Kamu Bukan Yg Pertama

Kamu Bukan Yg Pertama
01


__ADS_3

Pov Basofi


Saat mendengar sedikit keributan di dapur aku penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Aku berjalan menuju dapur untuk melihatnya dan untuk memastikan apa yang kulihat tadi benar-benar dia atau bukan, gadis kecil bermata sipit yang di jodohkan dengan ku oleh mama dan papa.


Di pintu dapur aku melihat gadis itu sedang berkacak pinggang dan sebelah tangannya menunjuk-nunjuk muka Daniel. Dia memakai baju daster dan kerudung ala-ala orang desa tapi entah kenapa dia malah kelihatan lucu dan menggemaskan. Sayangnya dia bukan tipeku. Dia pendek dan badannya yang bagian depan dan belakang nampak rata seperti jalan tol, tanpa hambatan.


"Enggak.... ngapain takut? You yang bikin I kaget tadi..". Dia berkata tanpa rasa takut pada Daniel.


Entah apa yang sedang mereka ributkan.


Kenapa mereka tampak akrab sekali? Sejak kapan mereka saling mengenal?


"Ada apa ini?" Kataku mengalihkan perhatian keduanya.


Aku tidak suka Daniel dekat dengan milikku. Dia sudah merebut mamaku jadi kali ini aku tidak akan membiarkan dia merebut gadis kecil itu meskipun aku tak menyukainya.


Mereka berdua seperti sepakat mengacuhkan ku dengan berbalik saling memunggungi. Gadis itu menuju tempat cuci piring dan Daniel pergi meninggalkan dapur tanpa sepatah kata pun.


Shittt.... Belum pernah ada cewek yang mengacuhkan ku seperti itu. Berani sekali anak kecil ini. Dia belum tahu siapa aku? Aku geram sekali padanya


Tak ada yang bisa menolak pesonaku. Bahkan cewek-cewek itu sendiri yang datang padaku menawarkan diri minta kusentuh. Bukan aku yang mencari mereka.


Mereka memiliki paras yang cantik dan tubuh mereka seksi dengan bagian yang menonjol di bagian dada dan pinggul mereka. Hot.


Gadis ini bahkan tak mempunyai sesuatu yang bisa dilihat. Wajahnya biasa saja apalagi tubuhnya yang kurus seperti lidi. Di tambah sekarang dia memakai baju daster mama yang kedomboran di tubuhnya.


Bagaimana kami bisa menikah jika milik ku tak bereaksi saat melihatnya.


"EHem....." Aku menoleh dan mendapati mama berdiri disamping ku berdehem sambil senyum-senyum.


"Maaf ya kalau mama ganggu.... Kita makan malam dulu aja yuk! Kalian bisa melanjutkannya nanti.....!" Kata mama menggoda kami.


Aku menatapnya tajam meski ia tak bisa melihatnya karena sedang membelakangi ku.


"Bentar ma.... ini lagi nyuci ini sebentar..." Katanya.


Dia benar-benar tak menganggapku ada rupanya. Benar-benar keterlaluan. Aku merasa terhina sekali saat ini.


"Udah biar aja itu. Ganti yang baru aja...!" Kata mama. "Ayo... yang lain udah pada lapar.. Atau... maunya kalau yang ngajakin koko ya...."


"Koko sama mama duluan aja, bentar lagi I nyusul..." katanya.


Aku tersenyum sinis mendengar dia memanggilku koko.

__ADS_1


'Dia sedang mencari muka di depan mama rupanya. Ok kita lihat seberapa pintar dia bersandiwara.'


Mama berjalan ke ruang makan meninggalkan kami dan karena dia masih saja belum beranjak dari tempatnya aku pun meninggalkannya dengan rasa kesal.


Di meja makan sudah ada papa di kursi kebesarannya. Mama duduk di depanku dan Daniel di sebelah mama.


Ia datang beberapa saat kemudian sambil membawa mangkuk berisi sayur. Aku mengamati tingkahnya dengan seksama.


"Taruh di depan koko sayang...!" Kata mama saat melihatnya. Ia pun berjalan mendekatiku dan menaruh mangkuknya di depanku.


Aku segera menarik kursi di sebelahku untuknya.


"Ehem...!!. ciye..!!.. perhatian banget sih ko....!!" Tak henti-hentinya mama menggoda kami.


