
Setelah kepergian Daniel, kedua wanita sebaya itu sama-sama menselonjorkan kakinya di ruang tamu yang kecil tempat Sofiyah dan ibunya bernaung. Meskipun sekarang sudah bergelimangan harta tapi wanita yang melahirkan Basofi itu tampak tak risih duduk di tempat yang sangat sederhana.
Mereka sama-sama berasa dari suku Jawa dan menikah dengan orang keturunan Tionghoa yang baru masuk islam sehingga bisa saling berbagi dan memahami.
Basofi duduk di pinggiran lantai teras yang lebih tinggi beberapa jengkal dari tanah. Ia menumpukan kedua tangan di atas kakinya untuk menyangga kepalanya. Pria yang selalu terlihat arogan itu mendengarkan cerita yang meluncur dari mulut mamanya yang sedang berada di ruang tamu bersama Sofiyah dan ibunya.
"Papanya Basofi baru masuk islam beberapa saat sebelum kami menikah karena itu syarat yang ku ajukan padanya kalau mau menikah denganku. Terbersit pula niat yang tidak baik saat itu. Aku tahu dia dari keluarga berada dan aku butuh uang untuk menyambung hidup dan untuk biaya pengobatan ibuku.
Pada akhirnya kami menikah tanpa sepengetahuan keluarganya dan aku tidak mempermasalahkan hal itu karena dia begitu baik padaku juga ibuku.
Papanya Basofi itu sangat perhatian pada kami. Apapun kebutuhan kami dia pasti mencukupinya. Yang sangat ku syukuri dia sangat perhatian pada kesehatan ibuku. Membawanya ke rumah sakit dan memberikan fasilitas pelayanan terbaik padanya sampai ibu meninggal dan aku tak lagi punya sanak keluarga.
Dan ternyata skenario Tuhan berjalan tanpa di duga-duga. Aku mengandung Basofi yang membuat kami sangat bahagia. Terutama aku yang baru dirundung duka nestapa. Kehadirannya adalah hadiah dan pelipur lara. Membuatku punya semangat untuk menjalani kehidupan lagi ke depannya.
Tak lama setelah itu keluarganya mengetahui jika kami sudah menikah dan memaksanya untuk meninggalkanku kalau tidak mau dikeluarkan dari anggota keluarga. Dia pun memberi alasan tidak bisa menceraikan aku karena aku sedang mengandung anaknya, darah dagingnya yang merupakan keturunan keluarganya.
Sejak kedatangan mereka ke rumah kami aku sangat takut akan dipisahkan dari suamiku karena dialah satu-satunya keluarga yang ku punya.
Tapi dia selalu bisa membuatku nyaman dan percaya bahwa kami akan tetap bersama dan memang terbukti mereka tak pernah datang lagi.
Setelah Basofi lahir barulah semua terkuak. Keluarganya datang bersama seorang wanita yang kemudian ku tahu dia adalah maduku. Mereka berfoto bersama Basofi kemudian menjelaskan jika anak yang ku lahirkan akan diakui oleh istri keduanya sebagai anaknya dan aku sama sekali tak dianggap bagian dari keluarga mereka.
Suamiku dengan terpaksa mengakui segalanya. Dia mengatakan kalau sudah menikah dengan Meyra beberapa bulan sebelumnya karena itu adalah syarat dari keluarganya agar kami tetap bisa bersama.
Hatiku hancur berkeping-keping saat mendengarnya Wanita mana yang sanggup mendengar jika suaminya ternyata punya istri selain dirinya sendiri. Aku ingin marah padanya memukuli dia sampai aku puas tapi aku tak bisa berkata apa-apa saat melihat wajah sendunya.
__ADS_1
Setelah ku ingat-ingat pula dia tak pernah jahat padaku, tak pernah main tangan dan lainnya. Yang ku lihat justru dia semakin menyayangiku.
Lambat laun aku bisa menerima keadaan . Toh dia selalu pulang ke rumah dan Basofi juga tetap dalam asuhanku meski di saat ada acara Basofi akan ikut serta dengan papanya dan mama tirinya untuk dikenalkan ke sanak saudara dan koleganya sebagai putra mereka.
Acara bercerita yang menguras emosi itu pun harus terhenti karena terdengar suara adzan Isyak berkumandang.
.
.
Setelah acara tahlilan dan semua tamu pulang termasuk Basofi dan mamanya kini tinggal Sofiyah dan sang ibu yang sedang bercengkerama.
Wanita itu menghela nafasnya sebelum memulai cerita.
"Orang-orang mengatakan bahwa papimu itu masuk islam karena mau menikah dengan mami padahal itu tidak benar sama sekali."
