
Sofiyah buru-buru keluar karena mendengar suara-suara berisik dari luar seperti orang yang sedang menurunkan barang-barang.
"Taruh semua disitu! Setelah sarapan baru diberesin semuanya. Aku butuh energi banyak untuk melanjutkan aktifitas. Sayang sekali kau tidak tahu rasanya jadi pengantin baru!" Basofi berkacak pinggang sambil menatap Mikail yang cengo karena baru datang tapi langsung di serang. Mimpi apa Mikail semalam.
Sofiyah yang berada di belakang punggung Basofi langsung mencubit pinggang suaminya yang berkata absurd.
"Aww.... sakit sayang!" Basofi mengusap pinggang yang dicubit istrinya barusan kemudian merangkul pundak Sofiyah dan mengecup pipinya membuat gadis itu malu karena beberapa orang yang sedang berada di situ melihat perbuatan suaminya.
"Memang Mikail itu bertamu tak tahu waktu, mengganggu saja!" Lagi-lagi Mikail yang kena batunya padahal tidak salah apa-apa. Datang kesitu juga atas perintah atasan somplaknya. Disuruh membeli makanan dan berbagai keperluannya selama tinggal disitu. Sekarang malah dijadikan sasaran kemarahan sama si atasan.
Sofiyah buru-buru masuk ke dalam ruang tamunya takut Basofi semakin menjadi-jadi.
"Apa tidak ada keluarga papi dan mami yang datang kemarin?" Tanya Basofi saat duduk bersama Sofiyah sambil makan bakmi kesukaan sang istri.
"Aki tidak punya nomer mereka" Kata Sofiyah.
"Hubungi nomer ini saja!" Kata Basofi sambil menunjuk nomer yang tercantum di kotak box yang mereka makan.
__ADS_1
"Sewaktu mami dan papi masih ada saja kami sudah tidak berhubungan. Masa sekarang tiba-tiba saja aku datang" Kata Sofiyah sedih.
"A'....! Ayo a'....! Kalau tidak mau aku suapin aku masih punya satu cara lain!" Kata Basofi lagi-lagi mengancam sang istri agar mau makan dan membuka mulutnya untuk menerima suapan darinya.
Seperti biasa Sofiyah tak bisa menolak kehendak pria pemaksa itu jika untuk masalah-masalah sederhana. Ia membuka mulutnya sambil membuang muka karena ada Mikail di ambang pintu yang sudah pasti mendengar perkataan Basofi tadi.
" Kalau hari ini aku kerja bagaimana?" Tanya Basofi tiba-tiba membuat Aya tersedak makanannya.
"Uhuk-uhuk uhuk uhuk...."
"Hati-hati sayang! Ia memberikan minuman kemasan rasa kopi yang di belikan Mikail tadi.
"Tidak boleh? Ok aku akan bekerja dari rumah. Kau dengar tadi Nyonya bilang apa Mek? Dia tidak mau jauh dari ku jadi bawa semua pekerjaan ku kesini!"
"Uhuk uhuk uhuk" Aya semakin terbatuk-batuk karena Basofi semakin melantur bicaranya padahal dia tak bilang apa-apa.
"Sayang hati-hati makannya!"Basofi mengusap bibir Sofiyah yang belepotan air minum sambil memberikan senyum tergantengnya.
__ADS_1
Aya memukul paha Basofi di sela-sela batuknya karena geram dengan kelakuan suaminya.
"Koko kenapa jadi aneh begini sih?" Tanya Sofiyah sambil mengusap dadanya yang masih batuk sesekali.
"Mek!!! Jangan lihat kesini, istriku jadi malu" Teriak Basofi semakin menjadi-jadi membuat Mikail yang sedari tadi duduk diam saja tak tahan untuk menjawab atasannya.
"Lebih baik cepat habiskan sarapan anda Tuan, kami juga ada pekerjaan lain yang sedang menunggu. Sampai kapan kami harus menunggu anda bermesra-mesraan? Mikail yang masih punya rasa pada Sofiyah kini sedang berusaha mengenyahkannya karena status Sofiyah sekarang sudah menjadi seorang istri.
"Mek, kau...emph"
Sofiyah memasukkan mi sampai penuh ke dalam mulut Basofi dengan paksa dan menyuapinya terus menerus agar lelaki itu berhenti mengoceh dengan hal-hal yang tak jelas.
.
.
.
__ADS_1
Dikit dulu ya, semoga besok bisa lebih panjang. Makasih buat dukungan kalian semuanya. love you...š