Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
lepas kendali


__ADS_3

Basofi mengendarai mobilnya tak tahu arah, hanya melaju mengikuti pandangan matanya. Selama itu Sofiyah diam saja, hanya melihat ke kaca samping sambil memainkan sedotan minumannya.


Hal itu membuatnya marah. Bagaimana bisa Sofiyah begitu berbeda saat bersamanya sedangkan saat bersama Mikail dia bisa tersenyum dan tertawa bahagia.


Basofi yang sudah gelap mata hanya ingin menuntaskan gairahnya yang terputus tadi pada gadis kecil yang selalu membuat darahnya terbakar karena emosi. Gadis kecil yang selalu berpakaian tertutup itu seakan tak menyadari jika buaya darat disampingnya sedang ingin memangsanya.


Basofi yang biasanya menyebut nama Sofiyah di puncak kenikmatannya kini sudah tak lagi berpikir jernih. Dia menyamakan Sofiyah dengan para gadis yang biasanya bersekongkol dengannya saat melakukan dosa besar dan keji itu.


Melihat Sofiyah melipat bibirnya saat minum dengan sedotannya semakin membuatnya penasaran dengan rasa bibir yang dipoles warna pink itu.


Pikiran liarnya yang biasanya dia tekan kini tak bisa lagi di tahannya. Sisi lain Basofi mengatakan jika Aya hanya gadis yang tidak berbeda dengan gadis-gadis yang menjadi partnernya. Dia hanya berpura-pura dan berlindung di balik pakaian tertutupnya.


Di tempat yang agak sepi, Basofi menepikan mobilnya. Ia segera melepas sabuk pengaman dan mendekati Sofiyah dengan gerakan cepat dia meraih tengkuknya dan mencium bibir Sofiyah dengan paksa.


Sofiyah begitu kaget dengan ulah Basofi. Ia memukul-mukul pundak Basofi yang seperti kesetanan. Menciumnya dengan sangat beringas meskipun tidak mendapat balasan dari sang gadis.


Basofi seakan hilang kendali, dia tak perduli dan melanjutkan aksinya menikmati bibir Sofiyah. Sedangkan si gadis yang semakin mengeraskan pukulannya di pundak dan dada sang lelaki.


"Emh.....". Sofiyah berusaha melepaskan bibirnya dari Basofi tapi tak bisa.


plak plak plak !!!!


Tiba-tiba Babas merasakan celananya basah bukan karena mencapai kenikmatan tapi rasanya dingin seperti es dan itu refleks membuat Basofi melepaskan ciumannya.


"Shitt...". Celananya basah karena es yang dipegang Sofiyah tumpah tepat di bagian miliknya. Basofi segera mengambil tisu dan berniat membersihkan celananya tapi


"Byurr...". Basofi mendapatkan siraman es tepat di wajahnya dari Sofiyah yang kini merah padam mukanya karena marah. Basofi menutup matanya karena merasa marah dengan Sofiyah yang menolaknya mentah-mentah. Dia tahu gadis itu berusaha untuk keluar dari mobil tapi tak bisa karena Basofi menguncinya dari tempatnya.


"Buka pintunya!!!!". Ia menggedor-gedor pintunya sambil menangis tapi Basofi hanya menatapnya saja karena masih marah.


'Seharusnya aku yang kesal dan marah tapi kenapa sebaliknya, kenapa justru kamu yang merasa tersiksa dan teraniaya?' Batin Basofi yang sedang sakit hati.


"Buka pintunya atau aku akan teriak!!!!!". Suara Sofiyah semakin mengeraskan teriakannya.


"Shitt!!! Dengan terpaksa Basofi membuka kunci pintunya.

__ADS_1


Begitu mobilnya terbuka Sofiyah melempar gelas plastik yang sudah habis isinya tepat di muka Basofi dan dia pun segera keluar dan berlari.


Buru-buru Basofi keluar dan berlari sambil menekan remot untuk mengunci mobilnya. Ia mengejar Sofiyah yang berlari dengan kencang menyibak kerumunan manusia sambil mengusap bibirnya berkali-kali seolah-olah ada kotoran yang menempel di bibirnya dan harus di bersihkannya.


Basofi melihat hal itu dan hatinya terasa sakit, bagaimana bisa Sofiyah memandang rendah dirinya.


"Maaf permisi..". Basofi harus melewati para pejalan kaki lain yang juga punya kepentingan sendiri-sendiri.


"Aya tunggu!!!". Basofi berteriak karena Sofiyah kini menyeberang jalan tanpa menoleh kiri kanan padahal mobil dan kendaraan lainnya berseliweran.


"Tin tin tin......"


"Ciiiitttt....."


Basofi mencoba mengejarnya sambil memberi tanda dengan tangannya agar kendaraan-kendaraan itu berhenti sejenak membuat para pengendara marah-marah dan berteriak. Mereka membunyikan klakson sambil mengumpat karena lalu lintas menjadi kacau karena ulah dua manusia itu.


