yang masih pucat kemudian mencium bibirnya sekilas.


"I love you too!" Kata Aya sambil mengulas senyum pada sang suami. Basofi merengkuh keduanya dan memejamkan mata sementara si kecil masih asyik *******.


"Aku harus libur dua tahun ini..."


"Apanya?" Tanya Aya.


"Mainanku direbut sama dia " Katanya sambil melirik putranya sendiri.


"Ya Alloh koko!!! Bener-bener ya?" Wajah Aya menjadi merah karena malu. Dalam situasi seperti ini masih bisa saja berkata mesum begitu.


"Hehe kenyataan sayang. Kamu mau makan apa sekarang?. Biar aku belikan" Kata Basofi.


"Minta mama bawa makanan yang ada di kulkas saja ko. Kemarin aku sudah membuatnya" Kata Aya dan Basofi langsung menelpon mamanya mengabarkan kalau Aya sudah melahirkan dan minta tolong di bawakan makanan.


Tak berapa lama dari itu Mami Daniel datang sendirian sambil membawa beraneka makanan dan buah-buahan.


"Mami kok sudah disini?" Tanya Aya yang masih memeluk bayi di samping tubuhnya. Basofi diam saja karena memang hubungan mereka masih dingin jauh beda dengan Sofiyah.


"Firasat mami mengatakan kalau kamu sedang kontraksi. Mana cucu mami?" Ia tak membutuhkan jawaban karena itu hanya sekedar ucapan saja.


"Ini mi..."Sofiyah menyunggingkan senyuman sambil melihat wajah putranya yang kini sudah tertidur dengan bibir yang kadang berkedut-kedut kemudian tersenyum dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Laki-laki?"


"Iya"


"Siapa namanya?"


Sofiyah menoleh ke arah suaminya untuk meminta jawaban tapi Babas hanya menggaruk kepalanya.


"Jangan lupa pakai marga Han nanti dikasih nama Tionghoa juga" Kata Mami.


"Aku pinginnya yang ada islam nya ko!" Kata Sofiyah.


"Kasih nama Jawa juga. Dia itu kan ada darah jawa nya juga" Tiba-tiba mertua pertama sudah hadir diantara mereka.


Mama Rosi yang datang bersama papa Adi juga Daniel menatap tajam pada madunya.


"Kenapa tidak memberitahu mama lebih dulu?" Tanya mama merasa iri karena madunya sudah lebih dulu ada di rumah sakit menemani Sofiyah.


"Itu karena Aya lebih sayang sama aku" kata isyri muda dengan wajah kaku membuat Sofiyah juga Basofi menelan ludah.


Alamat bertengkar lagi ini.


Dikira dulu kalau sudah sama-sama go public permasalahan selesai tapi nyatanya sekarang kedua mama itu malah sering bertengkar. Mama juga tak canggung lagi mendebat madunya di depan anak-anak dan suaminya. Bisa dipastikan setiap kali mereka bertemu akan terjadi pertengkaran.


"Ooh ini cucuku.... aduh tampannya.....Gendong sama uti dulu ya" Kata mama mendekati si baby.


"Itu anaknya tidur jangan di ganggu dulu bisa nggak?" Mama Daniel menatap tajam pada istri pertama suaminya.


Mama Rosi hanya diam sambil membalas tatapan mata madunya. Kini keduanya saling berhadapan sambil berkacak pinggang.


Basofi yang merasa kesal kemudian menggerutu pada papanya yang nampak cuek saja.


"Bisa nggak pa, kedua istri papa itu tenang sekejap. Kasihan anakku yang baru tidur. Baru juga datang ke dunia sudah mendengar nenek-neneknya bertengkar" Kata Basofi.


"Sudah duduk sini!" Kata Papa sambil menepuk sisi kiri dan kanan tempat duduknya memanggil kedua istrinya.


"Papa diam saja!" Keduanya bahkan berani menghardik papa.


