Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Tahlil


__ADS_3

Begitu kembali di kediaman Sofiyah, Basofi terduduk di ruang tamu , badannya serasa lunglai dan tidak punya kekuatan sama sekali. Ketakutan itu menyergapnya kembali seperti saat awal dia dia datang ke rumah itu.


Tangannya bahkan gemetaran saat bersalaman dengan orang-orang yang berpamitan maupun para pelayat yang baru datang. Bayangan wajah pak Basofi saat berada di pangkuannya saat dimandikan tadi menari-nari di depan wajahnya. Ia takut arwah mendiang calon mertuanya akan mengikutinya dan mengajaknya ke kuburan. Basofi benar-benar parno sekarang.


Abah Fani yang melihat wajah ketakutan dari pria tampan yang diketahuinya sebagai calon suami Sofiyah. Beliau kemudian duduk di dekatnya.


"Nak Basofi baik-baik saja?", tanya abah Fani.


"Eh,... i-itu,..", sebenarnya dia ingin curhat tapi mulutnya terasa kelu. Ia juga merasa harga dirinya akan jatuh jika sampai ada yang mendengar kalau dirinya takut hal-hal yang berbau mistik seperti itu.


Abah Fani yang memperhatikan sosok Basofi sejak tadi sedikit mengerti jika pria yang duduk di sampingnya ini sedang ketakutan.


"Begitu para pelayat meninggalkan kuburan malaikat akan datang dan bertanya kepada si mayit seperti yang diajarkan saat mentalqin mayit tadi." Abah Fani mencoba menjelaskan kejadian yang sesungguhnya.


"Siapa Tuhanmu, siapa nabimu, apa kitabmu, apa agamamu?. Jika selama hidupnya si mayit lebih banyak berbuat baik maka dia akan lancar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir.


Dan sebaliknya jika si mayit saat hidup di dunia lebih sering berbuat maksiat dan durhaka kepada Alloh maka mulutnya akan kelu dan kesulitan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi".


Basofi mendengarkan dengan seksama sambil menundukkan kepala.


"Dunia kita dengan dunia mereka sudah berbeda. Kita masih di alam dunia, masih di beri kesempatan untuk bertaubat masih bisa meminta tolong dan lain sebagainya. Sedangkan orang yang sudah meninggal mereka ada di alam barzah. Mereka akan mendapatkan ganjaran atas perilaku mereka sewaktu hidup di dunia. Orang yang bertakwa kepada Alloh akan hidup seperti di serambi surga dan orang yang hidupnya sering mendurhakai Alloh akan merasa seolah-olah mereka sudah berada di neraka padahal mereka baru mencicipinya saja."


"Lantas arwah yang bergentayangan karena dibunuh itu bagaimana bah?". Akhirnya Basofi bisa mengutarakan kegundahannya. Ingin tahu bagaimana dari sudut pandang agama. Apakah itu hanya dongeng semata?.


"Nggak ada arwah yang bergentayangan itu. Kalau jin yang mengaku ini dan itu banyak tapi kalau orang yang sudah meninggal ya mereka akan berhadapan dengan malaikat Munkar dan Nakir. Tidak akan ada waktu untuk mengganggu manusia. Tapi kalau jin itu ada yang muslim ada yang non muslim jadi banyak juga diantara mereka yang mengganggu manusia".


Basofi masih menundukkan kepala sambil mencoba untuk mencerna setiap kata dari pria yang diseganinya. Meskipun sudah mendapatkan pencerahan panjang lebar tapi tetap saja ia masih merasa ketakutan.

__ADS_1


Abah Fani menepuk pundak Basofi kemudian pamit undur diri. Basofi masih saja tertegun memikirkan bagaimana nanti malam kalau dia harus bangun tengah malam, ke kamar mandi sendiri. Ia mengacak kepalanya karena kesal pada dirinya sendiri. Dasar pengecut, umpat hatinya.


Basofi kaget mendengar Sofiyah meraung-raung sambil berteriak memanggil papi-papi. Sepertinya ia sudah siuman dan langsung teringat papinya.


Pria yang sudah matang secara usia itu seketika berdiri. Sepertinya kekuatannya sudah kembali lagi.


Di dalam kamar yang kecil itu ada dua orang wanita yang menemani Sofiyah. Mamanya Basofi dan maminya Sofiyah. Mereka berdua hanya duduk di dekatnya sambil mengusap tangan juga punggungnya. Tak menyela atau memberi ceramah pada gadis muda yang sedang dalam puncak kesedihannya. Keduanya seolah punya pemikiran yang sama, membiarkan gadis itu meluapkan emosinya dan semoga setelah itu dia bisa tenang kembali dan berpikir jernih.


