Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Babas


__ADS_3

Malam ini adalah malam pertama kami sebagai suami istri. Malam yang seharusnya penuh gairah dan kebahagiaan seperti yang biasanya di lewati oleh pengantin pada umumnya tapi itu tidak terjadi pada kami karena proses pernikahan kami yang memang berbeda dengan pasangan lainnya.


Semua orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing setelah acara tahlilan tadi, termasuk juga keluargaku. Papa, mama juga Daniel. Hanya tinggal aku dan Sofiyah yang berada di dalam rumah.


Sebelum pulang Mama mewanti-wanti aku untuk menjaga Sofiyah yang sekarang sudah menjadi istriku, menjadi tanggung jawabku dengan sepenuh jiwa dan ragaku.


Aku tak pernah sekalipun berpikir akan menikah di depan jenazah tapi keadaan memang harus berjalan sesuai takdir yang sudah digariskan.


Pagi itu mama mengirim banyak pesan suara menggunakan ponsel Sofiyah. Beliau memintaku datang dengan membawakan banyak makanan. Mami bilang hari ini papi akan datang dan mengajaknya pulang. Bahkan mami juga mengatakan sebelum duhur nanti papi akan menjemputnya dan mami ingin sekali menyaksikan aku dan Sofiyah menikah. Mami juga menegaskan kalau itu adalah permintaan terakhirnya.


"Tolong ya ko, siapkan maharnya sekalian.


Uang seratus ribu saja juga tidak apa-apa.


Mami pasrahkan Fiah pada koko


Mami minta maaf kalau selalu merepotkan tapi setelah ini mami nggak akan minta apa-apa lagi.


Ini dalah permintaan mami yang terakhir.


Tolong dikabulkan ya ko! "


Suara mami ketika di telpon sangat jelas dan lancar. Sama sekali tak kelihatan kalau mami sedang sakit. Berbeda sekali saat bertemu secara langsung tadi. Wajah mami terlihat pucat dan lemas. Bicara pun terlihat dipaksakan.


Dan sesuai permintaan mami aku membawa mahar berupa cincin yang memang kupersiapkan sejak lama untuk calon istriku padahal waktu itu aku tak berniat untuk menikah. Aneh kan diriku?


Aku juga membawa uang cash sebesar 5 juta untuk mahar yang akan kuberikan pada Sofiyah. Tadinya aku berpikir mungkin kami menikah secepatnya di depan mami yang sedang sakit tapi kenyataannya saat aku tiba di sana Sofiyah malah sedang berduaan dengan cowoknya. Berbincang mesra dengan si jangkung. Sial...


Jangan tanya bagaimana perasaan ku. Marah, cemburu, galau, kesal, kecewa semua campur aduk jadi satu. Aku takut terjadi sesuatu pada mami tapi gadis itu malah bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa.


Apa cuma aku yang berpikir terlalu jauh?

__ADS_1


Saat aku datang Aya cuma menyuruhku masuk ke kamar mami dan dia melanjutkan obrolannya dengan si Rayhan. Aku seolah angin lalu yang tak dianggap perlu. Sakitnya hatiku...


Dan saat aku masuk ke kamar mami beliau memegang dadanya seperti kesakitan tapi mami menahanku untuk tidak memanggil Aya. Mami mengulangi kata-kata yang diucapkannya lewat invoice tadi. Menitipkan Sofiyah padaku dan ingin melihat kami menikah secepatnya dan beberapa hal lain yang diulang-ulang.


Tak lama setelah mama dan papa datang Mami memintaku untuk memanggil Abah Fani dan Bu haji, istrinya,


karena waktunya tinggal sedikit lagi. Mami kelihatan kesakitan waktu bernafas, tarikan nafasnya juga mulai terdengar berat .


Sontak saja aku langsung bergegas berlari untuk mencari abah Fani dan bu haji.


Dan untuk pertama kalinya aku melihat orang meregang nyawa di depan mata kepalaku sendiri. Hati ku semakin takut karena suatu saat aku pasti akan mengalaminya juga. Hatiku semakin mantap untuk bertaubat dan berbenah diri untuk menjadi lebih baik lagi.