Pak Basuki pernah bercerita pada Sofiyah bagaimana perjalanan spiritualnya hingga akhirnya mantap memilih masuk agama islam.
Sering berhubungan bisnis dengan para pengusaha muslim membuatnya tertarik dengan kepribadian mereka yang low profile dan tidak terlalu menggebu-gebu untuk mencapai sesuatu dan tidak pula terlalu bersedih jika kegagalan menyapa. Itulah hidup, begitu ungkap mereka. Kadang di bawah kadang di atas. Tugas kita sebagai manusia adalah bekerja keras kemudian berdo'a dan setelahnya biar takdir yang bicara.
Dari situ dia mulai mempelajari Islam dengan berdiskusi dan membaca berbagai literasi. Pak Basuki mulai nyaman dengan ilmu yang sudah didapatnya dan semakin haus ingin mereguk lagi dan lagi.
Dia merasa menemukan jawaban dari banyak pertanyaan yang sejak dulu menggerogoti jiwa dan hati. Menemukan jika islam sesuai dengan ideologi yang berjalan beriringan dengan ilmu dan akal.
Dan setiap kali mendengar adzan subuh berkumandang dia selalu terbangun dan sebagian hatinya menjerit menangis ingin datang ke arah suara yang ia tahu tempat itu adalah masjid.
__ADS_1
Puncaknya saat hatinya tak lagi tenang dan meronta-ronta ingin dibebaskan. Merasa gelisah tak tahu arah membuat kakinya melangkah tanpa dia sendiri bisa mengendalikannya.
Dia tersentak kaget saat mendengar adzan berkumandang dan dia sudah berdiri di depan gerbang masjid. Pak Basuki menoleh ke kanan dan ke kiri melihat di mana kini ia berada.
Ternyata langkah kakinya membawanya ke masjid di dekat alun-alun yang lumayan jauh dari tempat kerjanya tadi.
Beberapa orang mulai masuk ke dalam halaman masjid. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik sepeda dan ada pula yang naik motor. Terlihat juga beberapa ibu-ibu yang memakai mukenah berjalan menggandeng anak-anaknya yang sudah berpakaian rapi karena hendak beribadah di rumah Tuhan yang suci dan mulia.
Lama dia mengamati gerak-gerik orang-orang yang datang disana sampai suara adzan tadi berganti dengan suara iqomah.
Pak Basuki memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya menuju ke halaman masjid. Dari tempatnya ia bisa melihat orang-orang yang sedang berdiri berjajar rapi seperti berbaris lalu terdengar suara "Allohu akbar".
Perlahan-lahan dia melepas sepatunya seperti yang dia lihat tadi kemudian ke tempat wudhu. Membasuh muka dan kaki saja kemudian masuk ke dalam masjid dan berdiri di belakang, jauh dari shof para pria. Hatinya berdebar-debar melihat gerakan-gerakan orang-orang yang sedang solat. Ada seorang yang berdiri paling depan yang ia tahu bernama imam dari buku yang ia baca seperti memberi aba-aba dengan kalimat Allohu akbar dan orang-orang yang berdiri di belakangnya kemudian mengikutinya serempak.
Pak Basuki kemudian mulai mendekat dan berdiri dengan jarak kira-kira satu meter di belakang shof terakhir.
Ia pun mulai mengikuti gerakan orang-orang yang berada di depannya sambil berkali-kali mendongak memastikan apakah gerakannya sudah berubah atau belum.
Saat sujud air matanya keluar karena merasakan ketenangan dan kebahagiaan seperti seseorang yang sudah lama berpetualang dan akhirnya bisa kembali pulang.
Sampai setelah salam dan orang-orang mulai wiridan pak Basuki tetap pada posisi duduknya dan hanya mendengarkan saja sambil berkali-kali mengusap lelehan air matanya.
Sebenarnya dia takut jika orang-orang islam yang ada di masjid itu akan mengusirnya saat tahu ternyata dia non muslim. Tapi sungguh diluar dugaan mereka malah menjabat tangannya sambil tersenyum saat melihatnya. Membuat hatinya semakin bahagia.
Dan sejak hari itu dia mulai rutin pergi ke musolla atau ke masjid saat adzan berkumandang. Tak ada rasa takut saat memasuki masjid atau musholla di mana saja dia berada karena sambutan muslim selalu sama. Hangat dan kekeluargaan, memancarkan aura kebahagiaan juga ketenangan.
__ADS_1
Setelah berdiskusi dengan beberapa imam yang ia temui maka ia memantapkan diri masuk Islam dengan segala konsekwensinya