Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
Mikail


__ADS_3

Pasangan suami istri itu berangkat ke kantor dari tempat Abah Fani. Lagi-lagi merepotkan Mikail. Setelah semalam dia pulang memakai ojol pagi ini pun dia datang ke pondok menggunakan jasa mamang ojol kembali.


Basofi benar-benar tidak mau mengemudi sendiri. Katanya malas sekali. Dia hanya ingin duduk di belakang bermesraan dengan sang istri yang tentu saja hal itu semakin membuat Mikail jengah. Telinganya dipaksa mendengarkan hal-hal yang tak semestinya. Hal-hal yang berbau dewasa.


Padahal dia juga ingin menikmatinya dengan yang halal seperti bos nya yang sudah pensiun dari hal-hal yang berbau seperti itu.


"Kenapa?" Tanya Basofi yang melihat raut muka sedih di wajah Sofiyah.


"Abah bilang rumah itu akan ditempati oleh orang lain..." Sofiyah tidur di pangkuan Basofi. Tumben sekali hari ini dia merasa mual saat melihat makanan juga badannya terasa pegal-pegal dan remuk redam. Ia seperti tak punya kekuatan untuk berdiri sehingga membuatnya tiduran dipangkuan suaminya meskipun ada Mikail di mobil yang sama.


"Hem...."


"Rumah itu sangat bersejarah untukku. Kadang-kadang aku juga ingin berkunjung dan menginap disana saat rindu sama mami papi" Sofiyah menghela nafasnya mengingat rumah itu memang bukan miliknya dan sudah sewajarnya jika rumah itu akan dipakai untuk orang yang membutuhkan seperti keluarganya dulu.


"Mungkin perlu waktu setidaknya dua bulan untuk ditempati" Kata Basofi.


"Nanti kalau aku pingin kesana gimana?" Keluhnya lagi.


"Ini makanya mau dibangun jadi dua lantai. Yang bawah untuk orangnya Abah nanti yang atas untuk kita "


"Maksudnya?" Sofiyah melihat wajah Basofi yang sedang menunduk melihat ke arahnya.


"Bangunan itu akan dibangun dulu gadis kecil..... Biar sewaktu-waktu kita bisa kesana" Babas menyentuh ujung hidung mungil Aya.


"Apa?" Basofi seolah tahu dengan pertanyaan yang mau diutarakan istrinya.


"Aku sudah bermusyawarah dengan abah dan beliau mengizinkannya. Untuk orang yang akan menempatinya akan diminta untuk tinggal di pondok terlebih dulu"


Aya ingin bertanya kapan dia membicarakannya dengan Abah dan sudah membuka mulutnya tapi urung karena Basofi menjawabnya lebih dulu.


"Tadi pagi habis solat subuh".


"Makasiiih..." Kata Sofiyah dengan mata yang memancarkan kebahagiaan.


"Nggak ada yang gratis ya" Kata Basofi. "Aku nggak butuh terimakasih secara verbal aku maunya yang actual" Ia mengulum senyum sambil menunduk mencium bibir berwarna orange milik sang istri.


"Koko nggak pernah mau rugi ya?" Kata Aya sambil memegang bibirnya yang tadi ia poles dengan lipstik warna oranye sesuai keinginan Babas. Setiap hari ia harus tanya pakai lipstik warna apa dulu sebelum memoleskan di bibirnya karena itu permintaan Basofi.

__ADS_1


"Di dunia ini semua orang mau untung. Siapa orang yang mau merugi. Sini, aku mau lihat orangnya?" Kata Babas kembali melirik bibir yang tadi hanya dikecupnya saja. Tapi kali ini ia tak bisa menahan godaan karena Sofiyah menggigit bibir bawahnya.


Diapun menyatukan bibir dengan lembut sampai Aya terbuai dan lupa kalau ada Mikail diantara mereka sampai suara decapannya mengganggu konsentrasi Mikail yang sedang mengemudi.


"Fucking shiiitttt!!!!! Apa kalian tidak bisa melakukannya di dalam kamar saja. Oh my baby!!!" Ia menelan ludah mendapati ada bagian dari tubuhnya yang mulai menggelepar dan membuat sangkarnya menjadi sesak.


Sofiyah memukul lengan Basofi agar melepaskan tautan bibir mereka dan Basofi tergelak usai melepaskan bibir manis yang menjadi candunya. Ia merasa puas pada istrinya dan puas karena berhasil membuat temannya menderita.


Hari itu mereka bekerja seperti biasa. Meskipun status Aya masih menjadi sekretaris tapi secara defacto Mikail lah yang menjalankan dan menyelesaikan urusan yang terkait dengan pekerjaan. Hampir semua dilimpahkan pada Mikail yang baik hati dan tidak sombong tentu saja dengan gaji dua kali lipat yang bisa memanjakan isi saldo tabungannya.