.


.


.


Aku mengangkatnya tanpa meminta izin dulu pada sang pemilik raga.


"Ko!!! Lepasin ...... turunin aku!!!" suara Aya serak karena terlalu banyak menangis tadi. Ia memukul dada dan lenganku dengan satu tangannya. Tentu saja tak ada apa-apanya. Tangannya begitu kecil apalagi sekarang tubuhnya lemas sekali. Dari siang tadi dia hanya makan sekali karena aku mengancamnya tadi. Kalau tidak mau makan aku akan menciumnya barulah dia mau makan meski cuma beberapa suap saja.


"Diamlah kalau tidak mau jatuuh..Atau aku akan menciummu...,.!" Aku menekan suaraku karena Aya memberontak dalam gendonganku.


Aku menaruh tubuh kecilnya di atas tempat tidurnya yang juga berukuran kecil dengan pelan dan hati-hati. Mata kami bersirobok dan kami saling menatap untuk beberapa detik. Tiba-tiba jantung ku serasa berkejaran, berdetak tak karuan.


Cup


Aku mencium bibirnya sekejap. Hanya mengecup saja dan setelahnya aku memandang wajahnya lagi.


" Itu hukuman karena kau tak mau diam !" Kataku untuk meredakan debaran jantungku dan mengurangi rasa canggung yang tiba-tiba menyergapku. Ada apa dengan diriku?

__ADS_1


Aya segera membalikkan badan dan kini posisinya memunggungiku lagi. Tanpa banyak kata aku segera berganti baju di dalam kamar itu dan segera berbaring diatas tempat tidur yang super kecil itu dan memeluknya dari belakang.


Tubuh kami saling berdekatan karena tak akan muat jika aku harus tidur terlentang. Kaki ku pun harus di tekuk karena tubuh ku lebih panjang dari ukuran dipan.


Aya menepis tanganku yang melingkar di perutnya.


"Apa kau lupa kalau aku ini sekarang ini suamimu?" Kataku tanpa melepas tangan ku yang ada di perutnya.


Mendengar hal itu Aya menghentikan tangannya yang berusaha melepaskan pelukanku.


"Tidurlah....! Aku tidak akan meminta lebih hari ini..." Kataku meski bagian lain dari diriku seperti bergerak dan menggeliat bangun dari tidurnya.


Aya yang bergerak tak tenang membuatnya semakin menegang dan ingin keluar dari sarang. Apalagi aku sudah lama berpuasa ingin rasanya berbuka kalau tidak ingat dengan keadaannya yang masih sedih karena kehilangan orang tua.


" Apa kau sengaja bergerak untuk membangunkannya?" Kataku sambil memejamkan mata berusaha meredam sesuatu dari dalam diriku yang sudah mulai panas.


Seketika Aya berhenti bergerak kemudian mengambil tanganku dan dia dekatkan dengan mulutnya. Aku berpikir dia ingin mencium tanganku dan meminta maaf kepadaku karena belum bisa memenuhi tugasnya sebagai seorang istri.


"Aaaghhh.... " Aku berteriak kesakitan karena Aya ternyata menggigit tanganku. Sial! Gadis ini kenapa menjadi bar-bar begini.


"Kau gila ya Ay? Ssshhhh..." Aku mendesis kesakitan.


"Ya, aku gila dan kau pemaksa . Bukankah kita pasangan yang cocok sekali?" Aya ternyata punya kekuatan lebih untuk marah-marah.


" Benar, kita memang pasangan suami istri yang sangat cocok. Dan selayaknya suami istri kau tahu kan apa yang harus kita lakukan di malam pertama? Sepertinya kau sudah tidak sedih lagi..." Kataku sambil menyeringai.


"Jangan kurang ajar ya ko atau aku akan menggigit tanganmu lagi..."


"Gigit saja ini! " Aku menempelkan tanganku di mulutnya yang langsung di tepisnya. "Lumayan kan kalau tanganku sakit aku punya alasan agar kamu mau memandikanku dan membantuku dalam banyak hal.


"Cih ....."

__ADS_1


__ADS_2