Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Mulai terbuka.


__ADS_3

Babas merengkuh tubuh istrinya yang makin kecil dan kurus karena makan hati setiap hari saat bersamanya. Untungnya Aya diam saja saat dia memeluknya. Meskipun ia tak nyaman dengan masker dan sarung tangan yang dipakainya tapi dia hanya bisa pasrah. Yang penting istrinya tak menolak dirinya itu sudah cukup baginya.


"Bilang dulu kemana koko ninggalin Fia setiap hari?" Tanya Sofiyah sambil mendongakkan wajahnya menghadap Basofi.


"Aku belajar mengaji sama ustadz Syafiq biar bisa mengimami kamu"


Sofiyah menurunkan masker Babas sehingga kini berada di bawah dagunya.


"Belajar ngaji?" Tanya Aya tak percaya.


Pria campuran tionghoa jawa itu menganggukkan kepala sambil memamerkan senyum terbaiknya.


"Nggak usah senyum-senyum! Jelek!" Sergah Sofiyah.


"Iya aku tahu aku jelek kamu yang cantik" Pria berwajah tampan dan macho itu sekali lagi tersenyum untuk merayu istrinya yang belum mau membalas senyumnya.


"Nggak lucu" Katanya ketus padahal dalam hatinya dia ingin sekali tertawa melihat suami yang dulu suka memarahinya kini bertekuk lutut padanya.


"Aku nggak ngelawak Ay. Aku lagi merayu istriku. Ayo tidur sudah malam! Besok kalau belum puas boleh dilanjutkan!" Basofi menarik Sofiyah kedalam rengkuhannya tapi Sofiyah menahannya. Ia membenarkan posisi masker agar kembali seperti semula. Menutupi mulut dan hidungnya dengan sempurna.

__ADS_1


Basofi menarik nafas dan menghembuskannya dengan keras membuat Aya melihat wajahnya lagi.


"Kenapa? Nggak iklhas? Ya sudah kalau ikhlas nggak usah deket-deket sama Fia!"


"Siapa yang nggak ikhlas! Ikhlas kok. Cuma bernafasnya agak susah kalau pakai masker." Basofi kemudian mengulangi lagi. Menarik nafas dan menghembuskannya dengan keras agar istrinya tak marah lagi.


"Maafin aku ya sayang!" Kata Basofi sambil memposisikan bibirnya yang bertutupkan masker tepat di kepala milik istrinya.


Sofiyah yang mendengar hanya diam saja tak menjawab permintaan maaf sang suami. Dia yang masih jual mahal belum mau membalas pelukan Basofi. Dia hanya menaruh kedua tangannya di depan dada sang suami.


Malam-malam Sofiyah bangun dan tenggorokannya terasa kering karena sudah menggunakan suaranya untuk mengoceh semalaman. Ia mendongakkan kepala melihat sang suami yang masih memakai masker dan yang terlihat hanya matanya saja.


Fiah melepas masker sang suami karena merasa kasihan, pasti kurang nyaman tidur dalam keadaan demikian. Saat melihat bibir Basofi yang kehitaman ada rasa ingin menciumnya. Ia mengusapnya menggunakan ibu jarinya dengan perlahan tapi pikirannya langsung ingat kembali jika bibir itu sering dipakai untuk mencium banyak wanita.


"Awww....!!!" Sontak saja matanya langsung terbelalak mendapatkan sentilan penuh kekuatan dari wanita yang sudah jadi istrinya.


"Ke-kenapa sayang? Aku salah apa lagi?"


"Ngeselin tahu nggak?"

__ADS_1


Basofi yang masih loading merasa bingung. Baru juga bangun sudah dapat kemarahan dan kebencian dari sang istri.


"Aku salah apa lagi?"


"Au ah!".Sofiyah menyingkap selimutnya kemudian berdiri untuk turun ke bawah niat hati ingin mengambil air minum karena semalam ia lupa tentang hal itu.


"Mau kemana Ay?"


"Ngambil minum!!"


"Ini ada minuman..." Kata Basofi bergegas mencegah sang istri agar tidak keluar kamar.


"Ada kulkas disini...." Babas mendorong istrinya dari belakang dan menunjukkan kulkas yang berada di bawah nakas. Bentuknya kecil dan letaknya dibawah membuat Sofiyah tak menyadarinya.


Sofiyah duduk di bibir tempat tidur dan minum air dingin yang diambilkan Basofi. Ia melihat nasi goreng buatan Basofi yang pastinya sudah dingin tapi perutnya terasa lapar dan dia ingin menikmatinya. Tanpa babibu Sofiyah langsung makan mencoba bersikap biasa meskipun hatinya merasa malu juga.


Babas yang melihat hal itu tersenyum di kulum melihat tingkah istrinya yang makan seperti orang kelaparan.


"Nggak usah ditahan. Kalau senyum, senyum aja!" kata Fiah tanpa melihat ekspresi suaminya.

__ADS_1


"Enak nggak?" Tanya si pria.


"Biasa!!" Jawab Aya


__ADS_2