Sebenarnya Sofiyah sudah minta berhenti tapi Basofi yang tidak rela kalau tidak melihat Sofiyah dalam waktu lama. Ia lebih memilih istrinya menghabiskan waktu di ruangan pribadinya sehingga sewaktu-waktu dia bisa melihatnya.


Ditambah lagi dia sering mual kalau makan tanpa melihat wajah istrinya. Alhasil dia akan makan banyak kalau Aya ada disisinya. Sedangkan Aya sendiri selama ini hanya mengalami perubahan pada nafsu makan yang berlebih dan sering lemas dan letih. Sedang gejala mual baru dirasakannya pagi ini, biasanya tidak pernah sama sekali.


"Sayang.... waktunya pulang" Basofi membelai pipi putih yang halus milik sang istri yang hanya berpindah posisi tanpa membuka matanya. Membuat Babas gemas dan segera mencuri ciuman darinya.


"Ko...." Lenguhnya.


"Ayo pulang sudah sore! Kalau tidak mau bisa-bisa aku akan menerkammu di sini sekarang juga"


"Gadis pintar!" Babas mengusap kepala Sofiyah yang kini sudah duduk dengan rambut acak-acakan tak karuan.


.


.


.


Saat tiba di gerbang mereka bisa melihat mama berjalan mondar mandir cemas. Setelah sampai dan baru turun dari kendaraan mama menyambut dengan wajah panik dan tangan gemetaran.


"Mama kenapa ma?"


Ia tak menjawab pertanyaan dari menantunya. Hanya menepuk-nepuk tangannya sambil memandang Basofi yang sedang berjalan menuju kepadanya.


"Ko..... Kakek ko. Itu ma-maksud mama Tata...."


Basofi mengernyitkan keningnya," Kenapa Tata?"

__ADS_1


"T-tata tata mau berkunjung ke- kekesini....."


"Kapan?"


"Minggu besok. Bagaimana ini?"


Basofi memeluk mamanya yang khawatir dan kebingungan.


"Mama tenang ma!. Ini masih hari Selasa. Masih ada waktu untuk mempersiapkan segalanya buat pak tua"


"Hush!! Mulut kamu itu ya ko! Itu kakek kamu. Yang sopan sama orang tua!" Bentak mamanya.


" Lagian mama ada-ada aja. Kesininya baru lusa kenapa sekarang sudah gemetaran" Kata Babas yang langsung mendapatkan pukulan dari mamanya.


"Kamu itu ya. Ini kan pertama kalinya tata satang kesini. Mama tidak mau membuat kesalahan" Basofi tersenyum mendapati sang mama tak nervous lagi.


"Orang itu bertahun-tahun nggak pernah datang kesini tiba-tiba mau datang bertamu. Ya biarin aja. Disuguhin apa adanya saja. Nggak usah repot-repot ma!"


"Ngomong sama kamu itu memang salah. Bukannya dapat solusi malah ngerecoki" Kini mama mengahdiahkan cubitan di lengannya.


"Aduduh aduh ma aduh. Sakit ma!" Rengek Basofi untuk mencari perhatian sang istri.


"Jangan dicubiti ma. Ini suaminya Fia. Ini dedeknya nggak terima ayahnya di sakiti sama neneknya" Gumam Aya sambil memegang perutnya yang masih datar tapi terdengar di telinga mama.


"Eh?"


Baru kali ini Sofiyah menampakkan muka cemberut pada mama yang disayanginya membuat Basofi tergelak penuh suka cita seakan telah memenangkan pertandingan tingkat nasional karena kali ini sang istri lebih memilih dirinya daripada mamanya.


"Berani-beraninya you marah with my mam" Daniel yang tiba-tiba muncul memeluk lengan mama dan menatap tajam pada kakak iparnya.


"Hush, nggak boleh gitu nyo! Yang sopan sama cece!" Kata mama sambil memukul lengan Daniel.


"Wekkk!!" Sofiyah menjulurkan lidahnya pada si adik ipar sementara Daniel hanya mencibir sambil membuang muka ke samping.


Basofi merengkuh pundak sang istri dan berjalan di belakang mama dan adik tirinya. Seulas senyum tipis menghiasi wajahnya tanpa ada yang tahu betapa bahagianya dia dengan keadaan yang sedang terjadi .


Dia baru menyadari meskipun mamanya tak diakui sebagai menantu di keluarga papa toh Daniel yang notabene anak madu mamanya lebih memilih tinggal bersama mamanya daripada dengan orang tuanya sendiri. Begitupun dengan papanya yang lebih sering pulang kesini daripada pulang ke istri keduanya. Dalam satu bulan mungkin hanya dua sampai empat kali papanya tak muncul dirumah mama.

__ADS_1


__ADS_2