Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Rayhan


__ADS_3

"Apa sayang?" Aku menjawab panggilan dari salah seorang teman.


"Dimana?" Dia bertanya dengan suara yang lembut mendayu-dayu.


"Di kafe. Ada apa?"


" You mau kencan?" Tanyanya lagi.


"Ya.... bisa dibilang begitu..." Jawabku sedikit ragu.


"Jahat.... Besok you mau balik. You nggak mau menghabiskan waktu sama I ? Bersenang-senang di atas kasur...." Suaranya terdengar merajuk.


"Do you miss me ? Padahal semalaman kita sudah menghabiskan waktu bersama?"Kataku mengingatkan.


" Kalau you balik... I will miss you so much honey...."


" I dont believe it. Fwb an you banyak sayang....bukan cuma I seorang...."


"But only you yang bisa membuat I ketagihan. You are the best pokoknya..."


"Sudah dulu ya, she is arrived"


Klik,


Aku langsung memutuskan sambungan telponku saat melihat Sofiyah turun dari mobil. Gadis incaranku itu nampak cantik sekali, kecil mungil, putih bersih. Dan yang paling aku suka darinya adalah cukup sulit mendapatkannya lagi. Itu membuatku tertantang untuk menaklukkannya lagi. Butuh trik dan cara untuk merayunya agar dia mau menyerahkan dirinya seperti waktu itu saat kami masih berseragam abu-abu.


Sofiyah itu cinta pertamaku juga orang yang pertama yang membuatku melepaskan keperjakaanku. Saat itu aku khilaf dan juga takut jika dia akan berpaling dariku saat aku kuliah di luar negri nantinya. Maka aku merayunya dan berjanji akan mencarinya lagi agar kami bisa bersama dan menikah suatu hari nanti saat kami sudah menyelesaikan pendidikan kami.


Tapi saat aku kuliah di luar negri ternyata pergaulan bebas yang di anut semua orang membuatku lupa pada janjiku sendiri untuk tidak berhubungan badan dengan siapapun kecuali Sofiyah. Di sana justru aku melakukannya dengan siapa saja tanpa punya hubungan spesial. Hanya karena sama-sama ingin dan butuh menyalurkan hasrat seperti binatang.


Saat aku pulang ternyata semua teman-teman ku di tanah air juga tak ubahnya seperti diriku. Melakukannya sesuai kesepakatan.


"Ketemuan yuk....!"


"Ditempat biasa?"


"Iya..."


"Tapi aku hanya punya waktu dua jam saja"


"Ok. Aku otw ya..."

__ADS_1


"ok. See you"


Semudah itu percakapan kami saat ingin menuntaskan hasrat binatang kami. Tanpa basa basi dan to the point saja. Di awal-awal tentu kami harus berjanji kalau kami tidak punya hubungan apa-apa, hanya sebatas teman di atas ranjang saat sama-sama membutuhkan. Tidak boleh baper satu sama lain. Begitu keluar dari kamar kami sudah tidak ada ikatan lagi seolah-olah yang terjadi bukanlah hal penting yang harus dibahas.


Aku juga pernah berjanji akan berhenti melakukan hubungan terlarang seperti itu setelah menikah nanti dan yang kuingat saat itu adalah Sofiyah yang ingin ku peristri.


Aku menyukai cara bicaranya, raut wajah malunya dan segala yang ada pada dirinya. Dan aku cukup terkejut saat bertemu pertama kali setelah sekian lama kami berpisah. Dia sudah memakai hijab dan agak menjaga jarak saat kami bersama. Dan aku juga baru tahu kalau sekarang dia jatuh miskin dan papinya juga sudah meninggal dunia. Semua itu tidak masalah buatku.


Satu yang aku yakini dia masih punya rasa sayang padaku sama seperti diriku. Itu terlihat bagaimana tiap malam kami saling bertukar cerita lewat telpon apa saja yang sudah terjadi selama ini. Dia juga bercerita kalau orang tuanya sudah menjodohkannya dengan direktur utama di tempatnya bekerja. Tapi dia tidak menyukainya.


Besok aku akan kembali ke London dan dan aku tak mau kehilangan kesempatan. Karena sudah mencoba berbagai cara halus dengan berpura-pura menjadi cowok yang alim dan Sofiyah sepertinya belum paham apa yang aku maksudkan maka aku terpaksa memakai cara kotor.


Aku sudah mencampurkan sedikit obat tidur ke dalam minumannya dan akan membawanya ke hotel di sebelah bangunan kafe. Aku akan beralasan harus bertemu dengan temanku disana dan akan ku buat dia cemburu dengan kehadiran temanku yang sudah stand by di hotel itu.


Dan disamping tempat duduknya akan kutaruh minuman dengan obat tidur dalam dosis besar . Saat dia melihatku bercengkerama dengan temanku yang bernama Linda aku berharap dia cemburu dan akan minum minuman yang ada didekatnya yang sudah kupersiapkan. Setelah itu akan kurampungkan semuanya di kamar hotel karena aku juga sudah ceck in di sana.


"Sorry... Apa I telat?" Tanya Sofiyah tak enak hati.


"No...." Aku menarik kursi dan mempersilahkan dia duduk seperti pria gentle pada umumnya.


