
Keesokan harinya seperti yang dikatakan makhluk kasat mata yang bernama Basofi, ia menjemput Sofiyah di kediamannya yang super mini.
Calon mertuanya ternyata sedang duduk di lantai di ruang tamu sambil menengadahkan kepalanya ke atas dengan mata terpejam.
"Assalamualaikum....". Basofi mengucap salam dan setelah menunggu sesaat ia merasa heran karena calon mami mertuanya tidak segera menjawab salamnya seperti biasa padahal suaranya cukup keras.
"Assalamualaikum... mi...". Basofi mengulanginya sekali lagi.
"Waalaikumsalam warahmatullah... Ada koko rupanya.... masuk ko...!". Kata beliau sambil membuka matanya seperti baru saja tertidur dalam duduknya.
" Mami sehat mi?", kata Basofi sambil mencium tangan wanita yang kini sudah seperti orang tuanya sendiri.
"Alhamdulillah sehat...." Kata beliau pelan.
"Ini ada titipan dari mama. Mama juga berpesan buat suguhan nanti malam sudah dipesankan mama. Nanti sebelum maghrib akan dikirim langsung kesini".
"Jangan repot-repot ko! Tolong sampaikan ke mama ya ko... terima kasih banyak untuk semuanya. Saya tidak bisa membalas apa-apa cuma bisa berdoa semoga koko sekeluarga selalu di beri kebahagiaan dan kehidupan yang berkah...". Beliau menengadahkan tangan kemudian mengusapkannya ke muka.
"Amiin..... Jangan sungkan mi! Kita ini keluarga. Mami kalau ada apa-apa bilang ke koko saja mi....". Basofi mengucapkannya setulus hati.
"Terima kasih banyak untuk semuanya ya ko..." Wanita itu menoleh ke dalam rumah dan merasa aneh karena putrinya tak kunjung keluar juga.
"Noniik.... sudah di tunggu koko ini lho...!".
"Fi....!! Fia...!". Karena tak ada jawaban sang mami pun berdiri untuk mencari putrinya.
"Masih di kamar mandi mungkin mi...", kata Basofi, ia juga merasa heran kenapa Sofiyah tak kunjung keluar padahal sebelum berangkat tadi ia sudah mengirim pesan agar dia bersiap-siap.
"Sebentar ya ko", Sang mami segera masuk ke dalam dan mencari keberadaan Sofiyah. Ternyata dia masih ada dalam kamarnya dan dari penampilannya terlihat Sofiyah sudah siap untuk bekerja.
" Sudah di tunggu koko Fia!!", Kebiasaan maminya kalau sedang marah pasti memanggilnya dengan nama.
"Mi... bilangin sama koko aku mau berangkat sendiri saja...! Bilangin kalau Fia sedang bolak balik kamar mandi karena sakit perut...", Rengek Sofiyah sambil menggoyang-goyangkan lengan sang mami.
"Kenapa memangnya? Kenapa harus bohong sama koko? Memangnya apa yang dilakukan koko sama kamu?".
__ADS_1
Sofiyah bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin jika dia mengadu pada sang ibu kalau calon menantu kesayangannya sudah berani menciumnya dan yang lebih ditakutkan gadis muda itu adalah ancaman Basofi . Ia takut Basofi akan melakukan sesuatu di luar kendali.
"Koko dan keluarganya sudah banyak sekali membantu kita. Kamu tahu bagaimana harus membalas budi kan?".
Sofiyah meremas jemari lentiknya sambil menggigit bibir bawahnya. Kalau dia mengadu pada sang mami mungkin justru dia yang akan kena marah karena Bosofi selalu menjadi pria baik di depan para orang tua.
Eee.......!!!" Sang ibu sedikit menyeret putrinya agar mau keluar dari kamarnya.
Mungkin terbersit dalam hatinya sang mami seperti menjual dirinya untuk menebus utang budi keluarganya.
Sofiyah mencoba meneguhkan hatinya bahwa memang dialah yang berkewajiban untuk membalas budi baik keluarga Basofi dan ia juga ingin mengabulkan keinginan kedua orang tua nya yang menjodohkan dia dengan lelaki brengsek macam Basofi.
Hatinya berkecamuk menolak jika ia harus jatuh pada Basofi, rasanya tak rela jika seumur hidup ia harus menghabiskan masa tua bersamanya.
Basofi langsung berdiri ketika melihat Sofiyah keluar terlebih dulu karena maminya mendorongnya dari belakang.
"Kami langsung berangkat ya mi, ini sudah sedikit telat. Nanti motornya Sofiyah akan diantar ke sini..."