"Ko.... kalau nikahannya di percepat aja gimana ko? Ternyata asyik banget punya anak cewek...." Kata mama lagi.


"Ehm.... Emang kalau punya anak cowok nggak enak ma?" Tanya Daniel seperti menyindirku.


"Beda lah. Anak cowok tu kan sukanya main di luar. Kalau cewek kan beda.... Kita bisa masak sama-sama, belanja bareng-bareng, pokoknya enak lah...."


"Sudah-sudah ayo makan dulu....!" Papa melerai pertikaian anak dan istrinya dan kami pun mulai makan.


Dari sudut mataku aku bisa melihat kalau dia membaca doa dulu sebelum mulai makan. Religius sekali....


"Hm...." Hanya itu jawabanku dan melanjutkan makanku. Malas sekali sebenarnya tapi aku paling tidak bisa menolak permintaan orang yang telah melahirkan ku ini.


"Fia...." Papa ingin bicara serius sepertinya.


"Eh....iya..." Jawabnya sedikit kaget.


" Mulai lusa kamu kerja jadi sekretaris koko ya, soalnya koko sudah nggak punya sekretaris...."


"Eh...." Dari nada bicaranya seperti nya dia terkejut.


Aku yang mendengar hal itu juga kaget. Bagaimana bisa papa memutuskan hal ini tanpa berdiskusi dengan ku. Aku menoleh ke arah papa dan memandangnya tajam meminta penjelasan. Tapi pria tua itu seolah tidak menyadarinya dan tetap memandang gadis di sebelahku dengan tatapan sayangnya.


Hih.... aku bergidik ngeri. Tatapan macam apa itu? Jangan bilang kalau dia tertarik juga pada gadis kecil ini.


"Tapi.... saya belum....." Dia rupanya bingung bagaimana menjelaskannya.


"Nanti bisa diajarin sama Mikail sayang....!" Kata mama menyelanya.


"Ma....!!!" Aku protes pada mama.

__ADS_1


" Pokoknya ini keputusan mama sama papa. Kita sudah berulangkali kasih kesempatan sama koko dan Mikail untuk memilih sekretaris dan hasilnya lihat sendiri kan? Mereka semua Nggak becus ngurus pekerjaan. Bisanya cuma...."


"Ehem.... "Papa berdehem untuk menghentikan kata-kata mama yang ceplas ceplos tanpa saringan.


"Mama yakin menantu mama bisa merubah cara kerja kalian berdua jadi lebih baik...."


"Uhuk...uhuk...," Tiba-tiba saja dia seperti tersedak makanannya sendiri mendengar mama bicara.


"Kalau makan itu dikunyah dulu...." Kata Daniel sambil memberikan air putihnya kepada gadis kecil ini.


"Sinyo..... yang sopan sama cece...!" Kata mama.


"Kita ini seumuran ma... How old are you? 17 or 18 maybe... "


"Onyo...!!."


"Lagian belum tentu juga sama koko. Koko kan ceweknya banyak....."


"Maka dari itu. Koko akan berubah karena kehadiran cece. Percaya deh sama mama.....!"


Percaya diri sekali mama ku ini. Tidak tahu saja kalau kami ini sedang bersandiwara. Maaf ya ma... aku tidak mau berkomitmen dengan pernikahan dan akhirnya selingkuh juga seperti papa. Lebih baik single saja. Batinku.


"Oh ya ko..., besok bisa jemput fia ke rumahnya kan?" Tanya mama lagi.


" Besok pagi-pagi aku ada acara ma!" Aku beralasan agar tak berduaan lagi dengannya.


"I saja ma". Kata Daniel menyela.


"Nggak perlu ma. I bisa naik gojek..." Jawab gadis kecil itu.


"Oh.... you maunya sama koko?" Kata Daniel lagi.


"Bukan begitu.... ok fine. Don't be to late. I harus sampai di tempat kursus jam 8 tepat. "


"Don't worry....!" Jawab Daniel bersemangat.


"Tapi....." Mama sepertinya agak keberatan dengan keputusan mereka berdua.


"Mama tenang saja.... I akan bawa menantu mama sampai tempat tujuan tanpa kekurangan suatu apapun."


"Kamu yang sopan sama cece nyo...!" Pesan mama.


"Yes i know. mama tenang aja!" Kata Daniel menyanggupi.

__ADS_1


__ADS_2