"Aku sudah pesan minuman kesukaan you. Coffe latte.." Kataku sambil lagi-lagi menyunggingkan senyum untuk mencuri perhatiannya.


Aku speechless.... misi pertama gagal.


Aku harus bisa membawanya ke hotel dan menjalankan misi kedua.


"Oh its ok..." Aku pun secara tak sadar meminum minuman Sofi yang sudah kuberi obat tidur.


"Sof..... I baru saja ditelpon sama teman I . Dia bilang mau reunian karena tahu I besok mau balik ke London. Da ternyata dia sedang ada di hotel sebelah. Temani I sebentar. I promise itu tak akan lama..." Aku mulai melancarkan aksi kedua.


Dia nampak ragu setelah melihat jam tangannya.


"Please Sof....! Today is my last day..." Aku menghiba mencoba membuatnya tak enak hati untuk menolak ajakanku.


Dan ternyata berhasil, dia mau ikut denganku. Setelah membayar minuman yang kupesan tadi aku segera mengajak Sofiyah untuk pergi meninggalkan kafe itu.


Aku melangkahkan kakiku dengan riang. Sambil berbincang dan menggombal aku meliriknya mencoba mencari kesempatan.


" Belum pergi saja I sudah rindu berat pada You. Bagaimana kalau sudah sampai di London nanti?"


"Gombal...!" Katanya tapi aku yakin hatinya berbunga-bunga karena wajahnya merona dan kebahagiaan terpancar dari senyumannya.

__ADS_1


Aku mencoba meraih tangannya dan menggenggam jemarinya dan siap-siap saja kalau dia menepisnya. Tak kusangka dia malah diam saja membuatku tersenyum sambil melirik matanya. Ternyata dia memalingkan wajahnya seperti malu-malu gimana....? Aku semakin gemas dibuatnya.


Sampai di pintu hotel aku sudah yakin jika misiku akan berhasil sampai kami mendengar suara kaki berderap mendekati kami.


Aya.......!!" Seorang lelaki berwajah tampan menarik lengan Sofiyah membuat gadis mungilku langsung tersentak dan melihat ke arah pria itu.


"Jangan kasar ....!!!!" Kataku sambil mencoba melepaskan genggaman tangan lelaki itu dari lengan Sofiyah tapi tak bisa karena dia sangat kuat mencengkeramnya.


"Ayo pulang!!" Kata pria yang kutahu namanya Basofi, dia adalah atasan juga orang yang dijodohkan dengannya.


"Dia mau ikut bersamaku..." Aku pun menyelanya.


Sofiyah yang berada di antara kami menatap tajam pada pria itu. Terlihat sekali kalau dia sangat kesal.


"Ay.... sebentar lagi Maghrib..!!" Kata pria itu lagi.


"Sofi bukan anak kecil yang harus diingatkan kapan waktunya solat...." Aku mencoba menahan amarah tak ingin kehilangan kesempatan seperti yang sudah aku rencanakan.


"Kak Rey.....! Sorry...! I pulang dulu...." Kata Sofiyah dengan tatapan sendu sambil memegang lenganku.


"Sof.... besok hari terakhir I am here... please stay with me....!!"


'No no no aku tak mau gagal lagi' hatiku menjerit


"I promise.... besok kita ketemu lagi....! I am sorry kak Rey...." Sofiyah menatapku dan memberiku janji membuatku lemas seketika. Peluang yang akan kudapatkan lepas begitu saja.


Sofiyah dan pria itu kemudian berjalan pergi meninggalkan aku yang berdiri mematung di situ. Aku mengepalkan tangan dan mengeratkan gigi geraham. Kurang ajar sekali si brengsek itu dengan mudahnya membawa kekasihku.


Tapi aku juga heran pada Sofiyah. Dia selalu mengatakan kalau dia tidak suka dan bahkan membenci pria yang bernama Basofi itu tapi kenapa dia seolah tak bisa menolak permintaan lelaki itu.


Sekarang aku juga mulai ragu, apa aku benar-benar mencintai Sofiyah atau hanya penasaran dan tertantang untuk menaklukkannya.


Aku segera masuk ke dalam hotel dan menemui Linda yang sudah ada di sana. Tanpa banyak bicara aku menyeretnya masuk ke dalam kamar yang sudah kupesan. Bahkan kuncinya juga sudah ada padaku saat ini. Linda tidak menolak sama sekali.


Setelah pintu tertutup kami langsung berpagutan dengan kasar . Aku bahkan menggigitnya karena kesal pada Sofiyah yang lepas dari genggamanku begitu saja.


Linda mengaduh kesakitan sebentar tapi ia segera mengambil alih dan bersiap mendominasi permainan. Ia mulai membuka kancing bajuku sambil mendorong tubuhku ke ranjang.


Aku tersenyum karena memang kali ini aku ingin dimanjakan. Aku ingin diam dan menerima kenikmatan.


Tubuhku sudah jatuh di atas tempat tidur empuk yang akan menjadi saksi pergumulan kami. Tapi aku merasa kepalaku tiba-tiba menjadi berat dan terasa pening dan setelah itu aku tidak ingat apa yang terjadi setelahnya.

__ADS_1


__ADS_2