Membuat Basofi dan Daniel tertawa sedangkan Aya sibuk menutup telinga putranya agar tak mendengar kata-kata yang bernada kasar dari kedua neneknya.


"Sepertinya papa harus nambah istri lagi biar tidak terjadi ketimpangan sosial!" Kata Babas mengejek papanya. Ya hubungannya dengan sang papa memang lebih mencair sekarang sehingga ia dan Daniel sering mengejek papanya.


"Ko!!"Mamanya langsung melempar tatapan tajam pada putranya sendiri.


"Aku setuju ko. Selama ini aku juga sendirian di rumah. Statusku saja istri tapi aku tak ubahnya seperti serangga yang harus dihindari" Kata Mami Daniel.


"Hah, siapa yang menganggap serangga?" Papa menanggapi istri mudanya.


"Ada! orang entah dari dataran mana. Istrinya ditinggal di rumah orang tuanya begitu saja. Dicerai tidak, di sayang juga tidak" Nadanya kecewa dan pastinya berusaha sekuat mungkin agar tangisnya tak pecah.


Mama memberikan bayi mungil kesayangan mereka kemudian memberikannya pada madunya.


" Kulitnya putih kayak kamu..." Kata mama pada istri muda suaminya.


"Hiks..." Ia menerima bayi yang masih merah ke dalam pelukannya sambil terisak dan Mama Rosi mengusap air mata madunya dengan ibu jarinya.


"Kita harus bagi hari untuk merawatnya. Hari ini kamu ci. Besok waktuku. Seharian besok cuma boleh sama aku"Baru juga baikan sudah menyulut api lagi si istri kedua. Meminta pembagian hari seperti saat mereka mengantar Sofiyah periksa kehamilan.


"Eh enak aja. Hari ini kamu besok aku"


"Owek owek...." Bayi kecil yang belum punya nama itu menangis karena kaget mungkin.


"Nenek-nenek belisik kata dedeknya" Kata Aya sambil mengulurkan kedua tangan meminta si kecil.


Basofi mendesah melihat semuanya. Entah bagaimana keluarganya ke depannya nanti yang penting jalani saja. Semoga setiap hari lebih baik dan lebih baik lagi.


.


.


.


Akhirnya sampai juga di penghujung cerita. Pertama kali aku menulis ini karena aku sering tidak sependapat dengan novel-novel yang menceritakan tentang casanova yang biasanya celup sana celup sini tapi dia bisa menikah dengan gadis polos yang bersih belum pernah terjamah sama sekali.


Dalam dunia nyata beberapa kali aku mendapati hal seperti itu tapi itu hanya sebagian kecil saja karena dalilnya sudah jelas. Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).


Dan poin kedua adalah seburuk apapun dosa manusia ia masih bisa bertaubat karena itu kita tidak boleh membenci pendosa. Barangkali sebelum dia meninggal dia masih diberi kesempatan untuk bertaubat. Dan ada banyak cerita tentang orang soleh yang meninggal dalam keadaan suul khotimah. Mangkane gak oleh gething- gething ambek wong seng ketoke nglakoni duso terus.


 


ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk teman-teman semua yang sudah setia mengikuti hingga detik ini. Terimakasih atas like, komen, vote juga hadiah nya.


Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena tulisan ini masih jauh dari kata bagus apalagi sempurna.


Semoga suatu saat kita bisa ketemu lagi dengan tulisan-tulisan yang lebih baik baik dari segi penulisannya dari konsepnya dari alur ceritanya dari bahasanya juga dan semua-muanya.


Semoga suatu saat kalian akan melihat tulisanku terpampang di halaman depan paling atas


BUKAN PELANGI


KARYA PENULIS SUPER STAR


EN GREEN


🤭🤭🤭🤭


Halu dulu ya guys. Katanya kan semua berawal dari mimpi. Aku mau mimpi dulu nanti bangun-bangun sudah jadi penulis terkenal dengan pendapatan tiga digit.


Jiah.... kejauhan mimpine wak yu!


Akhirul kata, wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.


See you again guys

__ADS_1


__ADS_2