"Kau kira jalan ini milik nenekmu?!!" Salah satu pengendara mobil mengeluarkan kepalanya dam mengumpat pada Basofi yang sudah berada di tepian trotoar.


Basofi sebenarnya bisa mengejarnya dengan mudah karena langkah kaki Sofiyah yang terbilang pendek bila dibandingkan dengannya. Hanya saja banyak orang yang harus dilewatinya dan mereka hanya melihat saja tanpa mau ikut campur urusan orang lain.


"Lepas! Atau aku akan teriak!!!" Teriakan gadis itu membuat orang-orang memperhatikan mereka. Air matanya sudah membasahi pipinya. Jilbabnya kusut karena digunakan oleh sang empunya untuk menggosok bibirnya dan mengusap air matanya.


" Ok fine...". Basofi melepaskan tangannya dari Sofiyah dan mengangkatnya.


Badan Sofiyah luruh ke bawah, ia menangis sesenggukan dengan menelungkupkan wajahnya diatas telapak tangannya yang bertumpu pada kedua lututnya.


Orang-orang banyak yang berhenti dan memperhatikan mereka.


"Kenapa mbak?", tanya salah seorang lelaki sambil mendekati Sofiyah.


"Jangan ikut campur! Dia calon istriku!", teriak Basofi pada lelaki itu.


" Beneran mbak?", orang itu sepertinya belum mempercayai Basofi.


Karena Sofiyah tak menjawab, lelaki itu percaya jika Basofi dan gadis yang sedang menangis itu adalah calon suami istri.

__ADS_1


Sofiyah terlihat sangat kecil saat seperti itu. Ingin rasanya Basofi memeluknya dan mendekap gadis itu agar tenang dan berhenti menangis.


"Ay.. ayo aku antar pulang!". Basofi berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Sofiyah.


Sofiyah mengusap air matanya dengan ujung jilbabnya. Ia kemudian berdiri sambil melepaskan sepatunya. Dia berjalan meninggalkan Basofi sambil menenteng sepatunya. Sebelah lengannya lagi-lagi mengusap bibirnya sendiri berkali-kali. Sofiyah baru sadar jika tas dan hapenya tak dibawanya. Mungkin tertinggal di bengkel tadi.


"Aku akan mengantarmu pulang....". Basofi yang berada di belakang gadis kecil itu berkata dengan pelan.


Sofiyah berbalik pada Basofi, "Bukan urusan you I pulang atau tidak! Pergi saja!!!".


Sofiyah berjalan kembali sambil mengusap air matanya. Ia merasa hina. Apalagi Basofi sama sekali tak menghormatinya, menganggapnya murahan layaknya gadis-gadis yang sering datang padanya.


Sofiyah sadar jika dia juga pernah melakukan dosa besar itu tapi kini ia sudah bertaubat.


Hiks....hiks....


Sofiyah terus saja menangis dan terus saja melangkah tanpa tahu tujuan.


Suara adzan Ashar membuatnya sadar dan dia segera mencari masjid atau musollah untuk solat dan beristirahat sejenak. Ia baru sadar kalau kini ia sudah berada di tempat yang asing. Ia tak tahu sedang ada di mana. Meski asli dari kota itu tapi tempat mainnya dulu cuma di mall dan di kafe. Tempat ini seperti baru pertama kali didatanginya.


Ia menuju masjid yang sedang mengumandangkan pujian dan solawatan untuk menunaikan kewajiban dan meminta pertolongan pada Sang Pemberi kehidupan.


Setelah selesai dia duduk di serambi masjid dan melihat ke jalanan. Ia tak tahu harus naik apa sedang uang ia tak bawa. Hape juga tak bawa.


Beberapa saat kemudian ada mobil avanza berwarna putih berhenti di depan gerbang masjid. Seorang lelaki keluar dari dalam masjid dan Sofiyah kaget karena lelaki itu adalah Basofi.


"Ayo pulang, kita naik itu! Aku janji tidak akan macam-macam...". Basofi duduk tak jauh dari Sofiyah sambil memandang gadis yang masih berumur belasan tahun itu.


Basofi berjalan duluan karena merasa tidak enak hati dengan mobil yang sudah dipesannya secara online karena dari tadi dia mengikuti Sofiyah dari jarak yang tak seberapa jauh.


"Ayo Ayy....!". Basofi membuka pintu untuk Sofiyah.


Sofiyah yang tak punya pilihan akhirnya menerima ajakan Basofi dan segera naik ke dalam mobil.


Begitu masuk Basofi mengutak-atik hapenya karena mau memesan gofood yang akan dia tujukan ke rumah Sofiyah, dia yakin saat ini sofiyah pasti sudah lapar.

__ADS_1


__ADS_2