
Sofiyah berlarian di koridor rumah sakit dengan panik. Rayhan sudah mencoba menenangkannya tapi belum berhasil juga.
" Sof..... be carefull..!" Kata Rayhan mencoba menghentikan Sofiyah dengan menggenggam tangan gadis itu.
"Tapi kak Rey...."
" Semua akan baik-baik saja... " Rayhan berhasil membuat Sofiyah lebih tenang kemudian mengusap punggung tangan Sofiyah dengan pelan dan sedetik kemudian dia mendaratkan bibirnya di punggung tangan Sofiyah tanpa penolakan sama sekali.
" I am here. Don't worry!!" Anehnya Sofiyah manggut-manggut saja mendengar kata-kata Rayhan yang manis dan menenangkan.
Dari jarak beberapa meter Sofiyah melihat Basofi yang sedang berdiri di depan pintu yang diatasnya terdapat tulisan VVIP.
Basofi menatap mereka dengan tajam kemudian berjalan ke arah mereka. Matanya merah menandakan kalau pria itu sedang dalam puncak kemarahan.
Rayhan yang sudah mengetahui hubungan Sofiyah dan Basofi langsung sigap menghalangi gadisnya agar tak disakiti oleh pria yang jauh lebih tua darinya itu.
Gadis berwajah oriental itu hanya menurut saja dan malah bersembunyi di balik badan pria jangkungnya untuk mencari perlindungan agar tetap aman dari amukan singa yang sedang berjalan menuju ke arah mereka berdua.
Semakin dekat jarak Basofi, si gadis pun semakin merapatkan dirinya pada lelaki yang ada di dekatnya. Sofiyah sangat takut dengan tatapan mata orang yang di jodohkan dengannya itu.
Tapi ternyata perkiraan dua sejoli itu salah. Basofi melewati mereka berdua begitu saja membuat keduanya heran, terutama Sofiyah yang malah merasa bersalah. Ada sebagian dari hatinya yang sakit melihat Basofi memperlakukannya seperti itu. Bahkan terselip sedikit keinginan agar Basofi menarik tangannya yang kini dalam genggaman Rayhan dan membawanya pergi. Tapi nyatanya Basofi yang selalu seenaknya itu mengacuhkannya begitu saja, seolah tak menganggap dia ada.
Rayhan memeluk pundak Sofiyah dan menuntunnya untuk segera bisa bertemu dengan maminya dan gadis itu menurut seperti biasanya tapi kali ini dia menoleh beberapa kali melihat punggung Basofi.
.
"Mami .,..!!" Sofiyah melepaskan tangannya dari Rayhan dan segera memeluk maminya yang kini terbaring di ranjang rumah sakit.
"Fiah....!" Wanita paruh baya itu balas memeluk putrinya meski keadaannya masih sangat lemas.
"Maafin Fiah mi.....!!" Gadis itu sudah menangis melihat keadaan sang mami yang kini sudah di pasang infus juga oksigen di tubuhnya.
"Maafin Nonik mi..hiks hiks...." Katanya sambil tergugu dalam tangisnya di ceruk leher maminya.
__ADS_1
"Sudah.....biarkan mami istirahat ya....!" Salah seorang menepuk pundaknya pelan dan itu adalah mamanya Babas yang memang sudah berada di situ sejak tadi dan Sofiyah sempat melihatnya tapi tadi belum sempat menyapanya.
Ia melepaskan pelukannya dan bangkit berdiri sambil mengusap air matanya yang masih basah.
"Ma...." Sofiyah menyalami calon mertuanya dan mencium punggung tangannya.
Wanita yang melahirkan Basofi itu mengulurkan tisu pada sang calon menantu.
"Sudah jangan nangis lagi. Semua sudah baik-baik saja sekarang! " kata Mama Rosi sambil mengusap-usap pundak Sofiyah.
"Fi....!" Mami Sora memanggil putrinya tapi matanya menatap lelaki yang berdiri diam saja di ujung pintu. Lelaki yang tadi masuk bersama putrinya dan tadi ia sempat melihat mereka berdua bergandengan tangan.
Mamanya Basofi pun ikut melihat Rayhan seolah keduanya meminta penjelasan siapa lelaki ini.
Rayhan yang paham akan hal itu kemudian menganggukkan kepala sebagai salam hormat nya, " Saya Rayhan teman dekat Sofiyah" Katanya dengan suaranya yang bisa menghipnotis siapa saja.
Glekk.... Sofiyah menelan ludahnya karena kebohongannya tadi terbongkar dengan pengakuan Rayhan.
Setelah itu keadaan kamar itu hening karena satu sama lain merasa canggung untuk bertanya lebih jauh.
Begitu pula dengan sang calon mertua yang amat menyayanginya. Wanita paruh baya itu memindai Rayhan dari atas sampai bawah dan membandingkannya dengan putranya. Pria muda dengan postur tubuh yang tinggi, kulitnya putih, mata dan gurat wajahnya terlihat sabar dan bijaksana dan itu semua berkebalikan dengan Basofi, putranya.
