
Sofiyah mengusap lembut cincin yang tersemat di jarinya. Cantik sekali dan itu sesuai dengan seleranya.
"Ayo pulang!" Basofi berjalan di depan meja Sofiyah siap untuk pulang karena hari ini tidak ada banyak pekerjaan sehingga mereka bisa pulang lebih awal. Selama beberapa hari ini Babas mengantar jemput Sofiyah lagi sejak acara lamaran dan tukar cincin mereka.
"Ko aku mau pulang sendiri...!" Kata Sofi sambil berdiri.
Basofi menghentikan langkahnya kemudian berbalik badan menghadap sekretarisnya, "Kenapa? Apa yang harus aku katakan pada mami nanti?"
"Koko nggak usah ke sana. Aku akan pulang sendiri nanti" Sofiyah menatap mata Basofi yang diakuinya sekarang lebih teduh dan menenangkan tapi hatinya belum terbuka untuk sang pria karena masih dibutakan oleh cintanya Rayhan juga karena sikap Basofi yang seringkali menyakiti perasaanya.
"Aku akan mengantarmu. Aku akan menunggumu di mobil saja...." Basofi mencoba nego.
Sofiyah menatap horor pada atasannya dengan penuh kebencian.
" Biar aku sama pak Ali saja..." Kata Sofiyah bernegoisasi
"Kau mau kuantar atau kuadukan pada mami?" Tanya pria berdarah jawa tionghoa itu sedikit mengancam gadis kecilnya. Hatinya ingin menjaga si gadis tapi mulutnya tak bisa berkata manis.
" Kau ingin pergi kemana? Aku bisa mengantarmu..." Basofi masih mencoba membujuk Aya.
__ADS_1
"Tidak terimakasih..... aku tidak mau menyusahkan" Gadis itu ingin bertemu Rayhan tentu saja tidak ingin mendapat gangguan, apalagi ini mau diantar oleh calon suami yang dipilihkan orangtuanya, pria yang dijodohkan dengannya.
"Biar diantar sama Mikail..." Kata Basofi lagi sambil berniat memanggil asistennya yang sedang berkutat di depan layar monitor.
"Aku mau ketemu seseorang..." Kata Sofiyah jujur agar Basofi sakit hati dan tidak berminat mengikutinya lagi.
"Its ok. I will pick up you everywhere you want to go.ยน Aku tidak akan mengganggu kalian....." Kata Basofi sambil berlalu menuju lift membuat Sofiyah terpaksa. harus mengikuti bos nya.
.
.
.
Gadis bermata sipit itu sedikit ragu karena bos nya seperti merendahkan dirinya sendiri dan karakter itu sangat tidak cocok dengan Basofi.
"Ayo masuk! Tidak perlu berfikiran yang macam-macam, aku melakukannya karena papi menitipkanmu padaku. Aku akan menjagamu sampai kau menikah dengan pria yang kau suka. Anggap saja aku ini kakakmu...." Katanya dengan suara berat.
Sayangnya si gadis hanya terfokus pada kata 'karena papi menitipkanmu padaku'. Gadis bertubuh kecil mungil itu masuk ke kursi penumpang dengan wajah yang tak bisa ditebak oleh si supir dadakan yang kini sedang gusar.
__ADS_1
Entah kenapa hati Aya terasa sakit saat dia mendengar kata-kata Basofi tadi. Atasannya itu terlihat terpaksa melakukan semua yang berhubungan dengan dirinya karena wasiat papinya bukan karena keinginan dirinya sendiri.
Padahal ia berharap Basofi sedikit punya perasaan padanya.
Setelah Basofi bertanya harus kemana dan Sofiyah menjawabnya, keduanya kemudian sama-sama diam mencoba menganalisa perasaan dan keadaan, juga apa yang akan terjadi di masa depan.
Sofiyah memandang jendela mobil dengan perasaan bersalah pada papi dan maminya karena menyalahi permintaan mereka. Tapi hatinya benar-benar ingin berontak. Pesona Rayhan membuatnya mabuk kepayang dan melayang-layang di angkasa lupa kalau dia masih di daratan.
Saat tiba di kafe tempat Reyhan dan Sofiyah janjian Basofi menepati janjinya dengan tetap tinggal di mobil seperti sopir yang sedang menunggu majikan.
Ia mengusap ingusnya dengan tisu. Basofi tidak tahu apa penyebabnya tapi sekarang dia mudah sekali menangis. Bagaimana pun ia mencoba mengikhlaskan Sofiyah agar bisa bersama dengan pria yang disukainya tapi ada sebagian kecil dari hatinya yang belum bisa menerima.
Basofi melihat dua anak muda sedang duduk saling berhadapan dan dari gerak-geriknya nampak sekali jika keduanya sedang bahagia dilanda asmara.
Basofi yang tak kuat menatap mereka dalam waktu lama kemudian melihat jalanan dan daerah sekitar situ. Dia baru sadar ternyata kafe itu bersebelahan dengan hotel. Sebersit buruk sangka hinggap di kepalanya tapi segera ditepisnya.
Ia mencoba meyakinkan dirinya kalau tidak akan terjadi apa-apa pada Sofiyah dan memaki dirinya sendiri lantaran berpikir macam-macam.
Pria tampan yang matanya sedikit sembab itu kemudian melihat ke arah tempat duduk Sofiyah dan Rayhan. Basofi baru sadar jika keduanya sudah tidak berada di tempat duduk mereka tadi.
__ADS_1