Air mata Sofiyah mengalir deras meski tangannya terus mengusap mata dan pipinya agar lajunya berhenti tapi air mata kesedihan itu terus menerus berjatuhan.


Mata Sofiyah menangkap kehadiran Basofi di dalam kamarnya membuatnya berhenti menangis.


Ia menatap pria yang dijodohkan dengannya dengan pandangan yang mematikan.


"Ko di mana papi?", Suaranya serak dan ucapannya terdengar ketus.


Sofiyah berusaha beranjak berdiri tetapi tubuhnya lunglai dan ia terjatuh terduduk kembali membuat mami dan calon mertuanya panik dan mencoba menenangkannya lagi karena Sofiyah kini menjerit meneriakkan papi-papi.


Basofi pun mendekat dan Sofiyah menjadi kalap. Ia memukul tubuh lelaki itu bertubi-tubi menggunakan bantalnya.


"Assalamualaikum....", terdengar orang mengucap salam dari luar.


"Waalaikumsalam...!" Sahut kedua ibu dan satu persatu dari mereka keluar untuk menemui tamu yang mungkin ingin melayat dan datang terlambat.


Basofi menahan semua pukulan yang diarahkan Sofiyah kepadanya. Dia malah semakin mendekat kemudian duduk di dekat gadis yang masih memukulkan bantalnya pada dada bidang pria tampan itu.


"Kembalikan papi!! Kembalikan papi ku!!!", Ia menangis terisak dan satu tangannya kini ganti memukul dada bidang Basofi yang kini duduk berhadapan dengannya.

__ADS_1


Ia sudah memelankan suaranya karena tidak ingin orang-orang datang akan mengasihaninya.


Basofi memeluk kepala Sofiyah dengan sedikit memaksa. Untung diantara keduanya ada bantal sebagai pemisah sehingga tubuh mereka tidak langsung menempel.


Sofiyah yang awalnya menolak pelukan Basofi pada akhirnya hanya diam saja karena kekuatannya tak sebanding dengan lelaki tampan dan licik yang kini berhadapan dengannya. Air matanya membasahi kemeja sang pria yang kini terbuai dengan bau shampo yang menguar lewat celah jilbabnya yang sekarang sudah tak berbentuk lagi. Ia seakan tak perduli dengan penampilannya karena tertutup oleh kesedihan yang memenuhi relung kalbunya.


"Jangan menangis! Papi akan sedih kalau melihatmu seperti ini Ay....!", bisik Basofi. Ada rasa sesak dalam hatinya saat melihat keadaan Sofiyah yang kacau seperti itu. Ada rasa sayang bercampur kasihan yang meletup-letup di dalam hatinya.


"Aku mau ikut papi.... aku mau ikut papi!" rengeknya terdengar menyedihkan sekali.


Basofi tak menjawab lagi ia hanya mengusap kepala yang tertutup jilbab itu dengan lembut sambil menghirup aroma rambut sang gadis. Rasanya ia ingin menciumi gadis itu agar bisa melupakan kesedihannya barang sejenak saja.


.


.


Malam harinya diadakan tahlil untuk almarhum pak Basuki di pelataran pintu masuk pesantren. Basofi dan mamanya masih tinggal di sana. Hanya papanya, Mikail dan Daniel yang berpamitan terlebih dulu.


Membuat Basofi mau tak mau harus ikut solat fardhu di masjid. Lagi, ia merasakan kedamaian dan seperti pulang ke rumah.


Rasanya lega dan bahagia.


Suara tahlil menggema di alam seiring dengan bacaan yang mengalun dari bibir-bibir para santrj maupun para tetangga dan masyarakat sekitar.


Basofi yang belum pernah sekalipun mengikuti acara seperti itu hanya menggerakkan bibirnya seolah-olah dia sedang ikut membaca padahal ia tidak mengerti apa-apa.


Terbersit dalam hatinya untuk apa melakukan semua itu, apa ada manfaatnya untuk orang yang meninggal atau hal semacam itu bisa meringankan kesedihan keluarga yang mendapatkan musibah? .

__ADS_1


Setelah acara tahlil selesai kemudian nampan-nampan di keluarkan yang berisi jajanan dan camilan seadanya sebagai rasa terima kasih.


__ADS_2