"Terima kasih ya ko.... Hati-hati di jalan!", Pesan wanita paruh baya itu sambil mengantar keduanya sampai mereka tak terlihat.
Saat sudah duduk di dalam mobil Basofi berkali-kali melirik ke arah Sofiyah yang membuang muka ke arah jendela. Ia mengendarainya dengan kecepatan sedang.
"Kenapa tidak mau berangkat bersamaku?", tanya Basofi dengan nada dingin. Ia bisa mendengar perbincangan Sofiyah dan maminya tadi karena rumah itu sangat kecil sehingga dia bisa mendengarnya samar-samar dan ia bisa menyimpulkan jika gadis disampingnya tak ingin berada dalam satu mobil dengannya.
"Kenapa, kau takut padaku?", Tanya Basofi menekan suaranya.
"Tidak ..." Jawab Sofiyah pelan.
"Aku tidak dengar....!", kata Basofi sedikit keras.
"Tidak..."Jelas Sofiyah dengan suara yang dikeraskan sambil menatap ke depan agar Basofi bisa melihat gerakan bibirnya dengan jelas.
"Tenang saja! Kenapa kau secemas itu? Aku bahkan tidak tertarik kepadamu." Ucapnya penuh kesombongan.
Owh.... sungguh kata-katanya sangat menusuk hati siapapun yang mendengarnya. Lidah tak bertulang itu seperti ular yang berbisa bisa membuat orang mati seketika. Lalu ciuman semalam itu maksudnya apa?
__ADS_1
"Bagus kalau begitu. Jadi aku tak perlu takut lagi". Sofiyah tersenyum sinis menanggapinya. Hatinya perih bak teriris sembilu. Bagaimana bisa dia bersikap manis di depan maminya tapi berubah menjadi arogan saat bersama dengannya.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?", tanya Basofi yang menyadarinya
" Aku pernah mendengar orang yang baik akan mendapatkan jodoh orang yang baik pula dan orang yang perangainya buruk akan mendapatkan orang yang sefrekuensi juga."
"Owh.... jadi maksudmu kau adalah orang yang baik dan aku adalah orang jahat?"
"Aku tak mengatakan seperti itu. Kenapa koko mengasumsikan itu seperti keadaan kita?"
"Lalu apa maksudmu?"
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang pernah kudengar. Itu saja." Sofiyah menjawabnya dengan ketus seperti tak merasa takut padahal hatinya sebaliknya. Sebenarnya dia takut hanya saja ia ingin berontak agar Basofi semakin membencinya sehingga malas untuk sekedar berdekatan dengannya.
Hatinya sendiri juga diliputi keraguan. Berharap suami yang akan menemaninya nanti adalah pria baik yang bijaksana dan tidak mata keranjang. Tapi dia juga ingin melaksanakan wasiat papi yang disayanginya.
Kegamangan menyelimuti wajahnya, haruskah seumur hidup dia harus terikat dengan lelaki penyuka wanita seperti Basofi yang kebiasaannya itu bukan hanya sekedar suka saja tapi sudah mendarah daging dan menyerap masuk ke dalam pori-porinya.
Sofiyah minta berhenti saat mereka hampir sampai di kantor tempat mereka bekerja tapi Basofi tak mengizinkannya.
Sofiyah mencoba menerka apa lagi yang ada di otak atasannya itu.
Sesampainya di depan lobi Basofi segera keluar dari mobil dan salah seorang security membukakan pintu untuk Sofiyah kemudian mengambil alih kemudi untuk membawanya ke tempat parkiran.
Semua mata memandang ke arah mereka dan itu membuat Sofiyah kikuk dan gerah. Ini adalah pertama kalinya Basofi terang-terangan menunjukkan kebersamaan mereka di area publik.
Semua orang memberi hormat saat melihat kedatangan bos pemilik perusahaan dan setelah mereka agak menjauh barulah mereka membicarakan sang atasan.
Biasanya Basofi keluar dari ruangannya dengan seorang wanita seksi dengan baju kekurangan bahan yang bergelayut manja di lengannya. Ini adalah kali pertama Basofi datang bersama seorang wanita berbaju tertutup dan mereka mengenal Sofiyah sebagai sekertaris nya.
Mereka datang bersamaan tapi tak berjalan bersisian. Basofi berjalan di depan sedangkan Sofiyah berjalan sangat lambat di belakang.
Kasak kusuk langsung terjadi terutama di antara para resepsionis yang sering menjadi objek mainan Basofi. Dengan rayuan gombalnya atau dengan tangannya yang kadang terasa gatal saat melihat benda bersembulan di tubuh para wanita.
"Berkerudung tapi kelakuannya kayak gitu...."
__ADS_1