Wanita itu menghela nafasnya membuat Sofiyah menoleh ke arahnya.
Sofiyah salah tingkah dengan kedua wanita yang disayanginya kemudian matanya berkelana melihat seisi ruangan yang terlihat mewah dengan segala fasilitas yang sudah tersedia. Gadis itu kemudian melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tiga dan dia ingat betul kalau belum solat Dhuhur.
"Mi.... Fiah tinggal dulu ya mi. Fiah belum solat. Titip mami ya ma...." Kata Sofiyah dan bergegas pergi karena sebentar lagi waktu dhuhur akan segera habis.
"Belum solat?" Maminya bergumam pelan sekali karena tubuhnya yang masih sangat lemah. Ia mengernyit heran campur marah pada putri satu-satunya yang lupa mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Kalau dulu mereka tak perduli dengan hal itu tapi kini berbeda. Solat akan menjadi prioritas mereka, lantas bagaimana bisa putrinya lalai mengerjakannya.
"Saya juga mohon pamit undur diri...!" Kata Rayhan sambil menundukkan badannya sedikit yang kemudian di jawab oleh mamanya Basofi dengan, "terima kasih ya nak" Katanya dengan tulus sedang mami Sora hanya menatap tak suka pada si pemuda.
Sofiyah segera keluar dan Rayhan pun menyusulnya.
__ADS_1
"Maaf ya Kak Rey aku tinggal solat dulu..." Kata Sofiyah sambil sedikit berlari takut waktunya segera habis. Ia pun bertanya pada perawat di mana musholla nya.
Rayhan hanya memandang Sofiyah dari kejauhan sambil memikirkan rencana selanjutnya agar Sofiyah tak bisa berpisah darinya dan akan bertekuk lutut padanya selamanya.
Sesampainya di mushollah Sofiyah segera berwudlu dan melaksanakan solat di dalamnya. Ia kagum dengan mushollah rumah sakit yang besar dan bersih tidak seperti musolla di rumah sakit lain yang berada di ujung, sempit, tempat wudhunya pun sangat tidak memadai. Di sana semuanya tertata rapi dan bersih, harum, sejuk, membuat orang betah berlama-lama dan berdiam diri di sana.
Sofiyah melihat ada orang yang sedang terlentang tiduran di Sof pria dan ia sedikit ingin tahu siapa sosok orang itu. Dia kemudian ingat Rayhan yang ternyata tak menyusulnya untuk solat, padahal dia sangat berharap lelaki itu sudah insyaf dan berhijrah seperti dirinya.
"Mas mau Ashar mas...!" Seseorang menepuk dan memanggil orang yang tiduran di dalam mushollah tadi.
"Eh.... iya pak, maaf! Saya ketiduran tadi"
"Kalau masih mau marah wudhu saja mas...!" Kata pria yang sepertinya takmir mushollah rumah sakit itu.
"Bapak kok tahu kalau saya tadi kesini untuk meredakan kemarahan saya?"
"Hanya firasat saya saja..." Kata pria itu kemudian bersiap-siap untuk mengumandangkan adzan.
Sofiyah berkali-kali menelan salivanya karena mengenal suara yang khas yang hanya dimiliki Basofi.
'Apa koko sudah benar-benar insyaf?' Batinnya.
Setelah solat ashar berjamaah Sofiyah segera keluar dari mushollah itu dan mencari tempat untuk bisa melihat apakah Basofi benar-benar ikut solat. Dan benar saja ia melihat sosok itu kini sedang memakai sepatunya di serambi mushollah.
Akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan mendekati Basofi yang sudah mulai berjalan menuju kamar rawat maminya.
Basofi kaget karena tiba-tiba ada yang berjalan di dekatnya tapi setelah tahu siap yang berada di sisinya dia hanya diam saja, tak berniat menegur apalagi menyapanya.
"Ko...." Sofiyah mencoba mengalah dengan mengawali bicara.
"Hem...." Jawabnya tanpa melihat gadis yang kesusahan menyeimbangkan jalannya dengan langkah kaki Basofi yang panjang dan lebar.
Sofiyah kembali diam karena lelaki yang dipanggilnya koko tak merespon seperti yang dia harapkan. Selalu sama saja menyebalkan. Disaat dia diam ataupun saat banyak bicara. Sofiyah memendam kecewa pada Basofi tapi tak bisa dia ungkapkan pada orangnya.
__ADS_1
Sesampainya di ruang perawatan Mami Sora, mamanya Basofi meminta putranya dan calon menantunya untuk menjaga mami Sora karena ia mau mengambil pakaian dan keperluan sahabatnya yang sedang terbaring sakit.
"Jeng.... biar Nonik saja yang pulang ambil pakaian...!" Kata Mami dengan suara yang lemah.