
Pagi itu Basofi datang ke kantor dengan malas-malasan. Beberapa hari tidak ada Sofiyah rasanya ada yang kurang. Tak ayal Mikail yang ketiban sial. Bukan hanya dijadikan objek kemarahan tapi juga diberi beban pekerjaan yang tak wajar. Lagi-lagi dia harus menjadi asisten merangkap sekretaris sang atasan.
Basofi baru mulai menelaah data-data tapi matanya sudah terasa berat saja. Ia menyandarkan tubuh dan kepalanya di kursi kebesarannya. Melihat meja Sofiyah dan membayangkan gadis kecilnya sedang duduk di sana.
Ia memegangi dadanya karena ada rindu yang bertalu-talu sedang bersarang dalam hatinya.
"Ah.... Sofiyah...!", secara tak sadar dia mendesahkan nama gadis itu sambil memejamkan matanya.
Beberapa hari ini Basofi membayangkan bagaimana jika dia dan Sofiyah akhirnya menjalin hubungan yang serius dan berkomitmen membangun sebuah keluarga.
"Aya ... ", Basofi sedang membayangkan Sofiyah beranjak dari duduknya dan berjalan ke arahnya.
"Ay...! Bagaimana kalau kita menikah?", Ia bergumam saat dalam bayangannya Sofiyah sudah masuk ke dalam ruangannya dan kini berdiri di hadapannya.
"Apa?", tanya gadis yang masih dianggap bayangan oleh sang pria. Ia masuk ke ruangan direktur untuk mendiskusikan agenda harian sang atasan tapi malah dikagetkan dengan pertanyaan yang tak masuk akal.
" Kemarin aku membayangkan kita menikah. Saat aku pulang kerja kau menyambutku dengan mencium dan memelukku. Anak-anak kita bersorak gembira melihat papa mamanya bahagia. Itu indah sekali kan? Bahkan aku sudah membayangkan bagaimana saat dirimu menggodaku tanpa menggunakan baju?" Basofi menyangga kepalanya sambil melihat bayangan Sofiyah.
Sofiyah membelalakkan matanya, ia merasa terhina dengan kalimat terakhirnya Basofi. Bagaimana mungkin ia berpikir saat dirinya tengah telanjang. Mesum sekali lelaki ini.
BRAKKKK
Sofiyah menggebrak meja Basofi yang terbuat dari kaca dengan kekuatan penuh.
Sedangkan Basofi yang masih berada dalam alam ilusinya berjingkat kaget karena sosok yang sejak tadi dikiranya sebagai bayangan ternyata dia manusia betulan dan dia adalah gadis yang dirindukannya.
__ADS_1
"A-Aya.... ???!!"
Basofi berdiri kemudian mengamati Sofiyah dari atas sampai ke bawah kemudian dari bawah sampai ke atas. Benar itu gadis kecil kesayangan mamanya. Memakai outer selutut yang dipadukan dengan celana dan jilbab dengan warna senada. Ia masih terlihat sedikit pucat apalagi tak ada sedikitpun make up yang menempel di wajahnya yang putih bersih.
Sofiyah yang sedang dilanda emosi langsung menyerang lelaki tampan di depannya. Ia mendorong lelaki itu hingga hampir saja Basofi terjatuh karena hal itu begitu tiba-tiba. Tak menyangka ternyata kekuatan Sofiyah di atas rata-rata.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa kau menyamakan aku dengan selimut-selimut murahanmu itu?". Ia terus mendorong Basofi sambil memukul-mukul dadanya.
Basofi terus mundur sampai punggungnya menyentuh tembok. Bukannya ia tak kuasa menahan kekuatan gadis kecil di depannya, ia hanya sedikit mengalah karena ada sebagian dari dirinya yang tak rela melihat dia menangis lagi seperti saat meninggalnya papi. Ia baru saja berusaha pulih dan Basofi berusaha untuk menahan emosinya.
Sofiyah masih saja memukuli dada dan lengan Basofi dengan kalap meski Basofi tak bisa bergerak lagi. Di genggamnya tangan-tangan kecil yang sedang berusaha memukuli dadanya. Tidak terlalu kuat tapi bisa mengunci pergerakan si gadis.
Sofiyah menatap Basofi dengan tatapan penuh kebencian. Benci pada pria brengsek yang tak bisa menghilang dari kehidupannya. Juga benci pada dirinya sendiri yang merasa tenang saat di dekatnya. Ia merasa seperti punya pelindung meski acap kali dia terlihat cabul tapi pada Sofiyah rasanya berbeda.
Sofiyah sekuat hati memperingatkan dirinya sendiri agar tak terbuai dengan pesonanya. Ia takut ketika dia sudah menyerahkan hatinya ternyata Basofi hanya ingin bermain-main dengannya seperti yang dia lakukan pada gadis-gadis yang sering mendatanginya.
"Aya... bukan seperti itu maksudku...!!.", suara Basofi terdengar sangat lembut mencoba merayu gadis kecil yang kini tak bisa berontak dari cengkeraman nya.
"Kau cabul sekali. Kau sudah sering bermain dengan banyak wanita. Kenapa membayangkan aku???? Jangan pernah berimajinasi tentangku!!!!!" Sofiyah berteriak mengumpulkan semua kesal nya pada lelaki mesum dihadapannya.
"Kau salah dengar!! Aku membayangkan Sania bukan kau!". Penjelasan Basofi justru membuat Sofiyah kesal. Padahal ia ingin mendengar kata-kata Basofi yang mengungkapkan rasa sukanya dan berniat menikah dengannya.
Hangus sudah harapannya terbakar api tak kasat mata. Ia harus membangun kembali tembok pertahanannya agar tak jatuh pada pada lubang penyesalan nantinya.
Basofi menekan kepala Sofiyah di dadanya dan tangan yang lainnya memeluk pinggang gadis kecil itu dengan erat sehingga si cantik tak berhasil melepaskan dirinya. Setelah bersusah payah berontak namun tak bisa melawan kekuatan pria bertubuh atletis itu ia pun menangis dalam pelukannya.
__ADS_1
Hati meneguhkan jiwanya agar tak tergoda dengan pesona sang casanova tapi raganya tak mau mematuhinya.
Sofiyah justru menyandarkan kepalanya menikmati parfum Basofi yang menenangkan jiwa. Bau mint yang menyegarkan indra penciumannya disela-sela tangisnya.
Mikail yang sedari tadi menahan rasa penasaran dengan keadaan di ruangan sang atasan sudah tak tahan lagi ingin melihat ke dalam karena mendengar suara Sofiyah yang memaki-maki Basofi. Pintu ruangan itu tidak tertutup sepenuhnya sehingga suara teriakan Sofiyah terdengar di telinga Mikail.
Mikail yang sejatinya memang punya rasa pada Sofiyah takut jika gadis itu kenapa-napa. Ia takut atasan gilanya itu bertindak di luar batas seperti pada gadis-gadis yang hilir mudik mencarinya.
Tapi, suara Sofiyah perlahan menghilang berganti isak tangis yang pelan sekali. Mikail lebih terkejut lagi saat melihat gadis yang ditaksirnya berada dalam pelukan rival terberatnya. Ia tak menyangka hubungan keduanya ternyata sudah sedekat itu.
Ia menelan ludahnya menampik kenyataan yang ada di depan matanya. Jujur meski tak yakin sepenuhnya dia masih menyisipkan sedikit asa untuk bisa lebih dekat dengan Sofiyah.
Tapi apalah dikata ternyata sahabat brengseknya itu menjilat ludahnya sendiri. Dia yang terbiasa di cari dan di kelilingi banyak wanita ternyata mulai menyimpan rasa lebih dari biasanya pada gadis kecil yang dulu di tolaknya mentah-mentah.
Kepalan tangan Sofiyah yang menempel di dada Basofi menghalangi tubuh bagian depan mereka sehingga tidak langsung saling menempel.
Keduanya merasakan kenyamanan hingga lupa dengan waktu dan keadaan. Basofi menikmati bau harum Sofiyah yang tercipta dari sabun cair pencuci pakaian bukan bau parfum mewah seperti yang biasa dipakai para partnernya.
Basofi tak lagi merasakan pergerakan Sofiyah membuatnya ingin berlama-lama menikmati waktu seperti itu.
"Kenapa sudah masuk kerja hum?". Nada suara Basofi yang lembut justru menyadarkan Sofiyah dari rasa terpukaunya. Ia segera melepaskan pelukan Basofi yang sudah merenggang kemudian mengusap air matanya dengan kasar dan berniat keluar.
Basofi lagi-lagi menarik pergelangan tangan Sofiyah membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
Basofi melihat sekelebat bayangan Mikail tapi ia tak menghiraukannya. Justru ingin menegaskan pada sahabatnya itu bahwa Sofiyah adalah miliknya.
__ADS_1
"Katakan dulu kenapa kau sudah bekerja?"